Nastiti

Nastiti
Bab 142. Pengobatan Nanda


__ADS_3

Mendengar suara seperti benda jatuh, Titi sangat terkejut, apalagi mendengar suara Nanda yang minta tolong.


Titi menaruh jemuran yang ada ditangannya di atas kursi dekat meja makan, laku dengan panik memanggil Ari yang masih asik memberi makan ikan.


" Pay..!! cepat pay..!! tolong Nanda jatuh dari pohon. " kata Titi pada Ari dengan suara yang terdengar panik.


Ari tidak menggubris perkataan Titi dan ia tetap asik memberi makan ikan.


Melihat Ari hanya diam saja, Titi merasa kesal lalu berlari kebawah pohon melinjo.


Titi melihat Nanda sudah terduduk dibawah pohon melinjo sambil menangis dan memegang kakinya.


" Mama tolong abang, ma..! tolong kaki abang, ma..!! " kata Nanda sambil menangis pada Titi.


Titi yang panik, melihat pada kaki yang yang sedang di pegang oleh Nanda.


Terlihat jika sekitar empat jari di atas mata kaki kanan Nanda ada yang menyembul dibalik kulitnya.


Titi yakin jika yang terlihat menyembul itu tulang kaki Nanda yang patah.


Dengan menguatkan hati, Titi mengangkat tubuh Nanda dan membawanya ke rumah.


Titi tidak memperdulikan dua orang teman Nanda yang berdiri ketakutan sambil melihat Nanda yang menangis menahan rasa sakit pada kakinya.


Melihat Titi yang menggendong Nanda ala bridal style, Ari segera menghampiri Titi dan mengambil Nanda dari gendongan Titi.


" Pay, kaki Nanda sepertinya patah, kita harus segera bawa ke tukang urut yang dulu pernah menolong Andi saat tangannya bengkok. " kata Titi sambil mengikuti langkah Ari.


" Ambil kunci motor, kita langsung ke sana. " kata Ari yang langsung membawa Nanda menuju motor yang terparkir disamping rumah.


Titi langsung masuk ke dalam kamar, mengambil kunci motor dan uang yang ada didalam dompet, lalu bergegas menghampiri Ari yang sudah menunggu didekat motor sambil menggendong Nanda.


Nanda didudukkan di atas motor secara menyamping sambil Titi menahan kaki dan punggungnya, lalu mereka membawa Nanda ke tukang urut.


Beruntung saat tiba di tukang urut, orangnya sedang berada di rumah.


" Assalamu'alaikum. " salam Titi saat berdiri di depan pintu rumah pak Kandar, yang kebetulan sedikit terbuka.


" Waalaikumsalam. " jawab seorang anak perempuan pak Kandar yang duduk di bangku SMP.


" Bapaknya ada, dek? " tanya Titi pada gadis itu.


" Ada, bu.. sebentar saya panggil dulu. " kata gadis itu sambil berlalu dari hadapan Titi.


Ari masih berdiri didekat motor dan memegangi Nanda yang didudukkan di atas motor.


Tidak lama pak Kandar datang bersama anak gadisnya, lalu menyapa Titi.


" Bu Titi, ada apa? " tanya pak Kandar yang masih mengenali Titi.


" Itu pak, saya mau minta tolong anak saya barusan jatuh dari pohon melinjo. " jawab Titi sambil menunjuk Nanda yang masih berada di atas motor bersama Ari.


" Oh, bawa masuk dulu pak anaknya..! " kata pak Kandar saat. melihat Ari bersama Nanda.


Ari pun menggendong Nanda dan. membawa masuk ke dalam rumah pak Kandar.

__ADS_1


" Tidurkan disini, pak. " kata pak Kandar pada Ari sambil menunjuk sebuah dipan yang ada dikamar depan.


Ari pun menidurkan Nanda yang masih menangis di atas dipan tersebut.


Pak Kandar melihat kondisi kaki Nanda yang masih terlihat menyembul.


" Ini sepertinya tulangnya patah. " kata pak Kandar sambil memegang tukang tersebut.


" Bagaimana pak, apa bisa bantu untuk diobati? " tanya Titi.


" Insya Allah, bisa. Tapi saya minta biaya pengobatannya bayar dimuka, jadi nanti kalau saya mengulangi pengurutan tidak perlu membayar lagi.


Biasanya saya minta dibayar setelah pasien sembuh, tapi saya sering dibohongi, setelah sembuh mereka suka menunda pembayaran, bahkan ada yang tidak mau bayar. " kata pak Kandar pada Ari dan Titi.


" Baik, pak! berapa biaya pengobatannya sampai sembuh? " tanya Titi pada pak Kandar.


Pak Kandar pun menyebutkan sejumlah uang untuk biaya pengobatan kaki Nanda.


Ari dan Titi menyetujui permintaan pak Kandar dan menyiapkan uang yang dimintanya.


" Tapi saya juga minta tolong belikan kain hitam satu meter sama perban untuk patah kaki. Nanti saya juga mau cari pelepah pinang untuk syarat lainnya. " kata pak Kandar.


" Biar pay yang cari kain sama perbannya, may tunggu Nanda disini. " kata Ari yang hendak mencari apa yang diminta oleh pak Kandar.


Ari pergi dengan menggunakan motor untuk mencari keperluan pengobatan Nanda. Sementara pak Kandar juga pergi mencari apa yang ia perlukan untuk mengobati Nanda.


" Ma, sakit ma. " kata Nanda pada Titi sambil menangis.


" Iya nak, sabar ya? nanti kakinya diobati biar sembuh. " kata Titi sambil menghapus air mata Nanda, lalu mengusap kepala Nanda untuk menenangkannya.


Sambil menunggu Ari datang, pak Kandar mulai mengurut kaki Nanda.


Nanda menangis karena merasakan sakit pada kakinya yang di urut oleh pak Kandar.


Titi terus menguatkan Nanda dengan mengusap kepalanya dan memintanya bersabar. Sebenarnya Titi tidak tega saat mendengar tangisan Nanda.


Nanda yang baru duduk di bangku kelas dua SD harus mengalami musibah patah kaki.


" Sabar ya bang, kaki abang kan sedang diobati biar sembuh. " kata Titi sambil menahan badan Nanda yang banyak bergerak karena merasa sakit pada kakinya yang sedang diperbaiki posisi tulangnya oleh pak Kandar.


" Sudah ma, kaki abang sakit ma.. " kata Nanda sambil terus menangis dan menahan sakit.


" Assalamu'alaikum. " salam Ari saat baru datang dan menghampiri pak Kandar yang sedang mengurut kaki Nanda.


" Waalaikumsalam. " jawab Titi sambil. menoleh pada Ari.


Setelah selesai mengurut kaki Nanda, pak Kandar membungkus kaki Nanda dengan pelepah pinang, lau dibalut dengan kain hitam dan terakhir dibalut dengan perban.


" Perban nya jangan sampai dibuka ya agar tulangnya tidak bergeser lagi.


Tiga hari lagi saya akan datang untuk melihat kondisi kakinya kembali. " kata pak Kandar pada Ari dan Titi.


" Kira-kira berapa lama bisa sembuhnya, pak? " tanya Titi.


" Insya Allah dalam dua bulan sudah sembuh dan bisa berjalan normal. " jawab pak Kandar.

__ADS_1


" Yang penting jangan banyak bergerak dan perban nya jangan di lepas. " kata pak Kandar lagi.


Mendengar apa yang dikatakan oleh pak Kandar, Titi merasa lega karena Titi yakin dalam waktu dia bulan Nanda sudah bisa pulih.


Titi dan Ari pernah mengobati Andi yang jatuh dari mobil dan tangannya bengkok karena saat jatuh tangan Andi menimpa ban mobil karena Ari sedang ganti ban mobil disamping rumahnya.


Dengan bantuan pak Kandar, tangan Andi bisa pulih seperti sediakala dan tidak ada keluhan apapun.


Setelah selesai mengurut dan memasang perban pada kaki Nanda, Ari dan Titi pamit pada pak Kandar dan memberikan biaya yang diminta oleh pak Kandar.


" Terima kasih atas bantuannya, pak. " kata Ari pada pak Kandar sambil menyalami dan berpamitan pada pak Kandar.


Setelah itu Ari dan Titi membawa Nanda pulang ke rumah.


Tiba di rumah sudah ada ibu Titi yang menunggu di rumah karena mendengar kabar Nanda yang jatuh dari pohon dari teman yang bersama Nanda tadi.


" Bagaimana keadaan Nanda, Ti? " tanya ibu cemas saat melihat Nanda digendong oleh Ari untuk masuk kedalam rumah.


" Alhamdulillah sudah diobati, bu. " jawab Titi.


" Tidurkan disini aja, bang..! " kata ibu pada Ari yang menunjukkan tempat tidur untuk Nanda.


Rupanya ibu sudah menyiapkan tempat untuk Nanda tidur di ruang tengah karena tidak mungkin bagi Nanda untuk tidur dikamar.


Ari membaringkan Nanda di atas kasir yang sudah disiapkan ibu di ruang tengah, lalu ibu memberi Nanda minum teh hangat yang baru ibu buat.


" Minum tehnya, nak. " kata ibu pada Nanda sambil membantu Nanda memegang gelas.


Ibu mengusap kepala Nanda dengan penuh rasa sayang.


" Tadi ibu diberitahu Fikar kalau Nanda jatuh dari pohon saat ibu di rumah Tuti.


Ibu langsung kesini dan menyiapkan tempat tidur untuk Nanda, karena ibu pikir Nanda akan sulit jika tidur dikamar." kata ibu pada Titi.


" Iya bu, terima kasih karena ibu sudah menyiapkan semuanya. " kata Titi pada ibu.


Malam hari setelah. maghrib, Ari dan Titi pergi ke dokter langganan mereka untuk meminta obat buat Nanda pada dokter tersebut.


" Jadi anaknya tidak dibawa ke rumah sakit, pak? " tanya dokter setelah. mendengar cerita Ari.


" Tidak dokter, kami hanya membawanya ke tukang urut patah tulang. " jawab Ari.


" Itu tidak masalah, karena biasa pengobatan secara tradisional juga bagus. Nanti setelah sembuh bisa bapak rontgen agar bisa melihat apakah tulangnya sudah benar-benar sembuh atau belum. " kata dokter lagi.


" Iya dokter, kalau bisa saya minta obat untuk membantu penyembuhan kaki anak saya, dokter. " kata Titi.


" Nanti ibu bisa membeli obat untuk pertumbuhan tulang di apotik. Anak seumuran itu masih dalam proses pertumbuhan sehingga akan cepat sembuh. Saya juga akan memberi vitamin dan obat pereda nyeri.


Besok pagi sebelum saya dinas, saya akan ke rumah ibu untuk melihat keadaannya. " kata dokter pada Ari dan Titi.


Titi juga minta surat keterangan sakit dari dokter untuk diberikan ke sekolah Nanda esok hari.


Setelah mendapat obat dan surat keterangan dari dokter, Ari dan Titi pun pulang ke rumah tapi sebelumnya mereka pergi ke apotik untuk membeli obat untuk pertumbuhan tulang buat Nanda.


🦂🦂🦂

__ADS_1


__ADS_2