Nastiti

Nastiti
Bab 63. Titi Melahirkan.


__ADS_3

Ari keluar kamar dan menuju ke meja telpon dan bermaksud untuk menelpon ibu bidan.


Setelah dua kali panggilan, akhirnya diseberang sana telpon Ari ada yang mengangkat.


" Assalamu'alaikum.. " salam seorang pria diseberang telpon.


" Waalaikumsalam.. maaf Pak, saya Ari suaminya Titi, bu bidan ada pak? "


Ari menjawab salam dari laki-laki yang ternyata suami bu bidan dan menanyakan keberadaan bu bidan.


" Oh.. Ari, sebentar ya? saya panggil dulu bu bidannya! " kata suami bu bidan.


" Halo, ada apa Ri, kok nelpon pagi-pagi? apa Titi sudah mau melahirkan? " tanya bu bidan yang mengangkat telpon dari Ari setelah diberitahu suaminya bila Ari menelponnya.


" Iya bu, perut Titi sudah terasa sakit sejak tadi malam, tapi masih hilang timbul! " jawab Ari.


" Oh ya sudah, sebentar lagi ibu kesana! " kata ibu bidan.


" Apa perlu Ari jemput kesana, bu? " tanya Ari.


" Tidak usah dijemput Ri, ibu minta antar bapak aja, biar bisa cepat kesana! " jawab bu bidan.


Setelah bu bidan menutup telpon, Ari kembali masuk kedalam kamar.


" Bu bidan sudah Ari telpon bu, sebentar lagi bu bidan sampai kesini! " kata Ari pada ibu.


" Iya Ri, Alhamdulillah kalau begitu! " kata ibu.


" Bang.. tolong bang, sakit sekali! " kata Titi yang tiba-tiba merasa perutnya terasa sakit, ia memegang tangan Ari yang sedang mengusap perutnya.


" Iya dek, sabar ya..? " kata Ari masih terus mengusap perut Titi.


Didepan orang Titi dan Ari memanggil abang adek karena masih malu jika memanggil mama papa.


Aki yang masih ada dikamar Titi, mengusap pelan perut Titi.


" Belum akan lahiran sekarang, hanya kontraksi aja, sebentar juga hilang kontraksi nya! " kata Aki.


Benar saja, tak lama rasa sakit itu mulai tidak terasa.


Saat semua fokus pada Titi, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu depan dan mengucapkan salam.


" Assalamu'alaikum..! " seseorang mengucapkan salam.


" Wa'alaikumussalam warahmatullah..! " jawab ibu dan yang ada dikamar Titi.


Ibu, aki dan nini keluar dari kamar Titi.


Aki dan nini menuju kedapur, dan ibu menemui orang yang mengucapkan salam yang ternyata bu bidan yang datang.


Karena pintu depan sudah dibuka dari tadi, maka ibu tahu siapa yang datang.


" Mamah Soni, silahkan masuk! " kata ibu yang mengajak bu bidan untuk masuk ke kamar Titi.


Karena sudah lama saling mengenal, ibu memanggil bu bidan dengan panggilan mamah Soni, Soni merupakan anak bu bidan yang pertama.


" Iya bik, terima kasih! " jawab bu bidan sambil masuk kekamar Titi.

__ADS_1


Bu bidan mengeluarkan alat-alat medisnya, dan mulai memeriksa Titi, mengukir tensi darah dan detak jantung.


" Bik, tolong perlaknya dipasang biar ga kena kasur! " pinta bu bidan.


Ari membantu Titi turun dari tempat tidur dan ibu memasang perlak yang sudah disiapkan untuk Titi lahiran.


" Pembukaannya sudah hampir lengkap, sebentar lagi bayinya lahir, tapi ketuban nya belum pecah.!" kata bu bidan setelah melihat jalan lahir.


Sementara Titi terus mengerang menahan sakit yang luar biasa.


Ari terlihat cemas melihat keadaan Titi.


Melihat Ari yang terlihat cemas, ibu meminta Ari untuk berangkat bekerja.


" Bang, pergilah kalau mau berangkat bekerja, nanti kalau Titi sudah melahirkan ibu kabari! " pinta ibu pada Ari.


Ibu tahu, usia Ari masih sangat muda dan ini kelahiran anak pertamanya, jadi wajar bila ia merasa cemas dan takut melihat keadaan Titi yang kesakitan saat akan melahirkan.


Setelah dibujuk oleh ibu, akhirnya Ari berangkat bekerja karena pagi ini banyak pengiriman barang ke konsumen.


Ari berfikir, nanti setelah menyelesaikan pekerjaan dilapangan Ari akan pamit untuk pulang.


Ibu sendiri sebenarnya merasa cemas, ia menguatkan diri untuk menemani Titi.


Menjelang pukul delapan, Titi sudah tidak bisa menahan rasa sakit, sakit diperut maupun dipinggangnya.


" Istighfar, Ti! " pinta ibu pada Titi.


Titi berusaha mengikuti apa yang ibu katakan.


" Ya, pembukaan sudah lengkap, rambut bayi sudah terlihat.


Jangan dipaksa mengedan, pinggulnya jangan diangkat.! " pinta bu bidan.


" Tarik nafas, lalu hembuskan.. terus, dorong terus..! "


Bu bidan mengarahkan Titi untuk mengedan.


Setelah beberapa kali mengedan, akhirnya terdengar suara tangisan bayi.


Oek..


Oek..


Oek..


" Alhamdulillah..! " ucap ibu mengucap rasa syukur.


" Alhamdulillah.. bayinya jagoan, bayi laki-laki yang sehat dan sempurna, tak kurang suatu apa.! " kata bu bidan.


Titi merasa bahagia dan terharu saat mendengar suara tangisan bayi.


Bayinya laki-laki sesuai perkiraan bu bidan dan dr. kandungan saat Titi USG.


Seketika, rasa sakit yang tadi ia rasakan menghilang begitu saja, berganti rasa bahagia.


Ia masih terbaring lemas, dan ibu mengusap kepala Titi.

__ADS_1


Ibu sudah menyiapkan air hangat untuk memandikan bayi.


Ibu juga telah menyiapkan pakaian bayi diatas tempat tidur.


Tiba-tiba telpon dirumah Titi berdering.


Ibu yang berada tak jauh dari meja telpon langsung menghampiri telpon yang berdering dan mengangkat telpon.


" Assalamu'alaikum..! " ibu mengucap salam saat mengangkat telpon.


" Waalaikumsalam.., bu ini Dewi! Titi nya ada? Ada yang mau Dewi tanyakan pada Titi! " mbak Dewi menjawab salam ibu dan menanyakan keberadaan Titi.


" Titi ada, baru saja melahirkan! " jawab ibu sedikit ketus.


Ibu merasa kesal, Titi baru saja melahirkan tapi sudah ada telpon dari kantor.


Ibu membawa telpon kekamar Titi, kabel telpon rumah memang sengaja Titi sambung agar bisa sampai kekamar karena dulu saat Ari mencari kerja keluar kota, mereka sering telponan jadi kabel telpon sengaja disambung agar bisa dibawa kekamar.


" Ti, ada telpon dari kantor! " kata ibu sambil mendekatkan telpon pada Titi.


" Halo, ya mbak ada apa? " tanya Titi.


" Halo Ti, sudah lahiran ya? Selamat ya Ti! Gimana rasanya melahirkan? " tanya mbak Dewi beruntun.


" Terima kasih, Alhamdulillah Titi sudah melahirkan, mbak.! " jawab Titi.


" Ti, mbak mau tanya berkas tagihan untuk PT. Mitra, sudah Titi siapkan kan? " tanya mbak Dewi menyampaikan tujuannya menelpon Titi.


" Semua tagihan sudah Titi siapkan sebelum Titi cuti mbak, kan sudah Titi sampaikan ke mbak kalau tagihan sudah Titi masukkan ke amplop coklat dan sudah Titi tulis nama perusahaan diatas amplop. Semua tagihan Titi simpan di lemari dekat meja Titi.! " Titi menjelaskan apa yang mbak Dewi tanyakan.


Setelah menjelaskan pada mbak Dewi dan mbak Dewi menutup telpon, Titi mengembalikan telpon pada ibu untuk disimpan kembali ke meja telpon.


Bayi Titi telah dimandikan dan di bedong, bayi laki-laki yang terlihat tampan.


Bu bidan memberikan bayi itu pada Titi untuk disusui dengan asi yang pertama kali keluar yang disebut Kolostrum.


Kolostrum mengandung protein dan vitamin A yang sangat tinggi yang bagus untuk pencernaan bayi.


Karena masih baru, asi Titi belum banyak keluar hingga bayi menangis karena belum puas menghisap asi.


Titi menepuk pelan bayi nya agar merasa tenang.


" Kalau nanti asi nya masih belum lancar, bisa dibantu sama susu formula ini agar bayi tidak merasa haus dan lapar, untuk takaran dan cara penggunaan ada pada kemasan! " kata bu bidan sambil memberikan sufor yang ia bawa untuk bayi Titi.


" Baik bu, Terima kasih! " jawab Titi.


Karena bayinya telah tertidur, ibu meminta Titi untuk mandi, membersihkan diri setelah melahirkan.


Ibu telah menyiapkan air hangat dengan ramuan rempah yang menurut ibu berguna untuk menghilangkan bau amis darah maupun bau dari cairan ketuban.


╚══════✮❁•°❀°•❁✮══════╝


Notes : Buat pembaca semua, maaf ya jika dalam beberapa hari othor belum bisa up karena sedang ada acara keluarga.


Insya Allah, setelah selesai acara baru bisa up lagi, atau jika sempat tetep diusahakan agar bisa up.


Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan dengan memberi Like, Komen dan Vote serta hadiah buat karya othor. 🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2