Nastiti

Nastiti
Bab 71. Memutuskan Untuk Berhijab.


__ADS_3

Sore ini, kami pulang kerja lebih awal karena sedang tidak ada kesibukan.


Sebenarnya cuma lebih cepat setengah jam.


Sebelum pulang kerumah, aku mengajak bang Ari untuk ke pasar guna membeli jilbab.


Tidak ada tujuan lain selain membeli jilbab, jadi kami tidak terlalu lama.


Ditempat langganan biasa tempat aku dan Feni belanja, kebetulan ada jilbab yang aku cari.


Aku membeli dia buah jilbab, warna abu-abu dengan variasi warna hitam dibawahnya dan warna biru.


Aku membeli jilbab sesuai dengan blazer yang aku miliki.


" Yang warna ini bagus ga bang? " tanya ku pada bang Ari sambil memperlihatkan dia jilbab pilihanku yang aku pegang.


" Iya, itu dua-duanya bagus, cocok sama blazer nya.


Yang abu-abu ini, bisa juga digunakan untuk blazer yang warna hitam, karena ada lis warna hitam dibawahnya.


Jadi satu jilbab untuk dua warna baju. "


bang Ari menyukai dua jilbab yang aku pilih.


Aku memberikan kedua jilbab itu pada pemilik toko untuk membungkusnya.


" Sudah bu, jilbab ini dua ini aja. " kata ku pada pemilik toko sambil menyerahkan jilbab yang aku pilih.


" Cuma jilbab aja mbak, yang lainnya nggak? " tanya pemilik toko pada ku.


" Tidak bu, terima kasih.. saat ini saya hanya perlu jilbab aja. " jawabku pada pemilik toko sambil tersenyum.


Pemilik toko memasukkan jilbab yang aku pilih kedalam kantong plastik, lalu memberikan kantong itu pada ku.


Setelah membayar jilbab, aku dan bang Ari keluar dari pasar.


Kami menuju parkiran untuk mengambil motor dan melaju pulang.


" Ga ada tujuan lain, dek? kita langsung pulang ya? " tanya bang Ari padaku saat dalam perjalanan pulang.


" Tidak mau kemana-mana lagi bang, langsung pulang aja. " jawabku.


Jarak pasar dengan rumahku tidak terlalu jauh, jadi tidak memakan waktu lama saat diperjalanan.


Tiba dirumah, aku mandi dan mengerjakan shalat ashar.


Biasanya aku shalat di kantor sebelum pulang, tapi karena tadi pulang lebih awal, aku jadi belum melakukan shalat ashar.


Bang Ari tengah membaringkan dirinya diatas kasur, mungkin lelah dan mengantuk karena sudah beberapa malam ia pulang jam dua malam.


Setelah shalat, aku menggendong Nanda yang menangis saat melihat ku.


Aku membawa Nanda ke kamar dan menyusui di kamar.


Bang Ari sudah tertidur pulas, nanti saat magrib ia bangun dan akan pergi lagi.

__ADS_1


Seperti itulah yang sering ia lakukan.


Aku tak pernah bisa mencegahnya bila ia akan keluar rumah.


Dari pada bertengkar, maka aku biarkan saja.


Jika bang Ari pulang larut malam, maka akan mengetuk jendela kamar untuk minta dibukakan pintu.


Seperti sudah menjadi sebuah kebiasaan rutin, dan aku hanya membiarkannya.


Dalam sujud aku hanya berdoa, meminta pada Yang Kuasa agar bang Ari bisa kembali seperti dulu saat ia berusaha mendapatkan diri ku.


Ia rajin shalat dan mau belajar membaca Al-Quran.


Aku meminta semoga bang Ari bisa segera menjemput hidayah Allah dan meninggalkan semua kebiasaan buruknya.


Aku yakin, suatu hari Allah akan mengabulkan doa-doaku.


Hati milik Allah dan hanya Allah yang maha membolak balik hati, maka aku meminta kepada Nya agar melembutkan hati bang Ari agar bisa menjadi ayah dan imam yang baik bagi aku dan anakku.


****


Pagi ini, aku berangkat ke kantor seperti biasa.


Yang berbeda, sama seperti kemarin, aku kembali mengenakan jilbab.


Kali ini, jilbab ku sesuai dengan warna blazer yang aku kenakan.


Saat mbak Dewi sampai di kantor, aku melihat ia tidak lagi mengenakan jilbab seperti kemarin.


Mbak Dewi mengatakan bahwa ia tidak tahan gerah saat memakai jilbab, jadi mbak Dewi tidak mau memakai jilbab lagi.


" Titi kira hari ini mbak pakai jilbab lagi. Titi kayanya mau terus pakai jilbab mbak, rasanya sudah nyaman pakai jilbab. " Aku mengatakan pada mbak Dewi bahwa aku akan tetap mengenakan jilbab.


" Bismillah ya Allah, mantap kan hati ini, bahwa mulai hari ini hamba Mu ingin mengenakan jilbab dan menutup aurat. "


Dalam hati aku berdoa agar Allah memantapkan hatiku untuk mengenakan jilbab.


" Nah.. seperti itu kan terlihat lebih cantik, Ti.. juga jilbabnya sesuai dengan blaze yang kamu pakai, warnanya tidak lari seperti kemaren. "


Ibu bos mendukung penampilan ku untuk berhijab.


" Kirain ada anak baru pakai jilbab, rupanya kamu Ti.. bikin pangling aja. "


Bang Yadi yang datang ke kantor untuk mengambil surat jalan mendukung penampilan baru ku.


Awalnya aku merasa malu karena belum terbiasa, tapi aku fikir kapan lagi aku akan mulai jika aku merasa malu.


Mengapa aku harus malu, kan memang sudah kewajiban ku untuk menutup aurat.


Lagian semua mendukung dan tidak ada yang mencela saat aku mengenakan jilbab.


****


Sepulang dari kantor, aku dan bang Ari bermain dengan anakku dikamar.

__ADS_1


Kasihan anakku yang harus aku tinggalkan bersama neneknya karena aku harus bekerja.


Nanda anak yang baik, dia tidak pernah rewel.


Semenjak bayi, dia tidak rewel.


Aku bisa tidur dengan nyenyak setiap malam, tidak pernah begadang seperti orang yang punya bayi.


Jika malam, Nanda akan terbangun saat ia haus dan ingin menyusu dan ia jarang me-ngompol.


Nanda akan minum susu bantu jika aku tinggalkan untuk bekerja, saat aku dirumah aku memberinya asi.


Jadi jika malam aku tidak perlu membuat susu karena Nanda masih minum asi.


****


" Bang.. adek mau pakai jilbab ya?


Sudah dua hari ini pakai jilbab ke kantor rasanya nyaman.


Adek sudah memantapkan hati untuk berjilbab.


Bagaimana menurut abang? "


Aku meminta izin dan pendapat pada bang Ari bahwa aku ingin mengenakan jilbab.


" Ya bagus jika adek ingin berjilbab, abang sangat setuju.


Memang sudah seharusnya adek memakai jilbab."


Bang Ari menyetujui jika aku mengenakan jilbab bahkan sangat mendukung.


Aku merasa bersyukur, niatku untuk menutup aurat dipermudah oleh Allah.


Benar kata bang Ari jika memang sudah seharusnya aku berjilbab.


" Terima kasih bang, jadi adek akan selalu mengenakan jilbab setiap akan keluar rumah.


Begitu juga saat di dalam rumah, jika ada tamu adek akan mengenakan jilbab."


Kata ku pada bang Ari.


Aku bersyukur bang Ari mendukung sepenuhnya keinginanku untuk berhijab.


Bang Ari malah merasa senang dan bahagia dengan keputusan ku.


Walaupun bang Ari saat ini telah berubah dan jarang beribadah, tapi Alhamdulillah bang Ari faham jika seorang perempuan harus menutup aurat.


Aku akan belajar pelan-pelan untuk memperbaiki diri.


Alhamdulillah mungkin ini hidayah dari Allah agar aku menutup aurat dan kedepannya aku bisa memperbaiki diri agar aku bisa lebih baik lagi.


Aku memeluk bang Ari sebagai rasa terima kasih atas dukungannya padaku.


Bang Ari pun membalas pelukanku penuh rasa sayang.

__ADS_1


*****


__ADS_2