Nastiti

Nastiti
Bab 23. Bertemu orang yang akan dijodohkan.


__ADS_3

Feni menatap Titi yang asik dengan es campur nya, ia melihat Titi seperti tak peduli dengan orang yang katanya mau dikenalkan padanya.


Titi seperti tak ada beban dengan keinginan orang tuanya yang akan mengenalkan nya pada seseorang.


" Ti, kamu ga masalah mau dikenalkan pada seseorang oleh orang tua angkat bang Pandu?


Apa kamu ga deg-deg an, atau merasa penasaran dengan orang itu?" Feni masih penasaran pada Titi.


" Kan, sudah aku bilang, akan aku jalani aja dulu.


Lihat aja pas bertemu dengan dia, apa reaksinya saat bertemu sama aku.


Ga usah takut, nanti aku ceritakan hasil pertemuannya, agar kamu ga penasaran.


Atau kamu mau nginap di rumah, biar bisa lihat langsung?" Titi menjawab pertanyaan Feni yang masih juga penasaran.


" Pulang yuk, Fen, dah mau magrib...bakso sama es dah ludes dari tadi, nanti kamu nanya lagi masalah yang sama, pusing aku dengernya!" ajak Titi pada Feni.


" Iya, Tik..yuk kita pulang, aku juga sudah kenyang!" balas Titi.


Akhirnya, mereka meninggalkan warung bakso langganan mereka dan langsung naik angkot karena kebetulan ada angkot .tut,yang lewat.


***


Malam ini, Titi bersiap menemui orang yang akan dikenalkan pada nya.


Katanya, orang itu akan datang selepas isya.


Tak ada persiapan khusus sebenarnya, karena Titi ingin tampil apa adanya, tidak ada yang dibuat-buat.


Justru, ia ingin tahu reaksi orang itu saat melihat penampilan Titi.


Apa ia akan menilai Titi dari penampilannya atau dari cerita yang disampaikan ibu angkat Pandu pada nya.


Titi, hanya memoles wajahnya dengan bedak bayi, tanpa memakai lipstik.


Ia tampil seperti hari-hari biasa.


Titi memang tidak suka berdandan, saat berangkat kerja pun, ia hanya memakai bedak, bila moodnya sedang baik, ia akan memakai lipstik.


Ia memakai celana levi's warna navi dengan kemeja bergambar floral.


Ujung kemeja, ia ikat simpul.


Gaya Titi kelihatan sedikit urakan, rambutnya yang panjang ia ikat ekor kuda.


Titi, hanya ingin melihat penilaian lelaki itu padanya saat melihat penampilan Titi yang terkesan tomboy.


Sambil menunggu tamunya, Titi melanjutkan membaca novel di kamarnya.


Tak lama, ada yang mengetuk pintu depan.


Titi keluar kamar, karena ia yakin bila yang datang adalah tamu yang ditunggunya.


Tok...


Tok...


Tok...


" Assalamualaikum.."


Suara pintu diketuk dan terdengar ada yang mengucap salam.


Ceklek...


Titi membuka pintu sambil menjawab salam.

__ADS_1


" Waalaikumsalam warahmatullah.."


Seorang laki-laki dengan perawakan tinggi, berkulit putih dan hidung mancung berdiri dihadapan Titi.


Kelihatan lebih tampan dari pada di foto yang ia lihat.


" Maaf, mbak..benar ini rumah mbak Titi?"


Pria itu bertanya pada Titi.


" Iya, mas, benar ini rumah Titi, dan saya yang bernama Titi!


Panggil Titi aja, mas..biar enak, sepertinya usia Titi lebih muda dari mas!" kata Titi menjawab pertanyaan pria itu, dan memberitahu bahwa ia adalah Titi dan meminta pria itu untuk memanggil namanya tanpa embel-embel mbak, karena Titi lihat usia pria itu ada diatasnya.


" Ah, iya..saya Dendy, tetangga bude Surti.


Baiklah, saya panggil Titi aja!"


Dendi mengulurkan tangan pada Titi untuk berkenalan, dan setuju saat Titi memintanya memanggil nama.


Titi membalas jabatan tangan Dendy, lalu menyilakan nya untuk masuk.


" Silakan masuk, mas!".


" Baik, mbak..terima kasih!"


Dendy pun masuk mengikuti langkah Titi.


" Silakan duduk, mas.


Mas, mau minum apa? teh atau kopi?"


Titi mempersilakan Dendy duduk, lalu menawarkan minum pada Dendy.


" Terima kasih, kalau boleh saya minta teh manis hangat aja!" ucap Dendy pada Titi.


Didepan pintu dapur, Titi bertemu ibu yang mau masuk ke dalam rumah.


" Sudah datang tamunya, Ti?" tanya ibu.


" Sudah bu, ini Titi mau buat teh dulu!" jawab Titi.


" Ya sudah, ibu mau ke kamar dulu, ayah minta dikerokin.!" kata ibu pada Titi.


" Baik, bu!" kata Titi pula.


Setelah membuat dua gelas teh, untuk Dendy dan untuk dirinya sendiri, Titi membawa minuman dan cemilan ke ruang tamu.


Ia, menaruh minuman dan makanan di atas meja.


" Silakan diminum tehnya, mas.. cemilannya juga silakan dimakan!"


Titi mempersilakan Dendy untuk menikmati makanan dan minuman yang dibawanya.


" Terima kasih!" jawab Dendy.


Dendy memperhatikan Titi yang duduk dihadapannya.


Ia terlihat santai saat Dendy menatapnya, padahal dalam hatinya merasa malu saat Dendy memandang lekat kearahnya, Titi juga sedikit salah tingkah.


" Usia, Titi sekarang berapa?" tanya Dendy.


" Dua puluh dua tahun, mas!" jawab Titi.


" Kata bude, Titi sudah bekerja ya? kerja dimana?" tanya Dendy lagi.


" Iya, mas..Alhamsdulillah Titi sudah kerja.

__ADS_1


Titi kerja di perusahaan jasa, yang dekat kantor desa sebelum pelabuhan, mas!" jawab Titi


Dendy terdiam, ia kembali memperhatikan Titi.


" Titi, lumayan cantik sih..sederhana, dan tidak dandan berlebihan, justru terkesan tidak suka dandan.


Tapi..cara berpakaiannya suka-suka, mengenakan celana panjang dengan kemeja yg bagian bawahnya diikat simpul.


Melihat penampilannya, sepertinya Titi tidak serius untuk menjalin sebuah hubungan yang lebih dekat."


" Kata bude, orang tua Titi ingin agar Titi bisa cepat punya pasangan, mengingat usianya sudah dua puluh dua tahun tapi tidak punya kekasih.


Gimana ya? melihat cara Titi yang seperti itu, kayanya tidak sesuai dengan apa yg bude sampaikan, bahwa Titi seorang gadis lembut dan sedikit pemalu.


Titi, tidak sesuai dengan apa yang aku bayangkan!"


Dendy bermonolog dalam hatinya, ia berfikir bahwa Titi tidak sesuai dengan apa yang diharapkan nya.


Ia sedikit kecewa, karena awalnya ia begitu semangat ketika bude ingin memperkenalkan dirinya dengan adik dari anak angkatnya.


Melihat Dendy yang terdiam, Titi merasa bahwa Dendy kecewa dengan penampilan Titi.


Tapi, Titi tidak perduli, justru ia ingin tahu apa penilaian Dendy saat bertemu dengannya, dan apakah Dendy akan melanjutkan perkenalan ini kearah yang lebih serius atau cukup pertemuan malam ini saja.


Terus terang, saat bertemu dengan Dendy, Titi juga tidak merasa deg-deg an, ia malu dan salah tingkah saat ditatap lekat oleh Dendy, bukan karena suka pada Dendy, tapi lebih karena merasa ga nyaman dengan tatapan Dendy padanya.


Untuk mengusir suasana canggung karena mereka sama-sama terdiam, Titi mengambil gelas teh miliknya dan meminum sedikit tehnya untuk membasahi tenggorokannya.


Ia juga meminta Dendy untuk meminum teh.


" Di minum dulu tehnya, mas, ga enak kalau sudah dingin.


Cemilannya juga dimakan!" tawar Titi pada Dendy.


" Iya, Ti..terima kasih!" jawab Dendy sambil meminum teh yang sudah terasa dingin.


Ia juga mengambil cemilan yang ada di atas piring dan memakannya.


Karena Dendy masih terdiam sambil menikmati cemilan, Titi berinisiatif untuk memulai obrolan.


Ia bertanya pada Dendy, " Mas, kerja di dealer besar disimpang empat lampu merah yang depan masjid Nurul Huda, ya?"


" Iya, saya kerja di sana, Titi tahu dari mana saya bekerja di sana?"


" Bude Surti yang bilang, saya juga sering ke percetakan besar yang ada di depan dealer tempat mas kerja, mencetak keperluan kantor.


Di tempat mas kerja, juga ada teman mbak Dewi, dan pernah main ke kantor!"


" Mbak Dewi, siapa?"


" Teman Titi di kantor, mas."


" Siapa teman mbak Dewi yang kerja di tempat mas?"


" Namanya, mas Iyan. Ia dulu teman kuliah mbak Dewi.


Ia datang bersama dua temannya, tapi Titi lupa, siapa namanya."


" Ah..iya, saya tahu sama pak Iyan, ia kepala di divisi saya."


Karena Titi bisa mengendalikan keadaan, maka suasana canggung pun kembali hangat oleh obrolan mereka.


***


Note : Gimana, penasaran ga sama hubungan Titi dan Dendy selanjutnya?.


Jangan lupa untuk tetap dukung karya ini dengan memberi Like, Komen dan Vote nya ya?🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2