Nastiti

Nastiti
Bab 60. Gempa Bumi


__ADS_3

Tak terasa kehamilan Titi memasuki usia tujuh bulan.


Kandungan Titi terlihat sehat, karena Titi juga tidak pernah merasakan keluhan apapun.


Setiap bulan, Titi tak pernah lupa untuk memeriksakan kandungannya ke bidan.


Walau hamil anak pertama, berat badan Titi tidak bertambah secara drastis, walaupun Titi tidak mengalami ngidam dan morning sickness serta nafsu makan Titi pun biasa saja.


Titi bersyukur, saat kehamilannya menginjak empat bulan, Ari diminta untuk bekerja di kantor Titi dan ditempatkan dibagian lapangan.


Jadi setiap hari Ari dan Titi bisa pergi dan pulang kantor bersama.


Mungkin sudah menjadi rejeki bayi yang dikandungnya, akhirnya Ari bisa punya pekerjaan tetap.


Pagi-pagi Ari akan kelapangan untuk mengatur driver yang akan mengantarkan barang.


Sore hari Ari akan melaporkan pekerjaannya dan mengambil jadwal untuk pengiriman hari selanjutnya.


°°°°°


Hari ini, Titi akan melakukan acara tujuh bulanan.


Semua keperluan untuk acara tujuh bulanan sudah disiapkan oleh bude Surti.


Keperluan untuk siraman Titi telah disiapkan dari kemarin, juga satu buah kelapa muda yang akan dibelah Ari dalam sekali tebasan.


Beberapa ibu-ibu tetangga yang diminta ibu untuk membantu masak memasak sudah datang dari pagi dan mulai mengerjakan pekerjaan masing-masing.


Bude Surti sibuk mempersiapkan hal-hal yang dibutuhkan untuk acara ini.


Dari mempersiapkan air dari tujuh mata air yang akan digunakan untuk siraman Titi.


Bubur tujuh warna, tujuh jajanan pasar, jarik yang akan digunakan Titi, serta hal-hal lainnya.


Acara tujuh bulanan ini merupakan acara untuk memohon keselamatan dan kesehatan bagi ibu dan bayi yang dikandungnya agar sehat dan selamat hingga saat lahiran tiba.


°°°°°°


Prosesi pertama siraman, Titi akan disiram dengan air dari tujuh sumber mata air oleh keluarga terdekat.


Ayah, ibu dan saudara terdekat lainnya.


Siraman dilakukan di tempat yang sudah disiapkan disamping rumah.


Setelah siraman, Titi didampingi bude Surti untuk mengganti jarik dengan tujuh jarik.


Setiap jarik yang dikenakan, bude Surti bertanya pada keluarga yang ada.


" Jarik yang ini, cocok ga? " tanya bude Surti


" Nggak! " jawab keluarga yang ada disana.


Hal itu dilakukan hingga berganti jarik yang ketujuh.


" Jarik yang ini, cocok ga? " tanya bude Surti lagi.


" Cocok! " jawab mereka semua


Setelah dianggap cocok, jarik yang ke tujuh yang dikenakan oleh Titi.


Titi telah melakukan prosesi mengganti jarik, setelah itu Ari diminta untuk membelah kelapa yang telah disiapkan.


Dengan mengucap Bismillah, Ari memotong kelapa menggunakan parang yang telah disediakan.

__ADS_1


Para penonton yang mengikuti acara ini penasaran, karena menurut kepercayaan bila kelapa dapat terbelah menjadi dua, maka anak yang akan lahir adalah anak perempuan.


Tapi bila hanya terbelah sedikit berarti anak yang akan lahir adalah seorang anak laki-laki.


Mereka pun antusias melihat kelapa yang dibelah oleh Ari.


Karena Ari membelah kelapa nya melenceng, maka kelapa hanya terbelah sedikit.


Sontak mereka pun mengatakan bahwa bayi yang akan dilahirkan Titi nanti adalah seorang bayi laki-laki.


Apapun bayi yang dikandungnya, Titi dan Ari bersyukur.


Yang penting nanti saat melahirkan Titi dan anak yang dilahirkan sehat dan selamat.


Seluruh proses tujuh bulanan telah selesai.


Nanti malam akan diadakan acara syukuran, mohon keselamatan dan kesehatan bagi ibu yang mengandung dan bayi yang akan dilahirkan serta keselamatan bagi semua anggota keluarga.


Setelah proses tujuh bulanan, Titi beristirahat dikamar ditemani oleh Ari.


" Dek, abang tadi grogi saat diminta membelah kelapa, jadi parangnya meleset kesamping.


Apa benar anak kita nanti laki-laki ya, dek? " tanya Ari pada Titi.


" Apapun anak kita yang lahir nanti, yang penting semua sehat dan selamat.


Jika abang penasaran, nanti kita bisa USG di dokter kandungan seperti saran bu bidan! " jawab Titi.


" Iya ya dek, nanti pas jadwal periksa kita ke dokter kandungan buat USG agar bisa lihat kondisi anak kita, jika bisa kita lihat jenis kelaminnya.! "


Ari mengajak Titi untuk ke dokter kandungan.


Selama ini Titi hanya periksa ke bidan Dina.


Malam ini hujan turun dengan deras, padahal pagi dan siang hari cuaca sangat cerah.


Sore menjelang malam, tiba-tiba hujan turun dengan deras.


Hingga kini masih turun hujan, beberapa tetangga mulai berdatangan untuk memenuhi undangan keluarga Titi.


Sama seperti saat acara resepsi pernikahan Titi, hujan turun dengan tiba-tiba.


Begitupun malam ini, saat acara syukuran tujuh bulan, hujan pun turun dengan tiba-tiba.


Walaupun hujan, Alhamdulillah acara syukuran berjalan lancar.


Banyak tamu undangan yang datang, karena yang diundang hanya tetangga sekitar rumah Titi.


°°°°°°


Malam ini, Titi belum bisa tidur.


Ia ikut nonton pertandingan Formula F1 di tivi.


Entah mengapa, ayah dan ibu pun belum tidur hingga kami berempat nonton tivi hingga pertandingan Formula F1 selesai.


Pukul sebelas, selesai nonton tivi kami masuk ke kamar masing-masing.


Ayah dan ibu telah masuk ke kamar.


Setelah memeriksa pintu dan mematikan lampu tengah, Titi dan Ari pun merebahkan diri di kasur.


Karena merasa gerah, saat hendak tidur Titi mengganti dasternya.

__ADS_1


Titi hanya mengenakan kain sarung.


Titi pun naik ketempat tidur dan mulai merebahkan badannya.


Titi sudah merasa mengantuk dan mulai tertidur.


Tak lama mereka tertidur, Titi merasa tempat tidur bergoyang dengan keras.


Kaset-kaset yang Titi susun diatas tempat tidur mulai berjatuhan.


Titi terbangun dan melihat Ari masih tertidur dengan pulas.


" Gempa bang.. gempa.. bangun bang.. ada gempa..! " Titi berusaha membangunkan Ari yang tidak merasa terganggu dengan guncangan diatas tempat tidur.


Titi berusaha untuk turun dari tempat tidur sambil terus berusaha membangunkan Ari.


Sementara diluar, ayah menggedor-gedor kamar Titi untuk membangunkan Ari dan Titi.


" Tok.. tok.. tok.. Titi, Ari bangun.. cepat bangun ada gempa..! " ayah terus menggedor kamar Titi.


Melihat Titi dan Ari belum keluar kamar membuat ayah dan ibu sangat cemas karena gempa sangat kencang.


Mendengar gedoran kuat di pintu, akhirnya Ari pun terbangun.


Ia buru-buru mengenakan sarung, karena kebiasaan Ari kalau tidur hanya mengenakan pakaian dalam.


Dengan perasaan cemas dan susah payah akhirnya Ari bisa membuka kunci pintu kamar.


Ayah dan ibu sudah menunggu didekat pintu depan.


Dengan ter buru-buru mereka keluar dari rumah.


Mereka berdiri di halaman dengan perasaan yang sangat cemas.


Sesekali guncangan gempa masih terasa.


Ibu mendekati Titi yang hanya mengenakan kain sarung.


" Titi ga apa-apa? Sini sarungnya di balik dulu! " tanya dan pinta ibu pada Titi..


" Titi ga pake baju bu, tadi gerah jadi Titi tidur hanya pakai sarung! "


" Ga papa, balik dulu sarungnya.


Insya Allah ga ada apa-apa, kemarin kan sudah tujuh bulanan.! " kata ibu pada Titi, lalu membalikkan kain sarung yang Titi kenakan dan mengelus perut Titi.


Suasana diluar sangat ramai karena semua warga keluar rumah dan berkumpul dihalaman rumah masing-masing.


Lampu listrik pun mati total.


Petugas dari RT berkeliling dan meminta pada warga untuk bertahan diluar dan tidak masuk kedalam rumah karena takut ada gempa susulan.


Ayah dan Ari masuk ke dalam rumah untuk mencari senter, Ari juga mengganti baju dan mengambilkan baju untuk Titi.


Disepanjang jalan depan rumah Titi ramai dilalui orang, banyak yang melihat ke RSUD yang ada diujung jalan.


Menurut berita yang Titi dengar, banyak pasien yang diangkat keluar ruangan dan diletakkan dihalaman RSUD.


Gempa kali ini benar-benar kuat dan lama, sudah beberapa kali terjadi gempa susulan.


Suasana menjadi mencekam, apalagi beredar kabar bahwa gempa berpotensi terjadi tsunami.


°°°°°°

__ADS_1


__ADS_2