Nastiti

Nastiti
Bab 15. Keisengan Titi


__ADS_3

Hari-hari berlalu tanpa terasa, begitupun dengan kehidupan Titi.


Ia menjalani hari-hari nya dengan tetap penuh semangat.


Hari sabtu ini, Titi mendapat giliran untuk masuk kerja.


Ia duduk sendiri diruang kantor, karena pak Beri dan mbak Dewi sedang libur.


Jam baru menunjukkan pukul delapan pagi.


Titi merasa suntuk duduk sendiri.


Titi ingat dengan seorang anggota militer teman Toni yang suka iseng menggoda saat ia lewat di depan markas, tapi saat bertemu Titi di warung teh Yuni, ia cuek dan pura-pura tak tahu.


Saat ingat itu, timbul jiwa iseng Titi, kemaren sore ia ingat kalau orang itu piket, jadi pagi ini ia masih belum turun piket.


Titi mendekati meja telpon, lalu mendial nomor telpon kantor militer.


Telpon tersambung, dan ternyata pria itu yang menjawab telpon.


Saat mendengar suaranya, Titi pun berbicara melalui sambungan telp.


Titi. : " Hallo, dengan mas Hari ya?


Apa kabar, mas?"


Hari.: " Iya, saya Hari. Ini dengan siapa?"


Titi. : " Masa ga kenal sama saya? kita kan tetanggaan?"


Hari.: " Iya, maaf kalau saya lupa, saya ga kenal suara nya, mungkin kalau ketemu, saya bisa tahu!"


Titi. : " Saya, Tami, saya tinggal ga jauh dari tempat kos an mas Hari".


Titi mengganti namanya agar Hari tak mengenalnya.


Ia tahu, Hari tinggal tak jauh dari rumah Lisa, teman sekolah Titi dulu.


Hari. : " Hemm..Tami ya? Tami asli mana?"


Titi. : " Tami asli Bandung, mas!


Mas lagi apa? belum turun piket ya?"


Hari. : " Ini, lagi ikat tali sepatu, sebentar lagi pergantian petugas piket!"


Titi. : " Mau dibantuin ga ikat sepatunya?"


Hari : " Ha..ha..ha..boleh, sini donk bantu ikat tali sepatu!"


Titi. : " Bantunya via telp aja ya, mas?"


Hari : " Ha..ha..ha...bisa aja, penasaran sama kamu, jadi pengen ketemu!"


Titi. : " Sering kok ketemu, mas aja yang sombong, pura-pura ga kenal kalau ketemu dijalan!"


Hari : " Masa sih? nanti kalau ketemu, tegur duluan ya? biar saya kenal!"


Titi. : " Ga ah, malu kalau negur mas duluan, nanti pas ditegur, mas malah pura-pura ga dengar!".


Hari. : " Ya ga lah, masa saya ditegur pura-pura ga dengar.


Ah..iya, maaf ya Tami, saya dah mau turun piket. Terima kasih sudah nelp, lain kali kita sambung lagi."

__ADS_1


Titi. : " Iya, baik mas, terima kasih juga sudah ngobrol sama saya, maaf jika mengganggu, selamat beristirahat setelah bertugas!".


Hari : " Baik, terima kasih!"


Titi pun mengakhiri telpon nya, ia merasa senang telah berbuat iseng pada Hari.


Ia tak tahu, apa Hari mengenali suaranya atau tidak.


Sesaat setelah selesai menelpon, ada rekannya yang datang untuk minta surat pengantar barang.


" Ti, minta surat pengantar, mau mengantarkan barang ke konsumen!" pinta Zen pada Titi.


" Baik, bang, ini sudah Titi siapkan sekalian biaya transport nya!" jawab Titi.


" Baik, Ti..terima kasih!" kata Zen pada Titi, lalu mengambil surat pengantar barang dan transport yang sudah Titi siapkan, lalu Zen pun keluar dari kantor.


" Masih pagi, Alhamdulillah untuk pengiriman hari ini sudah selesai, tinggal merapikan catatan, lalu pulang." monolog Titi sambil merapikan pekerjaannya.


Saat Titi merapikan meja dan bersiap-siap untuk pulang, tiba-tiba telpon berdering.


Titi pun mengangkat telpon.


" Hallo, selamat pagi? dengan Titi, ada yang bisa dibantu?" sapa Titi melalui telpon.


" Assalamualaikum warahmatullah..


belum selesai pengiriman, Ti?" tanya mbak Dewi.


Ternyata, mbak Dewi yang menelponnya.


" Waalaikumsalam warahmatullah.. kerjaan sudah selesai mbak, Titi lagi siap-siap mau pulang!" jawab Titi.


" Ti, bisa tunggu sebentar, ada orang dari WK yang mau ambil DO kemarin!" kata mbak Dewi lagi.


" Iya, Ti, terima kasih. Assalamualaikum warahmatullah." ucap mbak Dewi diseberang telpon.


Setelah Titi menjawab salam, mbak Dewi menutup telponnya.


Setelah menutup pembicaraannya dengan mbak Dewi, Titi kembali membuka catatan kerjanya, mungkin ada hal yang bisa Titi kerjakan sambil menunggu tamu yang akan datang.


Setelah melihat catatan kerja, ternyata pekerjaan Titi telah siap semua.


Tak lupa, Titi menyiapkan berkas yang akan diambil oleh orang WK.


Titi pun hanya duduk menunggu, tiba-tiba Titi ingat dengan Halim, TNI yang pernah satu angkot dengan nya.


Titi membuka buku Yellow Pages, mencari nomor telpon tempat Halim bertugas.


Setelah menemukan nomor telponnya, Titi mencatatnya lalu mulai memutar nomor telpon tersebut.


Tak lama, terdengar telpon diangkat dari seberang dengan jawaban ala militer.


Titi sedikit deg-deg an mendengar suara seseorang diseberang telpon, ada perasaan takut dihati Titi.


Tapi, karena telpon sudah diangkat, Titi mulai pembicaraan ditelpon.


" Selamat pagi, pak. Bisa bicara dengan pak Halim?" tanya Titi.


" Selamat pagi, mbak. Ini dengan siapa?" tanya orang diseberang telpon.


Titi tahu, namanya Huda saat ia menjawab telpon tadi.


" Saya, Titi, pak! saya teman pak Halim!" balas Titi.

__ADS_1


" Maaf mbak, saat ini pak Halim tidak sedang bertugas, beliau sedang cuti untuk persiapan pernikahan!" jawab Huda lagi.


" Baiklah, pak! terima kasih atas informasinya!" balas Titi lagi.


Huda belum memutuskan telponnya, ia malah ngajak Titi untuk mengobrol.


" Mbak tinggal dimana? masih sekolah atau sudah bekerja?" tanya Huda.


" Saya tinggal di Hibrida, pak, dan saya sudah bekerja." jawab Titi.


" Boleh main kerumahnya ga? saya dan teman-teman biasa joging kalau sore.


Kalau boleh, nanti sore saya kerumah sama teman-teman, sekalian joging."


ujar Huda lagi.


" Boleh pak, tapi apa ga kejauhan kalau joging dari Kompi kesini?" tanya Titi.


" Itu termasuk dekat mbak, kami sering latihan lebih jauh lagi." jawab Huda lagi.


" Baiklah, pak, nanti sore saya tunggu dirumah!" ucap Titi, lalu ia pun menutup sambungan telpon setelah Huda menjawab salamnya.


Tak lama setelah Titi menutup telpon, ada seseorang yang mengetuk pintu ruangannya.


Tok..


Tok..


Tok..


Titi pun melihat kearah pintu yang tidak tertutup, tampak seorang lelaki berdiri didepan pintu.


" Assalamualaikum warahmatullah.." ucap seseorang didepan pintu.


" Waalaikumsalam warahmatullah.."


Masuk, bang Wahyu, ini berkasnya sudah Titi siapkan!" Titi membalas salam orang yang baru datang dan menyiapkan berkas yang akan diambil.


" Iya, Ti..terima kasih, maaf ya kalau sudah merepotkan, mengganggu waktu liburnya!" balas Wahyu merasa tak enak pada Titi.


" Ga kok bang, kebetulan hari ini Titi dapat giliran masuk, karena ada pengiriman barang." kata Titi lagi.


Titi pun menyerahkan berkas pada Wahyu, setelah di cek oleh Wahyu, lalu Wahyu pamit pada Titi.


" Alhamdulillah, sudah lengkap semua, Ti.


Ini mau diproses senin pagi, makanya hari ini abang ambil kesini.


Titi mau pulangkan? bareng abang aja, kita kan searah juga." ucap Wahyu pada Titi, ia pun mengajak Titi untuk pulang bersama, karena ia tahu rumah Titi searah dengan kantornya.


" Baiklah bang, kalau ga merepotkan Titi ikut ya, hitung-hitung hemat ongkos". ucap Titi.


" Yok, Ti..sudah beres semua kan?" ajak Wahyu.


" Yok bang, sudah beres kok!" balas Titi.


Titi pun akhirnya pulang bersama Wahyu.


Titi memang supel, Titi akrab dengan rekan-rekan kerjanya, karena ia harus menjaga hubungan baik dengan rekan-rekannya.


Tapi, Titi juga selalu menjaga batasan, hanya sebatas rekan kerja.


Ia harus bisa bersikap profesional saat bekerja, Titi juga tidak mudah akrab dengan orang, jika hati nya merasa tidak sreg, maka ia akan menjaga jarak dengan cara yang baik agar orang tidak tersinggung dengan sikapnya.

__ADS_1


Titi pun meninggalkan kantor dengan menumpang mobil Wahyu.


__ADS_2