Nastiti

Nastiti
Bab 28. Perasaan Yang Medebarkan.


__ADS_3

Titi dan Tuti sedang santai dikamar Titi.


Tuti sedang membaca novel, sedangkan Tuti mendengarkan musik.


Mereka santai dikamar sambil menikmati potongan buah pepaya dan jus jambu yang diambil dari kebun.


" Mbak, asik banget baca novel, kalau sudah baca sampai lupa waktu.


Emang seru ya mbak kalau baca novel, ga bosen?" tanya Tuti pada Titi.


" Ya nggak lah Tut, baca novel itu seru.


Isi ceritanya bisa kita jadikan pelajaran, bisa menambah pengalaman melalui bacaan, bisa nambah pengetahuan juga.


Tergantung novel yang kita baca."


" Jika membaca novel romantis, kita akan ikut merasa bahagia, merasa deg-deg an, bahkan bisa merasa kita lah yang menjadi tokoh yang sedang bahagia.


Atau kita akan merasa tersentuh bila ceritanya sedih."


" Bila Kita menghayati apa yang kita baca, kita bisa merasa menjadi tokoh dalam cerita itu!


Terkadang cerita novel itu juga seperti kisah yang terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari."


Titi menjelaskan pada Tuti tentang manfaat yang ia ambil saat ia membaca sebuah novel.


" Kan lebih enak nonton drama atau sinetron-sinetron di televisi, mbak.


Terasa lebih nyata cerita nya karena ada dialog secara langsung dan ada tokoh-tokoh pemain yang nyata.


Kita tinggal nonton aja, kalau ceritanya sedih bisa ikut menangis, bila tokonya antagonis bisa ikut geram dan kesal." kata Tuti mengomentari pendapat Titi.


" Iya, saat tokoh idolanya teraniaya, ikutan sedih dan nangis bombai, lalu ikut ngomelin tokoh antagonis sampai kesal tak tentu arah, ngomel-ngomel dan marah-marah sendiri didepan tivi."


Kata Titi sambil tertawa, ia teringat sang ibu yang sering ikut ngomel didepan tivi bila nonton sinetron kesayangan nya.


Kadang ibu ngomel sendiri didepan tivi, marah pada tokoh antagonis yang berbuat jahat dan marah pada tokoh utama yang diam saja saat dianiaya.


Tuti ikut tertawa mendengar apa yang Titi tentang ibu saat nonton sinetron.


Ibu memang suka heboh kalau sedang nonton sinetron kesayangannya.


Ayah pun kadang tersenyum melihat tingkah ibu yang tidak ibu sadari saat sedang nonton sinetron.


" Bedalah Tut, saat nonton tivi dengan saat membaca novel.


Mbak lebih suka membaca novel, karena lebih seru dan asik saat membaca novel, rasanya bisa lebih menjiwai cerita yang kita baca dan bisa merasa jadi tokoh utama dalam cerita.


Kalau nonton sinetron kadang ceritanya bikin kesel karena ada yang ga masuk akal. Pokoknya, mbak mah lebih senang baca novel!"


Titi menjelaskan mengapa ia lebih suka membaca novel.


" Mbak, suka baca novel apa aja?" tanya Tuti lagi.


" Semua jenis novel mbak suka, horor, romantis, komedi, petualangan, misteri atau cerita tentang detektif.


Novel apa aja mbak baca, lihat kan koleksi novel mbak ada banyak.!" jawab Titi menjelaskan.


" Iya, koleksi novel mbak banyak juga.


Terus, mbak juga suka denger musik, apa ga terganggu mbak baca novel sambil dengerin musik?" tanya Tuti lagi.

__ADS_1


" Nggak lah, mbak kan nyalakan musiknya ga keras-keras, sekedarnya aja!" jawab Titi.


" Tapi, dari sekian banyak koleksi kaset mbak, yang paling banyak musik dangdut ya, mbak? Mbak suka musik dangdut?"


" Iya, mbak paling suka musik dangdut, enak didengar nya dan asik jogetnya, tapi sayang mbak ga bisa joget, badan mbak kaku kaya papan kalau joged."


😀😀Tuti dan Titi sama-sama tertawa mendengar penjelasan Titi.


Titi memang paling tidak bisa berjoged.


Saat mendengar musik dangdut, Titi suka ingin berjoget, tapi ia tak bisa.


" Tumben hari ini kamu introgasi hobby mbak, ada apa?" tanya Titi.


" Ga ada mbak, cuma pengen tahu aja!" jawab Tuti.


" Kamu lagi bete ya? Mas Tio kemana, kok ga ada nongol lagi?" tanya Titi lagi.


" Mas Tio lagi sibuk mbak, dia mau dipindah tugaskan ke kota lain." jawab Tuti pula.


" Hubungan kamu sama Tio, gimana?"


" Kami cuma berteman, mbak..ga hubungan yang spesial."


" Ya sudah, sebentar lagi kamu akan ujian, fokus sama pelajaran dulu, biar nilai ujian mu bagus!"


Karena asik mengobrol, tak terasa mereka merasa mengantuk.


Akhirnya Titi dan Tuti sama-sama tertidur, Tuti tertidur dikamar Titi.


Apalagi tadi malam Titi tidur sudah larut karena pulang dari acara pesta pernikahan.


***


Titi duduk santai dikursi teras, dimeja ada segelas jus jambu dan setoples kripik pisang.


Titi tak menyadari bila ada seseorang yang memperhatikannya dibalik pohon bonsai sambil tersenyum.


Menyadari Titi tidak tahu akan keberadaannya, iseng ia melempari Titi dengan buah bonsai yang berwarna kuning.


Ia melempar tangan Titi, tapi Titi tidak menoleh.


Penasaran, ia melempar lagi tapi Titi tidak bergeming, ia asik dengan bacaannya sambil sesekali tangannya mengambil kripik dari toples.


Ia sedikit kesal saat Titi tidak merespon lemparannya, lalu iseng ia melempar wajah Titi dan mengenai pipinya.


Karena kesal diisengin, akhirnya Titi menoleh pada orang itu.


Titi terkejut bercampur malu saat tahu siapa orang yang sudah iseng padanya.


Ternyata, Huda yang sudah menggoda Titi dengan melemparinya menggunakan buah bonsai.


Lalu Huda mengucapkan salam,


" Assalamualaikum.."


" Waalaikumsalam warahmatullah.."


" Mas Huda, sudah lama, mas?" Titi menjawab salam dan bertanya pada Huda.


" Ga juga, asik lihat orang baca sambil ngemil hingga tak tahu ada tamu yang datang.! jawab Huda sambil menggoda Titi.

__ADS_1


" Maaf mas, tadi Titi kira bang Pandu atau Tuti yang iseng, makanya Titi diam aja."


jawab Titi malu


" Mas naik apa kesini, Titi ga dengar suara motor nya, mas?


" Silahkan duduk, mas!" tanya Titi lagi, lalu mempersilahkan Huda untuk duduk.


Huda pun duduk didamping Titi, dihalangi oleh sebuah meja.


" Tadi, mas bareng temen naik motor.


Mas turun didepan sana!" jawab Huda, lalu menunjuk kearah ia datang tadi.


" Dari mana tadi, mas? apa sengaja main kesini?" tanya Titi.


" Iya, mas sengaja main, pengen ketemu sama Titi. Pengen ngajak Titi jalan sore!" kata Huda.


Titi merasa berdebar-debar dengan apa yang Huda sampaikan, ia merasa senang dan ada rasa bahagia dalam hatinya mendengar ajakan Huda.


Untuk menutupi perasaan malu bercampur senang, Titi menawari Huda minum.


" Mau minum apa, mas? kopi atau teh?" tanya Titi.


" Ga usah buat kopi, kita kan mau jalan sore.


Saya minum jus jambu nya aja ya?" jawab dan pinta Huda.


" Sebentar mas, Titi ambilkan dulu, tadi masih ada di kulkas."


Titi bangkit dari duduknya dan hendak beranjak ke dapur.


Huda menahannya dan berkata,


" Ga usah, Ti..kan saya bilang, saya minta jus yang ini aja!"


" Tapi mas, itu punya Titi, memang belum Titi minum sih.!"


Tanpa berkata, Huda mengambil jus jambu milik Titi dan meminumnya hingga tinggal setengah.


" Enak Ti, jus jambu nya!" kata Huda sambil menaruh gelas diatas meja.


Titi terdiam, ia merasa malu karena Huda meminum jus nya, walau belum sempat Titi minum.


Entah mengapa, ada perasaan aneh yang Titi rasakan melihat sikap Huda.


Rasa senang, bahagia, dan entah perasaan apa yang membuat Titi merasa malu dan ingin selalu tersenyum.


Huda memperhatikan Titi yang diam sambil tertunduk.


" Eh..jadi ga jalan sorenya, kok diam aja!" kata Huda sambil tersenyum.


Sumpah, Titi berdebar melihat senyum Huda yang terlihat begitu manis.


( Wah..aku bisa kena diabet nih kalau lihat senyum Huda terus.


Monolog Titi dalam hati sambil memandang senyum Huda.☺️☺️)


Melihat Titi masih terdiam, Huda melempar wajah Titi dengan buah bonsai yang tadi ia simpan diatas dimeja.


Titi terkejut dan tersenyum malu, ia merasa pipinya terasa panas karena Huda memperhatikan nya yang sedang terpesona dengan senyum Huda.

__ADS_1


***{°_°}***


__ADS_2