Nastiti

Nastiti
Bab 21. Gosip Baru


__ADS_3

"Ternyata nyaman juga ngobrol sama mbak Titi. Orangnya enak diajak ngobrol, cerita apapun bisa nyambung.


Walau usianya lebih tua, tapi ia bisa menghargai aku, dan tidak menganggap ku lebih muda.


Sepertinya, ia suka berteman dengan siapa saja, walau belum lama saling mengenal, tapi ia bisa cepat akrab.


Beda dengan yang aku dengar dari beberapa teman yang ada di base camp, yang mengatakan bila mbak Titi orang yang jutek dan sulit didekati.


Budi pernah cerita, bahwa mbak Titi marah saat di toilet umum untuk karyawan ada yang menulis " Titi, i love you ".


Ia meminta untuk di hapus, karena ia merasa tak nyaman namanya ada didinding toilet umum.


Walau ia tak tahu siapa yang iseng membuat tulisan itu, tapi ia minta tulisan yang dibuat dengan cat merah itu dihapus.


Akhirnya, entah siapa yang menghapus tulisan didinding itu.


Itu menunjukkan, bahwa mbak Titi tidak suka direndahkan dengan membuat hal-hal konyol seperti itu.


Menurut aku sih, itu ulah seseorang yang suka pada mbak Titi tapi tidak berani mengungkapkan perasaannya, atau ia pernah ditolak oleh mbak Titi.


Menurut teman-teman, mbak Titi tidak punya pacar dan pernah menolak salah seorang rekan yang menyatakan cinta padanya."


Sepanjang jalan, Ari bermonolog dalam hatinya. Terkadang, ia menyunggingkan senyuman, entah apa yang membuatnya tersenyum.


Sepertinya, ia sangat menikmati perjalanan nya bersama Titi.


Titi juga hanya diam duduk di boncengan di belakang, ia tak bicara apapun, hanya menikmati perjalanan pulang dengan pinggang yang sedikit pegal.


Sekitar pukul satu, mereka tiba di kantor.


Ari mengantarkan Titi hingga didepan kantor.


Setelah turun, Titi menyerahkan helm pada Ari, lalu Ari menaruhnya di gantungan motor.


" Terima kasih ya, Ri, sudah mengantarkan ke Bank, maaf kalau sudah merepotkan!"


" Iya, mbak, ga papa.


Kalau ada perlu lagi, nanti kabari aja."


Ari pun melajukan motornya untuk kembali kerumah.


***


Titi mengucapkan salam dan masuk ke ruangan kantor.


Ia langsung menuju ke meja mbak Dewi dan menyerahkan uang yang tadi diambilnya.


" Mbak, ini uangnya!" kata Titi sambil menyerahkan amplop coklat berisi uang pada mbak Dewi.


" Iya, Ti..terima kasih.


Ini sekalian tanda tangan untuk uang transport nya!"

__ADS_1


Mbak Dewi mengambil uang yang diserahkan oleh Titi, lalu memberi uang transport pada Titi.


Setelah menyelesaikan urusannya dengan mbak Dewi, Titi kembali ke mejanya dan menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda.


Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Titi hanya duduk santai dikursi nya.


Mbak Dewi dan pak Beri sedang mengobrol di sofa ruang tunggu tamu.


Titi, tidak menghampiri mereka, hanya mendengarkan obrolan mereka dari meja kerja nya.


Tiba-tiba, ada seorang driver masuk ruangan untuk meminta surat jalan juga biaya transport untuk mengirimkan barang.


" Ti, tolong kasih surat jalan dan biaya transport yang sudah mbak siapkan dimeja!" pinta mbak Dewi pada Titi.


" Baik, mbak!" jawab Titi sambil bangkit dari duduknya dan berjalan menuju meja mbak Dewi.


Titi melihat ada beberapa surat jalan diatas meja mbak Dewi, ia mencari surat jalan sesuai dengan nama driver dan nomor polisi kendaraan yang dibawanya.


Setelah mendapatkan, Titi menyerahkan pada sang driver untuk ditanda tangani, juga mengambil uang transport nya.


" Ini bang, surat jalannya ditanda tangan dulu, ini juga untuk biaya transport nya ditanda tangan juga!" kata Titi pada sang driver.


Sang driver membubuhkan tanda tangan, lalu mengambil uang transport nya.


Ia memandang Titi yang kembali mejanya setelah menyelesaikan urusannya dengan driver yang bernama Yadi.


" Ti, kayanya bakal ada banyak yang patah hati!" kata Yadi pada Titi.


" Maksudnya apa, bang?" tanya Titi heran mendengar ucapan Yadi.


" Mbak Dewi, kayanya di kantor ini bakal ada pasangan baru."


" Iya, kalian sudah terima undangan dari Herman, kan?" jawab mbak Dewi Dewi sambil bertanya mengenai undangan dari salah satu driver yang akan menikah.


" Semua sudah terima undangan dari Herman, mbak, tapi ini pasangan baru yang bakal bikin heboh jomblo yang ada disini, dan bikin patah hati!" kata Yadi sambil menjelaskan pada mbak Dewi.


" Maksudnya?" tanya mbak Dewi heran.


" Masa mbak ga lihat, tadi ada yang boncengan pakai vespa, kayanya sebentar lagi bakal ada yang jadian." kata lagi Yadi lagi, tanpa memberikan jawaban yang jelas.


Tiba-tiba pak Beri tertawa dan melihat pada Titi.


Lalu pak Beri bertanya pada Titi.


" Bener, Ti..kamu.jadian sama Ari?"


Titi terkejut mendengar pertanyaan pak Beri, ia tersenyum dan merasa malu.


Sementara, mbak Dewi dan Yadi memperhatikan Titi yang merona.


" Tidak, pak! Titi tadi hanya minta antar ke Bank.


Karena Bank nya jauh, kalau naik angkot takut ga keburu sampai sebelum jam istirahat, jadi Titi minta antar sama Ari!"

__ADS_1


jawab Titi menjelaskan.


" Iya, minta antar sekalian pendekatan!" kata Yadi menggoda Titi.


Mbak Dewi tersenyum mendengar Yadi yang menggoda Titi.


Mbak Dewi tahu, kalau Titi suka menolak orang-orang yang menyatakan perasaannya.


Mbak Dewi juga sudah membaca coretan yang ada dikamar mandi karyawan.


" Jadi, tulisan yang ada dikamar mandi itu, Ari yang buat?" tanya mbak Dewi.


" Bukan, mbak! itu tulisan Budi, tapi ia tak berani menyatakan nya pada Titi, takut ditolak!" jawab Yadi menjelaskan pada Mbak Dewi.


" Wah..bener nih, bakal ada yang patah hati." pak Beri ikut menggoda Titi yang terdiam.


" Sudahlah, bang! jangan buat gosip, nanti ada yang ga suka sama gosip ini!


Titi hanya berteman dengan Ari, sama seperti Titi yang berteman dengan Ana, adiknya!" kata Titi berusaha menjelaskan hubungannya dengan Ari.


Tiba-tiba, mbak Weni datang dari ruangannya, ia duduk didekat pak Beri dan mbak Dewi, lalu ikut menggoda Titi.


" Biasanya, dari temen bisa jadi demen lho, Ti? awalnya teman biasa, lama-lama jadi ga biasa kalau tidak ada dia."


Mbak Weni ikut mengompori obrolan diruangan itu.


" Bener tuh, mbak Wen! Kayanya, Titi masih malu-malu untuk mengakui hubungannya dengan Ari!" Yadi menimpali kata-kata mbak Weni.


" Ga usah malu-malu, Ti! kami semua mendukung kok, ya ga Wi?" kata dan tanya mbak Weni pada mbak Dewi.


Mbak Dewi merasa kasihan melihat Titi yang terpojok karena digoda teman-temannya.


Ia merasa senang bila benar Titi punya hubungan khusus dengan Ari, walau mbak Dewi tahu bahwa usia Ari lebih muda dari Titi.


Selama ini, mbak Dewi melihat Titi sebagai gadis yang ceria, rajin dan bertanggung jawab dalam bekerja, berteman dengan siapa saja.


Tapi, Titi kurang punya rasa percaya diri sedikit pemalu.


Dan bila ada masalah, Titi akan diam saja, tidak bertegur sapa dengan siapapun. Ia tetap mengerjakan pekerjaannya tapi hanya bicara seperlunya, akan menjawab bila ditanya, selebihnya ia akan diam pada siapa saja.


Terkadang, mbak Dewi heran dengan sikap Titi yang seperti itu, ia tahan tidak bicara berhari-hari bila mood nya tidak baik-baik saja.


" Kita doa kan yang terbaik aja buat Titi, semoga Titi segera menemukan jodohnya!" ucap mbak Dewi berusaha bijak.


Titi hanya menghela nafas mendengarkan semua perkataan teman-temannya.


Ia mengaminkan apa yang mbak Dewi ucapkan.


Titi memang tidak ada hubungan apapun dengan Ari, kecuali hanya sekedar berteman.


Tapi, Titi juga tidak tahu bagaimana kedepannya.


***

__ADS_1


Note : Yang penasaran dengan kisah Titi, ikuti terus ya ceritanya.


Jangan lupa, untuk selalu memberi dukungan dengan Like, Komen dan Vote nya🙏🙏🙏


__ADS_2