
Setelah beberapa hari Nanda masuk sekolah, akhirnya ia bisa menyesuaikan diri dengan keadaannya yang berjalan menggunakan kruk.
Teman-temannya juga tidak ada yang mengolok-olok keadaannya, malah mereka dengan senang hati membantu jika Nanda membutuhkan sesuatu.
" Bagaimana keadaan abang disekolah hari ini? apa ada yang membuat abang kesulitan? " tanya Titi pada Nanda saat pulang kerja dan menjemput Nanda di sekolahnya.
" Nggak ada mah, teman-teman abang baik semua dan membantu abang kalau ada perlu sesuatu. Mereka suka membantu abang kalau abang mau berdiri dari bangku. Ustadz juga suka membantu abang jika abang berjalan dan melewati selokan didepan kelas. "
Nanda menceritakan jika teman-teman dan ustadz nya suka membantu jika ia mengalami kesulitan.
" Alhamdulillah jika seperti itu. Jadi abang ga malu lagi kan pergi ke sekolah menggunakan kruk? " Kata dan tanya Titi.
" Iya, mah. " jawab Nanda singkat.
Saat di rumah, Nanda juga sudah mau bermain dengan teman-temannya di halaman rumah.
Andi dengan senang hati akan membantu abangnya jika Nanda memerlukan sesuatu.
" Dek, tolong abang mau ke kamar mandi. " kata Nanda pada adiknya.
Saat itu mereka tengah bermain PS. Kamar mandi ada di dalam kamar anak-anak dan tidak begitu jauh dari tempat mereka bermain.
" Abang mau diambilkan tongkat? " tanya Andi pada abangnya.
" Nggak, tolong abang ambilkan sket board. " pintu Nanda pada adiknya.
Andi berjalan ke dekat dapur, tempat menyimpan mainan mereka.
Diambilnya papan sket board sesuai permintaan abangnya.
" Ini bang, sket board nya. " kata Andi pada abangnya sambil menyerah papan sket board yang diminta oleh abangnya.
Setelah menerima sket board dari Andi, dengan hati-hati Nanda duduk di atas papan sket board, lalu meminta adiknya untuk mendorongnya ke kamar mandi.
" Dek, dorong abang ke kamar mandi, ya? " pinta Nanda pada Andi.
" Oke..! " kata Andi dengan senang hati, lalu mendorong punggung abangnya agar sket board itu berjalan.
Nanda juga mengayuh menggunakan tangannya dilantai agar sket board bisa berjalan.
Sebenarnya Nanda bisa ke kamar mandi sendiri, tapi ia suka meminta diantar pada Andi karena Nanda takut jika ke kamar mandi sendirian.
Terkadang Titi juga merasa heran, mengapa Nanda begitu pengecut,
untuk ke kamar mandi di siang hari saja harus diantar oleh adiknya.
Titi hanya memperhatikan apa yang dilakukan oleh kedua anaknya dari jendela dapur.
__ADS_1
Saat didepan pintu kamar, Andi berhenti mendorong abangnya. Ia berdiri didepan abangnya, lalu sedikit membungkuk dan menarik sket board dari depan karena lantai menuju kamar agak sedikit tinggi dari lantai ruang tengah.
Titi keluar dari dapur untuk membantu Andi memasukkan sket board ke kamar, tapi Andi mampu menarik abangnya karena Nanda juga membantu mendorong sket board dengan tangannya.
Didepan pintu kamar mandi, Andi berhenti lalu Nanda buang air kecil didepan pintu kamar mandi, karena lantai kamar mandi lebih rendah hampir lima belas centi dari lantai kamar sehingga Nanda tidak berani untuk masuk ke kamar mandi.
Setelah Nanda buang air kecil, Andi menyiram lantai kamar mandi lalu membawa Nanda kembali ke rumah tengah untuk menonton televisi.
Setelah anaknya kembali ke ruang tengah, Titi masuk ke kamar mandi dan kembali menyiram lantai kamar mandi agar tidak berbau karena Titi tahu jika Andi hanya menyiram sekedarnya saja.
Tapi Titi bersyukur, kedua anaknya saling menyayangi dan saling membantu.
" Assalamu'alaikum... " terdengar suara anak-anak mengucapkan salam saat Titi keluar dari kamar anaknya.
" Waalaikumsalam.. " jawab Titi dan Nanda bersamaan.
Titi melihat di pintu samping ada Fikar dan adiknya serta Ajip teman Nanda dan Andi.
" Fikar, Ray, Ajip, masuk nak..! itu Nanda sama Andi sedang main PS." kata Titi pada Fikar, Ray serta Ajip.
" Permisi, mama Nanda. " kata Fikar pada Titi sambil masuk ke dalam rumah menghampiri Nanda dan Andi yang sedang bermain PS.
" Sini Fikar, Ajip, ikut main PS, nanti kita gantian mainnya. Yang kalah main gantian sama yang lain. " kata Nanda pada Fikar dan Ajip, lalu mengajak mereka bermain PS bersama.
" Ini main gitar hero, ya? " tanya Fikar pada Nanda.
Fikar duduk didekat Nanda bersama Ajip, menunggu giliran untuk bermain PS. Ray duduk disebelah Andi dan memperhatikan mereka bermain PS.
" Ibu mana, Fik? " tanya Titi pada Fikar.
" Ibu main ke rumah mbah. " jawab Fikar.
" Ray tidak ikut ke rumah mbah? " tanya Titi pada Ray.
Ray hanya menggeleng, menjawab pertanyaan Titi.
" Nanti mainnya gantian dan jangan ribut ya, nak? " kata Titi pada anak-anak itu.
" Iya, ma! " jawab Nanda.
Titi berlalu ke dapur untuk mencuci piring dan meninggalkan anak-anak yang sedang bermain PS.
" Dek, ambilkan abang air minum, ya? " pinta Nanda pada Andi setelah mereka beberapa saat bermain PS.
Saat ini Nanda dan Fikar yang sedang bermain PS, sedangkan Ajip, Andi dan Ray hanya duduk dan menonton mereka bermain.
" Air putih atau air es, bang? " tanya Andi.
__ADS_1
" Air es! " jawab Nanda yang masih fokus dengan permainannya.
Andi berjalan ke arah kulkas, lalu mengambil sebotol air serta mengambil cangkir yang ada di atas meja makan, lalu membawanya dan memberikan pada Nanda.
" Ini, bang..! " kata Andi sambil menaruh air dan cangkir didekat Nanda, setelah itu ia kembali duduk di dekat Ray memperhatikan Nanda dan Fikar main PS sambil menunggu giliran mereka bermain.
Andi, walaupun baru berusia empat tahun, ia sengat bisa diandalkan oleh abangnya karena ia suka menuruti permintaan abangnya tanpa mengeluh.
Titi merasa bersyukur karena kedua anaknya saling menyayangi dan tidak pernah bertengkar dengan sesama teman-teman mereka.
Andi hanya sering bertengkar dengan Ais, adiknya Iman.
Entah mengapa jika melihat Ais, Andi pasti tidak suka walaupun Ais tidak melakukan apa-apa.
Andi sering mengganggu Ais hingga ia menangis.
" Abang, adek Ais nya diapain? kok adek Ais nya menangis? " tanya Tuti suatu hari pada Andi.
" Tadi adek Ais abang tarik rambutnya. " jawab Andi tanpa merasa bersalah pada bibinya.
" Kenapa rambut adek Ais abang tarik? kan dek Ais sudah cantik, rambutnya bibi ikat dengan pita. Kalau rambut dek Ais abang tarik, nanti rambutnya kusut dan kepala dek Ais jadi sakit. " kata dan tanya Tuti pada Andi.
" Abang tuh ga suka, dek Ais sering ikutin abang. " jawab Andi.
" Ya ga papa kalau dek Ais mau ikutin abang, kan dek Ais mau main sama abang. " imbuh Tuti lagi.
" Ga mau, dek Ais kan perempuan, kenapa harus ikut main sama abang, cari aja teman dek Ais yang perempuan juga. " kata Andi membela diri.
" Kan dek Ais adeknya abang, ya ga papa kalau mau main sama abang. " kat Tuti lagi.
" Ga mau ah, males. " kata Andi sambil berlari meninggalkan bibinya.
" Abang, mau kemana? " tanya Tuti pada Andi.
Andi tidak memperdulikan panggilan bibinya, ia terus berlari menemui teman-temannya yang sedang bermain dihalaman.
Tuti hanya tertawa melihat tingkah Andi yang tidak memperdulikan kata-kata dan panggilan darinya.
Begitulah sikap Andi yang sering mengganggu Ais hingga Ais sering menangis karena ulah Andi.
Terkadang Titi merasa tidak enak pada Tuti karena ulah Andi pada Ais.
Tapi Tuti memahami bahwa Andi masih kecil dan belum memahami jika apa yang dilakukannya merupakan suatu kesalahan.
" Namanya juga anak-anak mbak, nanti jika sudah besar pasti mereka juga bisa akur. " begitu kata Tuti jika Titi meminta maaf pada Tuti atas perbuatan Andi pada Ais.
🦂🦂🦂
__ADS_1
🦂🦂 " Terkadang orang begitu mudah berkata pada orang lain untuk introspeksi diri, sementara ia tidak pernah melihat dan menyadari setiap kesalahan yang ia lakukan pada orang lain. " 🦂🦂