
Hari ini, Tuti datang ke rumah ibunya dengan membawa Iman, anak sulungnya.
Saat ini, Tuti tengah menunggu kelahiran anak keduanya.
Nanda, Dik-dik dan Iman tengah bermain bersama, mereka terlihat akur dan jarang bertengkar.
" Kapan perkiraan lahiran, Tut? " tanya Titi pada Tuti saat mereka tengah duduk dibawah pohon belimbing sambil memperhatikan anak-anak yang bermain tidak jauh dari tempat mereka duduk.
" Kemaren baru dari bidan Dina mbak, perkiraan lahiran sekitar tanggal dua puluhan. " jawab Tuti sambil memakan kue yang terbuat dari biji kacang panjang.
Titi dan Tuti sedang makan makanan buatan ibu.
Titi memakan gatot yang ditaburi kelapa parut, Titi menyukai gatot yang kenyal, saat dimakan dengan kelapa parut jadi terasa gurih.
Ibu memang orang yang rajin, hasil kebun yang tidak terjual ibu manfaatkan untuk dijadikan makanan.
Ketika panen kacang panjang, kacang tua yang tidak bisa dijadikan bibit diambil bijinya lalu direbus, setelah itu ditumbuk agar halus serta diberi gula, dibentuk bulat-bulat lalu digoreng.
Begitupun pada saat panen singkong, singkong yang kecil-kecil tidak akan diambil oleh orang yang memborong singkong hasil tanaman ayah.
Ibu akan mengumpulkan singkong kecil-kecil itu lalu dikupas dan dijemur, setelah kering singkong tersebut bisa dibuat makanan seperti gatot dan tiwul.
Jika ibu sedang tidak banyak pekerjaan, singkong kecil-kecil itu ibu buat keripik singkong pedas atau keripik asin.
Saat Titi sedang libur, Titi sering membantu ibu mengupas singkong untuk dibuat gaplek ataupun untuk dibuat keripik singkong.
" Mbak, katanya mbak lagi nyari tanah ya? " tanya Tuti pada Titi.
" Iya, Tut, rencananya pengen beli tanah untuk simpanan, kalau sudah ada rejeki lagi baru di bangun rumah. " jawab Titi.
" Ibu, mau minum. " kata Iman mendekati Tuti dan meminta minum.
Tuti menuangkan air es didalam teko kedalam gelas, lalu memberikan pada Iman.
" Minumnya pelan-pelan, nak! " kata Tuti pada Iman yang terlihat kehausan.
" Ini bu? " kata Iman menyerahkan gelas kosong pada ibunya.
" Minumnya mau lagi? " tanya Tuti pada Iman.
" Tidak bu, Iman sudah tidak harus lagi. " kata Iman, dan langsung berlari untuk bermain lagi bersama Nanda dan Dik-dik.
__ADS_1
" Tidak jauh dari rumah Tuti ada tanah yang mau dijual mbak, Tuti tahu dari tetangga dekat rumah Tuti yang mengatakan jika tanah kosong disamping rumah saudara kembarnya mau dijual. "
Tuti melanjutkan obrolan mereka yang ter-jeda karena Iman minta minum.
" Katanya, nomor telepon pemilik tanah ada sama saudara kembarnya. " kata Tuti melanjutkan memberikan informasi mengenai tanah yang akan dijual pada Titi.
" Serius ga dek yang mau jual tanah? nanti seperti beberapa hari yang lalu, bude Surti nawarin tanah yang tidak jauh dari rumahnya, kami sudah bawa uang datang kesana untuk membeli tanah tersebut, tahu nya ga jadi dijual karena pemilik tanah mau tanahnya langsung di bangun agar lokasi tersebut ramai penduduk. "
Kata Ari yang datang dari arah dapur dan ikut nimbrung pembicaraan Titi dan Tuti.
" Nggaklah bang, kalau ini orangnya serius, katanya istrinya tidak mau membangun rumah di daerah situ karena jauh dari kota, makanya tanahnya mau dijual sama yang punya.
Belum lama juga kok banh, baru satu mingguan ini informasi tanah itu mau dijual. "
Tuti menjelaskan panjang lebar pada Ari tentang tanah yang akan dijual tersebut.
" Besok aja kita kesana sepulang kerja sambil menjemput Nanda di rumah Tuti, pay. " kata Titi yang mengajak Ari untuk menemui orang yang memegang nomor ponsel pemilik tanah.
Tetangga disekitar rumah Tuti sudah banyak yang mengenal Titi karena setiap sore sepulang dari kantor Titi dan Ari akan menjemput Nanda di rumah Tuti.
" Iya, besok kami mampir ke rumah Yati untuk meminta nomor ponsel pemilik tanah. "
" Langsung dibangun rumah aja nanti bang, biar rumahnya nanti bisa deketan." kata Tuti pada Ari.
" Do'akan aja dek ada rejekinya, bisa langsung bangu rumah. " kat Ari pada Tuti.
" Aamiin..! " Jawab Titi dan Tuti bersamaan.
" Mudah-mudahan tanah yang mau dijual tidak terlalu mahal dan uang tabungannya cukup untuk beli tanah. " kata Titi yang berharap uang tabungan mereka cukup untuk membeli tanah yang ditawarkan oleh Tuti.
" Kalian ngapain mikirin beli tanah, rumah ini aja ga ada yang nempatin jika kalian pindah dari rumah ini, hanya tinggal ibu sama ayah aja. "
Kata ibu yang merasa sedih saat mendengar Titi dan Ari akan membeli tanah dan membangun rumah.
" Ini baru rencana bu, belum tentu Titi sama bang Ari langsung pindah.
Entah kapan bisa punya rumah sendiri, paling tidak kami sudah punya tanahnya dulu. "
Titi yang tahu akan kesedihan ibu mengatakan jika ia dan Ari tidak mungkin langsung pergi meninggalkan ibu karena mereka belum punya cukup uang untuk langsung membangun rumah.
" Iya bu, lagian kami tidak mungkin tinggal disini terus. Jika kami punya rumah nanti, ayah dan ibu bisa tinggal bersama kami. "
__ADS_1
Kata Ari yang membujuk ibu agar ibu tidak merasa sedih.
" Kalau kalian pindah, Nanda sama adek biar tinggal disini saja sama ibu.
Berat rasanya kalau harus berpisah sama mereka yang sudah ibu asuh sejak bayi."
Ibu berkata jika Titi dan Ari pindah, Nanda dan adiknya diminta tinggal sama ibu dan ayah Titi.
Ibu memang sangat dekat dengan Nanda dan sangat menyayangi Nanda.
Apapun keinginan Nanda selalu dipenuhi oleh ibu sehingga Nanda jadi lebih manja pada ibu.
Lain Nanda, lain pula Andi yang lebih dekat dengan ayah Titi.
Andi senang jika ikut kakeknya ke kebun. Ia akan diajak mencari jangkrik oleh kakeknya jika ia sedang merajuk.
Nanda dan Andi punya karakter yang berbeda dan bertolak belakang.
Nanda lebih pendiam dan lebih manja pada neneknya.
Ia akan meminta pada neneknya jika menginginkan sesuatu, dan dengan senang hati neneknya akan menuruti keinginan Nanda.
Andi, walaupun ia masih kecil tapi ia lebih mandiri.
Jika menginginkan sesuatu, selagi ia bisa melakukannya maka akan ia lakukan sendiri.
Seperti saat ia ingin minum, akan ke dapur dan mengambil minum sendiri jika air itu bisa ia jangkau.
Tapi jika Nanda, ia akan meminta neneknya untuk mengambilkan ia air minum.
Titi dan Ari sendiri tidak begitu memanjakan kedua anaknya.
Nanda dan Andi diperlakukan sama, jika mereka bertengkar Ari dan Titi akan menasehati keduanya, tidak membela atau menyalahkan salah satu dari mereka.
Beruntung Nanda dan Andi jarang bertengkar, Nanda sering mengalah pada adiknya, begitupun Andi mau menuruti jika abangnya meminta dia mengambilkan sesuatu.
Ya, Nanda suka memerintah adiknya untuk mengambilkan sesuatu yang dia inginkan dan Andi dengan senang hati melakukan keinginan abangnya.
🦂🦂🦂
🦂🦂. Orang tua akan sangat bahagia jika bisa berkumpul dengan anak dan cucunya. Dihari tua, mereka lebih menginginkan untuk bersama dengan anak cucunya. 🦂🦂
__ADS_1