Nastiti

Nastiti
Bab 134. Penyesalan Dan Kesedihan Titi


__ADS_3

Hujan gerimis masih terus turun membasahi bumi, seperti air mata Titi yang mengalir membasahi pipinya.


Titi tidak menyangka jika ibu mertuanya akan pergi secepatnya ini dengan waktu yang berdekatan dengan kepergian ayah Titi.


Ayah Titi berpulang diakhir bulan awal tahun lalu, dan saat ini ibu Ari berpulang di awal tahun, satu tahun setelah kepergian ayah Titi, ibu Ari pun berpulang.


Titi ingat saat ibu Ari menginap di rumah mereka sebelum ibu sakit.


Mungkin sebenarnya itu satu pertanda jika ibu ingin menginap di rumah mereka sebelum ibu pergi, sama seperti ayah Titi yang datang ke rumah Titi sebelum ayah sakit dan berpulang.


Kejadian yang sama juga saat ayah dirawat di rumah sakit, Titi juga dalam keadaan sakit, sama seperti Ari yang jatuh sakit saat ibunya dirawat di rumah sakit.


Kejadian itu membuat Titi berpikir bahwa ayah Titi dan ibu Ari memberi mereka kenangan dengan berkunjung ke rumah Ari dan Titi sebelum mereka berpulang.


Ari melajukan kendaraan yang dibawanya menuju rumah sakit di mana ibunya tadi dirawat.


Saat akan tiba di rumah sakit, telepon genggam milik Ari berdering tanda ada telepon masuk.


" Siapa yang menelepon, may? " tanya Ari saat Titi mengambil telepon Ari yang diletakkan disamping tempat duduk.


" Kak Ruby yang menelepon. " jawab Titi.


" Jawab saja. " kata Ari yang masih fokus dengan kemudi nya.


" Assalamu'alaikum, kak. " kata Titi saat menjawab telepon dari kak Ruby.


" Waalaikumsalam, dimana, Ti? " jawab dan tanya kak Ruby.


" Lagi dijalan kak, sudah mau sampai rumah sakit. " jawab Titi.


" Pulang lagi aja, Ti, ibu sudah diperjalanan pulang dengan ambulance." kata kak Ruby.


" Baik, kak..! " jawab Titi,. lalu Titi menutup telepon setelah kak Ruby menutup panggilannya.


" Pay, kita balik lagi, kak Ruby sudah pulang dengan ambulance. " kata Titi pada Ari.


Tanpa menjawab, Ari langsung memutar arah saat mereka tiba di perempatan dan kembali menuju rumah kak Ruby.


🦂🦂

__ADS_1


Pagi ini, suasana duka begitu terasa di rumah kak Ruby.


Para tetangga dan kenalan yang mengetahui kepergian ibu Ari berdatangan untuk melayat.


Para wanita ada yang sibuk menyiapkan kain kafan juga bunga-bunga serta irisan daun pandan.


Titi ikut membantu di bagian belakang rumah, menyiapkan perlengkapan untuk proses pemakaman.


" Ti, kamu tolong kerjakan pekerjaan kantor sebentar, buat laporan dan tagihan awal bulan. Ibu Ari kan masih belum di mandikan, nanti jika akan di kafani, Awal akan memanggil Titi untuk melihat ibu. "


Mbak Dewi menghampiri Titi yang tengah mengiris daun pandan dan meminta Titi untuk melakukan pekerjaan seperti biasa.


Ada perasaan sedih di hati Titi saat. mbak Dewi memintanya untuk tetap melakukan pekerjaannya seperti biasa.


" Pergilah dulu ke kantor, Ti. " kata mbak Dewi lagi saat melihat Titi hanya diam saja.


Titi tidak bisa menolak perintah dari mbak Dewi karena Titi meras bahwa dirinya hanya menantu di rumah itu, dan tenaga Titi lebih diperlukan di kantor dari pada membantu prosesi sebelum pemakaman ibu mertuanya.


Dengan perasaan sedih dan air mata yang mengalir, Titi keluar dari rumah kak Ruby dan berjalan menuju kantor.


Titi sempat mencari keberadaan Ari, tapi Titi tidak melihat Ari.


Titi berjalan ke arah kantor sambil menghapus air mata yang membasahi pipinya.


" Waalaikumsalam. " jawab pak Bari yang duduk di mejanya sambil meletakkan tangan yang bertautan dibawah dagunya.


" Ti, kok kesini..?? " tanya pak Bari heran saat melihat Titi masuk ke kantor.


" Iya Pak, mbak Dewi meminta Titi untuk menyelesaikan laporan sama tagihan awal bulan. " jawab Titi sambil menunju meja kerjanya.


" Apa nggak bisa ditunda besok pekerjaannya, Ti? kan ibu mertua kamu baru saja meninggal. " kata pak Bari pada Titi.


" Ga tahu lah, pak.. kata mbak Dewi jika ibu akan di kafani, Awal akan memberitahu Titi. " jawab Titi.


Titi pun mempersiapkan semua berkas yang akan dikerjakannya,. lalu mulai mengetik pekerjaan itu satu persatu.


Pak Bari membantu memeriksa pekerjaan yang sudah selesai Titi kerjakan.


Terkadang Titi harus mengulangi ketikan nya karena salah mengetik angka.

__ADS_1


Titi tidak fokus mengerjakan pekerjaannya, berulang kali ia melihat jam dinding yang ada dihadapannya juga Titi sering melihat kearah pintu, menunggu Awal yang akan datang memanggilnya.


Setelah Titi menyelesaikan pekerjaannya dan. diperiksa kembali oleh pak Bari, Titi memberikan berkas laporan dan tagihan yang sudah dimasukkan kedalam amplop coklat pada pak Bari, tinggal tugas pada Bari untuk mengantarkan laporan dan tagihan tersebut.


" Pak, Titi kembali ke rumah kak Ruby dulu ya? nanti kalau bapak pergi mengantarkan laporan itu, kantor bapak kunci saja. " kata Titi pada pak Bari.


" Iya Ti, nanti bapak juga akan ke pemakaman, bapak menunggu disini saja,. nanti kalau ibu Ari mau dimakamkan kan terlihat dari sini." kata pak Bari pada Titi.


Letak pemakaman umum memang tidak jauh dari kantor, mungkin hanya seratus meter karena letak pemakaman itu terlihat dari kantor, hanya terhalang kantor kelurahan yang menghadap ke arah pemakaman.


Setelah berpamitan pada pak Bari, Titi. kembali ke rumah kak Ruby untuk melihat proses pemandian jenazah ibu Ari.


Titi merasa kecewa dan sedih karena saat tiba di rumah kak Ruby, jenazah ibu sudah di kafani dan siao dibawa ke mesjid untuk di shalatkan.


Janji mbak Dewi yang akan memanggilnya sebelum ibu di kafani, ternyata tidak ada, Titi tidak bisa melihat ibu mertuanya untuk terakhir kalinya.


Titi hanya duduk di halaman depan yang sudah dipasang tenda bersama beberapa orang istri supir yang datang melayat.


Titi duduk didekat istri almarhum seorang supir yang belum lama meninggal karena kecelakaan.


Titi tidak begitu mendengar apa yang diceritakan oleh istri almarhum supir tersebut karena Titi sedang merasakan suatu kesedihan dalam hatinya, juga rasa kecewa yang amat dalam sehingga Titi hanya bisa meneteskan air mata.


" Menyapa pekerjaan itu lebih penting daripada mengikuti proses mengurus jenazah ibu untuk terakhir kalinya?


Mengapa aku tidak bisa melihat dan mencium wajah ibu untuk terakhir kali..?? " tanya Titi dalam hati sambil menitikkan air matanya.


Titi yang sering merasa insecure, merasa bersedih karena tidak bisa menolak saat ia harus menyelesaikan pekerjaannya pada saat dimana ibu mertuanya meninggal.


Titi merasa jika dirinya lebih mementingkan pekerjaan dari pada membantu mengurus jenazah ibu mertuanya.


Tapi apalah daya Titi yang hanya sebagai pekerja dan harus siap menyelesaikan pekerjaannya dalam keadaan apapun.


" Ibu, maafkan Titi. "monolog Titi dalam hati yang merasa menyesal dan merasa bersalah dengan lebih memilih mengikuti perintah untuk menyelesaikan. pekerjaannya.


Titi juga merasa menyesal karena tidak bisa ikut men-sholatkan ibu mertuanya karena ia sedang berhalangan.


" Selamat jalan ini, semoga Allah mengampuni semua dosa-dosa ibu serta menempatkan ibu di syurga Nya."


Titi berdoa dalam hati saat ibu dibawa ke peristirahatan terakhirnya..

__ADS_1


🦂🦂🦂


🦂🦂 Pertolongan Allah akan datang dari arah mana saja jika kita bermunajat dan meminta pertolongan pada Nya disaat kita mendapat kesulitan. 🦂🦂


__ADS_2