Nastiti

Nastiti
Bab 47. Jalan-Jalan Ke Pantai.


__ADS_3

Sesuai kesepakatan tadi malam, pagi ini, Titi dan Ari bersiap-siap untuk jalan-jalan ke pantai.


Mereka meminjam motor pada pacar Tuti, untuk kendaraan mereka jalan-jalan.


" Sudah siap, dek? kalau sudah siap kita berangkat sekarang, biar ga terlalu siang!" tanya Ari pada Titi yang sedang bersiap untuk pergi jalan-jalan.


" Sudah bang, ini lagi pake sepatu!" jawab Titi.


Setelah siap, dan berpamitan pada orang tua Titi, mereka berangkat dengan menggunakan motor.


****


" Jalan kemana kita, dek?" tanya Ari.


" Kita ke pantai yang ada dipinggir kota aja, bang! Disana pemandangan pantainya sangat bagus!"


" Baiklah, kita kesana!" jawab Ari.


Lalu Ari mengarahkan motornya untuk melaju menuju pantai yang ada dipinggir kota.


*****


Lebih dari satu jam perjalanan, mereka tiba di pantai yang ada dipinggir kota


Suara debur ombak terdengar jelas ditelinga mereka.


Titi merasa sangat bahagia bisa jalan-jalan bersama Ari ke pantai ini.


Pantai ini memiliki deburan ombak yang cukup kuat.


Setelah memarkirkan motor, Ari dan Titi berjalan ke tepi pantai menuju pondok yang sengaja dibuat dipinggir pantai sebagai tempat pengunjung untuk beristirahat dan menikmati keindahan pantai.


Ari dan Titi duduk disebuah pondok yang menghadap ke arah pantai.


Ari meletakkan minuman dan cemilan yang dibawanya.


" Disini ombaknya kuat ya, bang! beda dengan pantai yang tak jauh dari rumah kita.


Kalau dekat rumah, disepanjang pantai ditumbuhi pohon cemara, sementara disini ditumbuhi pohon kelapa." kata Titi pada Ari.


Rumah Ari dan Titi memang tak jauh dari pantai dan pelabuhan.


" Iya, disini juga banyak tebing-tebing curam dan gugusan karang yang berdiri tegak ditengah pantai, deburan ombak pecah saat menerjang tebing-tebing dan karang yang berdiri di pantai." Ari menjelaskan pada Titi.


Sesekali, mereka terkena air yang memercik karena deburan ombak yang menerjang tebing dan gugusan karang.


Ari merebahkan kepalanya diatas pangkuan Titi.


" Dek, coba lihat burung camar yang terbang diatas sana


Mereka terbang mengitari pantai, sesekali mereka menukik ke arah pantai untuk menangkap ikan yang terlihat diatas air.


Terlihat cantik saat menukik menyambar ikan."


Kata Ari menunjuk camar yang terlihat terbang diatas laut.


" Iya bang, camar aja begitu lincah mencari rejeki untuk menyambung hidupnya. Mereka terbang berputar diatas permukaan air, saat ada ikan, mereka menukik untuk menangkapnya."


Titi menyahut apa yang Ari katakan.


" Jika dilihat secara logika, camar hidup di darat dan ikan didalam laut.

__ADS_1


Camar tidak bisa berenang tapi rejekinya ada didalam air.


Itulah kuasa Allah, sesuatu hal yang tak mungkin menjadi mungkin."


Titi mengagumi akan kebesaran Allah.


" Iya, seperti kita! Kita berbeda usia, abang masih terlalu muda untuk menikah, dan abang belum memiliki pekerjaan tetap, tapi Allah akan menyatukan kita dalam ikatan pernikahan."


Kata Ari menimpali kata-kata Titi.


" Jodoh tidak ada yang tahu, bang!" kata Titi


" Iya, karena jodoh salah satu rahasia Allah." kata Ari pula.


Mereka begitu menikmati jalan-jalannya, menikmati minuman dan cemilan yang mereka bawa.


" Kalau bawa gitar asik juga ya, dek? kita bisa duduk disini sambil bernyanyi!" kata Ari pada Titi.


" Iya ya, kita bisa nyanyi lagi kemesraan disini, pas banget saat ini kita sedang duduk ditepi pantai". Titi mengiyakan kata-kata Ari.


" Tapi, lagu kita bukan " Kemesraan" bang.


Abang masih ingat ga lagu kita?" tanya Titi.


" Ga mungkin abang lupa, dek. Saat dilokasi abang suka menyanyikan lagu kita bila rindu pada adek.!" jawab Ari.


" Kita nyanyi lagi itu aja bang, walau ga ada gitar. Selama jauh dari abang, adek pun sering menyanyikan lagu ini!"


Titi mulai menyanyikan lagu yang sering mereka nyanyikan saat mereka bersama, dan saat Ari mendengar Titi menyanyikan lagu kesukaan mereka, Ari pun ikut bernyanyi


Bukan Pujangga


By : Base Jam..


Yang pandai merangkai kata


Ku tak slalu kirimkan bunga


Tuk ungkapkan hati ku...🎵


🎵Mungkin aku takkan pernah


Memberi intan permata


Mungkin aku tak selalu


Ada didekat mu..🎵


🎵Ku ingin kau tahu isi dihati ku


Ku tak akan lelah jaga hati ini


Hingga dunia tak bermentari..🎵


🎵Satu yang ku pinta


Yakinkan dirimu hati ini milik mu..


Semua yang ku rasakan untuk mu


Lebih dari sebuah kata cinta untuk mu..🎵

__ADS_1


Ari dan Titi menyanyikan lagu itu dengan perasaan bahagia.


Itu lagu kenangan mereka, Ari yang membelikan kaset Base Jam untuk Titi.


Saat jauh dari Ari dan merindukannya, Titi akan memutar lagu kenangan itu sambil mengingat kenangan kebersamaan mereka.


Hampir semua lagu di kaset itu mereka hapal, dan sering menyanyikan lagu-lagu Base Jam saat mereka menikmati kebersamaan.


" Bang..masih ingat ga waktu kita nungguin burung saat ayah menanam padi di ladang?" tanya Titi.


" Ingatlah, awalnya badan abang terasa gatal-gatal terkena batang padi, setelah terbiasa jadi ga gatal-gatal lagi."


Jawab Ari.


" Kamu kan suka sembunyi-sembunyi merokok dibalik rimbunnya pohon padi."


Ari mengingatkan apa yang Titi lakukan saat mereka menjaga burung di ladang.


" Ha..ha..abang ingat aja kalau aku suka iseng!" Titi tertawa mengingat apa yang sering ia lakukan saat di ladang.


Titi memang suka iseng merokok saat ia sedang suntuk atau sedang ada masalah.


Titi iseng merokok saat ia duduk di bangku SMA, tapi Titi bukan pecandu rokok.


Ia merokok pada saat-saat tertentu.


Ari tahu kebiasaan jelek Titi itu, ia tak melarang karena ia tahu Titi hanya sesekali merokok.


" Seru ya bang saat kita nungguin burung.


Teriak-teriak mengusir burung yang datang sambil mengibar-ngibarkan plastik yang diikat dikayu sebagai alat pengusir burung!" kata Titi mengenang saat mereka menjaga padi.


" Iya, abang semangat banget menggoyang-goyangkan tiang yang menghubungkan tali-tali yang digantungi kaleng, hingga kalau digoyangkan suara kalengnya akan terdengar berisik."


Ari menimpali kata-kata Titi.


" Iya, yang cape kalau hari mulai sore, burung-burung yang datang banyak banget, mereka datang bergerombol, kadang sampai serak karena teriak-teriak."


Ari dan Titi bercerita dan bernostalgia tentang masa-masa kebersamaan mereka.


" Eh..bang, saat kita sering telponan waktu abang tinggal dirumah tante abang, tagihan telpon tiap bulan pasti bengkak." kata Titi mengingat saat Ari pulang ke rumah tante nya yang diluar kota untuk mencari pekerjaan.


" Iya, abang sering kena omel pas awal bulan bayar tagihan telpon karena tagihannya jadi dua kali lipat dari jumlah yang biasa dibayar .


Maklumlah, abang kan sering nelpon interlokal agar bisa komunikasi sama adek." Ari menjawab perkataan Titi.


Mereka mengingat, hampir tiap malam mereka telponan untuk.melepaskan rindu.


Sebelum Titi memasang sambungan telpon di rumahnya, Titi harus pergi ke wartel hanya untuk menelpon Ari.


Lokasi wartel agak jauh dari rumah Titi dan sedikit susah untuk komunikasi di wartel karena terkadang Titi harus antri.


Akhirnya, Titi memasang sambungan telpon dirumahnya.


Titi merasa perlu memasang telpon untuk komunikasi dengan keluarga yang ada diluar kota.


Menjelang siang, Ari dan Titi memutuskan untuk pulang karena cuaca juga sudah mulai terasa panas.


Hari ini, mereka menghabiskan waktu berdua setelah berpisah selama satu bulan lebih.


Lusa , Ari akan kembali ke lokasi untuk menyelesaikan pekerjaannya disana sebelum ia izin untuk melaksanakan pernikahannya dengan Titi.

__ADS_1


(´∩。• ᵕ •。∩`) ( ◜‿◝ )♡


__ADS_2