Nastiti

Nastiti
Bab 76. Kondisi Ari


__ADS_3

Cinta yang hakiki walaupun diterjang badai pertikaian atau kemarahan, ia akan tetap keluar sebagai pemenang pada akhirnya.


Cinta yang hakiki adalah cinta yang dimiliki orang-orang yang berakal yang mengedepankan cinta mereka diatas segala permasalahan hidup sehingga tidak terimbas olehnya.


🦂🦂🦂


Hari ini, Titi hanya bekerja setengah hari karena setiap hari sabtu tidak terlalu banyak pekerjaan.


Setelah bermain dengan Nanda dan menidurkannya, Titi pamit pada ibu untuk ke rumah sakit menjenguk bang Ari.


Setiap malam Titi dan Ana tidur di rumah sakit, mereka buka dan sahur disana.


" Bu Titi mau ke rumah sakit, Titi titip Nanda ya bu?


Sebenarnya Titi kasihan meninggalkan Nanda terus, tapi gimana? Titi tidak mungkin membawa Nanda ke rumah sakit, apalagi menginap disana. "


Kata Titi yang menitipkan Nanda pada ibu.


Sebenarnya Titi merasa berat untuk meninggalkan Nanda dirumah.


Anak berusia tiga tahun itu lebih banyak diasuh oleh nenek dan kakeknya, karena Titi yang harus bekerja dan Ari yang sibuk dengan kegiatannya sendiri.


" Papa mana ma? kok belum pulang-pulang? "


Suatu malam, Nanda pernah menanyakan keberadaan ayahnya.


Bocah tiga tahun itu sudah lancar berbicara.


Mungkin ia merindukan keberadaan ayahnya yang jarang dirumah.


Pagi-pagi, Ari dan Titi akan berangkat ke kantor. Sepulang dari kantor, Ari nongkrong bersama teman-temannya dan pulang larut saat Nanda sudah tidur.


Saat libur, sesekali Ari akan mengajak anak dan istri jalan ke pantai atau tempat hiburan lainnya, tapi itu jarang terjadi karena Ari lebih banyak menghabiskan waktu bersama teman kumpulnya.


Wajar jika Nanda menanyakan keberadaan ayahnya.


" Papa sedang bekerja nak, sekarang abang bobok sama mama, ya? "


Pinta ku kala itu pada Nanda.


Dan Nanda akan mendengarkan apa yang aku katakan.


Setelah menghabiskan satu botol susu, ia akan tertidur dengan nyenyak.


Pernah suatu kali aku marah pada Nanda.


Kemarahan ku sebenarnya dipicu oleh kekesalan ku pada bang Ari dan aku lampiaskan pada Nanda.


Nanda yang sudah tertidur aku bangunkan dan aku marahi karena satu kesalahan kecil yang ia lakukan.


Anak kecil itu hanya terdiam mendengar kemarahan ku sambil duduk dan mata yang mengantuk.

__ADS_1


Melihatnya seperti itu, aku tersadar dan sangat menyesal karena melampiaskan kemarahan pada anak kecil yang tidak bersalah.


Aku menangis sambil memeluk dan menciumi kepalanya, lalu aku menidurkannya kembali.


Aku sering teringat dengan kesalahan yang aku lakukan itu, dan jika aku ingat hal itu, aku menjadi bersedih dan merasa bersalah pada Nanda.


Sejak saat itu, aku tidak lagi melampiaskan kekesalan ku pada Nanda, karena rasa menyesal itu lebih terasa menyakitkan.


Kapanpun teringat kesalahan itu, teringat wajahnya yang mengantuk tapi tidak aku izinkan untuk tidur dan malah memarahinya, sungguh! itu sesuatu yang membuat aku sakit saat mengingatnya.


" Berangkatlah kalau mau ke rumah sakit, biarkan Nanda bersama ayah dan ibu dirumah.


Ibu juga belum sempat melihat Ari di rumah sakit karena tidak ada yang menjaga Nanda. "


Ibu mengatakan jika ibu dan ayah yang akan menjaga Nanda.


" Semoga Ari cepat sembuh dan bisa segera pulang ke rumah. " doa ibu untuk Ari.


" Iya bu, aamiin. Titi hanya kasihan. pada Nanda yang lebih banyak ditinggalkan dirumah.


Semoga bang Ari bisa segera keluar dari rumah sakit ya, bu? "


Titi berkata jika ia merasa berat harus selalu meninggalkan Nanda dan berharap Ari bisa segera keluar dari rumah sakit.


" Bagaimana perkembangan Ari sekarang? " tanya ibu.


" Masih seperti itu bu, kalau bang Ari bangun ia akan terus mengajak orang yang ada didekatnya untuk mengobrol.


Makanya dokter memberi bang Ari obat tidur agar bisa lebih banyak beristirahat."


Titi menjelaskan keadaan Ari pada ibu, Ari yang masih suka berbicara banyak saat ia terbangun.


" Sebenarnya Ari itu kenapa? Mengapa ia bisa seperti itu. "


tanya ibu yang merasa kasihan pada keadaan Ari.


" Titi juga tidak tahu bu, waktu Titi bertemu dokter jaga, katanya bang Ari hanya terkena tipes yang sudah parah, jadi dia sering berhalusinasi, selebihnya dokter tidak mengatakan apapun. "


kata Titi menyampaikan pada ibu apa yang disampaikan oleh dokter pada Titi.


" Jika terkena tipes dan sudah parah, masa dia pengennya ngobrol terus tidak berhenti.


Ingat ga Titi waktu subuh yang lalu yang meminta Titi mengulangi shalat subuh berulang kali? masa itu pengaruh dari sakit tipes? " Tanya ibu yang merasa heran dengan penjelasan yang Titi terima dari dokter mengenai penyakit Ari.


" Titi juga tidak tahu bu, sebab yang membawa bang Ari kesana dan bertemu dokter kan kak Rubi sama tantenya.


Kak Rubi jika tidak mengatakan apapun pada Titi. "


Kata Titi lagi pada ibu.


" Ya sudah, sekarang Titi pergilah ke rumah sakit, nanti kalau Nanda sudah bangun kasihan, dia pasti ingin ikut.

__ADS_1


Mudah-mudahan Ari bisa segera sembuh dan pulang ke rumah. "


Ibu meminta agar Titi segera berangkat ke. rumah sakit sebelum Nanda bangun agar ia tidak menangis karena ingin ikut dengan Titi.


Akhirnya Titi berangkat ke rumah sakit dengan naik angkot.


Harus dua kali Titi naik angkot jika harus ke rumah sakit karena tidak ada jalur angkot dari rumah Titi kesana, kecuali angkot kosong yang mau muter kembali mencari penumpang yang ke arah pelabuhan.


Tiba dirumah sakit, ada Ana sendiri yang sedang mengobrol dengan Ari.


" Assalamu'alaikum. "


Ucap salam Titi sambil membuka pintu ruang rawat.


" Waalaikumsalam.. " jawab Ana dan Ari berbarengan.


Mereka melihat ke arah Titi yang baru datang.


Titi menghampiri Ari dan mencium punggung tangannya.


" Abang tidak tidur? " tanya Titi pada Ari.


" Abang capek dek kalau harus tidur terus, lagian abang belum mengantuk. "


Jawab Ari pada Titi.


" Iya, tapi abang harus banyak istirahat agar abang bisa segera sembuh dan bisa pulang ke rumah.


Memang abang tidak ingin pulang?


Abang tidak ingin bertemu dengan Nanda, anak kita? "


Tanya Titi pada Ari.


Titi sengaja mengingatkan Ari pada Nanda agar ia punya semangat untuk segera sembuh dengan banyak beristirahat.


" Iya, abang ingin segera sembuh, abang ingin pulang dan bertemu dengan Nanda. " Kata Ari yang mengingat Nanda, anaknya.


" Makanya, kalau abang ingin segera sembuh, abang harus banyak beristirahat, jangan ngobrol terus. "


Kata Titi pada Ari, dan meminta agar Ari beristirahat dan tidak banyak mengobrol.


" Sekarang abang istirahat, ya? kalau abang belum mengantuk, coba abang banyak beristighfar dalam hati agar abang merasa tenang dan tidak banyak pikiran. " Titi meminta Ari untuk beristirahat dan beristighfar dalam hati agar pikiran Ari menjadi tenang.


Ari menuruti kata-kata Titi dengan membaringkan tubuhnya diatas kasur.


Titi tidak memberi obat tidur karena obatnya hanya diminum saat Ari tidak bisa tidur.


Ari diusahakan untuk bisa beristirahat dan tidur tanpa harus meminum obat tidur.


Titi mengusap kening dan kepala Ari agar ia merasa nyaman dan bisa tertidur.

__ADS_1


🦂🦂🦂


__ADS_2