Nastiti

Nastiti
Bab 86. Awal Titi Bekerja


__ADS_3

Hampir setengah jam, bang Ari dan Titi sampai di kantor.


Titi dan bang Ari masuk ke ruangan karena pintu telah terbuka.


" Assalamu'alaikum. " salam bang Ari dan Titi saat memasuki kantor.


" Waalaikumsalam. " jawab pak Bari.


Ternyata pak Bari sudah ada di kantor dan tengah duduk di mejanya.


Bang Ari menghampiri meja pak Bari dan bersalaman dengan pak Bari.


" Sehat pak? " tanya bang Ari pada pak Bari.


" Alhamdulillah sehat. Gimana Ri, kamu sudah sehat? " tanya pak Bari yang membalas uluran tangan bang Ari dan mereka berjabatan tangan.


" Alhamdulillah Ari sudah sehat pak, dan sudah siap untuk bekerja lagi. " jawab bang Ari dengan tersenyum pada pak Bari.


" Alhamdulillah jika sudah sehat dan siap bekerja lagi. " kata pak Bari.


Setelah berjabat tangan dan saling bertanya kabar, bang Ari duduk dihadapan pak Bari.


" Gimana hari ini, pak? apa banyak angkutan? " tanya bang Ari pada pak Bari.


" Tidak juga, semua cuma dapat sekali jalan. Ini jadwal untuk hari ini. "


Pak Bari menjawab bahwa untuk hari ini tidak banyak angkutan dan memberi jadwal pengiriman hari ini pada bang Ari.


Bang Ari mengambil jadwal yang diberikan oleh pak Bari lalu melipat dan memasukkan kedalam kantong kemeja yang dikenakannya.


" Kalau begitu, Ari lapangan dulu pak, biar cepat dapat DO dan tidak mengantri lama. " kata bang Ari pada pak Bari.


Bang Ari berdiri dari duduknya lalu menyiapkan keperluan untuk berangkat ke lapangan.


Setelah memasukkan keperluan kedalam tas yang dibawanya, bang Ari berpamitan pada Titi untuk pergi ke lapangan.


" Dek, abang berangkat dulu ya? biar cepat selesai, karena cuma dapat sekali-sekali jadi bisa cepat. " kata bang Ari yang pamit pada Titi.


" Iya bang, semoga supirnya pada cepat datangnya biar bisa ambil antrian duluan. " jawab Titi.


Setelah berpamitan pada Titi dan pak Bari, bang Ari menaiki motornya dan melaju menuju ke tempat ia melakukan pekerjaannya.


" Setelah sakit, Ari kelihatan kurus ya Ti?" kata pak Bari pada Titi.

__ADS_1


" Iya pak, apalagi saat baru pulang dari rumah sakit, sudah seperti orang tua wajahnya." ucap Titi pada pak Bari.


" Semoga semua jadi pelajaran buat Ari agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. " kata pak Bari yang berharap agar Ari tidak lagi melakukan hal yang merugikan dirinya dan menyusahkan orang lain.


" Iya pak, semoga saja bang Ari mau berubah. " kata Titi yang memiliki harapan yang sama dengan pak Bari.


Bukan rahasia lagi jika semua orang sudah tahu bagaimana pekerjaan bang Ari setelah pulang dari kantor.


Para supir sering bercerita jika bang Ari sering berkumpul dengan teman-temannya, baik para supir maupun temannya yang lain, lalu mereka akan minum minuman keras.


Sudah sering pula Titi menasehati bang Ari agar tidak melakukan hal itu lagi.


Tapi bang Ari masih terpengaruh dengan teman-temannya yang rata-rata tukang minum.


Bang Ari tidak pernah menolak jika ada temannya yang mengajak minum, ia lebih mendengar apa kata temannya dari pada istrinya.


Titi selalu bersabar menghadapi perilaku bang Ari. Titi yakin jika ini hanya ujian bagi rumah tangganya.


Dan Titi yakin jika suatu hari, bang Ari akan meninggalkan kebiasaan buruknya, yaitu minum minuman keras.


Pukul delapan, mbak Dewi sampai ke kantor dengan diantar suaminya yang masih mengenakan seragam kerja.


" Assalamu'alaikum. " salam mbak Dewi saat memasuki kantor.


" Maaf ya telat, nunggu suami turun dulu baru berangkat, soalnya malas jalan dari rumah ke pinggir jalan untuk menunggu angkot. " kata mbak Dewi yang menjelaskan mengapa ia datang terlambat


Titi dan pak Bari memahami kedatangan mbak Dewi yang kesiangan.


Rumah mbak Dewi memang jauh dari pinggir jalan, dan kalau berjalan kaki bisa memakan waktu sepuluh menit dari rumah mbak Dewi ke. pinggir jalan.


" Belum ke lapangan, pak? " tanya mbak Dewi pada pak Bari saat melihat pak Bari masih sibuk menulis dibuku catatannya dan belum terlihat akan berangkat ke lapangan.


" Tadi Ari sudah mulai masuk kerja, jadi mulai sekarang Ari yang di lapangan lagi. " jawab pak Bari.


Memang selama Ari sakit, pak Bari lah yang menggantikan Ari bertugas di lapangan.


" Alhamdulillah, jadi Ari sudah sehat benar Ti? " tanya mbak Dewi pada Titi.


" Iya mbak, bang Ari sudah sehat dan sudah mulai masuk kerja lagi. " jawab Titi pada mbak Dewi.


Akhirnya merekapun sibuk dengan pekerjaan masing-masing.


Mbak Dewi menyiapkan surat jalan dan uang makan, sementara Titi merapikan DO yang akan dibuat tagihan.

__ADS_1


Pak Bari mencatat pengiriman hari ini,. nomor polisi, tujuan pengiriman dan nama supir yang mengirim barang.


Semua punya tugas masing-masing.


Antara pak Bari dan Titi punya tugas yang sama, Titi punya catatan seperti yang pak Bari miliki.


Hal ini untuk mencocokkan laporan dan tagihan yang akan dibuat.


Setiap laporan dan tagihan yang dibuat oleh Titi akan diperiksa ulang oleh pak Bari.


Jika ada ketidakcocokan, maka Titi dan pak Bari akan mencocokkan catatan mereka masing-masing untuk mencari kesalahan dari laporan dan tagihan.


Agar tidak melakukan pekerjaan yang sia-sia dan melelahkan, sebelum membuat tagihan ataupun membuat laporan, Titi akan mencocokkan laporannya dengan pak Bari.


Setelah keduanya cocok, baru Titi mengetik laporan dan tagihan tersebut.


Di kantor Titi memang masih menggunakan mesin tik untuk membuat laporan, tagihan ataupun surat menyurat. Makanya jika ada kesalahan dalam mengetik pekerjaannya, Titi akan mengulang dari awal.


Titi mengawali pekerjaannya semenjak masih gadis.


Beberapa bulan setelah tamat sekolah kejuruan, Titi ditawari bekerja di perusahaan milik pak Dani yang merupakan tetangga depan rumahnya dulu, sebelum orang tua Titi pindah ke rumah yang sekarang.


Titi tentu senang menerima tawaran pekerjaan dari pak Dani, apalagi Titi baru tamat sekolah.


Titi sekolah kejujuran jurusan akuntansi pembukuan.


Saat pak Dani tahu Titi tamatan akuntansi, maka pak Dani menawarkan pada Titi untuk bekerja di kantornya.


Tentu dengan senang hati Titi menerima tawaran pekerjaan dari pak Dani.


Mungkin karena pak Dani sudah mengenal baik keluarga Titi, makanya pak Dani mengajak Titi untuk bergabung di perusahaan yang didirikannya.


Hubungan orang tua Titi dan pak Dani sangat baik, karena orang tua Titi termasuk orang lama yang tinggal dikampung mereka.


Walau sama-sama pendatang, tapi orang tua Titi jauh lebih dulu tinggal di sana.


Banyak pengalaman yang Titi dapat dari pekerjaan Titi saat ini, terutama berinteraksi dengan banyak orang.


Titi memang sedikit sulit berinteraksi karena Titi punya rasa minder dan suka merasa rendah diri.


Mungkin karena berasal dari keluarga yang sederhana jadi Titi kurang punya rasa percaya diri.


🦂🦂🦂

__ADS_1


__ADS_2