
Setelah menyelesaikan tugas mengantarkan tagihan, Titi kembali ke kantor, kebetulan sedang jam istirahat.
Setelah menyelesaikan kewajibannya sholat zuhur, Titi keluar kantor.
Feni telah menunggunya didepan, mereka janjian mau membeli mie ayam yang biasa mangkal di depan kantor.
Mie ayam mang Yono, memang murah dan rasanya sangat enak.
Feni merupakan teman Titi, dulu dihari yang sama, mereka diterima di kantor ini, tapi mereka beda devisi.
Feni dan mbak Weni dibagian kontraktor, sementara Titi dibagian jasa angkutan.
Sejak pertama bertemu, mereka langsung akrab, karena Titi dan Feni seumuran.
Tapi mereka berbeda keyakinan, Feni penganut Kristen Protestan.
Titi dan Feni tiba ditempat mang Yono mangkal.
Mereka duduk di bangku yang masih kosong, kebetulan suasana sedikit sepi.
"Mang, mie ayam dua ya? yang satu seperti biasa, banyakin cekernya!" pesan Feni pada mang Yono.
" Siap, mbak. Makan disini, apa dibungkus?" tanya mang Yono.
"Makan disini aja, mang!" jawab Feni.
"Oke, siap, tunggu sebentar ya mbak?" kata mang Yono pula.
Feni dan Titi menunggu pesanannya sambil mengobrol.
Titi menuangkan dua gelas teh hangat, dan meminumnya sedikit.
Terasa nikmat, siang-siang minum teh hangat dengan aroma melati.
Mang Yono memang menyiapkan teh hangat untuk pelanggan yang makan mie ayamnya.
Bagi yang tidak suka teh, mang Yono juga menyiapkan air putih.
" Tadi kemana Ti? kayanya, aku lihat kamu naik angkot? urusan pribadi ya, kok ga diantar sama pak Yanto?" tanya Feni memulai obrolan.
" Pertanyaan mu beruntun banget Fen, kaya gerbong kereta api aja!" jawab Titi.
"Ya elah Ti, tinggal jawab aja kok repot, ga usah protes!" ujar Feni sambil tersenyum.
Titi hanya menggelengkan kepala melihat Feni yang hanya cengengesan.
" Aku tadi nganterin tagihan ke PT. AG sama PT. AL. Pak Yanto ga bisa ngantar karena sedang service mobil, jadi aku naik angkot." Titi menjawab pertanyaan Feni.
__ADS_1
" Kirain, kamu keluar naik angkot karena ada janji sama Toni" ujar Feni lagi.
" Ga kok, Toni hari ini kerja, tadi pagi berangkat bareng. Biasa, ketemu di gang." jawab Titi sambil tersenyum.
Titi dan Feni menghentikan obrolannya saat mang Yono mengantar kan pesanan mereka.
"Ini mbak, pesanannya, silahkan dinikmati!" mang Yono menaruh mie ayam itu dihadapan Titi dan Feni.
"Terima kasih, mang?" kata Titi dan Feni.
Mereka pun menikmati mie ayam buatan mang Yono sambil melanjutkan obrolan.
"Ti, gimana kelanjutan hubungan mu dan Toni?" tanya Feni.
" Ga gimana-gimana, aku sih nyantai aja, kalau jodoh mungkin nanti bisa lebih serius, kalau ga jodoh berarti sama-sama menjaga jodoh orang lain." jawab Titi.
"Gitu amat sih, Ti? emang kamu ga serius sama Toni?" tanya Feni lagi.
"Yah..aku ga mau pusing, jalani aja apa adanya, sudah hampir setahun bersamanya, tapi dia juga santai aja.
Dia tahu keluarga aku, tapi aku ga pernah tahu keluarga dia." jawab Titi.
" Mungkin karena keluarganya di kota lain dan tidak pernah kesini, makanya Toni ga pernah cerita masalah keluarganya!" kata Feni lagi.
" Sudahlah, Fen..santai aja, sudah aku bilang, kalau jodoh pasti bersama, kalau tidak jodoh, nanti bakal ketemu sama jodoh masing-masing" jawab Titi cuek.
Feni hanya diam mendengar kata-kata Titi, ia tak melanjutkan lagi omongannya.
Makanya, ia santai saja menjalin hubungan dengan Toni.
" Eh, Fen, tadi disimpang empat, aku ketemu sama TNI, dia turun didekat kantor Camat, pas dia turun duluan, dia yang bayarin ongkos angkot aku, padahal baru pertama ketemu!" Titi bercerita tentang pertemuannya dengan Halim.
"Cie...cie..., kayanya ada yang lagi ditaksir nih? baru ketemu sekali sudah ditraktir ongkos angkot." Feni menanggapi cerita Titi sambil senyum-senyum.
" Kamu nih, Fen, ada-ada aja, orang cuma satu angkot dan ngobrol sebentar, mungkin merasa tidak enak karena sudah mengobrol, dan dia turun duluan, jadi dia yang bayarin angkotnya!" ujar Titi lagi.
"Siapa namanya, Ti? tadi sempat kenalan ga?" tanya Feni.
" Kami ga kenalan, tapi aku lihat nama di dadanya, namanya Halim." jawab Titi.
" Kirain sempat kenalan, dia nanya nama kamu, terus kerja dimana, gitu!
Orangnya ganteng ga?" tanya Feni sambil memandangi Titi.
"Ada-ada aja kamu, Fen. Orangnya sih, lumayan ganteng." jawab Titi.
"Sudah yuk, Fen, dah habis kan makannya? lima menit lagi, waktu istirahat habis!" ajak Titi pada Feni.
__ADS_1
" Iya, Ti, aku juga sudah selesai.
Ti, nanti pulang kerja, antar aku kepasar ya, aku mau beli sesuatu buat ibu ku, kebetulan anak sepupu aku mau pulang kampung, jadi aku mau titip sesuatu buat keluarga aku." ajak Feni pada Titi.
Feni memang tinggal bersama sepupunya di kota ini, kedua orang tua dan keluarganya tinggal di kota lain.
" Baiklah, Insya Allah nanti aku temani kepasar, kalau kamu pulang duluan, nanti tunggu aku didekat gerbang!" Titi menyanggupi ajakan Feni.
Akhirnya, mereka pun kembali ke kantor,
menuju ruangan masing-masing.
Ruangan Titi dan Feni bersekat dinding, ada pintu yang menghubungkan ruangan mereka.
Jika tak banyak pekerjaan, terkadang Feni atau mbak Weni mengobrol diruangan Titi.
Titi sangat senang bekerja disini, ada rasa kekeluargaan diantara sesama karyawan, baik yang dikantor maupun yang dibagian lapangan.
Titi mudah bergaul dengan siapa pun, ia ramah dan mudah senyum.
Teman-teman Titi suka berteman dengannya, terkadang mereka suka menggoda Titi.
Jika masih wajar, Titi tidak akan menanggapi, tapi jika keterlaluan Titi tidak segan untuk menegurnya.
Sore ini, sesuai janjinya, Titi menemani Feni pergi kepasar, mereka naik angkot yang lewat depan kantor yang jurusannya langsung ke pasar.
Dipasar, Titi menemani Feni mencari oleh-oleh buat keluarganya.
Ia membeli makanan dan pakaian untuk kedua orang tua dan adiknya.
Sama seperti Titi, adik Feni seorang perempuan yang sudah duduk di kelas tiga SMA, sementara kedua kakak Feni sudah menikah dan tinggal diluar kota, sama seperti Feni, mereka merantau ke kota lain.
Selesai berbelanja, Feni mengajak Titi membeli bakso ditempat langganan mereka.
" Ti, kita beli bakso dulu yuk? aku dah lapar lagi nih, tadi kan kita cuma makan mie ayam." ajak Feni.
"Aku masih kenyang Fen, aku pesan bakso nya untuk dibawa pulang aja."
jawab Titi.
Ya..ga enak donk Ti, masa aku makan bakso sendirian?" kata Feni lagi sambil cemberut.
"Ga usah cemberut, udah kaya anak kecil aja. Iya, aku temani, tapi aku cuma pesan es campur aja." kata Titi.
Feni pun tersenyum, lalu mereka menuju penjual bakso langganan Feni dan Titi.
Feni memesan bakso, sementara Titi hanya memesan es campur.
__ADS_1
Titi juga memesan empat bungkus bakso untuk dibawa pulang.
Selesai makan bakso, akhirnya mereka pulang, karena jam sudah menunjukkan hampir pukul setengah enam.