
Pagi ini, terlihat kesibukan di rumah Titi.
Semua berusaha menyelesaikan pekerjaan masing-masing dengan baik.
Di dapur, terlihat kesibukan orang-orang yang bertugas menyiapkan makanan, baik untuk sarapan maupun untuk syukuran setelah akad nikah dan untuk acara pesta pernikahan.
Ketua panggung sibuk mengawasi dan mengoreksi setiap makanan yang dimasak.
Di area tenda, Pur dan rekannya yang pagi-pagi sudah datang merapikan kursi-kursi yang akan dipakai para tamu undangan dibantu bapak-bapak yang sudah ditunjuk sebagai panitia.
Dua meja penyambut tamu di dua pintu masuk, souvenir, buku tamu dan kotak untuk amplop semua sudah siap.
Juga meja prasmanan sudah tertata rapi, tinggal menaruh hidangan yang sebagian sudah ada di atas meja.
Dikamar, perias pengantin tengah merias wajah Titi. Riasan yang sangat sederhana karena Titi tidak ingin terlalu mencolok.
Titi mengenakan kebaya berwarna putih dengan untaian melati yang diselipkan disanggulnya.
Titi kelihatan cantik walau hanya mengenakan riasan sederhana.
Karena Titi jarang berdandan, saat dirias jadi kelihatan aura kecantikannya.
" Mbak nya, tadi sudah sarapan belum? " tanya sang perias.
" Sudah mbak, tadi habis mandi Titi langsung sarapan. Kenapa mbak? " jawab dan tanya Titi.
" Takut nanti kelaparan aja mbak, ntar kalau makan lipstik nya luntur, kan jadi ga menor kalau ga pake lipstik, kalau minuman bisa pake sedotan!" jawab mbak perias menggoda Titi.
" Kalau lipstiknya terhapus ya dipakaikan lagi mbak! " jawab Titi sambil tersenyum.
Akhirnya, riasan Titi pun selesai.
Ia telah siap untuk acara akad nikah.
Sementara dikamar Titi, ibu dan Tuti juga beberapa orang keluarga, juga sedang dirias.
Tuti dan anggota keluarga mengenakan kebaya dengan corak dan motif yang sama, kebaya yang dibuat untuk seragam keluarga.
Sementara, ayah hanya mengenakan kemeja batik berlengan panjang senada dengan kain sarung yang dikenakannya serta mengenakan peci berwarna hitam.
Semua telah siap, tinggal menunggu mempelai pria yang belum datang.
Saat pembicaraan antar keluarga, akad nikah akan diadakan pukul delapan tiga puluh, tapi saat ini sudah hampir jam sembilan, rombongan pengantin pria belum kelihatan.
Ayah sudah mulai cemas, penghulu sudah datang dan menunggu dari tadi.
" Gimana, Ti? Ari atau keluarga nya bisa dihubungi ga? ini sudah mau jam sembilan, sudah lewat dari akad nikah yang sudah dijadwalkan.! " ayah bertanya dengan perasaan cemas pada Titi.
" Belum ada kabar, ayah! Belum ada yang bisa dihubungi. Telpon di rumah kakak bang Ari juga tidak ada yang mengangkat saat Titi telpon tadi." Titi menjelaskan pada ayah.
" Sabar, yah.. mungkin mereka sedang dalam perjalanan." kata ibu mencoba memenangkan ayah.
Akhirnya, ayah duduk didekat pak penghulu dan pak Basri yang akan menjadi saksi dari pihak keluarga Titi.
__ADS_1
" Sabar pak, mungkin sebentar lagi sampai, saya juga tidak sedang terburu-buru, tidak ada jadwal menikahkan yang lain setelah ini! " pak Darma selaku penghulu dan juga merupakan tetangga dekat mereka mencoba menenangkan ayah Titi.
Tak lama setelah obrolan pak Darma dan ayah Titi, terlihat beberapa rombongan kendaraan masuk ke area parkir yang telah disiapkan.
" Pak, pihak pengantin pria sudah datang!" lapor salah seorang panitia yang bersiap menyambut tamu.
" Baik, pak! Terima kasih! " jawab ayah Titi. Lalu yang ada didalam rumah bersiap untuk menyambut tamu yang sudah sejak tadi mereka tunggu.
*****
Setelah acara penyambutan calon pengantin pria, acara akad nikah pun dimulai.
" Bapak-bapak, ibu-ibu, berhubung calon mempelai pria sudah hadir bersama kita, maka acara akad nikah akan segera dimulai. "
Pembawa acara akad nikah membuka acara dengan ucapan salam dan shalawat serta kata pengantar lainnya, lalu bertanya kesiapan kepada kedua belah pihak yang akan menyelenggarakan ijab kabul.
Setelah semua siap, penghulu mulai bersiap untuk ijab kabul mempelai pria.
" Bagaimana pak Harya, apa bapak sudah siap untuk menjadi wali bagi Nastiti putri bapak? " tanya pak penghulu pada ayah Titi.
" Saya sudah siap pak! " jawab ayah tegas.
" Ari Wiryahadi, apakah sudah siap untuk mengucapkan ijab kabul? " tanya penghulu pada Ari.
" Saya siap, pak! " jawab Ari dengan sedikit gugup dan deg-degan.
" Para saksi, apakah sudah siap? "
" Siap, pak! " jawab para saksi.
Ayah duduk dihadapan Ari, lalu Ari menjabat tangan ayah.
Akad nikah pun dimulai.
" Ari Wiryahadi Bin Hadi, saya nikahkan engkau dengan putri kandung saya Nastiti Binti Harya dengan mas kawin lima gram cincin emas dan seperangkat alat shalat dibayar tunai"
" Saya Terima nikahnya Nastiti Binti Harya dengan mas kawin tersebut dibayar tunai"
Ari mengucapkan ijab kabul dengan satu tarikan nafas.
" Bagaimana para saksi, sah? tanya penghulu.
" SAH! " Jawab para saksi
" Sah..! Sah..! jawab hadirin yang hadir di ruangan itu.
Pak penghulu, meminta agar pengantin wanita dibawa keluar dari kawar dan didudukkan disamping mempelai pria.
Saat Titi keluar dari kamar di iringi oleh Tuti dan Elsa.
Ari tersenyum memandang Titi yang terlihat cantik dengan balutan kebaya putih yang sederhana.
Titi berjalan sambil tertunduk, ia merasa malu saat menjadi pusat perhatian.
__ADS_1
Lalu, Titi duduk disamping Ari dengan jantung yang deg-degan, ia tak menyangka bahwa saat ini ia telah resmi menjadi istri Ari, orang yang sangat dicintainya.
Ari memasangkan cincin dijari manis Titi, begitupun Titi memasang cincin dijari manis Ari.
" Silahkan pengantin wanita mencium tangan pengantin pria, dan pengantin pria mencium kening pengantin wanita. " pak penghulu meminta Titi untuk mencium tangan Ari, dan meminta Ari mencium kening Titi.
Kedua pengantin pun melakukan apa yang diminta oleh penghulu.
" Cium keningnya jangan lama-lama, nanti kebablasan., kalau mau lama-lama nanti aja setelah selesai acara! " canda penghulu pada mempelai pria.
Yang lain tertawa mendengar candaan pak penghulu, sementara Ari dan Titi hanya tertunduk malu.
Ari membacakan sirat taklik buat istrinya.
Lalu kedua mempelai menandatangani buku nikah.
Lalu acara akad ditutup dengan sungkeman pada orang tua kedua mempelai dan ditutup dengan doa puji syukur atas kelancaran acara akad.
Saat sungkeman, kedua orang tua Titi meminta Ari untuk menjaga mencintai Titi dengan tulus.
" Ari, ayah titip Titi untuk kau sayangi, kau jaga dan kau lindungi.
Cintai Titi dengan setulus hati.
Sekarang tanggung jawab ayah terhadap Titi telah beralih pada mu sebagai suami Titi. Bimbing dan tuntun dia sesuai ajaran agama kita. Jika ia berbuat salah, tegur dengan cara yang baik.
Jika suatu saat ia berbuat salah dan engkau tidak bisa memaafkannya, kembalikan ia pada ayah dan ibu, jangan kau campakkan begitu saja. "
Dengan perasaan sedih, ayah memberi wejangan pada Ari agar Ari bisa menjadi imam yang baik bagi putrinya.
Bukan tak ikhlas melepaskan Titi pada suaminya, tapi seorang ayah akan selalu menyayangi dan mencintai putrinya walaupun sudah menikah.
" Insya Allah, Ari akan selalu menjaga, melindungi dan mencintai Titi dengan sepenuh hati, ayah! "
Ari menerima semua nasehat dan pesan yang ayah sampaikan padanya sambil mencium tangan ayah dengan takzim.
" Ari, ibu titip Titi ya? Jika ada sesuatu, sampaikan pada ibu, ibu menganggap Ari seperti anak ibu sendiri.
Jangan sungkan untuk menyampaikan pada ibu jika ada yang tidak berkenan pada Titi! " ibu menyampaikan pesan pada Ari dengan berurai air mata.
Saat Titi belum mendapat jodoh, ibu merasa resah, sekarang ibu merasa kehilangan putri yang disayanginya.
" Insya Allah bu, Ari akan mengingat pesan ibu, terimakasih sudah menganggap Ari seperti anak ibu sendiri! "
Ari me cium tangan ibu dengan takzim.
Ia merasa terharu mendengar apa yang disampaikan ibu.
Notes : Bersambung dulu ya gaes, maaf kalau banyak typo.
Mohon dukungan, kritikan dan sarannya ya..??
Jangan lupa untuk selalu memberi❤, komentar dan Vote nya. 🙏🙏🙏
__ADS_1
o(〃^▽^〃)o