Nastiti

Nastiti
Bab 110. Tuti Melahirkan.


__ADS_3

Sore hari, setelah selesai dengan semua pekerjaannya, Ari dan Titi bersiap pulang.


Mbak Dewi dan pak Bari sudah pulang terlebih dahulu, karena mbak Dewi sudah dijemput oleh suaminya.


" Sudah selesai semua, may? " tanya Ari pada Titi saat melihat Titi sudah merapikan meja dan mengambil tas yang dia gantung disamping kursi tempat Titi duduk.


" Alhamdulillah sudah, pay, yuk kita pulang, kasihan nanti anak-anak nungguin. " jawab Titi langsung mengajak Ari pulang karena Titi ingat pada kedua anaknya.


" Anak-anak mah malah betah kalau main ke rumah bibinya, yang ada mereka malah ga mau pulang karena di sana banyak temannya. "


Kata Ari yang tahu jika anak-anaknya akan betah jika bermain di rumah Tuti.


Di rumah Tuti banyak anak-anak yang sebaya dengan Nanda, mereka bermain bersama dihalaman rumah Tuti.


Berbeda dengan di rumah orang tua Titi, di sana tidak ada anak-anak yang bermain sehingga Nanda hanya bermain sendiri dihalaman yang luas jika ia sedang ada di rumah dan tidak ke rumah Tuti.


Jadi wajar jika Nanda betah bermain di rumah Tuti, selain ada sepupunya di sana juga banyak teman sebayanya.


Setelah menutup pintu kantor, Ari dan Titi langsung pulang menuju rumah Tuti.


Tiba di rumah Tuti, suasana terlihat ramai, ada beberapa tetangga Tuti yang sedang duduk-duduk di teras rumah Tuti. Kedua anaknya pun tidak terlihat bermain di halaman depan.


" Kok ramai ya, pay? " kata Titi pada Ari saat mereka berhenti di depan meubel yang ada disamping rumah Tuti.


" Iya may, tumben tetangga Tuti pada ngumpul di teras depan. " kata Ari pula.


Setelah memarkirkan motornya, Ari dan Titi berjalan ke arah rumah Tuti.


" Assalamu'alaikum. " salam Ari dan Titi bersamaan.


" Waalaikumsalam. " jawab ibu-ibu yang sedang duduk di teras.


" Sini bang, kita duduk disini aja. " kata Ali suami Tuti yang sedang duduk di meubel.


Meubel milik suami Tuti memang berada disamping rumah dan menyatu dengan rumah Tuti.


Ari menghampiri Ali yang sedang duduk dan minum kopi, lalu duduk di kursi yang ada di depan Ali.


" Tumben rame mas, ibu-ibu pada kumpul, apa sedang ada arisan? " tanya Ari pada Ali yang penasaran karena ada ibu-ibu yang sedang berkumpul.


" Bukan, mereka habis pada nengokin ibu Iman yang baru lahiran. " jawab Ali sambil tertawa bahagia.


" Wah, jadi dek Tuti sudah lahiran? kapan? anaknya laki apa perempuan?" tanya Ari pada Ali.

__ADS_1


Ari pun turut merasa senang dengan kabar bahagia itu.


" Lahirannya tadi sekitar jam sebelas siang, dan Alhamdulillah yang lahir perempuan, jadi aku sudah punya anak sepasang. " Jawab Ali masih dengan tawa bahagianya.


" Selamat ya, mas, sekarang sudah punya anak sepasang. " kata Ari sambil berdiri dan menyalami Ali.


" Terima kasih, bang. " kata Ali sambil membalas menjabat tangan Ari.


" Ngopi ya, bang? sebentar aku buatkan dulu. " seloroh Ali yang menawari Ari kopi sambil berdiri dan berjalan ke arah dapur untuk membuatkan kopi untuk Ari.


Tidak berselang lama, Ali datang dengan segelas kopi dan sepiring makanan ringan buatan ibu Titi.


" Diminum bang kopinya. " kata Ali sambil menaruh kopi dihadapan Ari.


" Terima kasih, mas, enak sore-sore kaya gini ngobrol sambil ngopi. " seloroh Ari.


Akhirnya Ari dan Ali pun mengobrol berdua di meubel itu.


🦂🦂


Titi mendekati ibu-ibu yang sedang mengobrol di teras dan menyalami mereka satu persatu.


Ada mbak Sus dan ibu Minah yang merupakan mertua dan menantu, rumah mereka berada didepan rumah Tuti.


" Kok pada duduk di luar? " tanya Titi pada ibu-ibu itu.


" Di dalam panas, enak di sini banyak angin, kasihan juga sama Tuti dan bayinya jika pada kumpul di dalam rumah. " jawab mbak Sus.


" Oh, Tuti sudah melahirkan, ya? Alhamdulillah.. pantesan pada ngumpul, kirain lagi arisan. " kata Titi yang merasa bersyukur saat mendengar jika Tuti sudah melahirkan.


" Mamahnya Nanda belum tahu ya kalau ibunya Iman sudah melahirkan? " tanya mbah Rahmat pada Titi.


" Iya mbah, pas tadi pagi kesini nganterin anak-anak kan Tuti belum lahiran. " jawab Titi.


" Iya, tadi pagi Tuti belum lahiran, lahirannya tadi sekitar jam sebelas siang. " kata mbak Sus menjelaskan jika Tuti lahiran jam sebelas.


" Ibu-ibu, itu airnya diminum, sama itu wajitnya dimakan, itu wajit buatan ibu saya. " kata Titi pada ibu-ibu yang sedang mengobrol.


Di atas meja memang sudah terhidang wajit buatan ibu Titi juga air minum dalam kemasan.


Titi ikut duduk di teras menemani ibu-ibu yang masih duduk dan mengobrol di sana.


Titi merasa tidak enak jika meninggalkan mereka karena tidak ada tuan rumah yang menemani.

__ADS_1


Titi yakin jika ibunya tengah mengurus Tuti dan bayinya.


" Ti, katanya Titi sudah membeli tanah yang di samping rumah ibunya Fikar, ya? " tanya mbak Sus pada Titi.


" Memangnya siapa yang bilang jika Titi beli tanah di sana, mbak? " tanya Titi pada mbak Sus.


" Itu Yati yang cerita ke mbak waktu dia belanja di warung. " jawab mbak Sus.


Mbak Sus memang membuka warung manisan di depan rumahnya, dan itu merupakan warung yang terbilang komplit yang ada didekat rumah Tuti.


" Iya mbak, benar, belum lama Titi membelinya. " jawab Titi pada mbak Sus.


" Kapan rumahnya mau dibangun, Ti?" tanya ibu Minah.


" Titi masih mengumpulkan uang yang untuk membangun rumahnya, bu. " jawab Titi sambil tersenyum.


Keluarga Titi dan keluarga ibu Minah sudah lama saling mengenal.


Rumah bu Minah dulu terletak di tanah yang saat ini di bangun rumah sakit umum, jadi bisa dibilang jika mereka dulu bertetangga, bahkan ada salah satu anak laki-laki ibu Minah yang bernama Gunawan merupakan teman sekolah Pandu saat di SD dan adik perempuan Gunawan yang bernama Sovia merupakan teman sekelas Titi.


" Langsung dibangun aja, Ti, biar tambah rame daerah sini. " kata Mimi pada Titi.


" Do'akan aja ada rejekinya biar bisa cepat bangun rumah. " kata Titi pada Mimi.


" Insya Allah uang mamah Nanda ada, kan dua-duanya kerja. " seloroh mbah Rahmat pada Titi, yang mengatakan jika Titi memiliki uang untuk membangun rumah karena Ari dan Titi sama-sama bekerja.


" Aamiin, do'akan ya mbah biar bisa bangun rumah di sini dan jadi warga sini. " kata Titi pada mbah Rahmat.


Mbah Rahmat memang seorang yang sangat ramah.


Titi tidak tahu siapa nama mbah Rahmat karena warga di sini memanggilnya mbah Rahmat, seperti memanggil pada suami.


Mbah Rahmat dan keluarganya merupakan penduduk lama di sana, dan mbah Rahmat merupakan orang yang dituakan oleh warga di sana.


Titi baru tahu jika Hadi merupakan salah seorang anak mbah Rahmat, dan Hadi dulu merupakan salah seorang teman Titi ketika di kelas tiga SMP.


Setelah ibu Titi selesai mengurus Tuti dan bayinya, ibu Titi menemui ibu-ibu yang duduk di teras dan mengobrol sebentar sebelum mereka semua berpamitan untuk pulang.


Titi menemani ibunya mengobrol dengan ibu-ibu tetangga Tuti hingga mereka berpamitan untuk pulang


🦂🦂🦂


🦂🦂 Jika kita bisa menghormati dan menghargai orang lain, maka merekapun akan melakukan hal yang sama pada kita. 🦂🦂

__ADS_1


__ADS_2