
Ari terus melajukan motornya dengan kecepatan sedang sambil mengingat perjalanan mereka saat mengajak Nanda keluar kota dengan menggunakan motor.
" Beruntung ya pay, Nanda tidak pernah rewel selama dalam perjalanan, dia malah senang diajak jalan jauh dengan menggunakan motor."
Kata Titi yang mengingat jika Nanda menyukai perjalanan merek.
" Iya benar, Nanda sampai kecapean dijalan hingga saat kita ke penginapan Nanda langsung tidur.
Jadi kita punya kesempatan untuk membuat adik buat Nanda.
Gimana, waktu itu enak ga main di kasur yang empuk? "
Ari menggoda Titi dengan mengingatkan pada apa yang mereka lakukan di penginapan saat Nanda sudah tertidur.
" Apaan sih, pay? ganjen banget! " kata Titi mencubit pinggang Ari karena merasa malu saat diingatkan dengan kegiatan mereka dikamar penginapan.
" Biar pay ganjen, tapi may suka kan saat bergoyang-goyang di atas kasur empuk? " tanya Ari yang menggoda Titi.
Ari tahu jika Titi suka merasa malu jika mereka membahas hal yang intim.
Entah mengapa, walaupun mereka telah memiliki Nanda, tapi saat harus membahas masalah hubungan intim, Titi masih merasa malu walau pada suaminya sendiri.
" May suka waktu pay belikan makan malam. Nasinya wangi banget karena dibungkus daun pisang, cocok dengan lauk ayam bakarnya. " kata Titi yang mengingat waktu Ari membeli makan malam untuk mereka.
" Makannya terasa enak karena kita habis menguras tenaga. " seloroh Ari sambil tertawa karena Titi mencubit pinggangnya.
Ari memang penggeli, jangankan digelitik, baru disentuh pinggangnya aja sudah merasa geli.
" Pay, hati-hati bawa motornya! " kata Titi saat motor sedikit oleng karena Ari tidak fokus karena pinggangnya terasa geli karena dicubit Ari.
" Makanya jangan suka menggelitik pinggang, nanti kita jatuh.
Kalau mau menggelitiki nanti aja kalau sudah dikamar. " kata Ari lagi.
Titi hanya terdiam tidak berani mencubit pinggang Ari karena takut Ari tidak fokus membawa motor dan mereka bisa celaka.
" Nanda senang saat pulang kita mampir ke danau dan naik bebek-bebekkan. " kata Titi yang mengingat mereka naik bebek-bebekkan dan mengitari danau.
" Nanda senang saat kita berada di tengah danau dan melihat orang-orang yang juga naik bebek-bebekkan. " imbuh Ari.
" Iya, padahal may sangat takut saat berada ditengah danau, takut jatuh ke danau karena may tidak bisa berenang. "
Titi sejak dulu memang tidak bisa berenang, jadi ia merasa takut saat berada ditengah danau.
" Seru juga ya waktu itu, selain ke danau kita mampir ke pemandian air panas." kata Ari masih mengingat perjalanan mereka.
" Iya, di pemandian air panas kita hanya foto-foto, dan tidak mandi air panas.
__ADS_1
Kapan ya kita kesana lagi? "
Titi ingin mereka pergi ke pemandian air panas lagi.
" Kalau kesana naik motor sebenarnya enak juga, kita berangkat pagi, hampir tiga jam perjalanan kita baru sampai. " kata Ari.
" Iya, tapi kayanya kalau sekarang-sekarang ga bisa jalan jauh dengan naik motor karena may sedang hamil muda. " kata Titi mengingatkan Ari.
" Ya nggak dalam waktu dekat juga, kapan-kapan aja kita ke sananya. " imbuh Ari.
Sepanjang jalan mereka hanya bercerita mengenai perjalanan mereka sambil tidak lupa dengan tujuan utama mereka mencari penjual es tong-tong.
" Pay, sudah sejauh ini kita belum lihat penjual es tong-tong, jadi gimana? "
tanya Titi yang kembali ke tujuan awal perjalanan mereka sore ini.
" Kita jalan lurus aja sampai ke simpan RRI, nanti kita belok sekalian jalan pulang. Jadi kita memutar jalan, pulang nanti tidak usah lewat sini kalau kita tidak ketemu sama penjual es tong-tong disepanjang jalan ini."
Saat pulang Ari bermaksud memutar jalan lewat ke arah kota jika mereka tidak menemukan penjual es tong-tong dijalan yang mereka lalui saat ini.
Tong.. tong.. tong...
Samar-samar, Titi mendengar suara penjual es tong-tong.
" Pay, kayanya didepan kita ada penjual es tong-tong, coba lebih cepat bawa motornya biar bisa ngejar si penjual. "
Karena merasa mendengar suara penjual es yang dicarinya, Titi meminta Ari mempercepat laju motornya.
Ari menghentikan motornya dipinggir jalan, lalu menghentikan penjual es tong-tong.
" Mang, es tong-tong! " kata Ari pada penjual es.
Penjual es menghentikan sepeda yang ia bawa dipinggir jalan tidak jauh dari motor Ari.
" Mang es tong-tong nya dua, makan disini ya? " kata Ari pada penjual es.
" Baik, mas! " kata penjual es yang sudah menghentikan sepedanya.
Dengan cekatan, penjual es itu menyiapkan dua gelas es pesanan Ari.
Ari duduk di jok motor, sedangkan Titi duduk di sebuah tembok di atas siring yang kering didepan sebuah rumah.
Setelah menyiapkan dua gelas es dengan menggunakan gelas kaki, penjual es memberikan es itu pada Ari dan Titi.
Ari yang merasa haus, segera memakan es yang lembut bercampur roti tawar itu dengan lahap.
Titi mengaduk es agar bercampur dengan roti tawar, lalu mulai menyendok es itu dengan sendok kecil.
__ADS_1
Hanya beberapa suap Titi memakan es itu, meminta Ari untuk menghabiskannya.
" Pay, may sudah kenyang, pay habisin ya? "
Titi meminta Ari untuk menghabiskan es miliknya.
" Pay sudah kenyang, may. May habiskan aja. " kata Ari yang sudah merasa kenyang.
" May juga sudah kenyang, pay, sayang kalau dibuang, masih banyak. "
kata Titi yang merasa sayang untuk membuang es tersebut.
" Mang, ada plastik ga? tolong bungkus es ini. " tanya Ari pada penjual es dan memintanya untuk membungkus es milik Titi yang tidak habis.
" Oh, ada mas, sini saya bungkus. " jawab penjual es, lalu mengambil es yang disodorkan oleh Ari dan membungkusnya menggunakan plastik.
" Tolong bungkuskan satu lagi ya mang!" pinta Ari pada penjual es.
" Baik mas! " jawab penjual es sambil menyiapkan pesanan Ari.
" Gimana sih may, tadi ribut pengen es tong-tong sampai nyari sejauh ini, giliran sudah dapat hanya dimakan sedikit. " kata Ari pada Titi sedikit kesal karena Titi tidak menghabiskan es yang ia inginkan.
" Mau gimana lagi pay, may sudah tidak berselera untuk memakannya.
Makan dua sendok aja rasanya sudah kenyang. " jawab Titi karena ia memang merasa tidak ingin lagi memakan es itu.
" Istrinya lagi ngidam ya mas? " tanya penjual es yang mendengar perdebatan Ari dan Titi.
" Iya mang. Dia pengen es tong-tong tapi di depan rumah sakit tempat biasa tukang es nongkrong malah ga ada. " jawab Ari menjelaskan pada penjual es tong-tong.
" Jauh juga mas kalau dari rumah sakit sampai kesini. " kata penjual es lagi.
" Makanya mang, sudah jauh-jauh nyari cuma dimakan sedikit. " imbuh Ari lagi.
" Ya seperti itulah kalau orang ngidam mas. Mereka pengen banget makan sesuatu, tapi pas sudah ada mereka tidak menghabiskan apa yang diinginkan. Harus sabar mas kalau istri lagi hamil, bawaan orok. "
kata penjual es memberitahu Ari sambil menyerahkan es yang sudah dibungkus, ditambah satu bungkus es pesanan Ari.
Setelah Ari membayar es yang dia pesan, Ari dan Titi pun pulang melalui jalan yang tadi mereka lalui.
Titi pulang dengan perasaan senang karena sudah mendapatkan apa yang dia inginkan.
Ari juga tidak lagi kesal pada Titi setelah mendengar penjelasan dari tukang es.
Sepanjang perjalanan pulang, Ari memegang tangan Titi yang ada di atas perutnya dengan menggunakan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya memegang stang motor.
🦂🦂🦂
__ADS_1
🦂🦂 Semut membangun desanya bahu membahu, lebah memanen nektar bersatu padu. 🦂🦂
🦂🦂 Hiduplah bersama Allah, maka Allah akan hidup bersama mu. 🦂🦂