Nastiti

Nastiti
Bab 77. Kunjungan Teman-teman Ari.


__ADS_3

Cinta bagaikan kobaran api


Mudah dinyalakan,


Namun sulit untuk dipadamkan.


🦂🦂


Seandainya harta mampu membuat wanita tidak membutuhkan laki-laki,


Tentu putri raja tidak akan menikah.


🦂🦂


Hadapilah segala perkara dengan kelembutan,


Jauhi segala ketergesaan, karena ia akan membuatmu kepayahan.


Lembut dalam segala hal sangat baik dilakukan.


Orang yang penuh kelembutan akan selamat dari kehancuran.


🦂🦂


Setelah Titi mengusap-usap kepala Ari, tak lama Ari memejamkan matanya dan tertidur.


Setelah melihat Ari yang tertidur, Titi mendekati Ana yang duduk dilantai beralaskan tikar.


" Sudah lama abang bangun, An? " tanya Titi pada Ana.


" Dari sekitar jam satuan kak.


Ana habis shalat tadi, Ana lihat bang Ari sudah bangun. "


Jawab Ana pada Titi.


" Tadi bang Ari mau makan? "


Tanya Titi lagi.


" Makan kak, tapi cuma sedikit, kan harus minum obat. " jawab Ana lagi.


" Ana sendirian, Awal tidak ada datang kesini? " tanya Titi yang menanyakan keberadaan Awal.


" Tadi Awal datang sebentar, kak, lalu pulang lagi, mau tidur katanya. "


Ana menjelaskan jika Awal sempat datang tetapi segera pulang karena ingin tidur.


" Ana kalau mau tidur, tidur aja, biar kakak yang jaga abang.


Lagian abang juga sedang tidur, semoga bisa tidur nyenyak. "


Titi meminta Ana untuk tidur, karena Ana terlihat sudah mengantuk.


" Iya kak, Ana tidur dulu ya? " kata Ana sambil naik ke ranjang pasien yang kosong.


" Iya, tidurlah. " kata Titi pada Ana.


Ana pun naik ke atas ranjang dan mulai memejamkan matanya.

__ADS_1


Titi duduk sendiri sambil menatap Ari yang tertidur.


Tidak ada yang bisa dilakukan, karena ia juga sedang berpuasa.


Titi merapikan bufet kecil tempat menyimpan pakaian ganti Ari, juga tempat menaruh makanan diatasnya.


Titi membersihkan sampah plastik bekas makanan, juga mengelap bagian atas bufet dengan tisu.


Menyimpan sisa makanan dan juga roti kedalam bufet bagian atas, karena di bagian bawah ada pakaian Ari.


Titi membersihkan gelas dan piring kotor bekas Ari makan, tadi.


Tidak lupa, Titi juga menyapu dan mengepel lantai dengan alat yang ada di kamar mandi.


Terlihat ruang rawat Ari terlihat bersih dan rapi.


Sambil menunggu lantai kering karena habis di pel, Titi duduk diatas ranjang Ari. Titi duduk didekat kaki Ari dengan pelan agar Ari tidak terbangun.


Tapi rupanya Ari terbangun dan melihat pada Titi yang duduk didekat kakinya.


" Pindah sini, dek! Duduk dekat sini! "


pinta Ari pada Titi sambil menepuk sisi tempat tidurnya.


Titi turun dari tempat tidur dan pindah ke sisi Ari.


" Kok sudah bangun bang? Sebentar banget tidurnya? " tanya Titi pada Ari sambil memijit tangan Ari.


" Abang capek dek, harus baring terus. "


jawab Ari.


" Abang kan diminta tidur agar bisa beristirahat, biar bisa cepat sembuh. " kata Titi yang memberi pengertian pada Ari, bahwa Ari memang harus banyak istirahat agar ia bisa kembali tenang, tidak berbicara terus.


" Iya, sekarang bulan puasa, ya? Mengapa abang tidak dibangunkan saur agar abang bisa ikut berpuasa. " kata Ari yang baru menyadari jika saat ini bulan puasa.


" Besok subuh, bangunkan abang ya, dek? biar abang bisa ikut berpuasa. "


Ari meminta untuk dibangunkan saat saur, karena ia ingin ikut berpuasa.


" Abang belum boleh berpuasa, kan abang sedang sakit, abang juga harus minum obat agar bisa cepat sembuh. " kata Titi yang mengatakan jika Ari belum bisa berpuasa karena sedang sakit dan harus minum obat.


" Makanya, abang cepat sembuh ya? agar bisa berpuasa. " kata Titi lagi.


Saat Titi dan Ari tengah mengobrol, pintu kamar rawat Ari ada yang mengetuk.


" Sebentar ya bang, Titi buka pintu dulu. "


kata Titi pada Ari.


Titi turun dengan perlahan dari tempat tidur, karena ingin membuka pintu ruangan.


Baru saja Titi menjejakkan kakinya dilantai, pintu kamar sudah terbuka.


Nampak kak Rubi dan suami juga beberapa orang supir yang bekerja di kantor Titi memasuki ruangan itu.


" Assalamu'alaikum.. " salam kak Rubi dan beberapa orang yang datang.


" Waalaikumsalam warahmatullah. "

__ADS_1


jawab Titi dan Ari menjawab salam mereka.


" Kak! " kata Titi yang menyambut kedatangan kakak iparnya.


Titi mengalami dan mencium punggung tangan kakak iparnya, begitupun dengan suami kakaknya.


" Masuk kak, bang! " kata Titi yang meminta kakak ipar dan tamu-tamunya masuk.


Titi membentangkan tikar yang tadi dia lipat. Lantai yang dipel oleh Titi juga sudah kering.


Titi meminta semuanya duduk di tikar.


" Bagaimana keadaan Ari, Ti? " tanya kak Rubi yang menghampiri ranjang Ari.


" Alhamdulillah sudah agak baikan kak. Badan abang sudah normal, tidak panas lagi. Tapi masih suka ngobrol kalau dibiarkan tidak tidur. " jawab Titi yang menjelaskan keadaan Ari pada kak Rubi.


Kak Rubi meraba kening Ari dengan punggung tangannya, merasakan suhu tubuh Ari.


".Gimana badannya, sudah enakan? " tanya kak Rubi pada bang Ari.


" Obatnya diminum terus, kan? Jangan tidak diminum obatnya, biar cepat sembuh. " sambung kak Rubi pada bang Ari.


" Ari sudah baikan kok, kak, obatnya juga Ari minum terus. Ana yang suka kasih obat kalau pagi sehabis sarapan. " kata bang Ari yang memberitahu pada kak Rubi jika ia rajin meminum obatnya.


" Ini pasien sakit apa tidur disini? " tanya kak Rubi menunjuk Ana yang sedang tidur di ranjang kosong.


" Iya kak, tadi Ana Titi suruh tidur. Kasihan dia nungguin bang Ari sendirian sejak pagi. " jawab Titi, mengatakan jika Ana baru beristirahat karena ia yang menyuruhnya.


Teman-teman bergantian menyalami Ari dan menanyakan kabarnya.


Ari duduk di atas pembaringan, dan tidak diizinkan turun dari atas tempat tidur.


" Bagaimana keadaannya,. Ri? " tanya maa Seno kakak ipar Ari.


" Alhamdulillah sudah lebih baik mas. " jawab bang Ari.


" Banyak-banyak istirahat dan jangan banyak pikiran biar cepat sembuh. " kata mas Seno yang menasehati Ari.


" Iya mas, Ari juga sudah bosan disuruh tidur terus, pengen jalan-jalan keluar, pengen bisa cepat pulang. " kata bang Ari pada mas Seno.


" Lha,. makanya banyakin istirahat, jangan mikir yang macam-macam. " kata mas Seno lagi.


Setelah berbincang sebentar dengan bang Ari, mas Seno ikut duduk bersama teman-teman yang lain.


" Sakit apa sebenarnya Ari, Ti? " tanya bang Mus pada Titi.


" Kata dokter terkena tipes bang. Bang Ari kebanyakan begadang dan kurang telur. Mungkin karena pengaruh alkohol, bang Ari tidak merasakan jika badannya sedang nge drop." Titi menjawab pertanyaan bang Mus dan. mengatakan tentang penyakit Ari.


Semua teman-teman bang Ari sudah tahu jika bang Ari suka begadang dan minum-minuman beralkohol, karena hampir semua supir melakukan itu.


Ari jadi kerajingan minum alkohol sejak bekerja di lapangan dan mengurusi para supir.


Mungkin karena usianya yang masih muda atau memang pengaruh pergaulannya dengan para supir membuat Ari jadi suka mabuk-mabukan.


" Jadi siapa yang di lapangan sekarang, bang? " tanya bang Ari pada para supir.


" Biasa, pak Bari yang turun tangan, habis tidak ada orang lagi yang bisa menggantikan Ari.


Di kantor kan tidak ada laki-laki lagi selain pak Bari. " jawab bang Bahar pada Ari.

__ADS_1


" Sudah, ga usah mikirin masalah pekerjaan, yang penting sembuh aja dulu sekarang. Pekerjaan biar orang lain yang urus. " kata kak Rubi yang meminta agar bang Ari tidak memikirkan pekerjaannya.


🦂🦂🦂


__ADS_2