
Pagi ini Titi tengah bersiap untuk ke pantai bersama bang Ari dan Nanda.
Kemarin bang Ari mengajak Titi untuk pergi ke pantai, mereka akan mencari batu cincin.
Flashback on
" May, besok mau ikut ke pantai ga? " tanya bang Ari saat mereka tengah beristirahat sore itu.
Besok hari minggu, mereka libur bekerja dan bang Ari mengajak Titi dan Nanda pergi ke pantai.
" Ke pantai, pay? maulah may ikut, sudah lama kita tidak ke pantai, Nanda pasti senang kalau diajak ke pantai. "
Kata Titi yang merasa senang saat bang Ari mengajaknya ke pantai.
" Kita ke pantai yang ada di daerah utara ya? kita cari batu cincin di sana. "
Bang Ari mengajak pergi ke pantai di bagian utara karena mereka ingin mencari batu cincin.
Hampir dua bulan ini bang Ari sedang gila batu cincin.
Bang Ari sering pergi bersama temannya mencari batu cincin di sepanjang pantai bagian utara, karena di sana memang
banyak terdapat batu-batu yang cantik, jika beruntung bisa mendapatkan batu dengan corak yang unik.
Hampir setiap hari libur bang Ari pergi berburu batu cincin, terkadang dia pergi sabtu sore dan minggu malam baru kembali dengan membawa satu karung batu yang akan dipilih untuk dibuat batu cincin.
Bang Ari sedang punya hobi baru, yaitu mengumpulkan batu cincin.
Bang Ari jadi punya kenalan tukang asah batu di pasar, juga jadi punya kenalan yang hobi mengoleksi batu cincin.
Dengan senang hati Titi akan ikut pergi mencari batu cincin.
Flashback off.
" Sudah siap may? Nanda dimana? "
Bang Ari menanyakan kesiapan Titi untuk pergi, juga menanyakan keberadaan Nanda.
" Ini sudah siap semua, air minum dan cemilan untuk Nanda di jalan sudah ada, karung kecil untuk tempat batu sudah ditaruh dibawah jok motor. "
Jawab Titi yang mengatakan jika ia sudah siap untuk berangkat.
" Nanda sudah duluan duduk di atas motor. " jawab Titi yang memberitahu bang Ari keberadaan Nanda.
" Perut may bagaimana? Tidak apa-apa kan kalau kita jalan jauh naik motor? "
Bang Ari bertanya mengenai kehamilan Titi jika mereka jalan jauh menggunakan motor.
" Insya Allah aman pay, kan sudah berusia empat bulan, jadi sudah kuat. "
Jawab Titi yang meyakinkan bang Ari jika kandungannya tidak apa-apa.
" Ya sudah kalau gitu, kita jalan sekarang mumpung masih lagi. " kata bang Ari sambil mengambil kunci motor yang ada di dekat lemari ruang tamu.
__ADS_1
Setelah menutup pintu kamar, Titi menyusul bang Ari yang sudah keluar duluan melalui pintu dapur.
" Eh, anak papa sudah ganteng, sudah pakai sepatu sama kacamata, mau kemana abang nak? "
Tanya bang Ari pada Nanda yang sudah siap duduk di atas motor.
Kacamata hitam miliknya sudah bertengger di atas hidungnya.
" Kita kan mau jalan-jalan ke pantai, pa! " jawab Nanda sambil duduk di bagian depan motor.
" Cucu nenek sudah ganteng mau kemana? " tanya ibu Titi pada Nanda yang sejak tadi memperhatikan Nanda karena takut Nanda jatuh dari motor.
" Mau jalan-jalan, nek! " jawab Nanda pada neneknya.
" Mau jalan-jalan? nenek ga diajak? nenek boleh ikut ga? " tanya ibu menggoda Nanda.
" Nenek ga boleh ikut, nek, soalnya motornya ga muat. " jawab Nanda pada neneknya.
Ibu Titi tertawa mendengar jawaban Nanda. Nanda memang sudah mengerti jika diajak ngobrol.
Bang Ari menggantung tas berisi makanan, air minum dan baju ganti untuk Nanda di bagian depan motor.
Sengaja bang Ari gantung agar Titi tidak repot membawa di bahunya.
Jam sembilan pagi, bang Ari mengajak Titi untuk berangkat ke pantai agar tidak kepanasan saat dijalan.
" Bu, Titi pergi dulu ya? " pamit Titi pada ibunya.
" Iya, hati-hati di jalan, pulangnya jangan kesorean. Ingat kamu sedang hamil. "
" Iya, bu! " jawab Titi.
" Bu, Ari berangkat dulu. " kata bang Ari yang berpamitan pada ibu.
" Iya, hati-hati dijalan, jangan ngebut bawa motornya.
Ingat bawa anak kecil sama istri yang lagi hamil. "
Ibu meminta bang Ari untuk berhati-hati karena ia membawa anak istrinya.
Setelah berpamitan pada ibu, bang Ari melajukan motor meninggalkan halaman rumah Titi.
Nanda duduk didepan karena ia tidak mau duduk dibelakang bersama mamanya.
" Topi saya bundar, bundar topi saya, kalau tidak bundar, bukan topi saya. "
Sepanjang jalan Nanda bernyanyi dengan riang.
Terkadang bang Ari dan Titi ikut bernyanyi bersama Nanda.
Nanda sangat menikmati momen pergi berjalan-jalan bersama kedua orang tuanya.
" Kita akan mencari batu dimana, pay? " tanya Titi pada bang Ari.
__ADS_1
" Kita cari disepanjang pantai di daerah utara saja, di sana banyak batu-batu yang bagus, siapa tahu kita dapat batu langka. "
Jawab bang Ari yang mengajak Titi mencari batu yang terdapat di pantai daerah utara.
" Sudah banyak koleksi batu cincin pay, mau diapakan? " tanya Titi
" Ya untuk koleksi aja. Kalau ada yang bagus nanti bisa buat mata kalung untuk may. Kalau ada teman yang mau juga ga papa, kasih aja.
Pay cuma senang ngumpulin aja. Hobi baru pay sekarang ngumpulin batu cincin."
Bang Ari menjelaskan pada Titi bahwa ia hanya senang mengumpulkan batu cincin, dan jika ada temannya yang mau bang Ari bisa memberikannya.
" Dari hobi mengumpulkan batu cincin, pay bisa punya teman baru yang hobi ngumpulin batu cincin.
Ada pak Datang yang ngasih pay kotak untuk menyimpan batu cincin.
Koleksi batunya bagus-bagus dan sudah ada yang nawar dengan harga mahal, tapi pak Dadang ga mau jual karena ia mengumpulkan batu untuk koleksi dan bukan untuk dijual lagi. "
Bang Ari menceritakan tentang temannya yang hobi mengoleksi batu cincin dan memberikan sebuah kotak untuk menyimpan koleksi batu cincin pada bang Ari.
Hampir dua jam perjalanan, bang Ari menghentikan motor dipinggir sebuah pantai yang terlihat masih alami.
" Pantai di daerah sini biasanya ramai saat hari raya. Di sini sepi karena tidak ada nelayan. Karena ombak disini kuat, jadi nelayan tidak berani melaut di daerah sini. "
Bang Ari mengatakan jika di daerah itu tidak ada nelayan yang melaut karena ombak di sana kuat.
Memang Titi lihat jika ombak disini kuat dan ada beberapa batu karang yang terlihat berdiri tegak di tepian pantai.
Setelah memarkirkan motor dengan baik, bang Ari mulai berjalan menyusuri tepi pantai yang terdapat banyak batu-batu.
Terkadang bang Ari berjongkok saat melihat ada batu yang bagus, lalu dipungut dan dimasukkan kedalam karung yang dibawanya.
Titi juga ikut melihat-lihat batu disepanjang jalan yang dilaluinya.
Jika ada yang menurut Titi bagus, maka Titi akan mengambil dan mengumpulkannya.
Titi berjalan sambil mengawasi Nanda yang berlari dengan riang.
Melihat papa dan mamanya memunguti batu, Nanda pun ikut melakukannya.
Bang Ari mengajak Titi untuk pindah ketempat lain jika sudah tidak menemukan batu yang bagus di daerah itu.
Lebih dari dua jam mereka menyusuri pantai untuk mencari batu.
Karung yang dibawa bang Ari sudah terasa berat karena sudah banyak isinya.
Saat lelah mereka berhenti dan makan cemilan yang sengaja Titi bawa dari rumah.
Titi merasa senang saat melihat Nanda yang begitu riang berlari-lari dipinggir pantai.
Walaupun cuma jalan ke pantai tapi Titi sudah merasa bahagia karena bisa menikmati momen kebersamaan dengan keluarga kecilnya.
🦂🦂🦂
__ADS_1
🦂🦂 Jagalah harga diri dan martabat mu karena tidak mungkin orang lain yang melakukannya untuk mu. 🦂🦂
🦂🦂 Dalam setiap tindakan yang kita lakukan, ada kehormatan keluarga yang harus dijaga. 🦂🦂