Nastiti

Nastiti
Bab 22. Obrolan Titi dan Feni


__ADS_3

" Aamiin..." ucap mereka serempak mengaminkan doa dan harapan mbak Dewi.


" Sudahlah, bang! berangkat sana, ga usah menggoda Titi terus, nanti kemalaman dijalan!" kata mbak Dewi mengusir bang Yadi yang masih asik duduk di kantor sambil menggoda Titi.


" Tenang aja, mbak! masih sempat kok sampai lokasi sebelum magrib, dan habis magrib masih bisa bongkar barang!" kata Yadi pula pada mbak Dewi.


" Berangkatlah, Di..nanti kamu ga jadi berangkat karena terus menggoda Titi!" kata mbak Weni pula pada Yadi.


" Iyalah, aku berangkat sekarang.


Besok, masih ada jadwal pengiriman ga, mbak Dewi?" kata dan tanya Yadi sambil ia bangkit dari duduknya, tak lupa ia mengecek surat pengantar yang dipegangnya.


" Untuk besok ada, antar untuk dalam kota, tapi jadwalnya sama seperti sekarang, berangkat siang." kata mbak Dewi pada Yadi.


" Baiklah, mbak..aku berangkat.


Assalamualaikum" Yadi lalu ia keluar dari kantor menuju mobil yang diparkir dihalaman kantor.


***


" Wi, gimana nanti pergi ke undangan Herman? Mau bareng sama orang-orang kantor atau pergi sendiri-sendiri?" tanya mbak Weni pada mbak Dewi.


Mereka tidak membahas lagi masalah Titi, mereka tahu jika Titi sedang merasa malu, maka mbak Weni mengalihkan pembicaraan mengenai undangan dari Herman.


" Kita pergi bareng aja, mbak!


Kita berangkat pagi, karena tempatnya lumayan jauh.


Dewi nanti bareng sama suami!" jawab mbak Dewi.


Mbak Dewi, memang belum lama melangsungkan pernikahan, baru beberapa bulan.


" Baiklah, mbak juga nanti minta antar sama suami. Kita berangkat jam sembilan an aja, jadi sampai sana acara sudah dimulai, dan kita ga menunggu lama." ucap mbak Weni lagi.


" Iya, mbak. Yang muda-muda biar pergi bareng para driver.


Mereka diundang untuk acara muda-mudi, acaranya malam." kata mbak Dewi pula.


" Ti, kamu pergi sama siapa? sama bang Ari, ya?" tanya mbak Weni kembali menggoda Titi.


" Belum tahu, mbak, belum pamit sama orang tua.


Acaranya malam, belum tentu.diberi izin.


Kalau diberi izin, paling nanti bareng Feni, itu pun kalau Feni juga pergi." jawab Titi.


" Bilang aja ke orang tua Titi, berangkatnya bareng orang kantor, nanti pulangnya diantar langsung ke rumah!" mbak Dewi memberi saran.


" Iya, mbak! nanti Titi bicarakan dulu sama orang tua." kata Titi.


" Sesekali keluar, Ti! jangan diam didalam rumah terus, sudah gadis masa ngurung di kamar terus!" kata mbak Weni pada Titi.


" Titi lebih nyaman diam dirumah, mbak!


Orang tua Titi juga ga pernah mengekang Titi atau saudara Titi yang lain, selama tujuannya jelas, ayah dan ibu akan memberi izin, tapi Titi aja yang malas untuk keluar rumah!"

__ADS_1


kata Titi pada mbak Weni.


Karena obrolan seru mereka, tak terasa hari pun menjelang sore.


Mbak Weni dan mbak Dewi sudah dijemput oleh suami mereka masing-masing.


Mereka pun bersiap untuk pulang.


Titi telah merapikan pekerjaannya dan bersiap pulang.


Ia telah membuat janji dengan Feni untuk makan bakso di tempat langganan mereka.


***


Sesuai kesepakatan, Titi menunggu Feni di depan kantor.


Mereka akan pulang bersama.


Mereka tiba ditempat penjual bakso langganan mereka, setelah memesan bakso dan es campur kesukaan mereka, mereka mencari tempat duduk di dekat jendela.


Mereka mengobrol sambil menunggu pesanan mereka datang.


" Ti, aku dengar ada gosip baru di kantor!"


Kata Feni pada Titi.


" Gosip apa? kamu percaya sama gosip itu?" tanya Titi pula.


" Ya, apa salahnya jika kamu memang punya hubungan khusus sama Ari? kamu juga berteman baik dengan adiknya!" ujar Feni pula.


" Entahlah, Fen, aku ragu untuk memulai suatu hubungan.


Aku memang suka pada Ari, tapi suka sebagai teman.


Lagian, usia Ari lebih muda dari ku, mana mau dia sama orang yang lebih tua."


Titi mengatakan perasaannya pada Feni.


" Ga ada salahnya dicoba.


Aku lihat, kayanya Ari juga suka sama kamu, tapi mungkin ia ragu karena melihat kamu yang cuek, atau mendengar tentang kamu dari teman-temannya.


Kalau masalah umur, aku juga lebih tua dua tahun dari pacar aku, tapi hubungan kami baik-baik aja, malah dia takut kehilangan aku!"


Feni memberikan pendapatnya pada Titi.


Titi menyimak apa yang Feni sampaikan, ia belum tahu bagaimana perasaannya pada Ari, karena dalam hatinya ada seseorang yang Titi suka, tapi tak mungkin bagi Titi untuk menjalin hubungan dengan orang itu.


Mereka men jeda obrolannya saat pesanan mereka tiba.


Mereka pun melanjutkan obrolan sambil menikmati bakso dan es campur pesanan mereka.


" Fen, kamu ingatkan sama Huda, TNI yang aku ceritakan waktu itu?


Sebenarnya, aku ada rasa suka sama dia.

__ADS_1


Waktu dia datang sendiri kerumah, kami ngobrol berdua, ada rasa nyaman dihati aku.


Aku deg-deg an saat ga sengaja memergoki dia yang diam-diam menatap ku, sepertinya dia juga ada rasa suka sama aku.


Tapi, kata bang Jojo, dia sudah punya tunangan.


Ada rasa kecewa sebenarnya, tapi aku juga ga mungkin memaksakan perasaan aku ke dia, aku ga mau merusak hubungan orang lain, apa lagi mereka sudah bertunangan."


Titi menceritakan apa yang dia rasakan pada Feni.


Titi dan Feni berteman baik semenjak awal mereka bekerja di kantor itu.


Titi dan Feni sering saling curhat dengan permasalahan mereka.


" Jadi, selama ini kamu menolak cowok yang suka sama kamu, karena Huda?" tanya Feni.


" Ga juga, aku merasa ga sreg aja, aku belum menemukan seseorang yang pas dihati aku.


Dan saat aku bersama Ari, aku merasa sreg, tapi aku masih ragu!" jawab Titi pada Feni.


" Menurut aku, lebih baik kamu coba lebih dekat sama Ari.


Ga ada salahnya menjadi lebih akrab bila kamu merasa nyaman.


Kalau masalah umur Ari yang lebih muda, nanti kamu bisa menilai bagaimana sikapnya setelah kalian lebih dekat."


Feni mencoba memberi pendapat pada Titi.


Ia ingin, Titi bisa memulai suatu hubungan dan mendapatkan kebahagiaannya.


" Iya, Fen..lihat nanti aja, orang tua aku juga sudah ingin melihat aku punya pasangan.


Aku belum cerita ya, kalau aku mau dikenalkan sama tetangga dari orang tua angkat bang Pandu?"


" Siapa yang mau dikenalkan sama kamu, Ti?" tanya Feni.


" Ga tahu juga, katanya dia bekerja di sebuah dealer mobil, sudah mapan karena punya penghasilan yang lumayan, tinggal di perumahan dan punya rumah sendiri juga.


Kalau aku lihat fotonya sih, ganteng.


Kelihatannya, orangnya tinggi, kulitnya putih dan hidungnya mancung.


Tapi, saat melihat fotonya, aku biasa-biasa aja!"


Titi menjelaskan pada Feni.


" Kapan kalian akan ketemuan?" tanya Feni lagi.


" Menurut ibu angkat bang Pandu, ia akan datang ke rumah malam Rabu.


Mau kenalan, kalau cocok lanjut, kalau ga ya ga masalah." jawab Titi pula.


" Terus, kamu gimana? apa mau menerima seandainya dia merasa cocok sama kamu? sementara kamu bilang ga ada rasa sama dia.


Tapi siapa tahu, kamu berubah fikiran saat bertemu langsung dengan orangnya." tanya Feni penasaran.

__ADS_1


Titi hanya mengangkat bahunya, ia asik menyendok es campur yang ada dihadapannya, sementara baksonya telah tandas ia makan.


***


__ADS_2