Nastiti

Nastiti
Bab 56. Nama Istimewa


__ADS_3

Pov Ari


Aku tak menyangka bila saat ini aku telah resmi menjadi suami Titi setelah kata sah diucapkan para saksi.


Aku menikah di usia yang masih sangat muda bagi ukuran seorang laki-laki.


Satu hari setelah hari kelahiran ku yang ke dua puluh satu, aku resmi menjadi seorang suami bagi seorang wanita yang sangat aku cintai, Nastiti.


Meski usia ku masih terbilang muda, aku yakin bahwa aku bisa menjalani sorang suami yang baik bagi Titi dan menjalani pernikahan ini hingga kami sama-sama menua dan kematian yang memisahkan kami.


Titi seorang gadis yang baik di mataku, ia tak pernah bersikap macam-macam, ia sorang gadis rumahan yang tidak pernah keluyuran.


Dari Titi, aku banyak belajar mengenai beribadah kepada Allah.


Selama ini, aku tinggal di kota besar dan bergaul dengan teman-teman dari kalangan berada yang kehidupan nya tak jauh-jauh dari pergaulan yang kurang baik.


Dari Titi, aku belajar bagaimana membaca Al-Quran dan menjalankan ibadah shalat lima waktu.


Aku berusaha mengikuti setiap hal-hal baik yang Titi lakukan karena Titi tidak pernah meninggalkan lima waktunya.


Titi tak pernah menggurui dan merasa lebih pintar masalah agama dari ku, aku pun tak segan untuk belajar agama padanya.


Karena Titi banyak mengajarkan hal baik pada ku, aku memberi nama istimewa untuk nya.


Aku menyebutnya sebagai "Mahadewi", nama yang hanya aku berikan khusus untuk nya.


Titi sangat bahagia dan merasa tersanjung saat aku memberitahu tentang panggilan istimewa ku untuk nya.


Dan aku merasa lebih bahagia dengan apa yang dirasakannya.


Ia memang seorang Mahadewi bagi ku.


Dewi yang banyak mengajarkan kebaikan dan kesabaran pada ku, dan mengubah diri ku yang tadinya tak pernah menjalankan shalat lima dan membaca Al-Quran jadi berusaha untuk bisa membaca Al-Quran dan menjalankan kewajiban shalat lima waktu.


Setelah resmi menjadi suaminya, aku ingin menjadi imam yang baik baginya.


Walaupun masih tahap belajar, aku terus berusaha memperbaiki diri demi Mahadewi ku.


Meski usianya lebih tua dari ku tapi semenjak resmi menjalin hubungan dengan nya, ia memanggil ku abang, tak pernah memanggil nama ku.


Aku bersyukur bisa mendapatkan nya dan menjadikannya istri ku.


Dan aku berjanji untuk bisa membahagiakan nya dan tak akan menyakitinya.


»»————><————««


Pov Author.


Malam ini setelah selesai makan malam, Titi dan Ari lebih memilih untuk beristirahat dikamar.


Mereka duduk di tepi tempat tidur sambil mendengar musik.


" Bang.. shalat isya dulu, tuh dah azan isya, kalau sudah shalat kan tenang, bisa langsung istirahat! "


Saat mendengar azan, Titi meminta Ari untuk melaksanakan shalat isya dan tidak menunda waktu.


" Iya dek, abang mau shalat isya, ini mau wudhu dulu! "


Ari bangkit dari duduknya dan berjalan keluar kamar untuk menuju kamar mandi dan mengambil wudhu.

__ADS_1


Titi menyiapkan sajadah, sarung dan peci yang akan Ari gunakan.


Ia membentang sajadah menghadap kiblat dan menaruh sarung serta peci diatas nya.


Selesai berwudhu, Ari kembali kekamar untuk shalat isya.


Ari shalat dengan khusyuk, berdoa dan berzikir setelah selesai shalat.


Titi menunggu Ari selesai shalat dengan duduk diatas kasur sambil membaca novel yang belum selesai dibacanya.


Setelah shalat, Ari merapikan kembali sajadah, sarung dan peci yang yang dikenakannya dan menyimpannya ditempat biasa.


Ari ikut naik keatas tempat tidur, duduk disamping Titi dan menyandarkan punggungnya di kepala tempat tidur.


" Baca novel apa, dek? " tanya Ari.


" Ini bang, kisah pembunuhan yang dilakukan orang tak dikenal, jadi detektif yang mencari sang pembunuh merasa kesulitan karena tidak ada jejak yang ditinggalkan, pembunuhnya seorang yang profesional! "


Titi menjelaskan isi cerita novel yang dibacanya.


" Simpan dulu novelnya, duduknya geser sini dekat abang! " Ari meminta Titi untuk merapat padanya.


Titi mengikuti keinginan Ari, ia menyimpan novel yang dibacanya diatas nakas, lalu menggeser duduknya lebih dekat pada Ari.


Ari merangkul bahu Titi dan mencium puncak kepalanya.


Titi menyandarkan kepalanya di dada Ari dengan manja.


Ari mengusap-usap bahu Titi dengan tangan kanannya.


" Dek,.. dewi masih lama ya datang tamunya? " tanya Ari lembut.


Titi balik bertanya secara beruntun dengan perasaan bingung pada Ari.


" Iya, dewi! " sahut Ari.


Ari mengarahkan pandangannya pada bagian bawah Titi, pas dibawa perutnya.


Titi mengikuti arah pandangan mata Ari.


Titi merasa malu saat tahu arah pandangan mata Ari.


" Itu namanya, Dewi.. yang kembar ini namanya Via sama Vio! "


Ari memindahkan tangannya dan menyentuh dua bukit kembar Titi.


Titi merasa semakin malu dengan apa yang dilakukan Ari.


Tak terfikirkan jika Ari akan memberikan nama pada bagian tertentu tubuh Titi.


" Abang sudah kasih nama bagian pavorit abang ditubuh adek, adek punya nama juga nggak untuk adek kecil abang? "


Ari bertanya pada Titi sambil mengarahkan tangan Titi dibagian bawah perutnya.


Titi menarik tangannya saat merasakan sesuatu yang keras dibawah sana.


" Tuh.. dia sudah bangun hanya karena abang menyentuh via dan vio, ia cemburu karena belum diberi nama! "


Ari mengarahkan pandangan matanya pada adik kecilnya yang sudah bangun.

__ADS_1


" Abang bikin Titi malu, memangnya mau diberi nama siapa? " tanya Titi dengan tertunduk malu.


Walau usia Titi sudah hampir dua puluh empat tahun, tapi tetaplah seorang gadis yang pemalu walaupun terhadap Ari, suaminya sendiri.


" Terserah adek mau memberi nama siapa, abang terima.! " Ari menjawab sambil tersenyum.


Titi terdiam dan berfikir untuk mencari nama untuk adik kecil yang diminta Ari.


Setelah beberapa saat, Titi mendapat sebuah nama yang dirasanya cocok dengan adik kecil Ari.


" Bagaimana kalau Titi beri nama Arthur?" tanya Titi sambil tersenyum malu.


" Hmm.. " Ari berfikir sejenak.


" Kenapa harus Arthur? " tanya Ari penasaran dengan nama yang diberikan Titi.


" Emm.. tadi pas tak sengaja Titi pegang, adik kecil abang sepertinya sangat perkasa, besar dan keras.


Titi spontan aja ingin memberi nama Arthur.! "


Titi menjelaskan nama yang ia beri pada adik kecil Ari.


" Abang suka dengan nama itu.


Baiklah, jadi namanya Arthur.. Arthur pasangan Dewi.! "


Ari setuju dengan nama yang diberikan oleh Titi.


" Jadi, kapan Arthur bisa ketemu dewi? Berapa lama Dewi kedatangan tamu? "


Ari kembali menanyakan kesiapan Dewi bertemu Arthur


" Biasanya tamu bulanan Titi selama tujuh hari, ini baru hari ketiga jadi masih empat hari lagi! "


Titi menjelaskan masa tamu bulanannya.


" Yah.. masih lama ya? kasihan Arthur, kan ingin berkenalan juga dengan Dewi.


Ini aja Arthur sudah bangun dan siap bertemu Dewi.! "


Ari mengarahkan kembali tangan Titi pada adik kecil yang sudah diberi nama Arthur.


" Bantu Arthur tidur ya dek, abang sudah ga tahan! " pinta Ari berbisik ditelinga Titi.


Ari sudah tak bisa menahan Arthur yang sudah ingin bertemu dewi.


" Bagaimana caranya bang? Titi ga ngerti!" tanya Titi.


Ari merebahkan Titi diatas tempat tidur, dan melakukan ritual untuk menidurkan Arthur.


Titi hanya mengikuti apa yang diminta oleh Ari karena merasa kasihan melihat Ari yang harus menenangkan Arthur.


Setelah Arthur bisa dijinakkan, Ari kekamar mandi untuk membersihkan diri.


Dan setelah membersihkan diri, Ari dan Titi beristirahat karena hari telah menjelang malam.


✧༺♥༻✧


Notes : Jangan lupa dukungannya ya? dengan memberi Like, komen dan vote agar cerita Ari dan Titi tetap berlanjut. 🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2