
Belum sempat Titi berjalan kearah kamar, pintu kamar telah terbuka dari dalam.
Nampak bang Ari dan Nanda yang keluar dari kamar.
" Eh, ada Awal sama Irvan, sudah lama kalian datang? " tanya bang Ari pada Awal dan Irvan.
" Kami baru datang, bang. " jawab Awal.
" Bang, salim dulu sama om. " pinta bang Ari pada Nanda.
Nanda menghampiri Awal dan Irvan, lalu mengalami tangan mereka dan mencium punggung tangannya.
Bang Ari menghampiri Titi dan duduk disampingnya.
" Bang Nanda, sini duduk dekat om Irvan! " pinta Irvan setelah Nanda bersalaman dan mencium tangannya.
Nanda mau saja saat Irvan mengangkat dan mendudukkan Nanda di pangkuannya.
" Sudah baikan, bang? " tanya Awal ada Ari, abangnya.
" Alhamdulillah lah, abang sudah lebih baik. Mudah-mudahan besok abang bisa ikut berpuasa. " jawab bang Ari pada Awal.
" Jangan dipaksa dulu bang kalau masih belum sehat, abang kan masih harus minum obat. " kata Titi pada bang Ari sambil mengusap lengannya.
" Iya bang, tunggu benar-benar sehat dulu baru berpuasa. " kata Awal pada abangnya.
Sejak menikah, bang Ari memang rajin berpuasa disaat bulan Ramadhan.
Walaupun ibadahnya masih bolong-bolong dan suka minum minuman keras tapi saat bulan Ramadhan bang Ari mau berpuasa, walau ada satu dua hari yang bolong.
Kebanyakan puasa bang Ari pool di setiap bulan Ramadhan.
Maka dari itu, saat sakit sekarang ia merasa sayang tidak menjalankan ibadah puasa.
Ana datang dari dapur dengan membawa dua gelas kopi dan cemilan, lalu menaruhnya di atas meja.
" Ini Van kopi sama cemilannya, sisa-sisa berbuka tadi. " kata Ana pada Irvan yang tadi menanyakan makanan berbuka.
" Jadilah sisa juga, yang penting masih bisa dimakan. " kata Irvan pada Ana.
" Abang mau dibuatkan kopi? " tanya Ana pada bang Ari.
" Tidak! abang minta teh hangat saja. "
jawab bang Ari pada Ana.
Ana kembali ke dapur untuk mengambil teh hangat buat bang Ari.
" Diminum Wal, Van, kopinya. Cemilannya juga seadanya. " kata Titi menawari Awal dan Irvan kopi.
" Abang Nanda mau kopi, nggak? " tanya Irvan pada Nanda yang ada pangkuannya saat Irvan mengambil kopi miliknya.
" Mau om! " jawab Nanda sambil mengangguk.
__ADS_1
" Abang ga boleh minum kopi, nak, nanti abang ga bobo malam. " kata Titi yang melarang Nanda minum kopi.
" Kata mama, abang tidak boleh minum kopi, nanti abang begadang, ga bisa tidur. " kata Irvan yang mengatakan jika Nanda tidak boleh minun kopi.
" Abang nanti mama buatkan susu aja, ya? biar boboknya nyenyak. " kata Titi pada Nanda.
Nanda hanya menganggukkan kepala mendengar kata-kata mamanya.
" Kak Ana, mau nginap disini apa pulang? " tanya Awal pada Ana setelah Ana meletakkan teh buat abangnya dan duduk di dekat Awal.
" Kakak ikut pulang aja, dah lama ga tidur di rumah, kangen sama ibu juga. " jawab Ana pada Awal.
" Nginap disini aja dulu, An, besok baru pulang. " kata Titi pada Ana.
" Ana pulang aja kak, sudah rindu sama rumah. Lima hari empat malam Ana tidak pulang. Kebetulan Awal datang jadi Ana bisa ikut pulang. " kata Ana pada Titi.
" Ya terserah Ana kalau begitu. " kata Titi lagi pada Ana.
" Ini dari ubi ya, kak? " tanya Irvan yang mengambil cemilan dari atas piring.
" Iya, itu ubi diparut, lalu diberi gula tengahnya dan digoreng.
Kalau orang Sunda bilang itu namanya misro', amis dijero'" jawab Titi menjelaskan pada Irvan apa yang dimakan.
" Yang ini pedas, kak? " tanya Awal pada Titi saat ia mengambil satu dan memakannya.
" Iya, yang itu pedas karena isinya tempe yang digiling bersama cabe.
Kata ibu namanya pero', tempe dijero'. " jawab Titi memberitahu apa yang Awal makan.
" Ya begitulah. " kata Titi.
" Ibu kak Titi mah rajin buat makanan sendiri. " kata Ana sambil mencomot pero'.
" Iya, namanya juga tinggal di kebun, yang dimasak ya yang ada di kebun. " kata Titi pada Ana.
" Daripada beli kan enak buat sendiri.
Kalau disini ubi ada, pisang ada, pepaya, jambu biji ada, semua tinggal ambil di kebun. " kata Irvan.
" Iya, bersyukur semua ada di kebun, tinggal diolah sendiri. " kata Titi pula.
" Iya ya, kak. Pengen keripik pisang atau keripik singkong tinggal ambil bahannya di kebun, tinggal beli minyak sama gula aja. ' kata Ana.
" Iya, Alhamdulillah. " kata Titi.
Merek mengontrol sampai ayah dan ibu pulang dari shalat tarawih.
" Eh, ada tamu? " kata ibu saat masuk kedalam rumah setelah mengucapkan salam.
" Iya, bu! " kata Awal sambil berdiri dan menyalami ayah dan ibu Titi diikuti oleh Irvan.
" Mau pada nginap? " tanya ibu pada Awal dan Irvan.
__ADS_1
" Tidak bu, cuma mau jemput kak Ana. " jawab Awal.
" Lho, memangnya Ana mau pulang? " tanya ibu pada Ana.
" Iya bu, Ana mau pulang dulu. " jawab Ana.
" Kenapa ga nginap aja? besok pagi baru pulang. " tanya ibu lagi pada Ana.
" Sudah rindu pada ibu di rumah bu, kebetulan Awal dan Irvan jemput, jadi Ana bisa pulang. " jawab Ana yang memberi alasan pada mengapa ia mau pulang malam ini.
" Ya sudah kalau begitu, ibu ke kamar dulu ya mau menaruh mukena. " kata ibu pada kami yang ada diruang tamu.
" Iya, bu! " jawab kami.
Selesai berbincang dan minum kopi, Awal dan Irvan permisi pulang karena hari sudah menunjukkan hampir jam setengah sepuluh malam.
" Kak Titi, bang Ari, kami pamit pulang dulu ya? sudah hampir setengah sepuluh malam. " kata Awal yang berpamitan pada Titi dan bang Ari.
" Iya, hati-hati kalian dijalan, ga usah ngebut saat bawa motor. " kata bang Ari pada Awal dan Irvan.
" Iya, bang! " jawab Awal dan Irvan serempak.
Ana yang telah bersiap sejak tadi, mengambil tas berisi pakaian yang ia letakkan di dekat pintu keluar.
Ana ke dapur untuk berpamitan pada ayah dan ibu yang sedang berada di dapur.
" Pak, bu, Ana pamit mau pulang dulu. " kata Ana pada ayah dan ibu yang berada di dapur.
" Iya Ana, hati-hati dijalan. " kata ayah pada Ana saat Ana menyalami dan mencium punggung tangan ayah.
Ibu mengikuti Ana ke depan karena Awal dan Irvan juga ingin berpamitan.
" Kalian susah mau pulang? " tanya ibu pada Awal dan Irvan.
" Iya bu, sudah malam, kasihan kak Ana juga sudah mengantuk. " jawab Awal pada ibu.
Awal menyalami tangan ibu begitupula dengan Irvan.
" Iya, disuruh nginap disini dulu malah ga mau. " kata ibu.
" Lain kali ya bu, Ana menginap disini." kata Ana yang sudah siap dengan tas yang dijinjing ditangannya.
Awal mengambil tas yang dipegang oleh Ana dan membawanya ke motor.
Setelah berpamitan dan mengucapkan salam, Ana, Awal dan Irvan pun pulang dengan Awal yang membonceng Ana dan Irvan membawa motor sendiri.
Setelah mereka tidak terlihat, Titi menutup pintu dan bersiap untuk beristirahat.
🦂🦂🦂
🦂🦂 Paksaan merupakan senjata orang yang miskin hujah dan selalu gagal dalam menundukkan.
Setelah gagal dengan perkataan, maka dia menundukkan nya dengan
__ADS_1
tongkat. 🦂🦂
🦂🦂 Hati manusia adalah kuburan berbagai rahasia. 🦂🦂