Nastiti

Nastiti
Bab 87. Merayakan Idul Fitri.


__ADS_3

Hari ini semua pekerjaan berjalan lancar.


Walaupun bang Ari baru masuk kerja lagi, tapi ia bisa menyelesaikan pekerjaannya seperti biasa, tanpa hambatan.


Begitu juga Titi, ia. mengerjakan pekerjaan dengan lebih semangat karena bang Ari sudah bisa bekerja seperti biasa.


Sore ini, setelah menyelesaikan pekerjaannya merekapun pulang.


Titi dan bang Ari kembali mengendarai motor untuk pulang ke rumah.


Karena bulan Ramadhan, di simpang empat ramai orang berjualan takjil, dan hari ini bang Ari mulai menjalankan ibadah puasa.


" Ada yang mau dibeli, pay? " tanya Titi pada bang Ari saat mereka melewati pasar dadakan penjual takjil.


" Kita lihat-lihat dulu aja may, nanti kalau ada yang kepengen kita beli. " jawab bang Ari.


Bang Ari menghentikan motor dan memarkirkan di pinggir jalan, lalu kami berjalan melihat-lihat takjil yang dijual disepanjang jalan.


" Pengen apa, pay? " tanya Titi setelah mereka melihat banyak makanan dijual disana.


" Sepertinya tidak ada, tidak ada yang menggugah selera. " jawab bang Ari.


" Ya sudah, kalau tidak ada yang mau dibeli, kita pulang aja. " kata Titi yang mengajak bang Ari pulang.


Mereka kembali ke motor tanpa membeli apa-apa dan melanjutkan perjalanan untuk pulang ke rumah.


🦂🦂


Satu bulan sudah umat muslim menjalankan ibadah puasa, esok hari raya idul fitri akan tiba.


Hari ini, Titi dan ibu bersih-bersih rumah.


Menyusun toples makanan diatas meja dan mencuci gelas serta teko yang tersimpan di dalam lemari.


Ayah sedang merebus ketupat di dapur ibu yang lama, dapur tungku dengan bahan bakar kayu.


" Berapa banyak gelas yang akan dikeluarkan, bu?" tanya Titi yang sedang membuka lemari tempat menyimpan barang pecah belah.


" Keluarkan gelas dua lusin sama piring kecil dua lusin, piring besarnya satu lusin aja." jawab ibu yang meminta Titi mengeluarkan gelas dan piring dari dalam lemari.


" Nanti langsung dicuci ya Ti? biar malam bisa dilap dan disusun diatas meja. " kata ibu yang meminta Titi untuk langsung mencuci gelas dan piring yang Titi ambil dari dalam lemari.


" Baik bu. " kata Titi sambil menaruh gelas dan piring ke dalam ember yang ia bawa sebagai wadah untuk mengangkat barang tersebut.


Setelah menaruh dalam ember, Titi membawa barang-barang itu ke dapur untuk dicuci.

__ADS_1


Ibu sedang menyiapkan sayuran untuk sayur ketupat besok.


" Kalau sudah mencuci piring dan gelas, bantu ibu memarut kelapa ya Ti? " pinta ibu pada Titi.


" Iya bu, nanti Titi bantu ibu untuk memarut kelapa. " kata Titi yang bersedia untuk membantu ibu untuk memarut kelapa.


Selesai dengan urusan mencuci gelas dan piring, Titi membantu ibu memarut kelapa untuk dibuat santan.


" Nanda mana Ti? " tanya ibu yang sejak tadi tidak melihat Nanda.


" Tadi sama papanya bu, mungkin lihat ayah merebus ketupat di belakang. " jawab Titi.


Ibu dan Titi memarut beberapa butir kelapa, karena dikerjakan berdua dan menggunakan parut yang tajam, pekerjaan memarut jadi tidak memakan waktu lama.


Ibu dan Titi saling membantu mengerjakan pekerjaan dapur sehingga bisa cepat selesai.


" Mama, abang mau mamam ini. " kata Nanda yang datang dari arah belakang sambil membawa satu buah ketupat berukuran kecil.


Ketupat itu kemarin sengaja ayah buat untuk Nanda, karena Nanda minta dibuatkan ketupat pada kakeknya.


" Abang mau makan ketupatnya pake apa? " tanya Titi pada Nanda.


" Mamam sama kecap, ma! " jawab Nanda.


Titi meminta Nanda untuk menunggu sementara Titi menyiapkan ketupat buat Nanda.


" Nanda kasih makan sama ati, jangan cuma kecap aja, kan ayam goreng juga ada. " kata ibu yang meminta Titi untuk memberi ati atau ayam goreng pada Nanda.


Setelah memotong ketupat dan menaruhnya dalam piring, Titi memberi sedikit kuah sayur dan kecap, juga sepasang ati ayam pada ketupat untuk Nanda.


" Bang ini ketupatnya, mamam nya dihabiskan ya? " kata Titi yang meminta Nanda untuk menghabiskan empat potong ketupat yang ada di piring Nanda.


" Iya, ma! " jawab Nanda sambil duduk dan memakan ketupat yang ada dihadapannya.


Nanda memang tidak sulit saat makan, dia tidak pernah memilih makanan.


Dan sejak kecil Titi membiasakan Nanda untuk makan sendiri, tanpa disuapi.


Walau ia masih kecil, tapi saat makan ikan ia bisa memisahkan daging ikan dan durinya, tapi Titi selalu berhati-hati jika memberi ikan pada Nanda, Titi akan benar-benar memeriksa jangan sampai ada duri dalam daging ikan yang dimakan Nanda.


Begitupun saat makan buah jeruk, Nanda akan membersihkan serabut yang menempel pada buah jeruk, setelah bersih ia baru memakan buah jeruk itu.


Tapi sifat Nanda sama dengan Titi, tidak betah jika pergi berkunjung ke rumah orang.


Saat baru sampai ke rumah orang yang dikunjungi, Nanda akan diam saja dan tidak mau turun dari pangkuan mamanya ataupun papanya.

__ADS_1


Setelah beberapa lama, baru ia akan turun dari pangkuan dan bermain bersama yang lain.


🦂🦂🦂


Pagi ini, takbir berkumandang di segala penjuru, tanda bahwa umat muslim tengah bersyukur dan merayakan kemenangan setelah menjalankan ibadah puasa selama satu bulan lamanya.


Titi tengah merapikan toples makanan diatas meja.


Semua makanan itu buatan ibu sendiri, makanan tradisional berupa keripik pisang, manisan pepaya, kue semprit, wajit ketan, dodol srikaya, kuping gajah, kacang telor, kacang tojin, kue bawang dan kue satu.


Ada kue khusus kesukaan bang Ari, yaitu nastar buatan kak Rubi.


Bang Ari sangat menyukai nastar, brownies dan kacang tojin.


Untuk kue bolu, ibu mendapat kiriman dari tante Dedek dan tente Nung.


Ada beberapa loyang aneka bolu yang diterima ibu.


Titi bersyukur, tahun ini ia bisa menyelesaikan ibadah puasanya tanpa ada yang bolong,. sehingga Titi tidak punya hutang puasa tahun ini.


Setelah merapikan dan membersihkan rumah, Titi bersiap mandi karena akan mengerjakan shalat subuh.


Di dapur, ibu juga sudah menyiapkan makanan. Ibu sudah memanaskan sayur untuk kuah ketupat.


Ketupat juga sudah ibu potong-potong dan ditaruh di mangkuk kaca besar, jadi jika ingin makan ketupat tidak perlu memotong lagi.


Pukul tujuh tiga puluh, kami tiba dirumah setelah melaksanakan shalat Idul fitri di lapangan.


Titi dan bang Ari masuk ke kamar untuk menyimpan sajadah dan mukena yang tadi digunakan untuk shalat ied.


Setelah menaruh mukena dan sajadah, bang Ari duduk di tepi tempat tidur, lalu Titi pun sungkem dan meminta maaf pada bang Ari.


" Pay, maafkan atas semua salah dan khilaf yang may lakukan pada pay.


Tolong ridho'i jika ada langkah may ataupun perbuatan yang may lakukan tanpa seizin pay. " kata Titi sambil menangis dan mencium punggung tangan bang Ari.


" Iya may, pay juga minta maaf atas semua salah dan khilaf yang pay lakukan pada may. Pay ridho dengan apa yang may lakukan selagi itu tidak melanggar aturan agama. " jawab bang Ari sambil mengelus pundak Titi, lalu ia meminta Titi untuk bangkit dan bang Ari memeluk Titi.


" Maafkan semua kesalahan pay, ya? " kata bang Ari yang juga turut menitikkan air mata.


Setelah Titi dan bang Ari saling bermaafan, mereke keluar dari kamar dan bertebaran dengan meminta maaf pada ayah dan ibu Titi.


Setelah saling memaafkan, mereka makan ketupat bersama dimeja makan.


🦂🦂🦂

__ADS_1


__ADS_2