Nastiti

Nastiti
Bab 39. Perasaan Ari Yang Sebenarnya Pada Titi.


__ADS_3

Sebenarnya, pekerjaan Titi tidak terlalu banyak, karena Titi tidak pernah menunda pekerjaan.


Ia selalu menyiapkan pekerjaannya lebih awal, hingga diminta untuk laporan Titi tidak kelabakan.


Titi bekerja sebagai administrasi, pekerjaan Titi lumayan banyak.


Ia harus membuat laporan harian keuangan dari mbak Dewi, membuat laporan keberangkatan armada dari pak Bari, menyamakan catatan pengiriman dengan pak Bari untuk dibuat laporan bulanan, juga mengetik surat-surat keluar dan mengarsipkan dokumen-dokumen.


Selain laporan harian, Titi juga harus membuat laporan bulanan, juga tagihan pada client.


Ia harus menyimpan dan merapikan bukti pengiriman barang untuk dibuat tagihan.


Titi selalu semangat dalam menjalani aktivitas pekerjaannya.


*****


Hari ini, setelah menyiapkan pekerjaannya, Titi termenung dibangku nya.


Ia ingat dengan jelas, apa yang Ari ucapkan ditelinga nya.


Kata-kata itu, terus terngiang ditelinga Titi.


" Titi, aku menyukai mu! "


Apa benar apa yang Ari katakan tadi malam?


Mengapa Ari mengatakan nya pada saat diperjalanan tadi malam dan Titi tengah berpura-pura tidur?


Mengapa tidak mengatakan secara langsung pada Titi?


Apa Ari serius atau hanya menggoda Titi?


Bagitu banyak pertanyaan yang ada di kepala Titi.


Titi jadi kembali berdebar saat mengingat apa yang terjadi tadi malam.


Saat Ari yang memegang tangannya dan saat Ari membisikkan kata-kata suka ditelinga nya.


Titi merasa pusing memikirkan kejadian tadi malam.


Ia juga berfikir, apa ini jawaban atas mimpinya digigit ular?


Apa Ari memang jodoh untuk Titi?


Tapi usia Ari, tiga tahun di bawah Titi.


Ah.. entahlah, Titi merasa pusing.


Subuh tadi, dalam do'a nya, Titi minta dimudahkan jika Ari jodohnya, dan dijauhkan bila bukan jodohnya.


Titi hanya duduk melamun dibangku nya, karena mbak Dewi sedang ke Bank dan pak Beri sibuk dengan pekerjaannya, tidak ada yang memperhatikan bila Titi sedang melamun.


Tengah sibuk dengan lamunannya, Feni menghampiri Titi, lalu duduk didepan Titi yang sedang asik melamun sambil mencoret-coret kertas yang ada didepannya.


" Ti..! " Feni memanggil Titi sambil menggoyang kan tangan kiri Titi.


Titi menoleh pada Feni yang duduk didepannya.


" Ada apa? " tanya Feni.


" Tadi diluar, aku bertemu dengan Ari.


Ari bilang, nanti pulang kerja ia ngajak pulang bareng. Katanya mau main kerumah kamu! " Feni menyampaikan pesan Ari pada Titi.


Ia menyampaikan dengan suara pelan, takut bila pak Beri mendengar apa yang ia sampaikan pada Titi.


" Mau apa Ari main kerumah, aku? " tanya Titi.

__ADS_1


" Ya, mana aku tahu, nanti kamu tanya sendiri aja sama Ari.


Aku hanya menyampaikan pesan dari Ari.


Ya sudah, aku kembali ke ruangan ku.! " kata Feni sambil beranjak dari duduknya dan meninggalkan meja Titi.


Titi kembali diam, ia jadi berfikir, untuk apa Ari datang kerumah nya? sekedar ingin main sambil meminjam novel lagi atau ingin menjelaskan apa yang ia utarakan pada Titi tadi malam.?


*****


Saat jam pulang kantor, Titi merapikan meja kerja nya, memasukkan semua barang pribadinya.


Lalu ia keluar kantor, menghampiri Feni yang telah menunggu nya di luar.


" Dah beres, Ti? " tanya Feni


" Sudah, Fen! yuk kita pulang! " jawab ku sambil mengajak Feni pulang.


Aku pulang paling akhir dari teman-teman yang lain, karena ada pekerjaan yang harus aku selesaikan.


Kami pun melangkah meninggalkan halaman kantor.


Di depan rumah Ari, aku melihat ia telah berdiri di tepi jalan, seolah sedang menunggu kami.


" Tuh...Ti, Ari sudah menunggu kamu! " kata Feni pada Titi.


Titi hanya diam, tapi dalam hatinya merasa debar-debar.


Titi belum cerita apapun pada Feni tentang kejadian malam itu karena Titi belum pasti apa maksud Ari melakukan semua itu.


Lagi pula, saat jam istirahat tadi tidak bareng Feni, karena Feni ada pekerjaan yang harus diselesaikan dan aku yang malas untuk makan siang.


Aku lagi pusing, jadi malas melakukan aktivitas apapun selain menyelesaikan pekerjaan ku.


Saat sudah dekat dengan Ari, ia menyapa kami.


" Iya, biasalah, ada pekerjaan yang harus diselesaikan! " jawab Feni.


Titi hanya diam, tidak menjawab sapaan Ari.


" Mbak Titi kenapa, lagi sariawan ya? kok diam saja? " tanya Ari menggoda Titi.


Titi tidak menjawab, hanya menanggapi nya dengan tersenyum.


" Mbak, aku boleh main ke rumah mbak Titi kan? " tanya Ari.


" Iya, boleh kok! " jawab Titi.


Mereka terus berjalan untuk sampai dijalan utama, untuk mencari angkot.


Ditepi jalan, dari kejauhan sudah terlihat angkot yang menuju arah rumah Feni.


" Ti.. Ari, aku duluan ya, angkot aku sudah ada! " kata Feni.


" Iya Fen, hati-hati dijalan! " jawab Titi.


" Angkot kita belum ada ya, mbak? " tanya Ari.


" Iya, paling sebentar lagi juga ada, atau kalau nggak nunggu angkot yang Feni tumpangi tadi. " jawab Titi.


Tak lama, angkot yang mereka tunggu pun tiba, lalu mereka naik angkot untuk pulang ke rumah Titi.


Tak ada percakapan apapun diantara mereka selama dalam perjalanan.


Setelah turun dari angkot, mereka berjalan melewati gang menuju rumah Titi.


" Mbak, aku minta maaf ya untuk kejadian tadi malam.

__ADS_1


Maaf kalau sudah bikin mbak ga nyaman!"


Sambil berjalan, Ari menyampaikan rasa bersalah nya pada Titi.


Sambil berjalan, Titi hanya diam mendengarkan apa yang Ari sampaikan.


Ia tak berkata apapun.


Entah mengapa, sejak kejadian malam itu, perasaan Titi merasa terus berdebar saat bersama Ari, padahal bukan baru kali ini Titi jalan bersama Ari.


Ada gelenyar aneh yang Titi rasakan dalam dada nya.


Entahlah, Titi tidak bisa mendiskripsikan perasaannya saat ini.


" Mbak.. mbak marah ya? kenapa mbak diam aja? " tanya Ari pada Titi.


Titi menarik nafas pelan, lalu ia menjawab pertanyaan Ari.


" Ga kok, mbak ga marah! " jawab Titi singkat.


Tak terasa, mereka tiba dirumah Titi.


" Masuk Ri, mbak ke kamar sebentar, mau nyimpan tas dulu! "


" Ari duduk di teras depan aja, mbak! "


" Ya udah, tunggu sebentar ya? "


Titi ke kamar untuk menyimpan tas nya, lalu kedapur untuk membuat teh buat Ari.


Lalu Titi menghampiri Ari yang menunggu nya di teras.


" Minum, Ri! " Titi menaruh teh dimeja di samping Ari, dan meminta Ari minum teh yang dibawa nya.


" Terima kasih, mbak! Ari minum ya? " jawab Ari sambil meminum teh yang Titi bawa.


Titi duduk di sebelah Ari dengan terhalang meja.


Setelah meletakkan gelas nya, Ari memandang Titi yang duduk disebelah nya.


" Mbak.. Ari boleh ngomong sesuatu sama mbak? " tanya Ari.


" Iya Ri, ngomong aja! " jawab Titi.


Ari terdiam sejenak, ia menyiapkan hati dan mentalnya untuk menyampaikan perasaannya pada Titi.


" Mbak... terus terang, sudah lama Ari memperhatikan mbak.


Ari, ingin bisa lebih dekat kenal dengan mbak.


Apa yang Ari sampaikan malam itu memang perasaan Ari yang sebenarnya.


Perasaan dari dasar lubuk hati terdalam.


Ari memang benar suka sama mbak Ari ingin selalu bersama mbak, ingin membuat mbak selalu bahagia.


Maaf mbak, bila yang Ari sampaikan membuat mbak marah.


Tapi, Ari tulus menyampaikan perasaan Ari pada mbak.! "


( Duh.. othor jadi ikut deg deg an mendengar Ari nembak Titi, πŸ’˜πŸ’˜rasa-rasa othor yang di tembak, πŸ˜€πŸ˜€jadi ikut berbunga-bungaπŸŒΉπŸŒ»πŸŒ·πŸ’).


Ari merasa lega telah menyampaikan perasaannya pada Titi, tapi ia masih deg deg an karena Titi belum menjawab ungkapan perasaannya.


(ΰ₯‚β€’α΄—β€’ΰ₯‚❁)


( Titi terima cinta Ari ga ya?? Sabar ya nunggu Titi menjawab pertanyaan cinta Ari😊😊)

__ADS_1


__ADS_2