Nastiti

Nastiti
Bab 19. Kebersamaan Keluarga


__ADS_3

Saat minyak telah panas, Pandu membantu memasukkan irisan pisang ke penggorengan.


Ibu mem bolak-balik irisan pisang agar tidak lengket satu sama lain.


Titi dan Tuti asik dengan pekerjaan mereka, mengupas dan mengiris pisang.


Ibu dan Pandu menggoreng irisan pisang untuk dijadikan kripik.


Ayah datang dengan tidak mengenakan pakaian, keringat mengalir ditubuhnya.


Sepertinya, ayah kegerahan setelah menebang pohon pisang dan mencari rumput.


Ayah duduk disisi bale yang agak jauh dari ibu yang sedang menggoreng kripik.


Pandu, memberikan segelas es cincau pada ayah.


" Yah, ini es cincau, minum dulu biar adem. Ayah sampai keringatan, cuaca memang cukup panas." ucap Pandu pada ayah.


" Iya, cuacanya panas. Terima kasih, Ndu!" kata ayah pada Pandu sambil mengambil es yang disodorkan Pandu, lalu meminum nya.


" Es cincau nya segar banget ya, yah? nanti kalau ada lagi daun cincau nya, ambil lagi ya yah? adem diperut, yah, minum es cincau." pinta Pandu.


" Iya, nanti kalau daun cincau nya sudah banyak, ayah ambil lagi!" kata ayah.


" Bu, ada teman Titi yang minta buah belimbing, katanya mau buat manisan!" kata Titi pada ibu.


" Ambil aja, belimbing juga lagi berbuah lebat, sayang kalau ga kemakan.


Alhamdulillah, kita sedang banyak rejeki.


Pisang, jambu, belimbing, pepaya, alpukat, semua sedang berbuah." kata ibu.


" Iya, bu. Alhamdulillah, kita sedang banyak rejeki. Kapan-kapan, Titi juga mau membuat manisan pepaya.


Nanti sore, Titi ambil belimbing nya, biar besok tinggal dibawa ke kantor." kata Titi lagi.


***


Akhirnya, acara membuat kripik pisang bisa cepat selesai.


Titi dan Tuti membersihkan kulit pisang dan membuangnya ke tempat pembakaran sampah.


Pandu membantu ibu, ia menaruh kripik yang sudah digoreng, satu tampah kripik asin yang sudah mulai dingin siap dimasukkan kedalam kaleng, sementara kripik manis masih diatas tampah, karena masih panas dan baru diangkat dari penggorengan.


Setelah menyelesaikan membuat kripik, mereka masuk ke rumah.


Karena gerah, mereka bersiap untuk mandi, karena hari menjelang juhur.


Tuti, Titi dan ibu gantian mandi dikamar mandi dekat dapur, sementara ayah dan Pandu mandi dikamar mandi dibelakang dapur.


Selesai membersihkan diri, mereka bersiap sholat juhur.


Setelah sholat, mereka makan siang bersama.


***


Sore ini, keluarga Titi bersantai diruang tivi, mereka menikmati teh hangat juga cemilan kripik yang tadi mereka buat, ada juga pisang goreng kesukaan ayah.


Mereka ngobrol sambil menikmati teh dan cemilan.

__ADS_1


" Bu, besok Titi bawa kripik ke kantor ya, buat cemilan di kantor". kata Titi pada ibu.


" Bawa aja, itu banyak kripik yang kita buat. Kalau perlu, bawa bekal untuk makan siang di kantor, jangan suka makan mie." kata ibu pula.


" Mbak Dewi, sering membawa makanan ke kantor, ia rajin masak dan masakan nya enak, jadi kami sering makan bersama." kata Titi lagi.


" Kalau tiap hari, makan makanan orang kan ga enak, Ti, lebih baik bawa bekal sendiri."


" Iya, bu.."


" Mbak, kapan mau buat manisan pepaya? nanti Tuti bantu untuk mengiris pepayanya!" tanya Tuti pada Titi.


" Insya Allah, sabtu depan, kan kalender merah, jadi kita libur dan bisa membuat manisan." kata Titi.


" Mbak mau buat banyak?"


" Tidak, paling dua atau tiga buah pepaya aja, sekedar untuk cemilan. Kebetulan pepaya berbuah lebat dan besar- besar."


" Yang mau buat manisan belimbing, siapa mbak?"


" Mbak Feni, teman mbak di kantor!"


" Oh..mbak Feni yang Kristiani itu ya mbak?"


" Iya.."


Ibu, Titi dan Tuti asyik berbincang, sementara ayah dan Pandu hanya menyimak obrolan mereka sambil menikmati cemilan.


Momen kumpul seperti ini, dimanfaatkan dengan baik oleh keluarga Titi.


Mereka jarang bisa berkumpul seperti ini. Pandu dan Tuti kadang ada kegiatan lain di hari libur, hanya Titi yang menikmati hari libur dirumah.


Jadi, jika anggota keluarga ada dirumah, mereka gunakan untuk saling bertukar cerita.


" Mas Tio, tadi malam pulang jam berapa, Ti?" tanya Titi.


" Tio, siapa? kok baru dengar namanya?" tanya Pandu menyela.


" Mas Tio, pulang jam sepuluh, mbak.


Dia mau pamit sama mbak, tapi karena mbak ga keluar kamar, dia takut mengganggu!


Mas Tio, teman mbak Titi, bang!" jawab Tuti menjelaskan pada Titi dan Pandu.


" Dia teman kerja, Titi? tanya Pandu lagi.


" Bukan, bang! Ia teman yang dinas di Kompi!" Titi menjelaskan pada Pandu.


" Oh, baiklah." jawab Pandu.


Ia tak bertanya lagi pada adik-adik nya.


Ia tak pernah ikut campur pada urusan adik-adik nya, ia hanya mengawasi dan memberikan teguran bila adik-adiknya melakukan kesalahan.


Pandu, sama seperti ayah, jarang bicara, ia hanya bicara seperlunya.


Pandu sangat menyayangi adik-adiknya, tapi ia tak memperlihatkan kasih sayangnya secara langsung.


Sebagai anak tertua dan laki-laki satu-satu nya, ia harus bisa menjaga dan melindungi adik-adiknya.

__ADS_1


Ia pun bersyukur, kedua adiknya bukan gadis yang suka keluyuran, mereka lebih senang berdiam diri dirumah.


Apalagi Titi, walau ia sudah bekerja, ia lebih betah menghabiskan waktu dikamar saat ia tidak bekerja.


Mungkin karena mereka dari keluarga yang sederhana dan kedua orang tua yang bisa mengarahkan mereka, mereka bisa tumbuh menjadi anak- anak yang patuh, saling menyayangi dan menghargai kedua orang tua mereka.


Walau Titi dan Pandu hanya tamat SLTA, tapi mereka bersyukur sudah memiliki pekerjaan masing-masing.


Pandu pernah berkata, bila suatu saat ia diangkat menjadi pegawai negri, ia akan melanjutkan untuk kuliah.


Sementara Titi, ia tak berniat untuk kuliah.


Ia pernah dua kali ikut tes CPNS, tapi ia gagal, dan ia bersyukur sudah memiliki pekerjaan, walau di perusahaan swasta, paling tidak ia bisa memenuhi kebutuhannya sendiri dan memberi jajan buat Tuti.


Ayah dan ibu pun bersyukur, melihat anak-anak yang tidak banyak menuntut, bisa mengerti dan memahami keadaan orang tua mereka.


***


Menjelang magrib, mereka menyelesaikan obrolan.


Ayah dan Pandu bersiap untuk ke mushala, tadi ada yang mengundang untuk datang ke mushala karena akan ada musyawarah pembentukan RT baru.


" Pandu, mau ikut ke mushala?" tanya ayah.


" Iya, yah..tadi kan, kita diundang untuk musyawarah pembentukan RT baru.


Pandu ga enak kalau ga datang." jawab Pandu.


" Ya, sudah..kita siap-siap sekarang, sebentar lagi azan magrib!" kata ayah lagi.


" Baik, yah, Pandu ambil sarung sama peci dulu dikamar!" balas Pandu.


Ayah pun pergi ke kamar untuk mengganti sarung dan mengambil peci.


Ibu menyusul ayah kekamar, untuk menyiapkan sarung dan peci ayah.


Begitu pula Pandu, ia masuk ke kamarnya untuk mengambil sarung dan peci.


Setelah mengenakan sarung dan peci, ayah dan Pandu pamit untuk pergi ke mushala.


" Bu, ayah sama Pandu ke mushala dulu!" pamit ayah pada ibu.


" Baik, yah!" jawab ibu.


Lalu, ayah dan Pandu mengucapkan salam, yang dijawab oleh ibu.


" Assalamualaikum warahmatullah.."


" Waalaikumsalam warahmatullah.."


Titi dan Tuti membereskan gelas dan piring bekas minuman dan makanan mereka, lalu mencucinya.


" Kalau sudah selesai mencuci piring, langsung berwudhu aja, sebentar lagi azan magrib!" kata ibu pada Titi dan Tuti.


" Baik, bu!" jawab mereka.


Setelah semua beres, mereka pun bersiap-siap untuk sholat magrib, karena azan magrib sudah berkumandang.


Ibu sudah selesai berwudhu, lalu disusul Titi dan Tuti.

__ADS_1


Mereka shalat dikamar masing-masing, karena tidak ada ruangan khusus tempat shalat.


__ADS_2