Nastiti

Nastiti
Bab 70. Ajakan Mengenakan Jilbab.


__ADS_3

Setelah melihat aku sudah mulai tenang bang Ari berbisik di telingaku.


" Dek, abang kangen. "


Ucapnya dengan lembut.


Tiba-tiba anakku terbangun, ia tidak menangis, hanya mengerjap-ngerjapkan matanya.


" Susui dulu bang Nanda, agar tidur lagi."


pinta bang Ari padaku.


Aku pun pindah untuk berbaring disisi anakku, lalu mulai menyusui nya.


Dibelakang ku, bang Ari mulai melakukan aktifitas dengan memberikan ciuman-ciuman dan sentuhan-sentuhan dibagian tubuhku.


Setengah jam kemudian, anakku kembali tertidur.


Bang Ari memperbaiki selimut ditubuh anak ku, lalu menaruh dua guling disisi tubuh anak ku.


Bang Ari pun melakukan tugas sebagai seorang suami.


Aku hanya terdiam mengikuti keinginan suamiku yang tengah menyelesaikan hajatnya, tanpa ada perlawanan.


Aku bukan tidak ingin melakukan kewajiban ku sebagai seorang istri, tapi jika aku dianggap marah karena tidak diberi jatah, lalu setelah pertengkaran diakhiri dengan permainan ranjang, sungguh aku tidak menyukai itu.


Pernah bang Ari mengatakan bahwa ia seperti bermain dengan gedebong pisang, karena aku terlalu dingin dan tidak membalas apa yang suamiku inginkan.


Mungkin suamiku ingin seorang istri yang liar saat diatas ranjang.


Aku tidak bisa melakukan semua itu karena aku merasa malu.


Aku malu jika aku harus mendesah dan bersikap liar.


Dan yang membuat aku dingin karena terkadang suami ku melakukan hubungan suami istri dalam keadaan pengaruh alkohol.


Setelah melakukan hubungan suami istri, bang Ari meminta ku untuk beristirahat.


Aku membaringkan tubuhku sebentar lalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah membersihkan diri, aku kembali ke kamar, aku lihat bang Ari sudah tertidur.


Setelah melihat anakku yang masih tidur serta bang Ari yang tertidur disampingnya, aku memutuskan untuk keluar dari kamar.


Diruang tengah aku bertemu Yadi, anak tante Neng yang sedang mengasuh anaknya.


Aku menghampiri Yadi dan berpesan padanya.


" Yadi, tolong ya, jangan ceritakan mengenai pertengkaran aku dan bang Ari pada kedua orang tuaku, aku tidak ingin mereka sedih karena masalah rumah tanggaku. "


Aku berpesan pada Yadi agar dia tidak menceritakan pertengkaran antara aku dan bang Ari pada ayah dan ibu.


" Iya, tenang aja.. aku ga mungkin cerita pada ayah dan ibumu. " jawab Yadi meyakinkan aku.

__ADS_1


" Terima kasih, Yadi." kata ku mengucapkan terima kasih pada Yadi dan hanya dijawab anggukan oleh Yadi.


Aku melihat anak Yadi yang menangis dalam gendongannya, lalu bertanya pada Yadi.


" Itu, Buana kenapa menangis terus? " tanyaku yang merasa kasihan karena Buana terus menangis dalam gendong Yadi.


Buana, anak Yadi seumuran dengan anakku, hanya selisih empat bulan, lebih tua anakku.


Aku mengambil Buana dari gendongan Yadi.


" Mungkin Buana haus, biar aku susui dikamar. " kataku pada Yadi.


Yadi hanya menganggukkan kepala, lalu ia masuk kedalam kamarnya.


Aku membawa Buana ke kamarku dan menyusuinya hingga ia tertidur.


Aku tidurkan Buana disamping anakku, lalu aku menyelimutinya.


*****


Keesokan harinya, aku dan bang Ari kembali bekerja seperti biasa.


Diantara kami sudah seperti biasa, seperti tidak pernah ada pertengkaran diantara kami.


Kaca lemari yang pecah sudah dibuang oleh bang Ari di tempat tumpukan beling.


Tadi pagi, saat ibu masuk ke kamarku untuk mengambil Nanda yang menangis karena baru bangun, ibu heran melihat pintu lemari yang tidak ada kacanya, dan ibu pun bertanya padaku.


" Kemaren kacanya pecah bu, kena ujung kursi waktu Titi mau ambil barang diatas lemari. " jawabku pada ibu.


Aku yakin ibu akan percaya, karena aku memang sering menggunakan kursi untuk mengambil sesuatu dari atas lemari.


" Kamu itu ada-ada aja, Ti. Lain kali hati-hati kalau mau mengambil sesuatu dari atas lemari.


Tapi kamu tidak apa-apa kan? "


Ibu bertanya mengenai keadaan ku dan meminta aku untuk berhati-hati.


" Iya, bu. " jawab ku singkat.


Selesai sarapan, aku dan bang Ari pun berangkat ke kantor.


*****


Siang ini di kantor sangat sepi karena tidak banyak kegiatan.


Akun dan mbak Dewi duduk di kursi tamu, sementara pak Beri duduk dibangku nya.


Kami mengobrol tentang segala hal.


Tiba-tiba, mbak Dewi bicara dan mengajakku untuk mengenakan jilbab.


Kami ke kantor memang menggunakan blazer, tidak lagi menggunakan rok pendek.

__ADS_1


Karena aku dan mbak Dewi sama-sama sudah berkeluarga, kami memutuskan untuk menggunakan blazer sebagai seragam kantor.


" Ti.. besok kita kekantor pakai jilbab, ya? " pinta mbak Dewi kepada ku.


" Kita kan sudah pake blazer nih, tinggal pakai jilbabnya aja. " kata mbak Dewi lagi.


" Baik mbak, kalau gitu besok kita sepakat ya untuk mengenakan jilbab." kata ku menyetujui ajakan mbak Dewi.


Akhirnya akun dan mbak Dewi sepakat untuk mengenakan jilbab saat kekantor besok.


Aku berfikir, besok mau mengenakan jilbab yang mana yang cocok dengan blazer yang aku miliki.


Aku memang tidak memiliki banyak jilbab, hanya ada beberapa yang dulu sering aku gunakan jika pergi ke masjid.


*****


Keesokan harinya, karena jilbab ku sudah banyak yang usang, akhirnya aku pinjam jilbab segitiga milik ibu.


Dulu, aku memang tidak pernah membeli jilbab, jilbab yang aku punya merupakan pemberian sepupu yang sekolah di pesantren.


" Bu .. Titi pinjam jilbab ibu ya, tapi yang masih bagus. Titi mau kekantor pakai jilbab, sudah janjian sama mbak Dewi. "


kata ku pada ibu.


" Cari aja sendiri di dalam lemari, dikamar ibu. " pintar ibu kepada ku.


Setelah mendapat izin dari ibu, aku pun ke kamar ibu untuk mengambil jilbab.


Setelah lama memilih, akhirnya aku mengambil jilbab segitiga yang berwarna cream.


Sebenarnya tidak sesuai dengan warna blazer yang aku gunakan, tapi biarlah hanya untuk sementara, nanti jika pulang lebih awal aku akan mengajak bang Ari ke pasar untuk membeli jilbab.


Dengan percaya diri aku berangkat ke kantor dengan mengenakan jilbab.


Saat mbak Dewi sampai di kantor, ia juga mengenakan jilbab seperti perkataannya kemarin.


Aku sedikit malu mengenakan jilbab hari ini karena warnanya yang tidak cocok dengan warna blazer yang aku pakai.


Tapi aku mencoba untuk cuek saja, yang penting aku sudah merasa nyaman saat mengenakan jilbab.


Teman-teman supir yang masuk ke kantor merasa heran saat melihat perubahan penampilan kami, dan mereka sangat mendukung perubahan itu.


Tapi, sebelum jam istirahat mbak Dewi sudah membuka jilbabnya.


" Lho mbak, kenapa jilbab nya dibuka? " tanya ku heran pada mbak Dewi yang duduk di depan ku dan membuka jilbabnya.


" Mbak ga tahan panas, Ti, asanya gerah banget." kata mbak Dewi.


Aku hanya tersenyum mendengar kata-kata mbak Dewi.


Rupanya mbak Dewi belum yakin untuk mengenakan jilbab.


****

__ADS_1


__ADS_2