Nastiti

Nastiti
Bab 25. Kegalauan Ibu Dan Rasa Kepo Feni.


__ADS_3

Setelah anak-anaknya pergi, ibu duduk disamping ayah yang pindah duduk disofa yang ada didapur.


Ayah duduk sambil meminum kopi yang sudah hampir habis.


Ibu bicara pada ayah mengenai Titi.


" Yah, gimana sama Titi? Ibu sudah berusaha mengenalkan Titi dengan seorang laki-laki, tapi sepertinya Titi tidak berkenan dengan laki-laki itu." kata ibu pada ayah.


" Mau gimana lagi, bu? Kita tidak bisa memaksakan kehendak kita pada Titi.


Kita berusaha untuk menjodohkan Titi, tapi bila Titi merasa tidak cocok, sebaiknya kita tidak usah memaksanya.


Kita doa kan saja, semoga Titi segera bertemu dengan jodohnya, laki-laki yang bisa menyayangi dan mencintai Titi dan juga disayangi dan dicintai Titi."


Kata ayah menanggapi kata-kata ibu dan berusaha menenangkan ibu yang galau dengan keadaan Titi.


Ibu terdiam, ia merasa sedih, tak mengerti dengan sikap Titi yang seolah-olah menjauh dari laki-laki, walau ia punya banyak teman laki-laki.


Ibu ingat, saat guru mengaji Titi mengatakan bahwa ia mencintai Titi dan siap untuk menikahi Titi.


Tapi Titi menolak dan mengatakan bahwa ia tidak mencintai lelaki itu, Titi malah marah dan tidak mau bertegur sapa dengan guru mengajinya, hingga Pandu menegur Titi karena Titi mengabaikan guru mengajinya.


Ada juga beberapa teman di masjid yang suka pada Titi, Titi malah membuat sandiwara dengan Shiddiq seolah-olah mereka berpacaran hanya untuk menolak orang yang suka padanya.


Ibu benar-benar bingung dengan sikap Titi.


" Tapi, yah..Titi sudah dua puluh dua tahun, Pandu sudah akan menikah, sementara Titi masih seperti itu, kapan ia akan memikirkan mencari jodoh?" kata ibu lagi pada ayah.


" Insya Allah bu, Titi akan segera menemukan jodohnya, ibu sabar aja.


Kalau kita terus memaksa Titi, ayah takut Titi akan kecewa pada kita dan merasa bahwa kita terlalu memaksanya untuk segera menikah.


Mungkin memang jodoh Titi belum ada untuk waktu dekat ini.


Doa kan aja bu, agar Allah segera memberi jodoh buat Titi."


Ayah kembali menasehati ibu agar ibu bersikap tenang dan tidak memaksakan kehendak pada Titi.


" Hhaaahhh.." ibu.menghela nafas panjang, melepaskan beban dalam hatinya.


Ayah mengusap tangan ibu yang ada diatas meja, berusaha menenangkan dan menghibur ibu.


Sudah lewat jam delapan bu, sebaiknya kita shalat dhuha, doakan yang terbaik buat anak-anak kita.


Setelah ini, ayah akan mencari rumput untuk ternak kita." kata ayah pada ibu, lalu ayah bangkit dari duduknya dan menuju kamar mandi untuk berwudhu.


Ibu pun berdiri, lalu membereskan gelas bekas kopi dan piring bekas singkong bakar.


Lalu, ibu mencuci piring kotor didapur.


Setelah ayah keluar dari kamar mandi, ibu membersihkan diri dan melaksanakan shalat dhuha.


***


Di kantor, Titi mengerjakan pekerjaannya seperti biasa.

__ADS_1


Menjelang istirahat, Feni menghampiri Titi di meja kerjanya, ia mengajak Titi untuk makan mie ayam langganan mereka.


" Ti, nanti jam istirahat kita makan mie ayam ya? sudah lama kita tidak nongkrong di tempat mang Yono, kangen sama mie ayamnya!" ajak Feni pada Titi.


" Iya, nanti selepas shalat juhur kita kesana.


Kamu, kangen sama mie ayam mang Yono, atau mau nagih janji sama aku untuk cerita tentang pertemuan aku sama orang yang mau kenalan sama aku?" tanya Titi pada Feni.


Feni tertawa mendengar kata-kata Titi.


" Iya, kamu tahu aja tujuan aku ngajak kamu makan mie ayam.


Aku penasaran, pengen tahu hasil pertemuan kamu sama laki-laki itu!." kata Feni lagi pada Titi.


" Dasar kepo!" kata Titi pula pada Feni.


Titi hanya tersenyum melihat Feni yang begitu penasaran ingin mendengar cerita Titi.


Saat melihat Feni duduk didepan Titi, mbak Dewi bertanya pada Feni.


" Fen, kamu pergi ke undangan Herman?"


" Iya, mbak..rencana Feni akan pergi.!" jawab Feni.


" Sama siapa, Fen?" tanya mbak Dewi lagi.


" Rencana nanti sama Titi, sekalian ikut sama bang Yadi dan bang Zen, numpang mobilnya bang Yadi." jawab Feni menjelaskan pada mbak Dewi.


" Memang Titi sudah dapat izin dari orang tua, Titi? tanya mbak Dewi pada Titi.


Orang Tua Titi minta tidak pulang terlalu larut, jam sebelas malam sudah ada dirumah!" jawab Titi menjelaskan pada mbak Dewi.


" Baiklah, nanti mbak minta pada Yadi dan Zen agar menjaga kalian dan mengantar kalian pulang sebelum jam sebelas malam!" kata mbak Dewi pula.


" Baik, mbak, terima kasih!" kata Titi.


***


Saat jam istirahat, setelah shalat Titi menghampiri Feni yang menunggunya di depan kantor.


Melihat Titi keluar dari kantor, Feni menghampiri Titi dan mereka jalan bersama menuju penjual mie ayam.


Sampai di warung mie ayam, Titi memesan mie ayam pada mang Yono.


" Mang, mie ayam dua, seperti biasa ya?"


" Baik, mbak! silahkan tunggu sebentar!" pinta mang Yono pada Titi.


Setelah memesan mie ayam,Titi menghampiri Feni yang sudah terlebih dahulu mencari tempat duduk.


Siang ini, mie ayam mang Yono lumayan ramai. Untung Feni sudah dapat tempat duduk dan sudah menuangkan dua gelas teh hangat buat mereka.


Sambil menunggu pesanan datang, Feni mulai intograsinya pada Titi.


" Ti, gimana pertemuan tadi malam? ada hasilnya ga?" tanya Feni

__ADS_1


" Alhamdulillah pertemuannya lancar, hasilnya jadi nambah teman!" jawab Titi.


" Maksudnya? kalian ga langsung jadian?" Feni bertanya ga mengerti.


" Aku sama dia ga punya rasa apa-apa.


Kami baru pertama kali bertemu, dan kesan pertama kami ga ada yang istimewa. Dia ga tertarik sama aku dan aku juga ga tertarik sama dia.


Jadi, karena kami sudah saling kenal, ya kami berteman aja, ga lebih." jawab Titi menjelaskan pada Feni.


" Memang dia ga ganteng Ti? kok kamu ga suka sama dia? Info nya, dia kan sudah mapan, punya kendaraan pribadi dan punya rumah sendiri.


Memang kamu ga tertarik, Ti?


Feni makin penasaran mendengar cerita Titi.


" Perasaan suka itu, timbul bukan karena dia tampan, sudah mapan, sudah punya kendaraan, sudah punya rumah.


Rasa suka itu timbul dari hati yang sama-sama merasa nyaman satu sama lain. Merasakan debaran yang aneh yang sulit dijelaskan, dan aku sama dia sama-sama tidak merasakan hal itu.


Jadi, kesimpulannya kami hanya sebatas teman!" Titi memberi penjelasan pada Feni.


" Yah..kirain hari ini ada kabar gembira dari Titi hingga bisa merayakan dengan traktiran makan mie ayam karena sudah ada yang jadian." kata Feni memasang wajah sedih.


" Sudah, ga usah di buat sedih wajahnya.


Kalau cuma mau minta traktir mie ayam, ga usah nunggu aku jadian, makan aja tuh mie ayam, nanti aku yang bayar!" kata Titi pada Feni sambil mengaduk mie ayam yang baru dihidangkan mang Yono.


" Kan beda Ti, ditraktir saat merayakan jadian sama ditraktir biasa.


Kalau merayakan jadian kan ada rasa bahagia nya."


Feni beralasan pada Titi.


" Ya sudah, sama-sama makan gratis aja pake alasan.


Sekarang makan tuh mie ayamnya, keburu kuahnya dingin nanti ga enak."


Kata Titi pula.


Akhirnya Feni pun diam, dia menikmati.


mie ayam pesanannya.


" Ah..percuma berdebat sama Titi, dia ga bakal mau ngalah, apalagi kalau sudah urusan cowok, ga bakal dia mau ngalah begitu aja."


Feni bermonolog dalam hati sambil menikmati mie ayamnya.


Ia melihat Titi yang duduk dihadapannya sedang menikmati mie ayam tanpa menghiraukannya.


" Huh..dasar cewek cuek, ga peduli temen lagi kesel." kata Feni lagi dalam hatinya.


Titi tertawa dalam hati melihat Feni yang menatapnya dan Titi pura-pura cuek sambil menikmati mie ayamnya.


****((&_&))****

__ADS_1


__ADS_2