
Setelah mengobrol dengan ibu Titi, Ari dan Titi masuk ke dalam kamar untuk beristirahat.
Titi merapikan selimut yang dikenakan Nanda dan Andi yang sudah berada di kaki mereka karena keduanya tidak suka tidur mengenakan selimut.
" Anak-anak kalau tidur sama dengan, pay, tidak suka mengenakan selimut." kata Titi pada Ari yang tengah merapikan bantal yang akan digunakan untuk menyandar pada kepala tempat tidur.
" Gerah may, kalau tidur mengenakan selimut. " kata Ari pada Titi.
Ari memang tidak suka tidur mengenakan selimut.
Ari hanya mengenakan boxer ketika ia tidur.
" Sini, may! " kata Ari yang meminta Titi untuk tidur disamping Ari dan meminta Titi menyandarkan kepala di dadanya.
Titi menuruti keinginan Ari dengan menggeser tidurnya dan menyandarkan kepalanya di dada Ari.
Ari mengusap kepala Titi dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya menggulir layar ponsel.
Ari melihat-lihat berita online dari ponselnya.
Titi yang menyandarkan kepala di dada Ari, jarinya iseng membuat goresan abstrak di dada Ari, juga memainkan sehelai rambut yang tumbuh di dada Ari.
" Ini rambut merana sekali, tumbuh hanya sehelai di dada, pay. " kata Titi sambil menarik lembut helaian rambut di dada Ari.
" Itu bukan rambut sembarangan. " kata Ari pada Titi.
" Memang ini rambut apa? " tanya Titi heran.
" Itu rambut yang tumbuh di luar kota, jadi hanya tumbuh sehelai, kalau yang tumbuh di dalam kota pasti sangat padat dan rapat. " jawab Ari pada Titi.
" Memang kalau yang tumbuh di dalam kota, dimana? " tanya Titi pada Ari iseng.
" Disini! " jawab Ari sambil mengarahkan tangan Titi pada pangkal paha nya.
Titi tertawa saat Ari mengarahkan tangannya pada pangkal pahanya, lalu Titi mengusap dan meremas sesuatu yang ada dibalik boxer Ari.
" Jadi pusat kotanya disini? ini kan Arthur." kata Titi yang masih meremas dengan lembut Arthur yang masih berada dibalik boxer Ari.
Ada ******* halus yang keluar dari mulut Ari saat Titi terus memainkan tangannya di pangkal paha Ari, mengusap dan meremas Arthur yang membuat Ari tidak bisa menahan diri untuk tidak melakukan sesuatu pada Titi.
Malam itu, Ari dan Titi menghabiskan waktu dengan berbagi peluh bersama sebelum mengistirahatkan tubuh dan tertidur dengan saling berpelukan.
🦂🦂
__ADS_1
Siang ini, sepulang dari kantor, Ari dan Titi melanjutkan perjalanan menuju rumah pak Bahrudin.
Ari dan Titi akan melakukan pembayaran tanah yang sudah dibicarakan tadi malam melalui telepon dengan pak Bahrudin.
" Pay, tahukan alamat yang diberikan oleh pak Bahrudin? " tanya Titi saat mereka dalam perjalanan menuju rumah pak Bahrudin.
" Insya Allah pay tahu jalannya, karena pernah lewat daerah sana kalau mau chek phisik kendaraan untuk memperpanjang KIR. " jawab Ari yang sudah pernah melewati alamat menuju rumah pak Bahrudin.
" Alhamdulillah kalau begitu, jadi kita tidak susah mencari alamatnya, tinggal cari nomor rumahnya saja. " kata Titi lagi.
Ari. melajukan motor yang ia bawa dengan sedikit kencang agar bisa cepat sampai di tujuan karena letak alamat rumah pak Bahrudin lumayan jauh, mereka harus menempuh satu jam perjalanan untuk sampai di rumah pak Bahrudin.
Setelah menempuh perjalanan selama hampir satu jam dan bertanya pada pemilik warung yang tidak jauh dari gapura masuk perumahan, akhirnya Ari dan Titi menemukan alamat rumah pak Bahrudin yang mereka cari.
" Assalamu'alaikum. " salam Ari didepan sebuah rumah yang sesuai dengan alamat yang dikirim oleh pak Bahrudin.
Setelah dua kali mengucapkan salam, terdengar seorang perempuan menjawab salam yang diucapkan oleh Ari.
" Waalaikumsalam. "
Ceklek,... krreeekk..
Terdengar seseorang membuka kunci dan pintu depan rumah tersebut.
" Iya, benar ini rumah pak Bahrudin, maaf dengan siapa, ya? " tanya perempuan itu yang membenarkan jika rumah itu benar rumah pak Bahrudin.
" Saya Titi bu, dan ini suami saya Ari, kami sudah ada janji dengan pak Bahrudin. " jawab Titi memberitahu tujuan kedatangan mereka pada perempuan itu.
" Oh..maaf ya? pak Ari yang mau membeli tanah itu ya? " tanya perempuan itu lagi sambil membuka pintu pagar.
" Iya, benar bu! " jawab Titi.
" Ayo, silakan masuk! " kata perempuan itu ramah sambil membuka pintu pagar rumahnya lebar-lebar.
" Motornya masukkan aja, biar lebih aman." kata perempuan itu lagi.
" Terima kasih, bu! " kata Ari sambil mendorong motornya masuk ke halaman depan rumah pak Bahrudin.
Setelah mereka berdiri di teras rumah, Titi menyalami perempuan itu dan mengenalkan diri.
" Saya Titi, bu. " kata Titi yang memberi tangan untuk bersalaman.
" Iya bu, saya Meri, istri pak Bahrudin. " kata ibu itu menyambut tangan Titi dan mereka bersalaman.
__ADS_1
" Saya, Ari! " kata Ari sambil mengangsurkan tangan pada ibu Meri.
" Saya Meri, pak! " kata ibu Meri yang menyambut tangan Ari dan mereka bersalaman.
" Mari, silakan masuk dan silakan duduk. Saya panggilkan suami saya dulu. " kata ibu Meri yang meminta Ari dan Titi untuk masuk dan duduk di ruang tamu.
Setelah Ari dan Titi duduk di ruang tamu, ibu Meri masuk ke dalam rumah untuk memanggil pak Bahrudin.
Tidak lama Ari dan Titi menunggu di ruang tamu, ibu Meri datang dengan membawa dua gelas teh hangat.
Kemudian seorang pria dari dalam rumah dan menghampiri Ari serta Titi.
" Maaf pak Ari jadi menunggu lama, saya pak Bahrudin. " kata pria itu yang menjabat tangan dan bersalaman dengan Ari.
" Saya Ari, pak! " kata Ari yang bangkit dari duduknya dan menjabat tangan dengan pak Bahrudin.
" Silakan duduk pak Ari, bu, diminum dulu tehnya.! " kata pak Bahrudin mempersilakan Ari dan Titi duduk kembali dan meminta Ari serta Titi meminum teh yang sudah dibuatkan oleh istrinya.
" Terima kasih atas tehnya bu, tapi maaf, saya tidak bisa minum teh manis, perut saya suka mual. " kata Titi yang meminta maaf pada bu Meri karena tidak bisa meminum teh manis yang dibuatkan oleh bu Meri.
" Oh iya, maaf bu Titi, saya tidak tahu. Saya ganti air minumnya dengan air putih ya? " kata bu Meri yang tidak mengetahui jika Titi tidak bisa meminum teh manis.
" Tidak apa-apa bu, tidak perlu repot-repot. " kata Titi yang merasa tidak enak hati pada bu Meri.
Ibu Meri kembali masuk untuk mengambil air putih buat Titi, lalu meletakkan segelas air putih dihadapan Titi.
Untuk menghargai ibu Meri, Ari dan Titi meminum air yang sudah disuguhkan oleh bu Meri.
Setelah berbincang dan berbasa-basi, Ari menyampaikan tujuan kedatangannya untuk membayar tanah milik pak Bahrudin sesuai dengan percakapan mereka melalui ponsel.
Setelah sepakat mengenai harga, akhirnya pak Bahrudin dan Ari membuat kuitansi jual beli tanah.
Setelah pak Bahrudin menandatangani kuitansi dan menghitung uang sesuai dengan jumlah yang tertera dalam kuitansi, pak Bahrudin menyerahkan sertifikat tanah miliknya.
" Nanti jika pak Ari mau balik nama, hubungi aja saya, biar biaya balik nama saya transfer langsung ke Notaris dan PPAT nya. " kata pak Bahrudin setelah menyerahkan sertifikat juga photo copy KTP untuk persyaratan balik nama
" Baik, pak, secepatnya saya akan balik nama biar tuntas sekalian.
Kemungkinan hari senin saya akan ke Notaris untuk balik nama sertifikat. " kata Ari.
Setelah selesai dengan urusan jual-beli tanah, akhirnya Ari dan Titi berpamitan untuk pulang karena hari sudah menjelang sore dan rumah mereka jauh dari tempat tinggal pak Bahrudin.
🦂🦂🦂
__ADS_1
🦂🦂 Jaga dan pertahankan setiap kepercayaan yang diberikan, karena satu pengkhianatan akan menghilangkan sebuah kepercayaan. 🦂🦂