
Setelah Feni mengeluarkan semua isi perutnya, mereka kembali masuk ke mobil.
Titi dan Ari memapah Feni yang merasa lemas setelah muntah-muntah.
Ari pun naik ke mobil terlebih dahulu, lalu membantu memegang tangan Feni untuk naik ke mobil.
Setelah Feni masuk ke mobil, Titi pun ikut naik.
Titi berada di pintu sebelah kanan, sementara Ari disebelah kiri, Feni duduk ditengah diantara Ari dan Titi.
Setelah menyelesaikan menghisap rokok, Ali mulai melajukan mobil nya.
Setelah mobil melaju, Titi mengusap punggung Feni agar merasa nyaman dan bisa tidur selama diperjalanan.
Entah disengaja Ari atau tidak, saat Titi mengusap punggung Feni, Ari memegang tangan Titi.
Titi merasa tak enak, ia melepaskan tangan nya dari tangan Ari.
Jantung nya kembali berdebar dengan kuat.
Dalam kegelapan didalam mobil, Titi memegang dadanya yang berdebar.
Ia merasa malu pada Ari, tapi ada rasa bahagia yang ia rasakan saat tangannya dipegang oleh Ari.
Melihat Feni yang mulai tertidur, Titi juga berusaha untuk tidur.
Ia ingin menenangkan perasaannya yang terus berdebar.
Titi memejamkan matanya, pura-pura tertidur.
π¦π¦
Titi tak berani bergerak, takut ketahuan jika ia hanya pura-pura tidur, hingga kaki dan badannya terasa pegal dengan posisi tidur bersandar pada pintu mobil.
Titi merasakan pergerakan Ari yang pindah duduk disampingnya.
Dan Titi merasa makin berdebar, ia ingin melihat apa yang Ari lakukan tapi ia tak berani membuka matanya.
Walau didalam mobil gelap dan hanya ada cahaya dari depan, Titi benar-benar tak berani membuka mata.
Titi tahu jika Feni tertidur setelah muntah tadi, jadi ia juga tak mungkin memperhatikan apa yang Ari lakukan.
Tiba-tiba, Titi merasa bahwa Ari mendekatinya, ia rasanya ingin menahan nafas, ia takut jika debar jantung nya didengar oleh Ari, ia merasa malu.
Tanpa Titi duga, Ari membisikkan sesuatu ke telinga nya, Titi jadi merasa merinding.
" Titi, aku suka kamu! " bisik Ari ditelinga Titi.
Titi tetap terdiam dengan posisi pura-pura tidur, ia mendengar dengan jelas apa yang Ari ucapkan.
Titi tak berani mengubah posisi nya, takut bila Ari tahu bahwa ia mendengar dengan jelas perkataan Ari.
__ADS_1
Setelah membisikkan kata-kata itu, Ari terdiam, tidak mengatakan apapun dan tidak melakukan apapun.
Ia hanya duduk disamping Titi, melihat Titi yang dikiranya tertidur nyenyak.
Titi merasa perjalanan ini menjadi sangat lama, ia ingin segera sampai ke rumah.
Selain badannya merasa pegal, Titi ingin menghindari Ari, karena ia merasa malu.
Tak berselang lama, Ari membangunkan Titi.
" Mbak, bangun! sudah sampai! " katanya sambil sedikit menggoyangkan tangan Titi.
Titi merasa lega, akhirnya ia sudah sampai di rumah.
" Oh.. sudah sampai ya? " kata Titi pura-pura baru terbangun.
Ari menyalakan lampu tengah, dan Titi mencari sepatu yang tadi ia pakai, juga mengambil tas serta uang yang di amplop coklat.
Setelah semua beres, Titi turun dari mobil, Feni juga terbangun saat mendengar Titi merapikan tas bawaan dan memakai sepatu nya.
" Fen, aku duluan ya? kamu hati-hati dijalan, sebentar lagi kamu juga nyampe! " kata Feni pada Titi.
" Iya, Ti! terima kasih!" jawab Feni.
" Ali, terima kasih ya, sudah diantar sampai ke rumah. Yang lain, aku duluan ya, hati-hati di jalan! " kata Titi pada Ali dan teman-temannya.
" Iya, mbak, sama-sama! " jawab Ali.
Mendengar suara mobil, ayah terbangun dan membuka kunci pintu depan.
Dilihatnya Titi baru pulang, dan teman-temannya sudah melajukan mobil keluar dari pekarangan.
" Assalamu'alaikum, ayah" ucap Titi sambil mencium tangan ayah.
" Waalaikumsalam warahmatullah. Alhamdulillah.. sudah sampai rumah, Ti.
Sana bersih-bersih dulu, terus langsung tidur, pasti cape diperjalanan. " kata ayah membalas salam Titi, lalu meminta Titi untuk istirahat.
Titi melihat jam yang ada diruang tamu sudah menunjukkan pukul dua belas tiga puluh menit.
" Baik yah, Titi mau cuci muka sama cuci kaki dulu baru istirahat, badan Titi pegal semua! " kata Titi.
" Ya sudah, ayah mau istirahat lagi! " kata ayah sambil berlalu menuju kamarnya.
Setelah membersihkan diri, Titi pun tertidur karena sudah merasa ngantuk.
π¦π¦
Keesokan paginya, Titi terbangun saat mendengar adzan subuh berkumandang.
Titi membersihkannya diri lalu menjalankan kewajiban nya untuk melaksanakan sholat subuh.
__ADS_1
Setelah shalat, Titi berdoa memohon segala pertolongan dan perlindungan dari Allah.
" Ya Allah ya Rabbi, tetap kan iman islam di hati hamba, hamba mohon berilah kesehatan dan kebahagiaan kepada kedua orang tua hamba, juga pada saudara-saudara hamba.
Bimbinglah kami untuk selalu berada dijalan Mu, berilah kami jalan keluar saat mendapat kesulitan, dan berkahilah perjalanan hidup kami.
Ya Allah ya Rabbi.. berikan kepada hamba jodoh terbaik menurut Mu, orang yang bisa membimbing dan membawa hamba kejalan Mu.
Jika Ari jodoh yang Engkau pilih, mudahkan bagi kami untuk bisa bersama dalam ikatan pernikahan.
Jika Ari bukan jodoh ku, jauhkan ia dari ku agar tidak ada rasa saling menyakiti dikemudian hari.
Aamiin ya Allah ya rabbal alamin."
Titi menutup do'anya dengan mengusapkan kedua telapak tangan je wajahnya.
Setelah selesai shalat, Titi merapikan mukena dan sajadah, lalu ia ke dapur untuk membantu ibu.
π¦π¦
Pagi ini Titi lebih awal pergi ke kantor, karena ia akan menyiapkan setoran PT. Mitra, ia juga harus menyerahkan uang PT. Mitra yang dibawa nya pada mbak Dewi.
Tiba di kantor, Titi menyiapkan semua pekerjaannya, juga pekerjaan yang kemarin ia tinggalkan.
Titi melihat catatan yang ada di atas meja pak Bari, dan menyalin ke buku kerjanya.
Setelah menyalin dari catatan pak Bari, Titi kembali ke mejanya.
Tak lama, pak Bari dan mbak Dewi datang hampir bersamaan.
Titi menjawab salam, saat pak Bari dan mbak Dewi mengucapkan salam saat masuk ke ruangan mereka.
Setelah mbak Dewi merapikan meja dan duduk di kursinya, Titi menghampiri mbak Dewi untuk menyerahkan uang yang ia bawa.
" Mbak, ini uang yang Titi bawa dari PT. Mitra, dan ini tanda terima yang Titi tanda tangani. Tadi malam uangnya sudah Titi hitung dan Insya Allah pas, sesuai setoran.
Tapi mbak hitung lagi aja, kan uangnya Titi bawa pulang. " Titi menjelaskan pada mbak Dewi.
" Iya, Ti.. terimakasih, mbak ga perlu menghitung lagi jika sudah Titi hitung.
Untuk setoran ke Bank, sudah Titi siapkan? " kata mbak Dewi menerima uang dari Titi dan bertanya untuk penyetoran ke Bank.
" Semua sudah Titi siapkan mbak, tinggal berangkat.
Kata pak Yayan, nanti beliau menelpon mbak untuk menyampaikan jadwal pengiriman. "
" Iya, Ti.. baik! mungkin sebentar lagi pak Yayan menelepon mbak! "
Setelah menyerahkan uang dan menyampaikan pesan pak Yayan, Titi kembali kemejanya dan menyelesaikan pekerjaannya yang lain.
π¦π¦π¦
__ADS_1
Note : Jangan lupa ya, untuk selalu memberi dukungan buat Titi, dengan memberi Hatiβ€, komen dan Vote, agar Titi bisa segera bertemu jodohnya. ππ