Nastiti

Nastiti
Bab 104 Tabungan Ari Dan Titi.


__ADS_3

Malam ini selepas maghrib, Ari menghubungi pak Bahrudin, pemilik tanah disamping rumah bu Yati.


Kring...! Kring..! Kring..!


Ari mencoba menelepon, terdengar nada sambung tapi belum diangkat oleh pak Bahrudin.


Kring..! Kring..! Kring..!


Masih belum ada tanda-tanda jika teleponnya diangkat oleh pak Bahrudin.


" Sebentar lagi aja nelepon nya, pay, mungkin pak Bahrudin sedang tidak pegang ponsel. Atau coba kirim pesan dulu, mungkin karena nomor baru jadi tidak diangkat. "


Titi berkata jika kemungkinan pak Bahrudin tidak mengangkat telepon karena tidak mengenal nomor Ari.


" Iya, bisa jadi karena pak Bahrudin tidak mau mengangkat telepon dari nomor baru. Biar pay coba kirim pesan dulu. "


Kata Ari yang menyetujui pendapat Titi untuk mengirim pesan terlebih dahulu pada pak Bahrudin.


Ari mengetik pesan pada ponselnya, lalu mengirimkan pesan itu pada pak Bahrudin.


" Selamat malam Pak, saya Ari, ingin menanyakan mengenai tanah yang akan bapak jual di jalan Satria Negara. "


Isi pesan yang Ari kirim pada pak Bahrudin. Ari tidak mengucapkan salam karena ia tidak tahu pak Bahrudin seorang muslim atau bukan, sehingga Ari hanya mengucapkan selamat malam.


Ari menunggu balasan pesan dari pak Bahrudin sambil mengajarkan Nanda berhitung.


Nanda sudah pandai membaca karena ditempat les diutamakan untuk bisa membaca.


Saat tengah asik memperhatikan Nanda yang sedang menulis, tiba-tiba ponsel Ari berdering tanda ada notifikasi pesan masuk.


Ari mengambil ponsel yang ada di atas meja lalu melihat isi pesan masuk di. ponselnya.


Terlihat nama pak Bahrudin di sana, karena Ari memang menyimpan nomor kontak pak Bahrudin.


" Selamat malam Pak, mohon maaf tadi saya sedang dalam perjalanan sehingga tidak bisa mengangkat panggilan dari bapak. Sekarang saya baru tiba di rumah. "


Ari membaca isi pesan yang dikirim oleh pak Bahrudin.


Setelah membaca pesan itu, Ari mencoba untuk menghubungi kembali nomor ponsel pak Bahrudin.


Dalam deringan pertama, penggilan dari ari langsung diangkat oleh pak Bahrudin.


📱" Hallo, selamat malam, pak..! "


Terdengar suara seseorang diseberang telepon yang mengangkat panggilan dari Ari.

__ADS_1


📱" Selamat malam bapak, saya Ari.


Apa saya sedang bicara dengan bapak Bahrudin? " tanya Ari setelah mendengar seseorang menjawab panggilan teleponnya.


📱 " Benar pak Ari, saya pak Bahrudin.


Ada yang bisa saya bantu, pak Ari? "


Tanya pak Bahrudin pada Ari.


📱" Saya mau menanyakan mengenai tanah di jalan Satria Negara yang akan bapak jual. " kata hari menjeda perkataannya sebentar.


" Kalau boleh tahu, berapa ukuran tanah itu dan berapa harga tanah tersebut. yang bapak minta. " tanya Ari pada pak Bahrudin menjelaskan maksud dan tujuannya menelepon pak Bahrudin.


📱" Untuk ukuran tanah yang tertera di sertifikasi lebar tujuh belas koma lima meter dan panjang tiga puluh meter pak. Tapi ukuran secara realnya lebarnya hanya enam belas meter saja karena yang satu koma lima meter dipotong untuk gang. "


Pak Bahrudin menghentikan sejenak kata-katanya, dan Ari hanya mendengarkan saja.


" Jadi ukuran secara realnya hanya enam belas meter kali tiga puluh meter.


Jika pak Ari berminat silahkan, saya lepas dengan harga pas saja. "


Pak Bahrudin melanjutkan penjelasannya mengenai ukuran tanah yang akan dijualnya, dan juga menyebutkan nilai nominal harga tanah tersebut.


📱" Untuk harga tanahnya itu masih bisa dikurangi tidak pak? " tanya Ari setelah mendengar penjelasan dari pak Bahrudin.


Jika pak Ari masih mau memberi bu Yati secara pribadi, itu terserah pada bapak. "


Pak Bahrudin menjelaskan jika harga tanah yang ia minta sudah termasuk biaya balik nama sertifikat dan uang jajan buat bu Yati.


📱 " Baiklah pak, saya berminat untuk membeli tanah bapak, saya akan membicarakan masalah dananya dengan istri saya.


Secepatnya saya akan memberi kabar pada bapak jika dananya sudah tersedia. "


Ari menyetujui harga yang diberikan oleh pak Bahrudin dan mengatakan pada pak Bahrudin jika ia akan membicarakan mengenai dana untuk pembelian tanah pada Titi.


📱"Baiklah pak, saya akan menunggu kabar dari bapak selanjutnya. " kata pak Bahrudin menyetujui keinginan Ari untuk berkompromi dengan Titi mengenai pembayaran tanah tersebut.


Setelah berbincang-bincang sebentar dengan pak Bahrudin, akhirnya Ari mengakhiri percakapan mereka setelah sama-sama mendapatkan kata sepakat.


" Bagaimana pay, hasil pembicaraan dengan pak Bahrudin mengenai tanah itu? " tanya Titi pada Ari sambil membawakan Ari segelas kopi yang tadi dia buat saat Ari tengah berbicara dengan pak Bahrudin.


" Pak Bahrudin sudah menjelaskan mengenai ukuran tanah yang tidak sesuai dengan sertifikat karena dipotong oleh gang yang berbatasan dengan tanah bu Yati. "


Ari menjelaskan pada Titi tentang ukuran tanah yang akan mereka beli, juga mengenai harga yang diminta oleh bapak Bahrudin.

__ADS_1


" Kalau begitu, besok kita jual aja semua tabungan emas kita.


May rasa jika emas yang kita miliki dijual semua, Insya Allah akan cukup untuk membayar tanah tersebut. "


Titi menyarankan pada Ari agar mereka menjual emas yang mereka miliki untuk membayar tanah tersebut.


" Tapi may, kalau semua emas dijual nanti may tidak punya perhiasan lagi. "


kata Ari pada Titi.


" May kan tidak pernah memakai perhiasan selain cincin nikah kita, jadi tidak apa-apa dijual semua, atau kita sisakan satu gelang sama cincin untuk jaga-jaga jika kita ada keperluan mendadak, nanti kita juga bisa nabung emas lagi. "


Titi merasa tidak keberatan jika semua emas yang mereka miliki dijual untuk membeli tanah karena Titi juga tidak suka menggunakan perhiasan yang berlebihan.


" Coba kita lihat dulu emas yang kita miliki, cukup tidak jika digunakan untuk membayar tanah milik pak Bahrudin. "


Ari meminta Titi untuk mengambil emas yang mereka simpan untuk dihitung agar bisa mengetahui cukup atau tidak jika dijual dan digunakan untuk membayar harga tanah.


Titi berdiri dari duduknya dan membuka lemari pakaian, lalu mengeluarkan kotak tempat menyimpan perhiasan.


Titi kembali duduk disamping Ari, dilantai kamar mereka untuk melihat perhiasan yang mereka miliki.


Ari membuka kotak itu lalu mengeluarkan isinya.


Ada gelang, kalung dan cincin yang rata-rata masih terdapat kertas ukuran barang tersebut.


Ada satu gelang dan cincin yang biasa Titi gunakan jika bepergian masing-masing seberat lima gram.


" Ada berapa semuanya, pay? " tanya Titi pada Ari setelah Ari mengeluarkan dan menghitung semuanya.


" Semuanya hampir dua ratus lima puluh gram, termasuk gelang dan cincin yang sering may pakai ini. " jawab Ari memberitahu Titi jumlah perhiasan yang mereka miliki.


" Alhamdulillah, banyak juga ya, pay? tidak menyangka bisa sebanyak itu." kata Titi merasa gembira.


Titi tidak pernah menghitung perhiasan yang ia simpan, ia hanya mengambil gelang dan cincin yang akan digunakan tanpa melihat perhiasan lainnya.


" Iya may, tidak menyangka jika perhiasan kita bisa sebanyak ini, semoga ini cukup untuk kita membayar tanah milik pak Bahrudin. "


Kata Ari yang sama tidak menyangka seperti Titi jika tabungan yang mereka miliki lumayan banyak.


Ari memasukkan kembali perhiasan tersebut ke dalam kotak penyimpanan, lalu memisahkan cincin dan gelang yang sering digunakan oleh Titi.


Ia dan Titi akan menghitung hasil penjualan emas sesuai dengan harga emas saat ini.


🦂🦂🦂

__ADS_1


🦂🦂 Rasa kekeluargaan terkadang akan terhapus dengan adanya sebuah kesalahan. 🦂🦂


🦂🦂 Dalam kehidupan nyata terkadang ada teman rasa saudara, yang selalu ada jika diperlukan. 🦂🦂


__ADS_2