
Titi tersenyum melihat Feni yang kesal karena ia memukul pelan tangan Feni.
" Maaf..aku mukul juga ga kuat kok, aku tuh gemes sama kamu Fen, kalau nanya selalu beruntun, ga pernah satu-satu!" kata Titi pada Feni.
Feni pun tersenyum, lalu ia berkata, " Iya, ga papa kok Ti, ga sakit juga.
Aku cuma penasaran sama cowok itu!"
" Iya, aku juga ga tahu Fen, aku juga baru melihatnya tadi.
" Kenapa, kok kayanya kamu penasaran banget? Jangan-jangan langsung terpesona pada pandangan pertama, ya?" tanya Titi menggoda Feni.
" Ga lah, Ti..cuma penasaran aja, emang Dendi mau aku kemana in? seharusnya kamu tuh yang terpesona, kamu kan lagi free, ga ada gandengan!" balas Feni menggoda Titi.
" Ah kamu mah, Fen, kamu yang heboh malah kamu yang ngeledekin aku!" ujar Titi pura-pura marah pada Feni.
Feni tertawa kecil mendengar protes dari Titi.
Feni memang suka menggoda Titi, temennya itu ga gampang marah dan bersikap cuek bila dijodoh-jodoh dengan teman-teman cowok di kantornya.
Ia ingat, saat ada beberapa temannya yang bagian lapangan menggoda Titi, dan suka pada Titi, tapi Titi bersikap biasa saja.
Ia hanya menganggap mereka sebagai teman, tidak lebih.
Feni terkadang heran dengan sikap Titi, semenjak putus dengan Toni, ia tak pernah dekat dengan lelaki lain.
Bila Feni bertanya, mengapa ia tak menerima salah satu dari rekan-rekan mereka yang suka pada Titi, Titi hanya menjawab bahwa ia merasa nyaman menjalani kehidupannya saat ini, tanpa ada orang spesial yang mendampinginya.
Titi berkata, bila sudah jodoh, semua akan datang dengan sendirinya, jadi jalani aja semua tanpa beban.
Akhirnya, Titi dan Feni tiba dijalan raya, mereka berpisah karena berbeda arah.
°°°°°° ^_^ °°°°°°
Pagi ini, Titi menyiapkan pekerjaannya seperti biasa.
Ia merapikan catatan dalam buku kerja hariannya.
" Aduh, kok blanko uang transport dan kas keluar sudah habis ya? Mana yang lagi dicetak baru lusa selesai.
Kok aku bisa teledor, biasanya ga sampai kehabisan blanko.
Gimana ya untuk blanko hari ini dan besok?, coba tanya mbak dulu." monolog Titi saat melihat ada blanko yang telah habis.
Lalu, Titi menghampiri meja mbak Dewi.
" Mbak, masih nyimpan blanko transport dan kas keluar ga? punya Titi sudah habis, yang kemaren kita cetak, baru lusa selesainya!" kata Titi pada mbak Ida.
" Ga ada, Ti! blanko kan biasanya Titi yang simpan. Kalau sudah habis, untuk sementara di copy aja dulu Ti!" ujar mbak Dewi pada Titi.
" Baik, mbak, kalau gitu Titi photo copy dulu." jawab Titi.
Titi kembali ke mejanya dan mengambil blanko yang akan di photo copy, lalu keluar untuk memphoto copy, di seberang kantor ada toko alat tulis dan photo copy.
__ADS_1
Tiba disana, ternyata tempat photo copy tutup, lalu Titi kembali ke kantor.
" Mbak, Titi mau moto copy ke simpang empat ya, yang didepan tutup." pamit Titi pada mbak Dewi.
" Iya, Ti, ga papa, bawa motor kantor aja, kuncinya ada ditempat menyimpan kunci." kata mbak Dewi pada Titi.
" Baik, mbak!" jawab Titi.
Titi pun mengambil kunci motor, lalu keluar untuk pergi memphoto copy.
Saat Titi baru keluar dan tak jauh dari rumah Ana, tiba-tiba motor yang Titi kendarai berhenti.
Titi tak tahu mengapa tiba-tiba motornya, mogok. Titi berusaha menyalakan motor dengan men starternya, tapi tetap tidak menyala, lalu Titi memasang standar motor dan menyela motor nya, tapi ga bisa juga.
" Aduh..kenapa ya, kok tiba-tiba motornya mogok, mana mau buru-buru. Antar motor dulu lah ke kantor, biar naik angkot." ujar Titi bermonolog.
Saat Titi akan mendorong motor, ada seseorang yang menyapa nya.
" Kenapa motornya, mbak?" tanya orang itu.
Titi pun menoleh, ia melihat cowok yang kemaren dirumah Ana datang menghampirinya.
" Eh..ga tahu nih bang, tiba-tiba motornya mati." jawab Titi.
" Mungkin kehabisan bensin, mbak!" ucap nya lagi.
" Ga kok bang, tadi sudah saya cek, bensinnya banyak!" jawab Titi lagi.
" Coba saya lihat dulu, mbak!" katanya pada Titi.
Lalu ia membuka cok minyak dan mencoba men starter lagi.
Tak lama, motor pun bisa di starter lagi.
Titi merasa lega.
" Alhamdulillah..akhirnya nyala juga." ujar Titi lega.
" Terima kasih, bang! sudah mau membantu saya!" ucap Titi pada lelaki itu.
" Terima kasih kembali, mbak!"
" Mau kemana, mbak? Boleh saya antar?" tanya lelaki itu pada Titi.
" Saya mau ke perempatan, mau photo copy. Ga usah bang, nanti merepotkan, saya bisa pergi sendiri!" jawab Titi, ia menolak halus tawaran laki-laki itu.
" Ga papa, mbak, kebetulan saya juga mau kesana, ada keperluan!" lelaki itu berkata lagi.
Lalu ia naik ke atas motor dan meminta Titi untuk diboncengnya.
" Ayo, mbak!" ajaknya lagi.
'
__ADS_1
Dengan sedikit canggung, Titi akhirnya ikut naik motor itu.
Motor pun melaju, tidak terlalu kencang karena lelaki itu melihat Titi yang duduk canggung di boncengan
" Maaf, mbak, kita sudah ngobrol sejak tadi, tapi kita belum saling mengenal.
Kenalkan, nama saya Ari, saya kakaknya Ana!" kata Ari mengenalkan diri.
" Ah, iya..nama saya Titi, bang!" jawab Titi.
Akhirnya, sepanjang jalan mereka mengobrol akrab, seperti sudah lama saling mengenal.
" Titi, sudah lama kerja di perusahaan jasa?" tanya Ari.
" Lumayan lah, bang, sudah hampir dua tahun." jawab Titi.
" Abang baru datang ya? selama ini saya tidak pernah melihat abang." tanya Titi.
" Iya, saya baru tamat sekolah diluar kota, jadi baru pulang." jawab Ari.
Karena asik ngobrol disepanjang jalan, mereka tiba ditujuan.
Titi langsung pergi ke tempat photo copy, sementara Ari pergi ketempat lain.
" Ti, saya ke seberang sebentar ya, saya ada keperluan. Jika telah selesai, tunggu saya sebentar ya?" pamit dan pinta Ari.
" Iya, bang, silahkan, Titi nanti tunggu disini aja!" kata Titi.
Tak lama, Titi sudah selesai photo copy, ia duduk dibangku yang ada didepan toko photo copy.
Ia menunggu Ari disana.
Titi hanya memperhatikan orang yang lalu lalang didepannya.
Perempatan ini memang ramai, karena tak jauh dari pelabuhan, jadi banyak yang berjualan disepanjang jalan ini.
Saat Titi asik memperhatikan jalanan sambil sedikit melamun, ia dikagetkan dengan tepukan seseorang dibahunya.
" Lagi melamun apa sih? kok asik banget, sampai ga sadar aku sudah ada disamping mu." kata Ari menggoda Titi.
Titi tersenyum, ia merasa malu karena asik melamun hingga tak sadar bila Ari sudah ada disampingnya.
" Aku ga melamun, cuma lagi asik melihat orang yang lalu lalang." jawab Titi malu.
Ari hanya tersenyum, lalu ia mulai men starter motor.
" Sudah selesaikan? ayo, kita pulang!" ajak Ari.
" Iya, bang." jawab Titi sambil naik ke motor.
Motor pun melaju, meninggalkan perempatan menuju ke kantor.
***** $_$ *****
__ADS_1
Note : Ada yang penasaran ga sama kisah Ari dan Titi?
Terus dukung karya ini ya, dengan memberi Like, Komen and Vote, agar semangat untuk Up.