Nastiti

Nastiti
Bab 37. Perjalanan Ke Luar Kota.


__ADS_3

Tak lama, mobil jemputan pun tiba.


Feni memanggil Titi dari dalam mobil.


Titi pun menyeberang jalan menuju mobil, lalu membuka pintu mobil dan masuk kedalam mobil.


Ia duduk dibangku tengah bersama Feni, didepan ada Ali yang memegang kemudi, disamping Ali ada Dodi.


Dibangku belakang ada Ari yang duduk sendiri.


Setelah Titi masuk dan duduk disamping Feni, Ali mulai melajukan mobilnya.


" Bismillahirrahmanirrahim,


Bismillahi tawakal tu Alallah la haulawa quwwata illa billah" Titi membaca doa saat mobil mulai melaju, lalu ia membaca Ayat Kursi dalam hati, memohon pertolongan dan perlindungan Allah selama di perjalanan agar mereka tiba dengan selamat ditempat tujuan dan saat pulang nanti.


" Mbak Titi, nanti saat lewat mini market kita beli makanan sama air mineral dulu ya? " kata Ali pada Titi.


' Iya, boleh.. " jawab Titi.


" Beli gorengan juga ya, Ti? " pinta Feni.


" Iya, biasanya didepan Indomarmer suka ada yang jualan gorengan! " jawab Titi.


Sepanjang jalan, mereka saling bercanda.


Saat melihat minimarket yang ada penjual gorengan, mereka berhenti untuk membeli air mineral dan cemilan.


Selesai membeli keperluan untuk dijalan, mereka pun melanjutkan perjalanan.


Diantara mereka berlima, Titi dan Feni lebih tua usianya dari Ali, Dodi dan Ari.


Perjalanan mereka cukup jauh, mereka menuju ke lokasi perkebunan yang berada di pelosok.


Saat mulai memasuki wilayah perkebunan, terlihat rumah-rumah penduduk yang mulai jarang-jarang.


Disepanjang jalan yang mereka lalui terlihat banyak perkebunan.


Dari perkebunan coklat, karet, maupun perkebunan sawit.


Saat berpapasan dengan truk pengangkut lateks, mereka menutup hidung dan saling meledek.


" Wah.. mbak Feni tidak mandi berapa hari? baunya sampai bikin perut mual.


Kata Ari meledek Feni.


" Enak aja! bukan aku yang tidak mandi, Dodi tuh yang jarang mandi, biasanya anak rantau kan malas mandi, karena jauh dari orang tua, tidak ada yang memarahi kalau tidak mandi! " jawab Feni, ia malah meledek Dodi yang pindah duduk bersama Ari.


Dodi merasa pusing dan ia rebahan dibangku belakang bersama Ari.


Dodi malah tertawa mendengar ledekan Feni.


" Kok mbak Feni tahu kalau aku jarang mandi, mbak suka ngintip aku ya? " kata Dodi yang balik meledek Feni.


" Enak aja suka ngintip kamu, memang aku kurang kerjaan? " balas Feni, ia kesal mendengar Dodi balik meledek nya.


Titi dan yang lainnya hanya tertawa mendengar candaan Feni dan Dodi, mereka mentertawakan Feni yang merasa kesal saat Dodi balik meledek nya.


Mereka menikmati pemandangan yang mereka lalui disepanjang jalan.

__ADS_1


Alhamdulillah, diantara mereka tidak ada yang mabuk selama perjalanan.


Selepas maghrib, sekitar jam enam tiga puluh, mereka tiba dilokasi.


Kedatangan mereka telah ditunggu oleh pihak perusahaan PT. Mitra.


" Silahkan mbak, mas, kita keruangan saya! " sambut pak Yayan selaku manager keuangan di PT. Mitra.


Ia telah mengenal Titi karena sering bertemu saat ia kekantor Titi.


Dan pak Yayan biasa memanggilnya mbak Titi.


" Terima kasih, pak! Saya dan Feni yang ikut ke ruangan bapak, yang lain biar menunggu di luar! " kata Titi pada pak Yayan.


"Baiklah mbak, mari keruangan saya.


Mas-mas bisa menunggu disini! " pak Yayan mengajak Titi dan Feni keruangan nya dan meminta yang lain menunggu di ruangan tamu.


Titi dan Feni mengikuti pak Yayan keruangan nya.


" Silahkan duduk, mbak! " pinta pak Yayan pada Titi dan Feni saat mereka tiba di ruangan pak Yayan.


Pak Yayan menghampiri meja kerja nya, ia mengambil amplop coklat tebal dari laci mejanya.


Lalu kembali dan duduk didepan Titi.


" Sebelum nya, saya mohon maaf ya mbak karena sudah merepotkan.


Mbak jadi jauh-jauh datang kesini.


Bagian keuangan saya sedang sakit, dan saya tidak bisa meninggalkan kantor ini, sementara kami harus melakukan penyetoran.


Pak Yayan menjelaskan keadaannya saat ini pada Titi.


" Tidak apa-apa pak! Sudah tugas kami melakukan pelayanan terbaik buat semua client kami.


Dengan datang kesini, saya jadi tahu kantor bapak, dan kami juga bisa sekalian jalan-jalan.


Saya juga mohon maaf pak, karena datang terlambat dan menyita waktu istirahat bapak! ". kata Titi yang merasa tidak enak pada pak Yayan karena mereka datang sudah malam.


" Tidak apa-apa, mbak! Perjalanan kesini cukup jauh dan memakan waktu.


Saya juga tinggal di mess, tidak jauh dari kantor ini! " kata pak Yayan lagi.


" Mbak, ini uang untuk setoran, mohon dihitung kembali, dan nanti saya minta tanda terima penyerahan uang! " kata pak Yayan.


" Baik pak, saya hitung dulu uangnya! " jawab Titi.


Lalu Titi dan Feni mulai menghitung semua uang yang ada di amplop coklat.


Setelah selesai menghitung dan sesuai dengan jumlah yang disampaikan pak Yayan, Titi menandatangani bukti serah terima uang tersebut.


" Uangnya sudah dihitung dan sesuai dengan jumlah yang akan disetorkan.


Ini tanda terimanya, nanti bukti setoran ke Bank saya titipkan pada supir yang akan mengantarkan barang kesini!


Karena sudah malam, saya permisi untuk langsung pulang! " kata Titi pada pak Yayan.


" Baik mbak, terima kasih atas bantuan nya. Untuk pengiriman barang, besok saya sampaikan melalui telpon pada mbak Dewi.! " kata pak Yayan pula.

__ADS_1


Setelah selesai urusan dengan pak Yayan, Titi pun langsung pamit, karena hari sudah menjelang malam.


Pukul tujuh, mereka meninggalkan lokasi untuk kembali pulang ke kota.


Disepanjang jalan, mereka banyak terdiam, tidak seperti saat berangkat tadi.


Mungkin semua pada lelah, apalagi sepanjang jalan sangat sepi, jarang ada kendaraan yang lewat.


Sesekali ada kendaraan pengangkut lateks atau sawit yang lewat.


Suasana jalan pun gelap, karena tidak ada penerangan dari lampu jalan.


Karena keadaan jalan yang sepi, Ali melajukan mobil dengan kecepatan maksimal agar bisa lekas melewati jalanan perkebunan yang sepi.


Dodi tertidur dibelakang, mungkin ia merasa pusing.


Ari menemani Dodi duduk dibelakang, sementara Ali sendiri duduk didepan kemudi.


" Ti.. aku minta balsem donk, kepala aku pusing dan perut aku mual banget.! " pinta Feni pada Titi.


Titi mengambil balsem dari dalam tasnya, lalu memberikan pada Feni.


" Mbak Feni kenapa mbak? mabuk? " tanya Ari pada Titi.


" Sepertinya iya, ia merasa pusing dan mual. " jawab Titi.


" Coba punggungnya juga diolesi balsem, mbak! " pinta Ari.


Titi mengolesi punggung Feni dengan balsem, lalu memijat pelan punggung Feni.


" Sepertinya, kita sudah mau masuk ke kota ya? Sudah banyak rumah penduduk disepanjang jalan yang kita lalui. "


Titi mencoba ngobrol dengan Ari, agar tidak terasa begitu sepi.


Ali memutar musik dengan pelan untuk menemani perjalanan kami.


" Iya, Alhamdulillah.. sepertinya kita sudah dekat kota! " jawab Ari.


" Ti.. aku ga tahan mual, mau muntah! " kata Feni pada Titi.


" Ali, tolong menepi sebentar, Feni mual dan mau muntah! " pinta Titi pada Ali.


Ali pun menepikan mobilnya tak jauh dari kantor Koramil, dekat lampu jalan agar terlihat terang.


Titi tak tahu di daerah mana, ia hanya melihat diseberang jalan ada kantor Koramil.


Setelah mobil berhenti, Feni turun dari mobil diikuti Titi dan Ari.


Feni memuntahkan semua isi perutnya, Titi memijat tengkuk Feni agar Feni merasa nyaman.


Lalu ia juga memijat dan mengusap punggung Feni.


Saat mengusap punggung Feni, Titi tak sengaja memegang tangan Ari yang juga membantu memijat punggung Feni.


Titi terdiam sesaat, tiba-tiba dadanya berdebar-debar saat tak. sengaja memegang tangan Ari.


Ada perasaan aneh yang ia rasakan dalam hatinya.


˚✧₊⁎❝᷀ົ≀ˍ̮ ❝᷀ົ⁎⁺˳✧

__ADS_1


__ADS_2