Nastiti

Nastiti
Bab 24. Hanya Sebatas Teman.


__ADS_3

Titi merasa senang, suasana kaku bersama Dendy bisa ia atasi.


Ia bisa lancar ngobrol sama Dendy.


Titi tahu, bila Dendy mungkin ga sreg melihat penampilannya, tapi Titi tak perduli.


Menurut Titi, jika Dendy suka maka Dendy akan menerima Titi apa adanya, jika tidak maka mereka bisa berteman aja.


Toh, Titi juga tidak merasakan apapun saat bersama Dendy, tidak ada perasaan suka atau naksir, perasaannya biasa saja.


" Sebenarnya, Titi gadis yang baik, ia ramah dan sopan.


Tapi, aku heran dengan penampilannya, ia terlihat sedikit tomboy, jauh dari kata feminim."


Dendy bermonolog dalam hatinya.


Titi dan Dendy sedang sibuk dengan fikiran mereka masing-masing.


**"**


" Aku ingat, seminggu yang lalu saat bertemu bude Surti


Bude Surti salah seorang tetangga dekat rumah ku, ia seorang tukang urut sementara suaminya berternak sapi.


Aku memintanya datang ke rumah untuk mengurut kaki ku yang terkilir karena main bola.


Sambil mengurut pergelangan kaki ku, bude Surti bertanya,


" Sendiri aja mas, di rumah? keluarganya dimana?"


" Iya, bude..saya sendirian aja, keluarga saya ada di kota lain." jawab ku.


" Mas nya, belum menikah?" bude bertanya lagi.


" Belum bude, belum ketemu yang cocok!" jawab ku lagi.


" Masa belum ada yang cocok, mas sudah kelihatan mapan.


Punya rumah sendiri, punya kendaraan, masa belum punya calon?" tanya bude penasaran.


" Iya, bude, bener aku belum punya calon, kalau bude ada kenal gadis yang bisa dikenalkan, boleh dikenalkan sama saya!" Aku menjawab rasa penasaran bude Surti.


" Bener nih, mas?


Bude ada kenal seorang gadis, ia adik dari anak angkat bude.


Bude, kenal baik sama dia, namanya Titi.


Titi, berumur dua puluh dua tahun, ia bekerja di sebuah perusahaan jasa."


" Apa Titi tidak punya pacar, bude?" tanya ku pada bude.


" Titi sepertinya tidak punya pacar, ia gadis yang punya banyak teman laki-laki, tapi tidak ada teman dekat.


Titi, tidak suka keluyuran, ia cuma keluar rumah cuma untuk bekerja, sore ia ke masjid untuk mengaji, ia juga menjadi pengurus remaja masjid."


Bude menjelaskan mengenai Titi, pada ku.

__ADS_1


" Kalau mau, nanti bude kenalkan sama Titi. Kapan mas nya bisa ketemu sama Titi?" tanya bude minta kesediaan ku untuk bertemu Titi.


" Apa kalau saya langsung datang kesana, Titi mau bertemu saya?


Bude ada fotonya ga? kalau ada, saya bisa lihat dulu lewat foto." ujar ku meminta foto Titi.


" Ga ada, mas..bude ga nyimpan fotonya.


Kalau boleh, bude minta foto mas aja, biar bude kasih ke Titi." pinta bude yang meminta foto ku.


" Iya, bude..nanti saya kasih foto saya untuk diberikan pada Titi.


Insya Allah, selasa malam saya main ke rumah Titi." kata ku pada bude.


" Ciri-ciri nya Titi gimana, bude?" tanya ku.


Titi, kulitnya putih, rambutnya panjang, tingginya sekitar seratus lima puluh lima centi meter, hidungnya biasa, tidak pesek dan tidak pula mancung." bude menceritakan ciri-ciri phisik Titi.


" Baiklah, besok bude antar foto mas ke rumah Titi, kebetulan bude mau kesana, ibu Titi mau minta diurut." kata bude pada ku.


" Baiklah, bude..semoga Titi menerima kedatangan saya nanti ke rumah nya." ucap ku sambil tersenyum.


" Iya mas, nanti saya kasih tahu Titi kalau mas mau main kesana!" kata bude Surti.


Setelah selesai mengurut kaki ku, bude pamit untuk pulang.


Setelah bude pulang, aku pun beristirahat.


" Dikamar, aku teringat percakapan ku dengan bude Surti tadi.


Syukur-syukur bila Titi sesuai dengan kriteria calon istri ku, bila tidak, kami bisa berteman." monolog Dendy sambil tersenyum mencoba membayangkan wajah Titi seperti yang diceritakan bude Surti tadi.


**"**


Setelah lama terdiam dengan fikiran masing-masing, Titi memecah kesunyian dengan bertanya pada Dendy.


" Mas Dendy, sudah lama kenal dengan bude Surti?" tanya Titi.


Dendy sedikit terkejut dengan pertanyaan Titi, karena ia masih asik dengan lamunannya.


"Eh..iya..lumayan lama, sejak saya pindah ke perumahan dekat rumah bude." jawab Dendy.


Mereka kembali dengan obrolannya.


Karena hari menjelang malam, Dendy pamit pada Titi.


" Maaf, Ti..ga terasa sudah jam sembilan tiga puluh, saya pamit pulang dulu." ujar Dendy pada Titi.


" Iya, mas..terima kasih sudah mau main kesini, jangan kapok ya untuk main lagi." kaya Titi pada Dendy.


" Baik, Insya Allah nanti kapan-kapan saya main lagi, asal Titi ga bosan melihat saya datang kesini!" kata Dendy lagi pada Titi.


Setelah saling berbasa basi, akhirnya Dendy pun meninggalkan rumah Titi.


Setelah Dendy pulang, Titi membereskan gelas dan piring bekas menjamu Dendy, lalu membawanya ke dapur.


Setelah menaruhnya didapur, Titi masuk ke kamarnya untuk beristirahat.

__ADS_1


***""***


Pagi ini, seperti biasa Titi bersiap untuk berangkat bekerja.


Ia, keluar kamar menuju meja makan untuk sarapan.


Ia melihat bang Pandu dan Tuti sudah ada dimeja makan.


Ayah sedang minum kopi dengan ditemani singkong bakar yang diolesi mentega dan ditaburi gula pasir.


Ibu duduk disamping Tuti yang sedang makan nasi goreng.


Ibu hanya minum teh hangat dan makan singkong bakar yang dibuat ayah.


" Gimana tadi malam, Ti? sukses ga?" tanya ibu.


" Apanya yang sukses, bu?" tanya Titi balik.


" Itu, pertemuan sama Dendy, apa kalian sama-sama cocok?" tanya ibu lagi.


" Ga lah, bu..Titi merasa biasa-biasa aja ga ada perasaan apapun, Dendy juga sepertinya sama, ga ada perasaan apa-apa pada Titi, jadi Titi hanya menganggap Dendy hanya sebatas teman!" Titi menjawab pertanyaan ibu sekaligus memberi penjelasan tentang pertemuannya dengan Dendy.


Ibu menghela nafas, lalu memandang pada ayah.


Ayah hanya diam mendengar obrolan ibu dan Titi.


Saat ibu memandang ayah, hanya hanya diam sambil menyeruput kopinya.


Bagitu pun Pandu dan Tuti, tidak ikut nimbrung mendengar obrolan ibu dan Titi.


Mereka tahu, ibu bermaksud menjodohkan Titi dan Dendy.


Bude Surti bilang pada ibu bahwa Dendy serius mencari calon istri, karena ia sudah mapan dan siap berumah tangga.


" Memang kamu ga naksir pada Dendy, Ti?" tanya ibu lagi.


" Ga lah, bu..Titi belum merasa sreg sama Dendy!" jawab Titi.


" Lha..kamu mau cari yang gimana lagi, Ti? Dendy punya pekerjaan yang jelas, punya kendaraan pribadi dan sudah punya rumah sendiri.


Dendy juga serius sedang mencari calon istri.!" kata ibu sedikit kesal pada Titi.


Titi hanya diam, tidak membalas perkataan ibu, Titi tidak mau menambah kekesalan ibu bila ia mengemukakan pendapatnya tentang Dendy.


" Gimana mas Dendy mau suka sama mbak Titi, lha mbak Titi aja tampil asal-asalan, ga mau dandan." ujar Tuti, akhirnya menimpali kata-kata ibu.


" Sudah, anak kecil ga usah ikut campur.


Sudah selesai belum sarapannya? kalau sudah, mbak sudah mau berangkat kerja, kalau mau bareng, cepat ga usah bawel!"


Titi menegur Tuti agar cepat menyelesaikan sarapannya dan tidak ikut-ikutan masalahnya dengan Dendy.


Setelah menyelesaikan sarapan, Pandu pamit pada ayah dan ibunya untuk berangkat bekerja.


Begitupun Titi dan Tuti pamit ke tempat tujuan masing-masing.


***""***

__ADS_1


__ADS_2