Nastiti

Nastiti
Bab 33. Mimpi Digigit Ular.


__ADS_3

Hari-hari terus berlalu tanpa terasa.


Titi disibukkan dengan pekerjaannya yang semakin padat, karena perusahaan tempat Titi bekerja sudah mulai berkembang, sudah mendapat banyak client.


Jadi, Titi semakin disibukkan dengan pekerjaannya.


Titi sudah mulai jarang ke masjid, karena sejak pergantian pengurus, tugas


Titi diserahkan pada yang lebih muda, agar mereka juga bisa belajar berorganisasi.


Titi datang ke masjid jika ada acara kegiatan keagamaan atau saat ada kegiatan remaja masjid yang membutuhkan bantuannya.


Hubungan Titi dan Ari pun belum ada perkembangan yang berarti.


Mereka masih sekedar berteman, bertegur sapa bila berjumpa.


*****


Hari minggu ini, tidak ada kegiatan yang dilakukan Titi.


Ia hanya beristirahat dirumah, selesai membantu pekerjaan dirumah, Titi menghabiskan waktunya dikamar.


Ada sesuatu yang mengganggu fikiran Titi.


" Mengapa ya, beberapa hari ini aku selalu bermimpi digigit atau dililit ular?


Dalam satu minggu ini, sudah tiga kali aku bermimpi hal yang sama.


Menurut yang aku dengar, bila bermimpi demikian, maka akan mendapatkan jodoh.


Aku percaya tak percaya sih.. siapa yang akan menjadi jodoh ku?


Saat ini, aku tidak sedang dekat dengan siapapun.


Tak mungkin Toni atau Huda yang menjadi jodoh ku, karena mereka sudah punya pasangan masing-masing.


Aku ingat, saat aku dekat dengan Toni, kakek Abdul pernah berkata bahwa aku tidak berjodoh dengan Toni.


Titi ingat saat ia sedang ngobrol dengan kakek Abdul, dan beliau berkata :


" Ti, kamu ga akan berjodoh sama Toni.


Hubungan kalian hanya sebatas berpacaran, tidak akan sampai menikah."


" Lalu, siapa yang akan menjadi jodoh Titi kek, jika hubungan dengan Toni hanya sebatas berpacaran?


Titi tidak mau menjalin sebuah hubungan hanya untuk sekedar bermain-main.


Titi ingin serius, untuk apa bergonta-ganti pacar?"


Aku mencoba bertanya pada kakek Abdul, siapa yang akan menjadi jodoh ku nanti.


" Akan ada seseorang yang datang


dari jauh, orang seberang yang akan menjadi jodoh mu.


Tunggu saja, tak lama lagi kalian akan bertemu dan berjodoh."


Kakek Abdul menjawab pertanyaan ku, tapi tidak menjelaskan secara detail siapa yang akan menjadi jodoh ku.


Sebenarnya antara percaya dan tidak dengan apa yang kakek Abdul sampaikan.


Tapi selama ini, apa yang disampaikan kakek Abdul sering benar adanya.

__ADS_1


Kakek Abdul memang sering diminta tolong untuk mengobati orang sakit atau membantu mencari barang yang hilang.


Ia juga yang selama ini menetralisir bang Pandu bila ia sedang kerasukan.


Memang kakek Abdul belum bisa mengobati bang Pandu untuk mengusir jin yang ada didalam tubuh bang Pandu.


Kini kakek Abdul pulang ke kampung halaman, dan tinggal bersama anak-anaknya.


Titi ingat ada kejadian saat ada kakek Abdul.


Flashback..


Waktu itu ada pembangunan sebuah mess pemerintah daerah di dekat rumah Titi.


Ibu Titi diminta oleh sang mandor untuk menyediakan makanan untuk para pekerja yang ada disana, maka ibu pun berjualan makanan, rokok maupun kopi untuk memenuhi kebutuhan para pekerja.


Saat pagi, siang ataupun malam, di belakang rumah Titi akan ramai oleh pekerja yang sarapan, makan siang ataupun makan malam di pondok tempat ibu berjualan, juga pekerja yang sekedar ngopi sambil menikmati gorengan buatan ibu.


Salah satu dari pekerja disana, diam-diam menyukai Titi, mungkin karena Titi terlihat ramah saat membantu ibu melayani para tukang yang makan di warung ibu.


Tapi Titi tidak menanggapi, Titi hanya menganggap teman karena ia sering makan dan belanja di warung ibu.


Ada juga Agus, keponakan sang mandor yang suka memperhatikan Titi.


Ia membantu pamannya mengawasi para pekerja.


Entah mengapa, tiba-tiba Titi bisa akrab dengan Agus.


Nurman, nama lelaki yang diam-diam menyukai Titi.


Ia tak suka melihat Agus dekat dengan Titi.


Suatu malam, ia mengajak Titi untuk makan bakso.


Di warung bakso, Titi hanya memesan jus alpukat, sementara Nurman memesan bakso dan es jeruk.


Sambil menunggu pesanan datang, Nurman berkata pada Titi,


" Ti.. sebenarnya ada yang ingin saya sampaikan! "


" Oh iya, mas.. katakan saja! " kata Titi.


" Kita makan bakso dulu ya, nanti baru saya ngomong! " kata Nurman lagi.


Titi hanya diam sambil menunggu pesanan mereka datang, sementara Nurman sibuk membaca novel yang ia bawa.


Titi tak tahu, apa Nurman benar-benar membaca novel atau pura-pura saja.


Saat Nurman tahu Titi suka membaca novel, ia jadi suka membawa novel saat makan di warung ibu.


Sebenarnya Titi tahu apa yang akan dibicarakan oleh Nurman, karena sudah bisa membaca gelagat nya, tapi Titi pura-pura tak tahu dan hanya melihat apa yang Nurman lakukan, yang pura-pura asik dengan bacaannya.


Saat pesanannya sudah datang, Titi meminum jus nya, sementara Nurman makan bakso sambil membaca novel.


Tak ada yang mereka bicarakan, Titi diam menunggu Nurman mulai mengatakan tujuannya mengajak Titi keluar.


Hingga minuman Titi habis dan makanan Nurman juga habis, Nurman tak mengatakan apa-apa pada Titi.


Karena sudah lewat jam delapan dan mereka sudah lama duduk disana, akhirnya Titi mengajak Nurman pulang.


" Sudah malam, pulang yuk mas! " ajak Titi.


" Eh.. iya, Ti.. ayok kita pulang! "

__ADS_1


Titi keluar dari warung bakso, Nurman membayar pesanan mereka.


Lalu mereka naik angkot untuk pulang ke rumah.


Sampai dirumah, Titi langsung pamit pada Nurman untuk ke kamar nya dan Nurman pulang ke camp tempat para pekerja.


Tak ada apapun yang Nurman bicarakan dengan Titi, dan Titi juga tak ambil pusing.


*****


Di camp, Nurman merasa kesal sendiri.


Ia telah mengajak Titi untuk keluar, ia ingin menyatakan perasaannya pada Titi.


Tapi saat melihat Titi yang seperti acuh tak acuh dan tak banyak bicara, ia jadi merasa takut untuk mengungkapkan perasaannya.


Ia takut Titi akan menolak karena ia hanya seorang buruh bangunan, sementara Titi punya pekerjaan yang bagus.


Ia sadar diri, tapi ia mencintai Titi dan merasa cemburu saat Agus dekat dengan Titi.


Ia tahu, Agus keponakan mandornya, tapi ia lebih dulu mengenal Titi.


Ia merasa, Agus punya niat tak baik pada Titi.


Titi ramah pada siapa saja, walaupun pada mereka yang bekerja sebagai kuli bangunan, bila bertemu, Titi tetap menyapa dengan sopan.


Nurman pernah diledek teman Titi saat ia cemburu melihat Titi ngobrol bersama Agus.


Melihat ia yang memasang muka masam, Titi bertanya,


" Mas Nur kenapa? kok muka cemberut gitu? "


" Hati mas Nur sedang keseleo, Ti! " jawab Iskandar teman Titi sambil tertawa. ๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„


Titi tersenyum mendengar jawaban Iskandar.


" Kok bisa hatinya keseleo? " tanya Titi.


" Bisa aja, mungkin tadinya terpeleset, jadi keseleo. " jawab Iskandar masih dengan tawanya.


Sebenarnya aku memang sakit hati melihat kedekatan Titi dan Agus.


Aku hanya diam saat teman Titi meledek ku.


Aku tak bisa memberitahu Titi, kalau Agus bukanlah pria yang baik.


Aku takut, Titi menganggap aku cemburu dan berusaha menjelekkan Agus padanya.


Aku juga belum punya bukti apa-apa.


Aku sedang mencari info tentang Agus, ingin bertanya pada pamannya, tapi ia jarang datang ke sini.


Bila bertemu sang mandor, aku akan bertanya padanya.


Jangan sampai Titi dibohongi oleh Agus.


Teman-teman seprofesi sudah banyak yang tahu desas desus hubungan Titi dan Agus, dan mereka menyayangkan hal ini karena ada info bahwa Agus telah memiliki istri.


Aku tak mau jika Agus memanfaatkan Titi dan hanya mempermainkan nya.


***แ•ฆ( อกยฐ อœส– อกยฐ)แ•ค***


Bersambung dulu ya teman-teman.

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya dengan memberi Like, komen dan Vote agar othor semangat menulis lanjutan ceritanya. ๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™


__ADS_2