Nastiti

Nastiti
Bab 103. Mencari Nomor Telepon Pemilik Tanah.


__ADS_3

Keesokan harinya, setelah pulang dari kantor, Ati dan Titi mampir ke rumah bu Yati, mereka bermaksud untuk menanyakan nomor telepon pemilik tanah yang akan dijual.


" Assalamu'alaikum. " salam Titi sambil mengetuk pintu rumah bu Yati.


Tok..! Tok..! Tok..!


" Assalamu'alaikum..! "


Setelah tiga kali mengucapkan salam tapi tidak jawaban, Titi menghampiri Ari yang sedang menunggu di atas motor.


" Kayaknya ga ada orang di rumahnya, pay! " kata Titi pada Ari.


" Ya sudah, kita ke rumah Tuti dulu, nanti kita tanya pada Tuti. " kata Ari pada Titi.


Saat Ari akan men starter motornya, ada seorang ibu muda yang menghampiri mereka.


" Maaf, bu, cari siapa ya? " tanya ibu muda itu pada Titi.


" Maaf mbak, saya sedang mencari pemilik rumah ini, ada yang mau saya tanyakan. " jawab Titi pada ibu muda itu.


" Ah iya, saya pemilik rumah ini, mari kita ke rumah dulu, bu! " kata si ibu pemilik rumah.


" Jadi mbak bu Yati, ya? " tanya Titi.


" Iya, saya bu Yati, kalau di sini biasanya dipanggil ibu Fikar." jawab ibu itu menjelaskan siapa dirinya.


" Saya mama Nanda, kakaknya ibu Iman. " kata Titi mengenalkan diri.


" Oh iya, mamanya Nanda ya? " tanya ibu Fikar.


" Iya, benar. " jawab Titi sambil tersenyum.


Titi, Ari dan ibu Fikar berdiri dihalaman rumah ibu Fikar, dan mengobrol di sana.


" Maaf mbak, saya ada perlu sama mbak. Saya mau tanya nomor telepon yang punya tanah disebelah ini. " kata Titi menjelaskan maksud kedatangannya menemui ibu Fikar.


" Mama Nanda berminat mau beli tanah itu, ya? " tanya ibu Fikar.


" Insya Allah, jika memang harganya cocok dan rejekinya ada. "


Jawab Titi sambil tersenyum.


" Iya, waktu itu pemilik tanah meminta pada saya, kalau ada yang mau beli tanah itu diminta untuk menelepon langsung kepadanya. Saya diberi nomor telepon pemilik tanah. " kata ibu Fikar menjelaskan pada Titi dan Ari mengenai pemilik tanah tersebut.


" Kalau boleh tahu, berapa harga yang diminta oleh pemilik tanah? " tanya Ari pada ibu Fikar.


" Saya tidak tahu pak, karena pemilik tanah berkata jika ada yang berminat diminta untuk langsung bertanya pada beliau. " jawab ibu Fikar pada Ari.


" Kalau boleh, saya minta nomor telepon pemilik tanah agar bisa berkomunikasi untuk menanyakan mengenai harga tanah pada beliau. " kata Titi pada ibu Fikar.

__ADS_1


Ibu Fikar mengeluarkan ponsel dari kantong baju yang ia kenakan, lalu mencari nomor ponsel pemilik tanah.


" Ini nomor telepon pemilik tanah, namanya bapak Bahrudin. " kata ibu Fikar sambil memberikan nomor telepon pak Bahrudin pada Titi.


Titi menyalin nomor telepon pak Bahrudin ke ponselnya.


" Terima kasih ibu Fikar atas nomor teleponnya. " kata Titi pada ibu Fikar.


Setelah mendapatkan nomor telepon pak Bahrudin, Ari dan Titi berpamitan pada ibu Fikar untuk ke rumah Tuti untuk menjemput Nanda.


Lalu mereka meninggalkan rumah ibu Fikar dan menuju rumah Tuti.


Sesampainya mereka di rumah Tuti, Titi melihat Nanda sedang bermain dengan Iman dan teman-temannya dihalaman rumah Tuti.


" Mama.. " kata Nanda saat melihat mama dan papanya datang untuk menjemputnya.


" Abang, belum mandi ya? kok masih bau acem? " kata Titi saat memeluk Nanda yang datang menghampirinya.


" Disuruh mandi ga mau, katanya masih mau main. " kata Tuti yang baru keluar dari dalam rumah.


" Masuk mbak, bang..! " kata Tuti pada Titi dan Ari yang masih berdiri dihalaman.


Ari dan Titi berjalan ke arah rumah Tuti, lalu duduk di kursi yang ada didepan rumah.


" Mau ngopi, bang? " tanya Tuti pada Ari.


" Boleh, dek! " jawab Ari pada Tuti.


Selesai membuat kopi, Tuti membawa kopi dan air putih untuk Ari dan Titi.


Tuti tahu jika Titi tidak suka minum teh, jadi ia membawakan air putih untuk Titi.


" Ayah Iman mana, dek? " tanya Ari pada Tuti, menanyakan keberadaan Ali suami Tuti.


" Lagi cari kayu, bang, ada yang pesan kusen buat rumah milik temannya." jawab Tuti pada Ari.


Suami Tuti memiliki usaha meubel kayu yang dikerjakan di rumah.


" Lumayan kalau banyak pesanan, bisa buat nambah tabungan. " kata Ari pada Tuti.


" Alhamdulillah bang, nambah tabungan buat biaya lahiran, rejeki dedek bayi juga. " imbuh Tuti lagi pada Ari.


" Bang, mandi dulu ya baru pulang? " kata Tuti pada Nanda yang berada tidak jauh dari mereka.


" Iya, bi, mandi sama dek Iman ya? " tanya Nanda pada bibinya.


" Iya, sana mandi sana dek Iman, jangan main sabun,. mandinya yang bersih. " jawab Tuti pada Nanda yang menghampiri Titi untuk minta dibukakan baju yang dikenakannya.


" Ayo, dek! " ajak Nanda pada Iman yang juga sudah membuka bajunya.

__ADS_1


" Ayo, bang! " kata Iman sambil berlari kedalam rumah untuk mandi dikamar mandi.


Walaupun Iman lebih tua satu tahun dari Nanda, tapi Nanda memanggilnya adek dan Iman memanggil Nanda abang karena Tuti merupakan adik Titi, jadi walaupun Iman lebih tua dari Nanda, sesuai urutan keluarga Nanda merupakan kakak bagi Iman.


" Sudah dapat nomor telepon yang. punya tanah, mbak? " tanya Tuti pada Titi menanyakan mengenai nomor telepon pemilik tanah yang akan dibeli oleh Titi dan Ari.


" Alhamdulillah sudah, tadi sudah bertemu dengan ibu Fikar dan ibu Fikar sudah memberi nomor telepon pemilik tanah. " jawab Titi pada Tuti.


" Syukurlah kalau begitu mbak, mudah-mudahan tanah itu bisa dibeli, jadi kita bisa tetanggaan. " kata Tuti pada Titi.


" Aamiin..! " jawab Titi dan Ari bersamaan.


" Kalau pasaran tanah disini masih terbilang murah ya, dek? " tanya Ari pada Tuti.


" Iya bang, kalau disini masih termasuk murah, karena masih dipinggir kota walaupun dekat dengan pelabuhan. " jawab Tuti pada Ari.


Ari, Titi dan Tuti mengobrol di teras rumah Tuti hingga Nanda dan Iman selesai mandi.


Setelah Nanda selesai mandi dan berganti baju, Ari dan Titi pamit untuk pulang karena hari sudah sore.


" Abang, pamit dulu sama bibi dan dek Iman. " kata Titi pada Nanda.


" Bi, abang pulang dulu ya? " kata Nanda pada Tuti sambil bersalaman dan mencium tangan bibinya.


" Iya, besok main lagi kesini, bibi jemput. disekolah seperti biasa. " kata Tuti pada Nanda.


" Dek Iman, abang pulang dulu ya? " pamit Nanda pada Iman.


" Iya bang, besok main lagi. " jawab Iman.


" Dek, kami pulang dulu, terima kasih kopinya. " kata Ari pada Titi.


" Iya bang, sama-sama! " kata Tuti pada Ari sambil tertawa.


" Tut,. mbak balik duku, ya? " pamit Titi pada adiknya.


" Iya mbak, hati-hati dijalan. " kata Tuti pada Titi.


Setelah berpamitan dan mengucapkan salam dan dijawab oleh Tuti, Ari melajukan motornya meninggalkan rumah Tuti untuk pulang ke rumah mereka.


Ada perasaan lega di hati Ari dan Titi setelah mendapatkan nomor telepon pemilik tanah yang akan mereka beli.


" Semoga harga tanah itu tidak mahal ya pay, sesuai dengan kemampuan kita. " kata Titi pada Ari saat mereka berada di perjalanan pulang.


" Iya may, semoga tanah itu bisa jadi milik kita. Insya Allah nanti setelah magrib kita telepon panjang Bahrudin nya. " kata Ari yang berencana akan menelepon pak Bahrudin.


" Aamiin, semoga aja ya, pay. " kata Titi mengaminkan kata-kata Ari.


Ari pun melajukan motor dengan kecepatan sedang karena ia membawa anak dan istrinya, dan ia harus menjaga keselamatan mereka.

__ADS_1


🦂🦂🦂


🦂🦂 Kasih sayang antara saudara membuat ikatan kekeluargaan akan menjadi semakin erat. 🦂🦂


__ADS_2