
Setelah Ari pulang ke rumah, Titi beristirahat sendiri di ruangan itu.
Titi ingat pada Nanda yang ia tinggalkan bersama ibunya dirumah.
Nanda memang sudah biasa ditinggalkan kalau Titi dan Ari bekerja siang hari dan sempat Titi tinggal waktu Titi menjaga Ari dirumah sakit.
Walaupun Nanda tidak rewel saat ia harus tidur bersama neneknya, tapi sebagai ibu Titi suka merasa sedih dsn kasihan karena sering meninggalkan Nanda.
Titi berharap kali ini pun Nanda tidak menangis saat nanti papanya harus meninggalkannya bersama neneknya di rumah.
Tidak mungkin jika Nanda harus dibawa menginap di klinik bersalin.
" Assalamu'alaikum. " salam Ari saat ia sampai di rumah untuk mengambil pakaian ganti untuk Titi.
" Waalaikumsalam. " jawab ibu yang sedang menemani Nanda menonton televisi.
" Lho bang, Titi nya mana? kok abang pulang sendirian? " tanya ibu heran saat melihat Ari pulang sendirian.
" Titi harus dirawat bu, tadi badan Titi demam dan saat diperiksa Titi sudah pembukaan empat. Jadi menurut dokter Titi dirawat dulu di klinik agar jika terjadi sesuatu bisa langsung di pantau. "
Kata Ari menjelaskan keadaan Titi pada ibu.
" Astagfirullah, tapi Titi nya tidak apa-apa bang? kehamilan Titi kan baru masuk delapan bulan? " tanya ibu lagi pada Ari.
" Itulah bu, kenapa Titi harus dirawat, semoga tidak ada apa-apa.
Menurut dokter mungkin karena Titi kecapean dan dalam kondisi demam Titi mengalami kontraksi palsu.
Jika sampai besok Titi tidak ada apa-apa, maka Titi sudah boleh pulang.
Titi harus menghabiskan infus yang dipasang tadi sore. "
Ari menjelaskan keadaan Titi pada ibu agar ibu tidak merasa khawatir.
" Papa, mama mana? " tanya Nanda pada Ari saat ia tidak melihat mamanya datang bersama Ari.
" Mama sakit bang, abang sama nenek dulu ya? " jawab Ari pada Nanda.
" Bu, abang titip Nanda ya? karena abang mau menemani Titi di klinik. " pinta Ari pada ibu.
" Iya bang, biar Nanda sama ibu dirumah. Kalau abang mau ke klinik lagi pergi aja, Nanda ga akan nangis kalau sama ibu. "
Jawab ibu yang bersedia untuk menjaga Nanda.
Saat azan magrib berkumandang, ibu dan Ari melaksanakan shalat magrib dan Nanda ikut bersama Ari ke kamar.
Selesai shalat, Ari menyiapkan baju Titi yang akan dibawa ke klinik.
" Makan dulu, bang. " kata ibu pada Ari saat melihat Ari bersiap-siap untuk berangkat ke klinik.
" Abang nanti makan di klinik aja bu bareng sama Titi. " kata Ari pada ibu.
__ADS_1
" Tapi ibu ga masak lauk bang kalau mau bawa makanan ke klinik. "
Ibu mengatakan jika ibu tidak banyak memasak lauk jika Ari mau membawa makanan ke klinik.
" Tidak apa-apa bu, nanti abang beli saja di jalan sekalian ke klinik. "
Ari mengatakan pada ibu jika ia akan membeli makanan di luar sekalian pergi ke klinik.
" Abang pergi dulu bu, kasihan Titi ditinggal sendirian. Abang titip Nanda ya bu? maaf jika merepotkan ibu terus. "
Ari pamit pada ibu untuk pergi ke klinik sekaligus menitipkan Nanda pada ibu Titi.
Sebenarnya Ari tidak enak jika harus merepotkan ibu Titi karena selalu menjaga Nanda, tapi ibu tidak merasa keberatan dan tidak merasa direpotkan saat diminta menjaga Nanda.
Justru ibu sangat menyayangi dan memanjakan Nanda.
" Bang, papa pergi dulu ya? papa mau jagain mama di rumah sakit.
Abang di rumah sama nenek ya?
Abang ga boleh nakal kalau sama nenek. "
Tak lupa Ari berpamitan pada Nanda dan meminta Nanda untuk tidak nakal saat bersama neneknya.
" Abang mau ikut pa, abang mau sama mama. " kata Nanda yang tidak mau ditinggal oleh Ari.
" Eh, sini abang sama nenek ya? papa mau lihat mama dulu, mama abang kan sedang sakit. " kata ibu membujuk Nanda.
Melihat Nanda menangis, Ari merasa tidak tega. Ari pun menggendong Nanda dan membujuknya agar mau tinggal bersama neneknya.
Nanda tetap menangis dan tidak mau lepas dari gendongan Ari.
Ari tidak mungkin membawa Nanda menginap di klinik.
Ibu juga berusaha untuk membujuk Nanda agar mau ditinggal oleh papanya.
Ketika ayah mendengar Nanda yang menangis karena tidak mau ditinggal oleh Ari, ayah mencoba membujuk Nanda.
" Bang, ikut kakek yuk? kita nangkap cicak. Tuh didepan banyak cicak. " kata ayah pada Nanda yang sedang digendong oleh Ari.
" Ga mau, abang mau ikut papa ke tempat mama. " kata Nanda yang tidak mau ikut ayah saat ayah akan menggendongnya.
" Nanti kakek kasih abang karet buat nembak cicak, mau nggak? " bujuk ayah lagi.
" Iya bang kalau dapat cicaknya, abang masukkan kedalam toples untuk dipelihara. Nanti nenek kasih toplesnya sama abang. Nenek punya toples kecil untuk tempat cicak. "
Ibu juga berusaha membujuk Nanda agar lepas dari gendongan Ari dan mau ikut sama kakeknya.
Karena terus dibujuk sama kakek dan neneknya, akhirnya Nanda mau ikut kakeknya mencari cicak.
" Pergilah bang, biar Nanda sama ayah dan ibu dirumah, kasihan Titi kalau ditinggal sendirian. "
__ADS_1
Kata ibu yang meminta agar Ari segera menemani Titi di klinik.
Setelah mendengar Nanda tidak menangis lagi dan sedang sibuk mencari cicak sambil di gendong oleh kakeknya, Ari merasa lega dan segera pergi ke klinik setelah berpamitan pada ibu.
Jam tujuh malam, Ari sudah sampai lagi ke klinik dengan membawa pakaian ganti untuk Titi, juga makanan yang ia beli diluar karena ibunya tidak tahu jika Titi harus dirawat.
" Gimana may, apa masih sakit perutnya? " tanya Ari saat tiba di ranjang tempat Titi berbaring.
" Alhamdulillah sudah berkurang sakitnya pay, mungkin karena pengaruh obat melalui infus. " jawab Titi yang merasa jika perutnya tidak lagi terasa sakit.
" Alhamdulillah jika sudah berkurang sakitnya. " jawab Ari yang merasa lega. setelah mendengar kata-kata Titi.
Ari menyentuh dahi Titi dengan punggung tangannya, sudah terasa tidak begitu panas.
" Alhamdulillah suhu badan may juga sudah turun. " jawab Ari merasa bersyukur karena Titi juga sudah tidak demam lagi.
" Nanda gimana pay, apa dia tidak menangis saat ditinggal kesini? " tanya Titi yang teringat pada Nanda.
" Tadi sempat nangis dan tidak mau ditinggal, tapi setelah dibujuk ayah diajak nangkap cicak, akhirnya Nanda mau ditinggal bersama ayah dan ibu. " jawab Ari yang menceritakan pada Titi bagaimana Nanda menangis dan tidak mau ditinggal.
" Kasihan abang harus ditinggal dirumah. " kata Titi yang merasa kasihan pada Nanda karena harus ditinggal bersama nenek dan kakeknya.
" Makan dulu may, ini sudah ada nasi dari sini ya? " kata Ari yang meminta Titi untuk makan dan melihat ada makanan diatas meja kecil disamping tempat tidur Titi.
" Iya pay, itu tadi suster yang mengantarkan dan menaruhnya disana."
kata Titi menjelaskan pada Ari.
Ari membuka tutup makanan, terlihat ada nasi, sayur bening, tempe goreng, ikan goreng dan ada potongan buah.
" Ini makanannya paket lengkap. " kata Ari setelah melihat makanan yang disiapkan untuk Titi.
" Iya pay, tapi may tidak suka sama ikan gorengnya. " kata Titi yang tidak menyukai ikan air tawar.
" Nanti tukaran saja sama lauk pay.
Tadi pay juga beli nasi untuk may karena dirumah ibu tidak masak lauk.
Pay beli nasi ayam bakar, jadi may bisa makan sama ayam. "
Kata Ari yang akan menukar lauk milik Titi karena Ari tahu Titi tidak suka makan ikan kolam.
Setelah Titi duduk dengan nyaman diatas tempat tidur, Titi mulai makan bersama Ari.
Titi menolak saat Ari akan menyuapi nya karena Titi masih bisa makan sendiri walau ada selang infus ditangannya.
🦂🦂🦂
🦂🦂 Jangan menyakiti hati orang lain dengan alasan apapun jika tidak ingin balas disakiti. 🦂🦂
🦂🦂 Seorang wanita harus bisa menjaga harga diri dan kehormatannya agar ia tidak dipandang rendah oleh orang lain. 🦂🦂
__ADS_1