Nastiti

Nastiti
Bab 72. Ada Apa Dengan Ari?


__ADS_3

Cinta adalah sebuah latihan


Untuk saling memaafkan dan


saling mengerti..


🦂🦂🦂🦂


Masalah yang dihadapi dalam kehidupan berumah tangga disebabkan oleh salah paham dan tidak ada kesepakatan.


🦂🦂🦂🦂


Beberapa tahun kemudian...


Waktu terus berlalu, tidak terasa Nanda anak pertama Titi dan Ari sudah berusia tiga tahun.


Nanda tumbuh jadi anak yang sehat dan cerdas.


Ia tidak pernah rewel saat ditinggal pergi bekerja oleh orang tuanya.


Nanda lebih dekat dengan Titi dari pada Ari karena Ari yang jarang berada dirumah dan bermain dengan Nanda.


Titi menjalani kehidupan rumah tangga bersama Ari penuh dengan perjuangan.


Mereka masih tinggal bersama kedua orang tua Titi.


Ayah dan ibu Titi melarang saat Titi mengatakan ingin mengontrak rumah dan belajar mandiri.


" Jika Titi dan Ari sudah punya rumah sendiri, ayah dan ibu akan mengizinkan kalian meninggalkan rumah ini.


Mau siang atau malam kalian pergi akan kami izinkan, asal kalian punya tempat tinggal sendiri dan tidak mengontrak. "


Ibu menegaskan jika kami tidak diizinkan untuk meninggalkan rumah ayah dan ibu.


" Dirumah ini, tinggal ayah dan ibu yang sudah tua.


Pandu sudah punya rumah sendiri dan tinggal bersama istrinya walaupun mereka belum punya anak. "


" Sementara Tuti ikut dengan suaminya.


Kami juga sangat sayang sama Nanda yang kami urus sejak bayi.


Rasanya sangat berat harus berpisah dengan cucu kami itu. "


" Lebih baik uang untuk mengontrak Titi tabung, anggap saja uang itu untuk membayar kontrakan tiap bulan.


Saran ibu, Titi menabung dengan emas.


Maksud ibu, jika Titi ada uang belikan emas entah setengah atau satu gram perbulan. "


" Kenapa Titi harus menabung emas?


karena harga emas setiap tahun akan naik, tidak akan rugi saat kita jual emas beberapa tahun kedepan.


Beda jika kita menabung uang, uang akan mudah diambil walaupun kita menabung di Bank. "


" Saat tabungan emas Titi sudah banyak, bisa Titi gunakan untuk membeli tanah, lalu pelan-pelan bisa membangun rumah jika sudah ada tanahnya."

__ADS_1


" Ayah dan ibu sudah tua, anggap saja kalian menemani hari tua kami.


Suami Tuti tidak mau tinggal dirumah ini karena jauh dari tempat kerjanya.


Jadi kalianlah yang kami harapkan bisa menemani kami, agar kami juga bisa dekat dengan cucu. "


Panjang lebar ibu menasehati Titi dan Ari yang ingin mengontrak rumah.


Titi dan Ari pun faham dengan yang ibu maksud, dan mereka akan melakukan apa yang ibu sarankan.


Sejak itu, Titi dan Ari berusaha untuk menabung dengan menggunakan emas.


Setiap ada rejeki mereka gunakan untuk membeli emas dan menyimpannya.


Mereka tidak ingin mengecewakan ayah dan ibu, karena mereka juga belum punya tempat tinggal sendiri.


Sebenarnya, Titi ingin tinggal sendiri karena malu pada orang tuanya yang tahu bahwa Ari selalu mabuk-mabukan.


Tapi orang tua Titi faham dan meminta Titi untuk bersabar dalam menghadapi ujian rumah tangga.


" Jika memang ingin bertahan dengan rumah tangga mu, maka bersabarlah dengan ujian ini.


Mintalah pada Allah dalam sujud malam mu agar suami mu terbuka pintu hatinya. "


" Jika sebuah batu bisa berlubang karena terkena tetesan air yang bertahun-tahun, maka yakinlah bahwa suatu hari Ari akan berubah, Ari akan meninggalkan kebiasaan buruknya.


Allah pemilik hati setiap manusia, Allah yang dapat membolak-balikan hati, maka mintalah pada Allah. "


" Jika Titi tidak mampu melewati ujian ini, maka berhentilah selagi anak baru satu dan masih kecil, mungkin ada jalan lain untuk kehidupan Titi dan Nanda kedepannya. "


Ibu menasehati Titi tentang kehidupan rumah tangganya dengan Ari.


Dan Titi yakin bila suatu hari Allah akan membuka hati suaminya untuk kembali ke jalan Nya.


Karena sesekali Ari masih menjalankan shalat walau tidak lima waktu dan mengerjakannya saat ia sedang ingin shalat.


Melihat hal itu, ada harapan didalam hati Titi bahwa suatu hari Ari pasti bisa berubah.


****


Sudah satu minggu ini Ari pulang larut malam.


Setiap pulang, Ari akan mendengarkan musik dengan membawa tape kedalam kamar dan ia akan tidur dibawah dengan beralaskan selimut.


Sebenarnya Ari tidak tidur, ia hanya memejamkan mata sambil mengikuti lagu yang ia dengarkan.


Titi tidak tahu apa yang terjadi pada Ari.


Titi sudah berusaha menegur Ari karena merasa kasihan melihat keadaan Ari.


Siang harus pergi bekerja dan malam begadang.


" Bang.. mau kemana lagi? istirahat aja dirumah, lihatlah wajah abang sudah kuyu karena kurang tidur. "


pinta ku pada bang Ari saat melihatnya hendak pergi.


" Abang ada urusan sebentar. "

__ADS_1


jawab bang Ari, lalu pergi dengan mengendarai motornya.


Titi hanya bisa melihat kepergian Ari dengan perasaan sedih.


" Ya Allah, jaga dan lindungi bang Ari di manapun ia berada. Aamiin.. "


Do'a Titi dalam hati setelah Ari tidak terlihat lagi.


Menjelang subuh, bang Ari pulang dalam keadaan wajah yang terlihat merah.


Aku membukakan pintu kamar saat mendengar ia datang.


Bang Ari masuk setelah ayah membuka pintu dapur, karena ayah biasa bangun sebelum subuh lalu memasak air untuk mandi dengan menggunakan tungku kayu di dapur belakang.


Saat azan subuh, bang Ari meminta ku untuk shalat subuh.


" Pergilah berwudhu, dek.. lalu shalat subuh. Abang mau lihat adek shalat subuh. "


Bang Ari meminta Titi untuk berwudhu dan menjalankan shalat subuh.


Tanpa berfikir apapun, Titi berwudhu untuk melakukan shalat subuh, begitupun dengan Ari yang ikut berwudhu lalu mengenakan sarung.


Setelah mengenakan mukena, Titi mulai melaksanakan shalat subuh, tapi Ari hanya memperhatikan apa yang Titi lakukan.


Saat Titi mulai membaca Al Fatihah dan surat pendek, Ari menghentikan shalat subuh Titi.


" Berhenti..! bacaannya shalat nya salah, ulangi lagi. " kata bang Ari yang menghentikan shalat Titi.


Seperti orang yang bodoh, Titi mengikuti keinginan Ari.


Beberapa kali Titi mengulangi shalatnya yang selalu dianggap salah oleh Ari.


Titi mulai merasa ada yang tidak beres pada Ari.


Sementara Ari memanggil ayah dan ibu, lalu meminta mereka duduk di kamar bekas kamar bang Pandu.


" Ayah.. ibu.. saya sudah meminta Titi untuk melakukan shalat subuh, tapi shalatnya tidak pernah benar, selalu salah. " kata bang Ari pada ayah dan ibu Titi.


" Sekarang ayah lihat lah cara Titi shalat." kata bang Ari meminta ayah dan ibu untuk melihat Titi shalat.


Ayah dan ibu belum mengerti apa yang terjadi pada Titi.


Sambil menangis, Titi memberitahu keadaan Ari yang seperti tidak sadar pada ayah dan ibunya.


Titi tidak tahu apa yang terjadi dengan Ari. Entah ada apa dengan Ari.


Melihat gelagat Ari seperti apa yang Titi katakan, akhirnya ayah bicara pada Ari.


" Ari, sudahlah.. ini sudah hampir jam enam, kasihan Titi kalau kamu perlakukan seperti itu.


Jika memang Titi belum benar shalatnya, biar nanti ayah yang akan mengajari Titi tata shalat yang benar. "


Ayah mencoba berbicara dengan lembut pada Ari, walaupun terlihat jika ayah menahan rasa sedih karena melihat Titi yang sejak tadi menangis.


" Sekarang Ari istirahat dulu ya, biar nanti bisa lebih enakan. "


Ayah meminta Ari untuk beristirahat.

__ADS_1


🦂🦂🦂🦂


__ADS_2