
Hari terus berlalu, hubungan Titi dan Ari semakin dekat.
Ari sering mengantar Titi pulang, mereka selalu pulang naik angkot.
Sore ini, Titi dan Ari sedang menunggu angkot untuk pulang.
Seperti biasa, Ari akan ikut ke rumah Titi.
" Dek, kayanya masih lama angkotnya datang.
Belum ada tanda-tanda angkot dari ujung sana! " kata Ari sambil melihat arah jalan melihat angkot datang.
" Biasalah bang, kalau jam segini kadang cepat dapat angkot, kadang lama.
Kita tunggu aja.! " jawab Titi.
Sejak Titi dan Ari resmi berpacaran, Titi memanggil Ari dengan panggilan abang, dan Ari memanggil Titi, adek.
Flashback
Saat itu ibu dan Titi sedang berada di dapur.
" Ti.. kamu lagi dekat sama Ari ya? apa kalian pacaran? " tanya ibu.
" Iya, bu! Titi lagi dekat dengan Ari. " jawab Titi.
" Kalian sudah dekat, kenapa Titi masih panggil nama sama Ari, dan Ari manggil Titi mbak? "
" Sudah biasa dari awal kenal manggil nya kaya gitu, bu!
Titi sudah minta Ari panggil Titi dengan nama aja, tapi Ari ga mau.
Mungkin karena usia Titi lebih tua, jadi Ari merasa tak enak panggil nama pada Titi."
" Sebaiknya, Titi yang lebih dulu memanggil dia abang.
Walaupun Ari usianya lebih muda, tapi Titi harus bisa menghargai Ari sebagai pasangan Titi.
Walaupun Ari belum tentu jadi suami Titi, walau sekedar pacaran tidak ada salahnya memulai untuk menghargai pasangan sejak dini dengan tidak memanggil nama.
Itu menunjukkan bahwa Titi menghargai dan menghormatinya.
Jadi, mulai sekarang Titi yang panggil abang sama Ari! "
" Baik, bu! Mulai sekarang Titi akan panggil abang pada Ari! "
Ibu mengomentari hubungan Titi dan Ari.
Ibu juga menasehati Titi agar bisa menghargai Ari walau usia Ari lebih muda dari Ari, dan ibu meminta Titi untuk membiasakan memanggil abang pada Ari.
Saat Titi membawakan minum untuk Ari yang duduk di teras, Titi mencoba memanggil Ari dengan panggilan abang.
" Ini bang, kopinya, diminum dulu! " tawar Titi yang menaruh kopi untuk Ari diatas meja dekat Ari.
Sejenak Ari terdiam dan memandang Titi saat mendengar Titi memanggil nya dengan panggilan abang.
" Iya dek, terima kasih! " jawab Ari sambil tersenyum.
Ari memanggil Titi dengan panggilan adek karena Titi memanggilnya abang.
Ari merasa, Titi begitu menghargainya dengan memanggil abang, mengingat usia Ari lebih muda dari Titi.
Sejak itu, mereka menggunakan panggilan abang adek.
Flashback on
Sore itu langit terlihat mendung, sepertinya tak lama lagi akan turun hujan.
" Bang, kayanya dah mau hujan nih..
Mana ya angkotnya, kok belum kelihatan! " ujar Titi pada Ari.
__ADS_1
" Iya nih, semoga hujannya nanti setelah kita sampai dirumah.
Eh.. itu angkot nya, dek.. ayok kita pulang! " kata Ari mengajak Titi untuk segera naik angkot.
***
Malam ini hujan turun rintik-rintik.
Ari masih dirumah Titi, Ari belum pulang karena masih turun hujan.
Mereka ngobrol di ruang tamu.
" Bang, siapa perempuan yang kemaren ketemu sama abang didepan rumah?
Kok kayanya, abang akrab banget sama dia? " tanya Titi.
" Perempuan yang mana, dek? " tanya Ari
" Perempuan yang kemaren siang pake baju kemeja kotak-kotak dan bawa tas.
Titi lihat abang ngobrol sama dia. "
" Oh itu Lili, teman abang! Dia kerja di kantor lurah yang simpang tiga! "
" Teman apa teman? kok cara dia memandang abang beda? kayanya dia suka sama abang! ".
" Ga adalah, dia cuma teman abang! Kenapa? ga percaya sama abang? "
Ari berkata sedikit membentak Titi.
Ari merasa tersinggung dengan kata-kata Titi, ia merasa Titi tidak percaya padanya.
" Kenapa abang marah? Apa salah Titi bertanya? " Titi berkata dengan sedih karena mendengar Ari yang membentak nya.
" Bukan abang marah, abang kesal karena sepertinya adek ga percaya sama abang!"
Ari tambah kesal mendengar kata-kata Titi.
Selama mereka pacaran, baru kali ini Ari berkata kasar padanya.
Padahal, tadi Titi bertanya baik-baik pada Ari, hanya ingin tahu siapa perempuan yang ngobrol sama Ari siang itu.
Saat bertanya pun, Titi tidak berkata kasar.
Titi tidak menyangka Ari bisa marah karena pertanyaannya.
Akhirnya, Titi hanya diam menahan rasa kecewanya.
Melihat Titi yang terdiam, Ari pun ikut terdiam.
Merasa kesal karena Titi hanya dian saja, Ari keluar rumah
Ari bermaksud untuk pulang, tapi ternyata diluar masih turun hujan.
Melihat Ari keluar, Titi membaringkan badannya dikursi ruang tamu.
Ia yakin Ari tidak pulang karena diluar masih turun hujan.
Saat melihat masih turun hujan, Ari tak mungkin menerabas hujan, ia tak mungkin bisa pulang.
Walau baru jam delapan, saat hujan seperti ini tak akan ada angkot yang menuju arah rumah Ari.
Ari diam diluar, berharap hujan reda dan ia bisa pulang.
Hampir satu jam Ari berdiri di luar, hujan bukannya berhenti malah tambah deras.
Bagian bawah celana Ari sudah sedikit basah terkena cipratan air hujan.
" Mengapa aku harus marah pada Titi? Tadi Titi hanya bertanya, siapa yang ngobrol sama aku.
Aku marah karena aku merasa Titi menuduh ku.
__ADS_1
Ah.. mengapa aku membuat Titi bersedih? "
Ari bermonolog, ia merasa menyesal karena marah pada Titi dan membuat Titi menjadi bersedih.
Akhirnya, Ari memutuskan untuk masuk kembali kedalam rumah, Ari ingin minta maaf pada Titi.
Ari kembali masuk, ia membuka pintu yang sedikit terbuka.
Ari melihat Titi yang terbaring dikursi.
Ari mengira bahwa Titi tertidur karena menunggu nya yang berdiri diluar.
" Dek.. bangun dek, sana pindah ke kamar tidurnya! " Ari membangun Titi dengan menggoyangkan tangan nya.
Beberapa kali Ari menggoyangkan tangan Titi, tapi Titi tetap tidak terbangun.
" Dek.. bangun dek.. Adek kenapa?" Ari merasa panik saat Titi tidak terbangun.
Ari menatap wajah Titi, ia menangis melihat Titi.
Ari merasa sangat bersalah pada Titi, karena sikapnya tadi membuat Titi diam d
saja dan tak mau bangun.
Tak terasa, air mata Ari jatuh menetes membasahi pipi Titi.
" Dek,.. maafkan abang.
Abang tak bermaksud untuk membentak mu. Maafkan abang dek, bangunlah dek! "
Ari menangis melihat keadaan Titi, dan ia merasa sangat bersalah.
Ari menggenggam tangan Titi dengan erat.
Merasa pipinya basah, Titi perlahan membuka matanya.
Yang pertama dilihat nya adalah wajah Ari yang berurai air mata, dan genggaman tangan Ari di tangan nya.
" Kenapa bang? ada apa? kenapa abang menangis? " Titi berusaha bangun dan duduk di kursi.
" Alhamdulillah.. syukurlah dek, adek susah bangun.
Abang takut, tadi adik dibangunkan tapi tak mau bangun. Abang jadi panik.
Maafkan abang ya dek, tadi abang sudah marah sama adek. "
" Iya, bang! ga papa! Titi juga minta maaf jika tadi sudah membuat abang marah."
" Ga dek, abang yang minta maaf.
Jangan seperti tadi lagi ya, abang jadi takut. Abang sayang sama adek.
Sekarang adek istirahat ya, tidurlah di kamar. Abang nginap disini ya, biar abang tidur lagi di kamar bekas bang Pandu. "
" Baiklah bang, Titi tidur dulu, kepala Titi juga sedikit pusing.
Abang tidur aja di kamar bang Pandu."
" Iya dek, istirahatlah! Jangan lupa kunci pintu kamarnya! "
" Baik, bang! "
Titi bangkit dari duduknya dan masuk ke dalam kamar.
Titi mengunci pintu kamarnya, lalu merebahkan badan nya.
Ia merasa kepala nya sedikit pusing.
Akhirnya, Titi pun tertidur.
(っ'-')╮\=͟͟͞͞💌
__ADS_1