
Waktu berlalu begitu cepat, tak terasa kandungan Titi sudah memasuki usia sembilan bulan.
Keadaan telah kembali normal setelah terjadi gempa dua bulan yang lalu.
Masyarakat sudah kembali menempati rumah masing-masing.
Rumah warga yang rusak sudah diperbaiki, bantuan dari pemerintah diserahkan pada setiap warga.
Titi dan keluarganya juga sudah kembali menempati rumah seperti biasa, tidak tidur di muebel lagi.
Beruntung rumah ayah Titi tidak mengalami kerusakan, hanya ada beberapa bagian yang retak akibat gempa.
Ayah telah menambal bagian retak itu dengan memplester kembali bagian yang retak.
°°°°°°^^^°°°°°
Telah satu bulan Titi cuti dari pekerjaannya.
Ia mendapat cuti melahirkan selama tiga bulan, satu bulan sebelum melahirkan dan dua bulan setelah melahirkan.
Titi mengisi waktu cuti dengan beristirahat dirumah, membantu pekerjaan ibu seperti biasa.
Apapun Titi kerjakan agar tidak merasa bosan saat berada dirumah, karena Titi terbiasa bekerja.
Setiap pagi Ari berangkat bekerja sendiri tanpa Titi dan saat sore setelah selesai bekerja ia akan segera pulang kerumah.
*******
Hari ini, seperti biasa Ari akan berangkat bekerja.
Ia pun pamit pada Titi.
" Ma,. papa berangkat dulu ya? "
Pamit Ari pada Titi. Semenjak Titi hamil besar, mereka sepakat untuk memanggil papa mama.
" Iya Pa, Hati-hati dijalan.. hari ini pulang seperti biasakan? "
Titi menanyakan kesibukan Ari hari ini.
" Iya, hari ini jadwal ga terlalu padat karena bila hari senin client baru pada setor. " jawab Ari.
Ari bersiap berangkat dengan mengendarai motor.
Titi menyerahkan tas yang biasa dibawa Ari, lalu mencium tangan Ari saat Ari bersiap untuk berangkat.
Dengan mengendarai motor, Ari berangkat menuju ketempat bekerja.
Titi kembali masuk kedalam rumah dan menutup pintu depan.
Titi mulai merapikan rumah, menyapu dan mengepel.
Setelah selesai membersihkan rumah, Titi mencuci pakaian.
Titi tidak memasak, karena ibu yang memasak didapur.
Titi hanya membersihkan rumah.
∆∆∆°°°∆∆∆
Malam ini, sehabis isya Titi dan Ari mulai merebahkan badan di pembaringan.
" Pa.. kok perut mama terasa sakit ya? " kata Titi pada Ari sambil mengelus perutnya.
" Kenapa ma? Apa sudah mau melahirkan? " tanya Ari sambil ikut mengelus perut Titi pelan.
" Belum tahu pa, memang sudah bulannya sih, tapi sakitnya masih belum terlalu kuat, dan masih hilang timbul.! " jawab Titi.
__ADS_1
" Mungkin ini yang dibilang kontraksi palsu! " kata Titi pula.
" Kata bu bidan, biar lancar saat melahirkan kita dianjurkan untuk melakukan hubungan intim.
Dengan demikian akan mempermudah jalan lahir! " kata Ari pada Titi.
Ia mulai mengelus perut Titi dan tangannya mulai mengelus yang lainnya.
Titi tidak menolak dengan apa yang dilakukan Ari, ia mengikuti saran Ari untuk melakukan hubungan intim guna mempermudah jalan lahir.
Dengan lembut, Ari melakukan hubungan dengan Titi, ia tetap menjaga agar Titi merasa nyaman dan bayinya tidak terganggu.
Setelah melakukan aktivitas panas mereka, Ari meminta Titi untuk tidur dan beristirahat.
" Istirahat dulu ma, sudah malam sebaiknya kita tidur.
Apa perut mama tidak terasa sakit lagi? "
Ari meminta Titi untuk beristirahat dan bertanya keadaan perut Titi.
" Alhamdulillah tidak terasa sakit lagi, pa.!" jawab Titi sambil mengelus perutnya.
" Ya sudah, kita istirahat aja, nanti kalau perutnya terasa sakit lagi, bangunkan papa ya? " pinta Ari pada Titi.
" Baik, pa! " jawab Titi.
Lalu keduanya tidur dengan Ari yang memeluk perut Titi.
°°°°°°°
Pukul empat pagi, Titi terbangun.. ia merasakan perutnya yang kembali terasa sakit.
Dengan pelan, Titi membangunkan Ari dengan mengguncang tangan Ari pelan.
" Pa.. pa.. bangun pa, perut mama sakit! " ucap Titi sambil terus mengguncang tangan Ari.
" Ada apa, ma? sudah jam berapa sekarang? " tanya Ari.
" Sekarang baru jam empat, pa! " jawab Titi sambil melihat jam dinding yang tergantung di dalam kamar.
" Pa.. ini perut mama terasa sakit lagi! "
kata Titi pada Ari.
" Ya sudah, kita mandi dulu ya, bersihkan badan dulu.. tadi malam kita belum mandi! " ajak Ari pada Titi.
Perlahan Ari turun dari tempat tidur, ia pun membantu Titi untuk turun dari atas tempat tidur.
" Masih bisa jalan kekamar mandi ga? " tanya Ari.
" Bisa pa, sakitnya sudah tidak terasa. " jawab Titi.
Ari membuka pintu kamar, lalu membawa Titi kekamar mandi yang ada didapur.
Titi melihat kekamar ayah dan ibu yang masih gelap.
Biasanya, jam segini ayah sudah bangun dan memasak air hangat untuk mandi.
Saat melihat kamar orang tuanya yang masih gelap, Titi merasa lega.
Ia merasa malu jika orang tuanya tahu ia keramas pagi-pagi.
Setelah selesai mandi, Ari kembali mengajak Titi untuk langsung kekamar, menunggu azan subuh.
" Papa kasih tahu ibu ya kalau perut mama sudah terasa sakit.! " kata Ari.
" Ga usah pa, nanti aja setelah subuh.. biar ibu shalat subuh dulu.! " kata Titi pula.
__ADS_1
" Mama masih bisa kan untuk melakukan shalat subuh? " tanya Ari.
" Bisa pa, sakitnya masih hilang timbul.! "
Jawab Titi.
Setelah melakukan shalat subuh, Ari menghampiri ibu yang sedang berada didapur.
Ibu sedang menyeduh kopi buat ayah dan aki, nenek angkat Titi.
Aki seorang tabib yang suka membantu mengobati penyakit secara non medis.
Ia menginap dirumah Titi bersama nini, istrinya.
" Bu, Titi perutnya sudah terasa sakit, mungkin sudah mau melahirkan.! " kata Ari pada ibu.
" Apa, Titi sudah mau lahiran? " tanya ibu sedikit panik.
" Iya bu, dari tadi malam perut Titi terasa sakit tapi masih hilang timbul.
Jam empat tadi, perut Titi terasa sakit lagi, mungkin kontraksi palsu.!" jawab Ari menjelaskan pada ibu.
Ibu menyelesaikan menyeduh kopi buat ayah dan aki, lalu kekamar Titi untuk melihat keadaannya.
" Ti.. perutnya sudah terasa sakit ya?
Kita panggil bu bidan sekarang ya, biar bisa diperiksa, jadi tahu kapan kira-kira lahirannya.!" tanya ibu dan meminta untuk memanggil bu bidan.
" Nanti aja bu manggil bu bidannya, kalau sudah mau dekat lahiran.. Titi takut kalau harus digunting.! " pinta Titi pada ibu.
Titi pernah mendengar bahwa jika melahirkan anak pertama, jalan lahir suka digunting agar memudahkan bayi lahir.
Titi takut jika digunting, katanya saat jalan lahir dijahit kembali akan terasa sakit karena tidak dibius.
" Ya sudah, sekarang coba bawa jalan-jalan dekat rumah biar nanti ga susah lahirannya.! " pinta ibu.
Ari mengajak Titi untuk berjala-jalan dihalaman rumah.
Ia menuntun tangan Titi dan berjalan dengan pelan.
Setelah beberapa kali berkeliling dihalaman, Titi mengajak Ari untuk masuk kerumah, karena perutnya mulai terasa sakit kembali.
Waktu telah menunjukkan pukul enam tiga puluh, Titi kembali berbaring dikamar karena perutnya terasa lebih sakit dari yang tadi.
Ibu membawa aki dan nini kekamar Titi untuk melihat keadaan Titi.
Aki membaca doa lalu mengucapkan tangannya ke perut Titi.
" Insya Allah ga lama, paling lama jam delapan sudah lahiran! " kata aki pada ibu.
" Iya ki, kandungannya baik-baik aja kan? " tanya ibu sedikit cemas.
" Insya Allah, semua baik-baik aja! " jawab aki.
Ari diam mendengarkan obrolan ibu dan aki, ia mengelus perut Titi yang terasa sakit.
" Bang.. telpon bu bidan sekarang, kasih tahu kalau perut Titi sudah terasa sakit! "
Pinta ibu pada Ari.
" Baik, bu! " jawab Ari.
Ibu memang memanggil Ari dengan panggilan abang, seperti Titi memanggilnya karena ibu menyayangi Ari dan memperlakukan Ari seperti anaknya sendiri, bukan seorang menantu.
Ari keluar dari kamar untuk menelpon bu bidan.
✧༺♥༻✧
__ADS_1