
Hari-hari berlalu begitu saja, Titi menjalankan semua aktivitas seperti biasa.
Sejak kedatangan Reno malam itu, Titi tidak pernah lagi bertemu Toni, tidak ada kabar apa pun dari Toni.
Titi juga tidak berusaha untuk menghubungi atau mencari tahu tentang keadaan Toni.
Titi berfikir, kedatangan Reno memang diminta oleh Toni untuk menyampaikan keadaannya pada Titi.
Titi hanya heran, mengapa Toni tidak menjelaskan semua pada Titi dan mengakhiri hubungan mereka, toh Titi tidak akan marah jika Toni menjelaskan keadaannya.
Titi hanya ingin tahu, jika Toni sudah bertunangan, mengapa Toni malah menyatakan cinta pada Titi?
Titi ingat saat pertama bertemu dengan Toni.
Siang itu, Titi baru pulang dari sekolah.
Dibawah pohon Cemara, didepan gang menuju rumahnya, berdiri seorang laki-laki yang berperawakan kurus dan tinggi.
Titi, hanya melihatnya sekilas, lalu melanjutkan perjalanannya.
Tiba-tiba, laki-laki itu menyapanya, " Baru pulang sekolah, dek?"
"Iya, kak" jawab Titi.
"Sekolah dimana? adek kelas berapa?" tanya Toni lagi.
" Di SMK Negeri, kelas tiga, kak!" jawab Titi lagi.
Mereka pun melanjutkan perjalanan sambil mengobrol.
" Kenalkan, nama saya Toni, saya baru dua hari disini, dari luar kota dan dipindah tugas kan kesini. Nama adek siapa?" Toni memulai lagi obrolannya.
"Oh..pantas, selama ini saya tidak pernah bertemu kakak, rupanya baru pindah.
Nama saya, Titi, kak!
Kakak tinggal dimana?" Titi menjawab obrolan Toni.
" Saya tinggal tak jauh dari kantor desa, tinggal di kos-kosan." kata Toni lagi.
Sejak hari itu, setiap pagi Titi dan Toni bertemu di gang itu, dan sama-sama berjalan keluar gang, dari rumah Titi menuju jalan raya, Titi harus berjalan sejauh seratus meter melalui gang itu.
Begitu pun siang hari, saat Titi turun dari angkot, Toni telah menunggunya dibawah pohon Cemara, untuk pulang bersama.
Keadaan itu seperti telah diatur, Toni tahu jam berapa Titi berangkat sekolah setiap pagi, dan siangnya menunggu Titi pulang sekolah didepan gang.
Mereka tidak bersama saat Toni piket, karena jika piket, Toni tidak pulang dan esoknya, jam sembilan pagi, Toni baru turun piket.
__ADS_1
Suatu malam, sepulang dari masjid, Toni menunggu Titi didepan gang, ia ikut Titi pulang ke rumah.
"Lagi piket, ya kak?" tanya Titi
"Iya, dek." jawab Toni.
"Dek, ada yang mau saya sampaikan, bisa kita bicara sebentar?" tanya Toni lagi.
"Baiklah, kak. Nanti kita bicara dirumah aja." jawab Titi.
Tiba dirumah, Titi menyimpan mukena nya dan meminta Toni menunggu dibawah pohon belimbing.
Toni menolak, saat Titi mengajaknya masuk ke rumah, dan memilih untuk duduk dibawah pohon belimbing.
Titi keluar dari rumah dengan membawa segelas kopi buat Toni.
" Silahkan diminum, kak..maaf, cuma ada kopi." tawar Titi pada Toni.
"Terima kasih, dek!" balas Toni.
Toni pun meminum kopinya, lalu menaruh lagi gelasnya. Ia memandang Titi sejenak, lalu menyampaikan maksud kedatangannya.
"Dek, kita sudah beberapa bulan ini berteman, dan saya merasa nyaman berteman dengan adek.
Adek juga sudah selesai ujian ya?
Jadi, saya ingin menyampaikan, bahwa saya suka sama adek, saya jatuh cinta sama adek...saya harap, adek mau menerima perasaan saya pada adek!".
Sebenarnya, ia juga merasa nyaman berteman dengan Toni.
Toni enak diajak ngobrol, dan ia suka sekali bercanda.
Tapi, Titi belum punya perasaan apa-apa pada Toni, ia hanya menganggap Toni sebagai teman.
Selama sekolah, Titi memang tidak mau pacaran,walau pun ada beberapa teman pria yang menyatakan perasaannya pada Titi, tapi Titi menolaknya dengan halus, dengan alasan Titi ingin menyelesaikan sekolah dulu, dan tidak berniat pacaran selama sekolah.
Melihat Titi hanya diam, Toni pun kembali bertanya pada Titi.
" Bagaimana, dek? apa adek mau menjadi pacar saya?"
Titi menghela nafas, lalu menjawab pertanyaan Toni.
" Sebelumnya, terima kasih atas ungkapan perasaan kakak, Titi memang merasa nyaman berteman dengan kakak.
Tapi, Titi belum memiliki perasaan apapun pada kakak, Titi hanya menganggap kakak sebatas teman!"
" Apa ada orang lain yang sudah mengisi hati adek, hingga adek tidak bisa menerima saya?" tanya Toni.
__ADS_1
" Selama sekolah, Titi tidak pernah pacaran, Titi tidak mau mengecewakan orang tua Titi. Jadi, bukan karena Titi sudah punya pacar, lalu menolak kakak."
Jawab Titi.
" Kalau gitu, kita jalani aja dulu, mana tahu nanti adek bisa jatuh cinta pada saya." kata Toni sambil tersenyum.
Titi, memandang Toni sekilas, lalu berkata, " Apa kakak ga masalah menjalani hubungan seperti ini? Bukankah lebih nyaman kalau kita hanya berteman?"
" Ga papa, jika memang nanti adek ga bisa membalas perasaan saya, kita akan tetap berteman!" jelas Toni.
" Baiklah, kak..kita akan akan menjalaninya, Titi bersedia menjadi pacar kakak!" kata Titi lagi, lalu Titi memalingkan wajahnya karena malu.
" Lho..kok buang muka, memangnya ga mau melihat wajah ganteng pacar baru adek?" Toni menggoda Titi.
Titi diam dan tetap memalingkan wajahnya.
"Eh..ga enak lho di cuekin, masa baru jadian sudah di anggurin?" goda Toni lagi pada Titi.
Toni tahu, Titi merasa malu kepadanya, bila mendengar penjelasan Titi, berarti Titi baru pertama kali pacaran, wajar jika ia merasa malu.
Toni juga tahu bila Titi punya banyak teman lelaki, tapi semua hanya sebagai teman tidak ada yang istimewa.
Setelah Toni menyatakan perasaannya pada Titi, mereka jadi lebih akrab.
Mereka menjalani hubungan sebagai sepasang kekasih, tapi masih dalam batas wajar.
Titi dan Toni sama-sama menjaga diri dalam menjalani hubungan mereka.
Hingga akhirnya, setelah kedatangan Reno, hubungan Titi dan Toni berakhir begitu saja, tanpa ada penjelasan apapun dari Toni.
Titi malah telah menyiapkan sebuah kado buat Toni, jika Toni mengundangnya.
Tapi itu hal yang mustahil, tidak mungkin Toni mengundangnya sementara mereka tidak pernah bertemu ataupun berkomunikasi lagi.
Hubungan mereka berakhir begitu saja, dengan menghilangnya Toni dari kehidupan Titi.
Titi tak pernah menyesali pertemuannya dengan Toni, juga hubungan yang pernah terjadi diantara mereka.
Walau Toni kekasih pertama bagi Titi, tapi Titi tak perlu kecewa saat harus berpisah dengan Toni.
Baginya, Toni hanya salah satu bagian dari cerita dalam hidup yang harus dijalaninya, jadi tak ada yang perlu disesali.
Kini, Titi lebih fokus pada pekerjaan dan organisasi yang diikutinya.
Titi sedang disibukkan dengan persiapan untuk acara Maulid Nabi yang sebentar lagi akan diadakan.
Tak ada kesedihan atau kekecewaan diraut wajah Titi setelah berpisah dengan Toni, hingga teman-temannya pun tak tahu bila Titi telah berpisah dengan Toni.
__ADS_1
Selepas isya, Titi mengikuti kegiatan latihan berzanji dengan anak-anak untuk acara Maulid Nabi, ia ikut menyemangati anak- anak agar berani untuk tampil.
^^^^^^^ {®_©} ^^^^^^^