Nastiti

Nastiti
Bab 18. Keluarga Titi


__ADS_3

Tio hanya mendengarkan cerita Tuti tantang keadaan Titi.


Ia memberi pendapatnya pada Tuti tentang keadaan Titi.


Tio melihat, Titi memang tidak terlihat sedang patah hati.


Saat mereka bertemu sore tadi, Titi terlihat ceria, dan Tio merasa, Titi sedikit tomboi, mungkin itu salah satu hal yang menyebabkan Titi tidak merasa patah hati, ia punya banyak teman laki-laki yang akrab dengan nya.


" Jadi, apa kegiatan Titi jika ada di rumah?" tanya Tio.


" Kalau sore, Mbak Titi dan Tuti suka belajar mengaji di masjid, kebetulan mbak Titi jadi pengurus remaja masjid.


Kalau di rumah, mbak Titi lebih senang diam didalam kamar, mendengarkan musik sambil membaca novel!" jelas Tuti pada Tio.


" Kalau adek, sudah punya pacar?" tanya Tio.


" Ga ada, mas. Tuti juga ga punya pacar, belum ada minat untuk pacaran." jawab Tuti pada Tio.


" Kalau gitu, saya punya kesempatan untuk jadi pacar adek!" kata Tio sambil tersenyum.


Tuti hanya terdiam mendengar kata-kata Tio. Ia tahu, Tio hanya bercanda.


Maka, Tuti hanya membalas dengan senyuman.


" Gimana, dek? saya serius lho dengan kata-kata saya!" kata Tio lagi.


" Tuti masih sekolah, mas, lagian mbak Titi juga ga punya pacar, begitu pun bang Pandu, kakak laki-laki kami!" jawab Tuti menjelaskan pada Tio.


" Jadi, adek punya kakak laki-laki? kok, tadi sore saya tidak melihatnya?" tanya Tio


" Kami tiga bersaudara, bang Pandu kakak tertua, umurnya selisih satu tahun dengan mbak Titi. Ia bekerja sebagai tenaga honorer di Instansi Pemerintah.


Mbak Titi, anak kedua, dan Tuti anak bungsu. Usia Tuti dan mbak Titi selisih tiga tahun.


Tadi, bang Pandu dijemput sama saudara angkat untuk ke kantor, karena ada pekerjaan!"


Tuti memberitahu Tio tentang saudara-saudaranya.


Tio menyimak penjelasan Tuti.


Ia merasa, keluarga Tuti merupakan keluarga yang harmonis, saling menyayangi satu dan lainnya.


" Apa adek belum ingin punya pacar?" tanya Tio.


" Tuti sama kaya mbak Titi, mas, menjalani kehidupan seperti air mengalir, mengikuti alur yang ada.


Tuti ingin fokus belajar aja!" jawab Tuti.


Tio menghela nafas pelan.


" Hhh..."


" Tapi, kalau berteman bisa kan? siapa tahu setelah berteman, nanti bisa menjalin hubungan lebih dekat lagi?" tanya Tio lagi.


" Ga ada salahnya berteman, mas, malah lebih baik bisa punya banyak teman.


Selebihnya, kita jalani sesuai alurnya, jika nanti bisa lebih dekat, mungkin sudah jalan kita, kalau ga..kita bisa tetap berteman!" Tuti menjawab pernyataan Tio tanpa ingin menyinggung perasaannya.

__ADS_1


Tio terdiam mendengar kata-kata Tuti, ia tak menyangka bila pemikiran Tuti bisa sejauh itu.


Ia pikir, Tuti akan menerima nya atau akan menolak secara langsung.


Tapi, ternyata Tuti berfikir lebih dewasa, tidak langsung menerima karena mereka baru berkenalan, tidak pula menolak secara kasar.


" Tuti, masih kelas dua SMA, tapi pemikirannya tidak sesuai umurnya.


Biasanya, anak seumuran Tuti pemikirannya masih labil.


Mungkin karena didikan kedua orang tuanya, juga sikap kedua kakaknya."


Monolog Tio dalam hatinya.


Melihat Tio yang terdiam, Tuti merasa ga enak hati, ia takut menyinggung perasaan Tio dengan kata-katanya.


" Maaf, mas..bila apa yang Tuti sampaikan menyinggung perasaan, mas.


Tuti ga bermaksud seperti itu!" kata Tuti pada Tio.


Tio kembali menghela nafas, lalu ia berujar, " Ga kok, dek..mas merasa heran aja, pemikiran adek lebih dewasa dari umur adek, biasanya anak seumuran adek, pemikirannya masih labil!"


" Iya, mas..Tuti hanya tidak ingin mengecewakan orang tua, juga melihat bang Pandu dan mbak Titi yang ga dekat dengan lawan jenis!" kata Tuti lagi.


" Iya, dek!" jawab Tio singkat.


Ia suka melihat Tuti yang punya sikap, tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan, dan hal itu membuat Tio semakin kagum pada Tuti.


Akhirnya, Tuti dan Tio melanjutkan obrolan mereka.


Tio mengajak Tuti bercanda agar tidak canggung.


Waktu menunjukkan pukul sepuluh, akhirnya Tio pamit pada Tuti karena sudah larut malam.


" Mas, pulang dulu ya dek? kapan-kapan mas main lagi kesini, tapi kalau masih boleh main sama adek!" pamit Tio pada. Tuti sambil menggodanya.


" Iya, mas, hati-hati dijalan! Kalau mas masih ingin main kesini, dengan senang hati Tuti akan menerima kedatangan mas, juga teman-teman yang lain." jawab Tuti.


" Iya, dek, terima kasih atas kopi dan cemilannya, kalau mas kesini lagi, jangan lupa buatkan kopi lagi, kopi buatan adek enak!" kata Tio lagi.


" Baik, mas. Insya Allah!" kata Tuti.


" Mas, pamit dek, Assalamualaikum" Tio mengucapkan salam.


" Baik, mas, hati-hati dijalan.


Waalaikumsalam warahmatullah..". jawab Tuti.


Setelah motor Tio meninggalkan halaman rumahnya, Tuti mengangkat gelas dan piring di atas meja, lalu menutup dan mengunci pintu.


Tuti pun menyimpan gelas dan piring kotor di dapur, lalu ia masuk kedalam kamar, karena ayah dan ibu sudah istirahat. Pandu dan Titi dikamar masing-masing.


.°°°°°′°\=\=\=\=\=\=\=°°°°°°°


Minggu pagi, setelah membantu ibu membersihkan rumah, Titi dan Tuti duduk di bale, sementara Pandu sedang membantu ayah menebang pohon pisang.


Ada beberapa pohon pisang yang buahnya sudah mulai matang.

__ADS_1


Biasanya, ibu akan membagikan hasil panen pisang atau singkong pada tetangga dekat rumah.


Jika banyak, ibu akan menjual pada tukang sayur yang jualan didekat rumah.


" Yah..jangan lupa tebang pisang kepok yang sudah tua, ibu sama anak-anak mau buat keripik pisang!" pinta ibu pada ayah.


" Itu, sudah ditebang sama Pandu, sedang di sisiri!" jawab ayah.


" Iya, yah! terima kasih!" jawab ibu.


Ibu memanggil Titi dan Tuti yang lagi santai di bale.


" Ti, Tut..sini, bantu ibu kupas pisang, kita buat keripik untuk cemilan!" kata ibu memanggil Titi dan Tuti dari belakang rumah.


" Baik, bu!" jawab Titi dan Tuti.


Ibu menghampiri Pandu yang sedang memisahkan pisang dari tandannya.


" Wah..besar-besar ya bang, pisangnya, banyak lagi sisiran nya." kata ibu pada Pandu.


" Iya, bu, Alhamdulillah..dapat banyak nanti keripiknya, jangan lupa buat keripik manis ya bu, jangan asin semua!" kata Pandu pada ibu, dan meminta dibuatkan keripik manis.


" Iya, tenang saja, ga mungkin pisang sebanyak ini ibu buat keripik asin semua, ibu tahu Pandu suka keripik manis!" kata ibu lagi.


Titi dan Tuti datang menghampiri ibu dengan membawa ember berisi air dan alat untuk mengiris pisang.


Lalu mulai mengupas dan mengiris pisang.


Sementara, Pandu menyiapkan tungku kayu dibawah pohon belimbing untuk menggoreng keripik.


Ibu memang membuat tungku kayu di sana, tempat ibu memasak menggunakan kayu bakar.


Kadang digunakan teman-teman Titi untuk membuat api unggun atau membakar singkong bila mereka menginap di rumah Titi.


" Ibu yang menggoreng kripiknya ya? biar Titi dan Tuti yang mengupas dan mengiris pisang, agar cepat selesai.


Begitu selesai pisang dikupas dan diiris, kripik juga sudah matang!" ujar Titi pada ibu.


" Memang ga papa, kalian yang mengupas dan mengiris pisangnya?, ibu pikir, memang lebih baik gitu, biar cepat selesai!" kata ibu pula.


" Iya, nanti abang yang bantu ibu menggoreng kripiknya." kata Pandu pada ibu.


" Baiklah, bang!" kata ibu.


" Ti, siapkan es cincau yang kemaren ibu buat ya? masih adakan?" pinta dan tanya Pandu pada Titi.


" Sudah disiapkan sama Tuti, bang, tadi ada dimeja dapur. Tolong abang ambil ya, taruh di atas bale, tangan Titi sama Tuti lengket sama getah pisang!" Jawab dan pinta Titi pada Pandu.


Pandu berjalan ke arah dapur laku. mengambil es cincau dan menaruhnya di atas bale, didekat ibu yang sedang menggoreng keripik pisang.


🦂🦂🦂🦂


Note : Bersambung dulu ya?


Jangan lupa dukungannya, dengan


memberi Like, Komen dan Vote.

__ADS_1


__ADS_2