Nastiti

Nastiti
Bab 99. Pov Ari.


__ADS_3

Pov Ari.


Sore ini saat masih berada diatas motor sepulang dari kantor Titi mengeluh sakit perut, mungkin Titi sudah waktunya mau melahirkan.


" Pay, perut may sakit, sepertinya mau melahirkan. "


Titi mengatakan jika perutnya sudah terasa sakit.


Mungkin Titi kelelahan karena setiap akhir bulan pekerjaan Titi cukup banyak.


Titi harus menyiapkan laporan juga tagihan.


Karena di kantor masih menggunakan mesin tik, pekerjaan Titi jadi lebih lama.


Titi harus duduk seharian menyelesaikan pekerjaannya.


Walaupun dalam keadaan hamil besar, Titi selalu berusaha menyelesaikan pekerjaannya dengan tepat waktu.


Ada laporan realisasi yang harus diserahkan setiap tanggal satu setiap bulannya dan tagihan di tanggal dua.


Jadi wajar jika hari ini Titi merasa kelelahan dan perutnya menjadi sakit.


" Sabar ya, mudah-mudahan lahir dalam keadaan sehat dan selamat. "


Kata ku pada Titi, mendoakan kelancaran lahiran Titi.


Aku menjalankan motor dengan kecepatan sedang karena takut perut Titi merasa sakit.


Waktu anak pertama Titi sudah cuti sebelum melahirkan, karena Titi mendapat cuti melahirkan selama tiga bulan.


Tapi kali ini, katanya cuti melahirkan hanya diberikan selama dua bulan, jadi Titi sengaja belum ambil cuti agar saat masuk kerja anak Titi sudah berusia dua bulan jadi tidak terlalu kecil untuk ditinggal bekerja.


Tiba dirumah, Titi mandi dan shalat ashar lalu beristirahat dikamar karena parut Titi sakitnya masih hilang timbul.


Saat magrib, Titi masih bisa melaksanakan shalat magrib.


Aku sudah memberitahu ibu mertua jika perut Titi sudah terasa mulas.


Ibu memasang plastik lebar diatas kasur sebagai alas Titi melahirkan.


Karena Titi ingin melahirkan dirumah sama seperti anak pertama yang lahir dirumah.


Aku sudah menelepon ibu bidan dan akan datang diantar oleh suaminya jadi aku tidak perlu menjemput ibu bidan.


Semua persiapan untuk Titi melahirkan sudah disiapkan oleh ibu.


Saat isya, Titi mulai merasakan sakit pada perutnya.


Aku dan ibu mertua menemani Titi dikamar.


Ibu bidan mengatakan jika pembukaan Titi sudah lengkap, tapi anak kami belum juga lahir.


Aku merasa kasihan melihat Titi yang kesakitan.


Titi memegang tanganku dengan erat, mungkin karena menahan rasa sakit.

__ADS_1


Ini pengalaman pertama aku melihat Titi melahirkan karena waktu anak pertama aku tidak berani melihat Titi melahirkan dan aku malah pergi bekerja karena ibu mertua mengizinkan aku untuk berangkat bekerja.


Titi seperti kehabisan tenaga karena menahan rasa sakit.


" Ti, jangan tidur ya? " kata bu bidan pada Titi karena melihat Titi sudah kelelahan.


Ibu sudah memberi Titi beberapa butir telur ayam kampung untuk membantu menambah tenaga Titi.


" Gimana perasaan Titi sekarang? " tanya bu bidan mengajak Titi bicara.


" Titi capek bu, Titi ngantuk pengen tidur. " jawab Titi pada bu bidan.


Bu bidan sepertinya takut terjadi sesuatu pada Titi karena Titi sulit melahirkan bayinya.


" Jangan, Titi jangan tidur. " kata bu bidan saat mendengar Titi ingin tidur.


" Ti, kita ke rumah sakit, ya? " pinta ibu bidan pada Titi.


Akhirnya bu bidan memutuskan untuk membawa Titi ke rumah sakit.


" Terserah ibu saja, Titi hanya mengantuk dan ingin tidur. " jawab Titi saat bu bidan menawarkan Titi untuk dibawa ke rumah sakit.


Mendengar Titi akan dibawa ke rumah sakit, aku menelepon kak Ruby untuk datang ke rumah membawa mobil.


Walaupun jarak dari rumah ke rumah sakit umum cuma sekitar empat ratus meter, tapi aku tidak mungkin membawa Titi menggunakan motor.


Setelah menelepon kak Ruby, aku kembali ke kamar untuk melihat keadaan Titi sambil menunggu kak Ruby datang.


Ibu juga kembali ke kamar dengan membawa segelas air putih.


Aku membantu Titi untuk duduk agar lebih mudah untuk minum.


Selesai minum, Titi kembali merebahkan badannya.


Aku tetap duduk disamping Titi sambil memegang tangan kanannya.


Tidak berapa lama setelah Titi meminum air putih,Titi merasakan perutnya kembali sakit.


Ibu bidan yang duduk di kursi segera bangkit dari duduknya dan langsung melihat jalan lahir Titi.


Titi kembali memegang tanganku dan tangan ibu saat ia merasakan perutnya teramat sakit.


Ibu membelai kepala Titi dan memberikan semangat pada Titi.


" Bismillah Ti, kamu pasti bisa. "


kata ibu pada Titi.


" Sudah terlihat kepalanya, Ti. Nanti kalau ibu minta untuk mengedan Titi mengedan ya? kalau tidak jangan dipaksakan. "


Bu bidan memeriksa jalan lahir dan mengatakan jika kepala bayi sudah terlihat.


Ibu bidan membantu Titi dengan memberikan aba-aba saat Titi harus mengedan.


Setelah dua kali mengedan, akhirnya terdengar suara tangis bayi dengan lantang.

__ADS_1


Akhir setelah lebih dari satu jam Titi berjuang, anak kedua kami lahir dengan selamat.


Ibu bidan mengangkat bayi itu dan memotong tali pusarnya.


Dalam keadaan masih berdarah, aku meminta bayi itu untuk menggendongnya.


Aku angkat tubuh kecil yang terlihat putih dan bersih.


Aku merasakan badannya begitu dingin saat berada di tanganku.


Aku sangat bahagia bisa melihat dan menggendong langsung anakku saat baru dilahirkan.


Aku lihat sekujur tubuhnya, semua terlihat sempurna dan tidak ada yang kurang.


Anak kami menangis kencang saat aku gendong.


Kulitnya begitu bersih dan rambutnya lebar dan hitam.


Lucu sekali saat melihat bibirnya yang mungil terbuka karena menangis.


Aku meng azani nya dengan perasaan terharu.


Tidak terasa aku dan Titi sudah mempunyai dua orang anak dan keduanya laki-laki.


Setelah aku menggendong dan meng azan nya, aku serahkan kembali pada ibu bidan untuk dimandikan.


Ibu bidan sudah membersihkan Titi dan memberikan ari-ari pada ibu.


Ibu bidan tahu tradisi ibu membersihkan ari-ari dan memberi rempah sebelum ari-ari dikuburkan.


Setelah anakku lahir, kak Ruby dan suaminya baru sampai ke rumah.


Kak Ruby bersyukur karena Titi bisa melahirkan di rumah dan tidak jadi dibawa ke rumah sakit.


Saat ibu bidan memandikan bayi kami, ibu meminta bantuan ku untuk menurunkan Titi sebentar dari tempat tidur karena ibu akan mengambil perlak alas Titi untuk melahirkan.


Setelah mengambil perlak, ibu merapikan tempat tidur dan Titi kembali aku rebahkan diatas kasur yang sudah dirapikan ibu.


Ibu juga menyiapkan baju dan perlengkapan bayi untuk dikenakan anakku setelah mandi.


Setelah mengenakan pakaian dan dibedong, ibu bidan meminta Titi untuk menyusui bayi kami.


Ibu bidan mengatakan jika bayi aku dan Titi sangat mirip denganku.


Memang benar, jika bayi kami sangat mirip denganku, tidak ada yang terbuang, wajahnya benar-benar mirip dengan ku


Bayi itu seperti aku versi bayi.


Malam ini aku benar-benar bersyukur Titi sudah melahirkan anak kedua kami dengan selamat, tidak ada yang kurang sesuatu apapun.


Meski sempat akan dibawa ke rumah sakit, ternyata Titi bisa melahirkan dirumah dengan selamat.


Kami semua berucap syukur atas lahirnya bayi laki-laki dalam keadaan selamat.


🦂🦂🦂

__ADS_1


🦂🦂Mengucapkan Alhamdulillah saat mendapatkan sesuatu yang baik ataupun menerima kabar baik, merupakan salah satu cara kita bersyukur kepada Allah. 🦂🦂


__ADS_2