
Hari ini Ari dan Titi akan mengadakan acara syukuran untuk rumah baru mereka.
Rumah yang dikerjakan oleh mas Yamin dan mas Totok sudah selesai dikerjakan.
Beberapa hari ini Ari dan Titi sudah menempati rumah tersebut karena rumah lama mereka sudah dibongkar sehingga halaman rumah mereka menjadi luas.
Ari dan Titi juga sudah membeli perabotan baru untuk rumah mereka, kebetulan saudara ipar mbak Dewi memiliki toko furniture sehingga Titi bisa membeli perlengkapan untuk di kamarnya secara kredit dan pada saat rumah mereka selesai dibangun, kredit barang juga sudah lunas sehingga barang-barang pesanan Titi diantar ke rumah baru mereka.
🦂🦂
Di rumah Titi tengah ramai karena keluarga Titi dan keluarga Ari sedang sibuk memasak di dapur untuk acara syukuran nanti malam.
" Ti, berapa orang yang nanti diundang untuk acara syukuran? " tanya kak Ruby pada Titi.
" Kemungkinan ada sekitar lima puluh orang kak, semua warga RT sini. " jawab Titi.
" Makannya prasmanan, kan? ga ada yang dibawa pulang? " tanya kak Ruby lagi.
" Iya kak, makan prasmanan aja biar ga repot dan tidak ada yang dibawa pulang." jawab Titi lagi.
Kak Ruby pun melanjutkan pekerjaannya membuat kue bolu.
Ari membuat tungku kayu untuk memasak nasi karena jika memasak di kompor akan memakan waktu yang lama.
Uni Min dan tante Neng sedang memasak ikan dan ayam di dapur, sedangkan Titi dan Tuti sedang membersihkan piring dan wadah yang akan digunakan.
Semua mengerjakan pekerjaannya masing-masing.
Anak-anak bermain dihalaman depan, ada juga yang bermain di pondok di belakang rumah.
Ibu Titi sedang mengasuh Ais, anak Tuti yang ke dua.
Ibu juga mengawasi Andi dan teman-temannya yang lain agar tidak bermain di sekitar kolam ikan karena takut jika mereka terjatuh ke dalam kolam.
" Ibu pasti senang ya mbak karena keinginannya untuk punya kamar dengan kamar mandi sendiri sudah dipenuhi oleh bang Ari. " kata Tuti pada Titi saat mereka tengah mengelap piring yang akan digunakan.
" Iya, Alhamdulillah kami bisa memenuhi keinginan ibu untuk punya kamar sendiri disini. Tapi baru beberapa malam tidur di kamarnya, ibu minta tidur di kamar depan, kata ibu kalau di kamarnya sepi. " kata Titi pada Tuti.
" Sepi gimana mbak? kamar ibu kan hampir berhadapan dengan kamar mbak, cuma dibatasi ruang nonton tivi?" tanya Tuti heran.
" Mbak ga tahu juga, dulu ibu yang minta kamar di bagian belakang agar tidak berisik karena kamar bagian depan berdekatan dengan rumah ibunya Fikar,. sekarang ibu minta pindah ke kamar depan dan kamar belakangan digunakan oleh anak-anak. " imbuh Titi.
" Iya mbak, biarin aja ibu mau dimana, yang penting ibu senang.
Rumah ibu aja sekarang ditempati oleh bang Pandu karena ibu lebih memilih tinggal bersama mbak Titi. "
__ADS_1
Tuti memaklumi keinginan ibunya yang kadang berubah-ubah.
Rumah lama ibu sudah dijual dan ibu membeli sebuah rumah yang tidak jauh dari rumah Tuti.
Jika diurutkan dari jalan utama, pertama akan tiba di rumah Titi, setelah itu rumah Tuti, rumah ibu dan terkahir rumah bang Pandu.
Bang Pandu masih menempati rumah ibu karena rumah bang Pandu masih belum permanen dan jika malam suasananya sangat sepi. Anak semata wayang bang Pandu juga sering sakit-sakitan karena di belakang rumah bang Pandu ada kadang sapi milik orang tua angkat bang Pandu.
Selain itu bang Pandu juga tidak mungkin membiarkan ibu tinggal sendirian di rumahnya.
Sesekali ibu akan pulang dan menginap di rumahnya.
Pandu dan kedua adiknya tidak pernah memaksa ibu untuk tinggal dimana dan dengan siapa, yang penting ibu merasa nyaman untuk menikmati hari-hari tuanya.
🦂🦂
" Mas Ali, nanti jangan lupa undang tetangga untuk datang sehabis maghrib ya? bilang saja jika saya akan mengadakan syukuran. " kata Ari pada Ali yang baru datang ke rumah Ari.
" Beres bang, nanti habis ashar saya yang akan keliling untuk mengundang tetangga. " kata Ali pada Ari.
" Nanti siapa saja yang akan diundang, bang? " tanya Ali.
" Yang diundang tetangga kita yang satu RT saja, paling yang beda RT cuma wak Cecep dan Wak Maman. " jawab Ari.
Aku dan Ari tengah duduk di pondok sambil minum kopi dan makan cemilan yang tadi disiapkan oleh Tuti.
" Ma, adek mau minun susu. " kata Andi pada Titi.
" Iya nak, sebentar ya? " kata Titi sambil bangkit dari duduknya, lalu berjalan ke arah dapur untuk membuat susu buat Andi.
Setelah membuat susu, Titi menyerahkan susu buat Andi.
" Ini susunya, nak. " kata Titi sambil menyerahkan botol susu pada Andi.
Andi mengambil botol susu dari mamanya, lalu berjalan kearah kamar untuk mengambil bantal piu-piu miliknya.
" Abang, itu bantalnya buat bibi ya? " kata Tuti menggoda Andi yang sedang minum susu sambil memilin pita yang ada pada bantal kecil tersebut.
Andi minum susu sambil duduk dilantai dengan badan menyandar pada bantal kursi yang besar.
Andi tidak menjawab perkataan bibinya, ia hanya menggelengkan kepalanya saja.
" Untung ada bantal bedcover itu, jadi punya ide untuk menggantikan pita B* yang sering dipegang Andi kalau sedang minum susu, kalau tidak pasti Andi masih suka membawa-bawa B* pada saat minum susu. " kata Titi pada Tuti.
" Abang nih ada-ada saja, minum susu sambil mentil pita. " kata Tuti sambil tertawa dan menggoda Andi.
__ADS_1
Setelah minum susu, Andi kembali pergi bermain bersama teman-temannya di halaman belakang rumah mereka.
🦂🦂
Sore hari, bu RT datang ke rumah Titi untuk bersilaturahmi bersama beberapa orang tetangga Titi.
" Silakan masuk, ibu-ibu. " kata Titi pada bu RT dan ibu-ibu yang berkunjung ke rumah Titi.
" Terima kasih, Ti. " jawab bu RT dan ibu Fikar yang juga ikut datang ke rumah Titi.
Titi menjamu tamunya dan duduk di ruang tengah.
" Rumah Titi besar juga, ya? ada berapa kamar, Ti? " tanya ibu Fikar pada Titi.
" Alhamdulillah, ada semuanya ada tiga kamar. " jawab Titi.
" Halamannya juga luas setelah rumah lama di bongkar? " kata ibu Anggi tetangga yang ada di depan rumah ibu Fikar.
" Iya, sengaja ingin punya halaman yang luas karena punya dua anak laki-laki pasti nanti banyak temannya yang akan bermain, sehingga mereka bisa bermain dihalaman dan tidak perlu bermain ke tempat lain. " jawab Titi sambil tersenyum.
" Benar, anak-anak bisa bermain bola atau bermain kelereng dihalaman, jadi bisa dipantau dari rumah. " kata mbak Sus tetangga dekat rumah Tuti.
" Ti, saya bisa lihat-lihat rumahnya? " tanya bu RT pada Titi.
" Silakan, bu. " jawab Titi.
Ibu-ibu pun berdiri dan melihat-lihat bagian rumah Titi.
Bu RT membuka pintu kamar Titi yang tertutup dan melihat isi kamar tersebut bersama mbak Sus.
Melihat apa yang dilakukan oleh bu RT, Titi merasa tidak enak dan sedikit kesal pada bu RT dan mbak Sus karena sudah lancang membuka kamar pribadinya.
Titi paling tidak suka jika ada yang sembarangan melihat atau masuk kedalam kamarnya, karena kamar merupakan tempat yang privasi bagi Titi dan tidak sembarang orang boleh masuk kedalam kamarnya.
Setelah melihat-lihat isi rumah Titi, ibu-ibu itupun pamit pulang pada Titi dan Tuti yang menemani Titi menerima kunjungan ibu-ibu tersebut.
Setelah ibu-ibu pulang, Titi dan Tuti memasang tikar di ruang tamu dengan ruang tengah untuk acara syukuran nanti malam.
Setelah itu Titi dan Tuti membantu menyiapkan makanan yang akan dihidangkan di dapur bersama yang lain.
🦂🦂🦂
🦂🦂 Setiap pikiran yang telah aku penjarakan dalam ungkapan, harus aku bebaskan dengan perbuatan-perbuatan ku. . . 🦂🦂
🦂🦂 Tentu ada suatu kesucian yang aneh dalam garam. Ia terdapat dalam air mata kita dan laut. 🦂🦂
__ADS_1