
Sepulang dari pasar bersama Feni, Titi langsung mandi, karena sudah menjelang magrib. Selesai sholat magrib, Titi meminta Tuti untuk memanaskan kuah bakso yang tadi dibawanya.
" Tut, tolong panaskan kuah bakso yang tad mbak bawa, ga enak kalau sudah dingin. Tadi, mbak bawa empat bungkus!" pinta Titi pada Tuti.
"Baik, mbak!" kata Tuti.
Tuti pergi ke dapur, mengambil bakso yang ada di meja dapur dan memanaskan kuah baksonya.
Setelah memanaskan kuah bakso, Tuti menaruhnya dimeja makan.
"Mbak, kuah baksonya sudah Tuti panaskan!" kata Tuti pada Titi.
Karena Titi masih didalam kamar, Tuti memberitahu pada Titi didepan pintu kamarnya.
"Iya, Tut, makan saja baksonya, itu buat ibu, bapak, bang Pandu dan Tuti.
Mbak tadi sudah makan mie ayam." ujar Titi.
" Iya mbak, kita sekalian makan malam, bapak, ibu sama bang Pandu sudah menunggu mbak!" kata Tuti lagi.
" Iya, Tut." jawab Titi.
Tuti pun keluar dari kamar, lalu mengikuti Tuti ke ruang makan.
Mereka pun makan malam bersama.
Pandu dan Tuti hanya makan bakso, sementara bapak, ibu dan Titi makan nasi
" Pandu, Tuti, mengapa kalian tidak makan nasi? hanya makan bakso saja?" tanya ibu.
" Pandu, masih kenyang bu, tadi sebelum pulang kantor, Pandu makan dulu sama teman, kami ga sempat makan siang, karena ada pekerjaan yang harus cepat diselesaikan." jawab Pandu
" Tuti juga masih kenyang bu." jawab Tuti pula.
" Pandu, lain kali jangan melambatkan makan siang, walau sedang banyak pekerjaan, tapi saat istirahat buat makan, kamu harus makan, tinggalkan dulu pekerjaannya, bukankah ada jam makan siang? kalau menunda makan, nanti kamu bisa masuk angin." kata bapak menasehati Pandu.
" Baik pak, tadi karena pekerjaannya tinggal sedikit lagi, tanggung jika ditinggalkan, lagian sudah ditunggu sama bos, jadi Pandu dan teman Pandu menyelesaikan pekerjaan dulu dan menunda makan siang, kami cuma istirahat sebentar buat shoat zuhur." ucap Pandu menjelaskan pada bapak.
"Iya, lain kali jangan biasakan melalaikan makan siang, tubuh juga butuh energi buat bekerja!" ucap bapak lagi.
"Baik, pak!" jawab Pandu lagi.
"Kamu juga Tut, makan pakai nasi walau sedikit, ibu lihat kamu kalau makan cuma sedikit, nanti kalau makan kamu ga baik, kamu bisa kena lambung." ucap ibu kata pada Tuti.
"Baik, bu!" jawab Tuti, lalu ia menambahkan sedikit nasi kedalam mangkuk baksonya
Akhirnya, mereka pun menyelesaikan makan malamnya.
Selesai makan, Tuti dan Titi membersihkan meja makan, Tuti langsung mencuci piring-piring kotor, sementara Tuti yang menyimpan piring-piring yang sudah dicuci.
Bapak dan ibu duduk diruang tivi sambil nonton sinetron kesukaan ibu, sementara Pandu masuk ke kamarnya.
__ADS_1
Selepas sholat isya, Tuti mengerjakan tugas sekolah, sementara Titi membaca novel di kamarnya.
Hari ini, Pandu, Titi dan Tuti tidak ada yang pergi ke masjid.
Pandu dan Titi pulang kesorean, sementara Tuti sedang banyak tugas sekolah.
Tiba-tiba, Titi mendengar ada yang mengetuk pintu dan mengucapkan salam.
Karena kamar Titi berhadapan dengan ruang tamu, jadi Titi mendengar jelas orang yang mengetuk pintu depan.
Titi pun keluar dari kamarnya, ia membuka pintu depan.
" Assalamualaikum.." salam seseorang didepan pintu yang Titi buka.
"Waalaikumsalam warahmatullah.." jawab Titi.
Titi heran melihat orang yang ada didepannya, ia mengenal orang itu tapi orang tersebut sudah lama tidak pernah datang ke rumah Titi.
Dia adalah Reno, salah satu pengurus Karang Taruna di desanya.
Titi mengenal Reno saat ikut kegiatan Penataran P4 di desanya, dan Reno salah satu panitia nya.
" Selamat malam, Ti, maaf apa saya mengganggu?" tanya Reno pada Titi.
" Malam, kak, nggak kok, kebetulan lagi santai aja." jawab Titi.
" Mari, silahkan masuk kak!" ajak Titi.
"Baik, kak, silahkan duduk, sebentar saya buat minuman dulu." kata Titi lagi.
"Baik, terima kasih Ti!" jawab Reno.
Reno duduk dikursi teras, sementara Titi pergi ke dapur untuk membuatkan minuman buat Reno.
"Siapa yang datang, Ti?" tanya ibu yang masih ada diruang tivi.
" Kak Reno bu, yang jadi pengurus Karang Taruna." jawab Titi.
" Ada perlu apa?" tanya ibu lagi.
" Belum tahu bu, Titi belum sempat tanya, Titi mau buat minuman dulu, kak Reno nya duduk diteras, Titi ajak masuk ga mau." Titi menjawab pertanyaan ibu, sekalian menjelaskan keberadaan Reno yang duduk diteras.
" Ya, sudah kalau begitu." kata ibu lagi.
Titi pun melanjutkan jalan kedapur untuk membuat kopi buat Reno.
Setelah membuat kopi, Tuti pun membawanya kedepan, sekalian dengan cemilan yang sore tadi dibuat ibu.
Setelah menaruh kopi dan cemilan dimeja, Titi pun mempersilahkan Reno untuk meminum kopinya.
"Silahkan, diminum kopinya kak, sekalian cemilan nya juga dimakan." tawar Titi pada Reno.
__ADS_1
" Iya Ti, terima kasih!" jawab Reno.
Melihat Reno yang diam saja, Titi pun memulai obrolan dan bertanya pada Reno
" Kak Reno, apa kabar? Apa kegiatannya sekarang?"
" Alhamdulillah, kabar baik Ti, kakak masih sibuk sama kegiatan Karang Taruna."
" Titi, apa kabar? ga ke masjid ya? biasanya jam segini Titi baru pulang dari masjid."
" Alhamdulillah, kabar Titi juga baik kak.
Titi tadi pulang kesorean, jadi ga berangkat ke masjid."
" Tumben kakak main kesini, sudah lama ga ada kabarnya?"
" Kakak sengaja main kesini, ada yang mau kakak sampaikan!".
"Titi, apa masih ada hubungan dengan Toni?"
" Kakak, kenal sama Kak Toni?"
Tuti bertanya balik pada Reno, Titi tidak tahu jika Reno dan Toni saling mengenal.
" Kebetulan, Toni kos dekat rumah kakak, dan kami berteman baik, Toni pernah cerita mengenai Titi pada kakak."
"Ohh..pantas kak Reno kenal sama kak Toni."
" Jadi gimana, apa Titi masih ada hubungan dengan Toni?"
" Yah..begitulah kak, hubungan Titi dan kak Toni, masih seperti biasa."
" Apa Toni tidak pernah menyampaikan sesuatu pada Titi, masalah pribadinya atau keluarganya?"
"Tidak! Kami jarang bertemu secara pribadi, paling kalau kak Toni piket, ia akan main kesini sebentar, kami pun hanya ngobrol biasa aja."
Reno pun terdiam, ia seperti sedang berfikir untuk menyampaikan sesuatu pada Titi.
" Sebenarnya, ada yang ingin kakak sampaikan pada Titi, tapi kakak takut Titi marah pada kakak."
" Kakak ingin menyampaikan apa?
Jika sesuatu yang penting, sampaikan saja. Mengapa Titi harus marah pada kakak?"
" Kakak, hanya ingin menyampaikan suatu kebenaran pada Titi, agar Titi tak terlalu berharap dan akan membuat Titi merasa sakit hati!"
" Sebenarnya, apa yang ingin kakak sampaikan? Ga usah takut, Insya Allah apapun yang kakak sampaikan, Titi siap mendengarnya!"
" Sebelumnya, kakak mohon maaf, bukan maksud kakak untuk ikut campur masalah hubungan Titi dan Toni, kakak hanya kasihan pada Titi jika Titi hanya dipermainkan oleh Toni!"
Titi semakin bingung dengan kata-kata Reno, tapi Titi hanya diam saja, dia tidak menyela kata-kata Reno, Titi menunggu apa yang akan Reno sampaikan.
__ADS_1