
Titi telah merapikan berkas perpanjangan kontrak kerja, sebelum ditandatangani oleh pak Dani, Titi menyerahkan pada pak Bari untuk dikoreksi, takut jika ada kata-kata atau angka-angka yang salah.
Sebelum Titi me-ngeprint berkas, Titi akan mengoreksi kembali, begitupun setelah berkas diprint, Titi akan mengoreksi kembali sebelum diserahkan pada pak Bari.
Titi bersyukur karena beberapa hari yang lalu mbak Dewi benar-benar membeli sebuah komputer untuk digunakan di kantor sehingga pekerjaan Titi jadi semakin mudah.
" Pak, ini berkas kontrak yang harus bapak periksa sebelum di tandatangani oleh pak Dani. Tadi sudah Titi periksa Insya Allah ga ada yang salah. "
Kata Titi pada pak Bari sambil menyerahkan berkas yang akan diperiksa oleh pak Bari.
" Enak sekarang kamu Ti, sudah ada komputer, jadi jika ada yang salah tidak perlu mengulangi dari awal. " kata pak Bari sambil membuka berkas yang Titi bawa.
Saat pak Bari memeriksa berkas yang diberikan oleh Titi, Titi kembali kemejanya untuk melakukan pekerjaan yang lainnya.
Pagi ini di kantor hanya ada pak Bari dan Titi, mbak Dewi sedang ada urusan keluar dan datang ke kantor agak siangan.
Titi sudah menyiapkan blangko yang akan ditandatangani oleh pak Dani sebelum pak Dani berangkat ke luar kota.
Titi tengah menulis beberapa nomor cek yang akan ditandatangani pak Dani pada sebuah buku catatan milik Titi.
Dibuku tersebut terdapat nomor cek, tanggal pengeluaran cek, nominal yang akan diisi pada cek, serta keterangan kegunaan cek tersebut, lalu ada kolom paraf pak Dani.
Setelah menyiapkan semuanya, Titi duduk santai karena pekerjaan sudah selesai tinggal menunggu supir yang datang untuk mengambil surat jalan.
Biasanya itu pekerjaan mbak Dewi, tapi karena mbak Dewi sedang keluar, maka Titi yang menggantikan pekerjaan mbak Dewi.
Seperti biasa, jam sepuluh pagi pak Dani datang ke kantor dan duduk di meja kosong dekat pak Bari.
Setelah beberapa saat pak Dani duduk, pak Bari menyerahkan berkas yang akan ditandatangani oleh pak Dani.
Tanpa banyak bertanya, pak Dani menandatangani berkas tersebut karena merasa yakin jika tidak ada kesalahan lagi sebab pak Bari sudah memeriksa berkas tersebut.
" Ini laporan keuangan kemarin pak, dan ini blanko serta cek yang akan bapak tandatangani untuk keperluan kantor beberapa hari ke depan saat bapak keluar kota. "
Titi menaruh laporan serta blanko serta cek yang akan ditandatangani pak Dani.
__ADS_1
Setelah menaruh laporan dihadapan pak Dani, Titi kembali ke mejanya, menunggu pak Dani memeriksa laporan serta menandatangani blanko yang Titi serahkan tadi.
Pak Dani juga menyerahkan berkas yang sudah ditandatanganinya pada Titi untuk Titi rapikan dan dimasukkan kedalam amplop yang sudah Titi siapkan.
" Pak Bari, bagaimana dengan konsep surat yang waktu itu saya minta pada pak Bari, apa sudah selesai di konsep? " tanya pak Dani pada pak Bari.
Pak Bari mengambil konsep surat yang sudah dibuatnya di dalam filing cabinet yang ada disampingnya, lalu menyerahkan pada pak Dani.
Pak Dani membaca konsep surat yang diberikan oleh pak Bari.
Pak Dani membaca konsep tersebut beberapa saat, lalu wajah pak Dani terlihat sedikit kesal.
" Saya kan minta konsep surat yang sebagian isi pokoknya sudah saya sampaikan, kenapa ini isinya masih seperti ini? " tanya pak Dani yang merasa kesal karena isi konsep surat tersebut tidak sesuai dengan keinginannya.
" Surat tersebut saya konsep bersama Titi, dan saya kira isinya sudah sesuai dengan apa yang dibicarakan kemarin. " kata pak Bari yang tidak terima jika pak Dani menyalahkan konsep yang sudah dibuatnya.
" Lain kali, dengarkan dan perhatikan apa yang disampaikan, untuk pekerjaan seperti ini, anak kecil saja bisa! " kata pak Dani masih dengan nada kesal.
Pak Bari hanya diam saat mendengar pak Dani memprotes apa yang sudah dikerjakannya.
Pak Dani bicara panjang lebar menumpahkan kekesalannya karena apa yang dibuat pak Bari tidak sesuai dengan keinginannya.
" Kalau pak Dani sudah bilang "lain kali", pasti panjang ceritanya, bakal lama pak Dani ngomel. " kata Titi dalam hati.
Titi sudah tahu bagaimana sifat pak Dani jika ada sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginannya.
" Padahal, konsep surat itu sudah sesuai dengan inti surat yang disampaikan pak Dani karena aku sudah mencatat isi pokok surat. Pak Dani pasti ada masalah lain, sehingga melampiaskan kekesalannya pada kami. " monolog Titi dalam hati.
Sementara pak Dani sedang mendiktekan kata-kata untuk konsep surat pada pak Bari dan pak Bari menuliskan kata-kata tersebut pada selembar kertas yang sejak tadi dipegangnya.
Pak Dani terus mendiktekan kata-kata pada pak Bari sambil menghisap rokok yang terselip di jarinya.
" Coba baca lagi pak Bari, konsep surat ini. " pinta pak Dani pada pak Bari.
Pak Bari membaca konsep surat yang baru saja di tulisnya, pak Dani mendengarkan dengan baik apa yang sedang dibacakan oleh pak Bari.
__ADS_1
Setelah mengoreksi beberapa kata yang dirasa kurang tepat, pak Dani meminta Titi untuk membuat surat tersebut.
" Ti, sekarang buat surat ini karena saya akan langsung membawanya. " pinta pak Dani pada Titi.
Titi mengambil konsep surat dari pak Bari, lalu masuk ke ruangan pak Dani untuk membuat surat tersebut karena komputer diletakkan didalam ruangan pak Dani.
Antara ruangan pak Dani dan ruangan karyawan ada kaca besar berwarna hitam sebagai sekat didekat kursi tamu sehingga dari ruangan pak Dani bisa melihat ruangan karyawan dengan jelas.
Selesai membuat surat tersebut, Titi menyerahkan pada pak Bari untuk dikoreksi, lalu karena sudah tidak ada kesalahan pak Bari menyerahkan surat tersebut pada pak Dani.
Setelah surat ditandatangani, Titi memasukkan surat tersebut kedalam amplop lalu menyerahkan kembali pada pak Dani beserta berkas yang akan dibawanya ke luar kota.
Setelah menerima surat dan berkas yang akan dibawa, pak Dani pun berniat meninggalkan kantor karena akan mempersiapkan keberangkatannya ke luar kota.
" Ti, ada yang kecil untuk ongkos angkot? " tanya pak Dani pada Titi.
" Ada pak. " jawab Titi sambil membuka tas dan mengambil uang dari dompetnya untuk diberikan pada pak Dani.
" Sekalian bawa bukti pengeluaran kas dan buat untuk keperluan biaya transport saya. " kata pak Dani lagi.
Titi membuat pengeluaran kas untuk biaya transport pak Dani dan ditandatangani oleh pak Dani.
Setelah itu, pak Dani keluar dari kantor dan menunggu angkot untuk pulang.
Begitulah pak Dani, walaupun hanya mengambil uang untuk ongkos angkot, pak Dani selalu minta bukti pengeluaran kas pada Titi, padahal terkadang Titi memberikan uang pribadi untuk pak Dani tapi pak Dani tetap meminta Titi untuk mengeluarkan uang kas.
Pak Dani juga tidak pernah gengsi untuk naik angkot jika mobilnya sedang digunakan oleh anak atau istrinya untuk keperluan lain.
Setelah pak Dani keluar dari kantor, pak Bari berkata pada Titi,
" Yang ngasih pokok surat dia, kita tinggal mengembangkan saja, tapi masih juga salah. Tadi apa yang didiktekan juga sama dengan konsep kita cuma ada beda beberapa kata-kata saja. " kata pak Bari.
" Kalau pak Dani sudah bilang "lain kali", pasti bakal panjang ceritanya, pak. " kata Titi pada pak Bari.
Lalu mereka pun tertawa karena sudah tahu dengan kebiasaan pak Dani jika sedang marah.
__ADS_1
🦂🦂🦂
🦂🦂 Jika ingin dihargai, maka belajarlah untuk menghargai orang lain. 🦂🦂