Nastiti

Nastiti
Bab 74. Bermalam Di Rumah Sakit.


__ADS_3

Jam hampir menunjukkan pukul lima tiga puluh ketika kak Rubi menelepon dan mengatakan jika bang Ari sudah masuk ke rumah sakit.


Tapi mereka memasukkan bang Ari ke RS. JKO.


Aku menangis sedih saat mendengar jika bang Ari dimasukkan ke RS. JKO, mengapa harus dibawa kesana?.


Ibu menenangkan aku yang menangis.


" Sabar Ti, mungkin Ari memang harus dirawat disana, yang penting Ari bisa sembuh lagi. "


kata ibu yang meminta Titi untuk bersabar dan jangan terlalu merasa bersedih.


" Tapi bu, bang Ari kan tidak terkena gangguan jiwa, mengapa harus dibawa kesana? "


tanya Titi pada ibu.


Titi benar-benar sedih.


Titi berfikir apakah Ari dianggap tidak waras sehingga harus dirawat disana.


Setelah magrib, Titi menyusul Ari ke rumah sakit karena kak Rubi akan pulang.


Titi bersama Ana menuju rumah sakit diantar oleh Ali menggunakan mobil.


Setelah menurunkan kami, Ali langsung pulang karena dia ada keperluan lain.


Dirumah sakit, Titi bertemu depan Irvan sepupu Ari, juga Awal adik bungsu Ari yang tengah menjaga Ari.


Titi melihat Ari yang tengah tertidur diatas ranjang pasien.


Di ruangan ini hanya ada Ari sendiri, tidak ada pasien lain.


" Abang sudah dikasih obat penenang, kak, jadi sekarang sedang tidur. "


kata Irvan memberitahukan pada Titi.


" Mengapa abang dibawa kesini Van? mengapa tidak ke rumah sakit umum saja? "


tanya Titi pada Irvan.


" Abang harus dikasih obat penenang, kak, di rumah sakit umum tadi menyarankan agar abang dibawa kesini agar lebih tenang, karena disini tidak banyak pasiennya. "


Ivan menjelaskan pada Titi mengapa Ari dibawa kesana.


" Lagian, disini bukan hanya orang yang kena gangguan jiwa saja yang dirawat.


Dirumah sakit ini ada juga pelayanan untuk pasien umum yang berobat.


Selain itu juga ada pelayanan untuk pasien yang ketergantungan obat.


Jadi kakak tidak usah khawatir, abang dirawat disini bukan karena terkena gangguan jiwa. "


Irvan menjelaskan panjang lebar mengenai rumah sakit tempat Ari dirawat.


Selama ini, seperti orang pada umumnya, jika dirumah sakit ini diperuntukkan bagi pasien yang mengalami gangguan jiwa.


Ternyata disini juga tersedia untuk pelayanan umum, malah lebih nyaman karena pasiennya tidak terlalu banyak.


Untuk pasien dengan gangguan jiwa, tersedia bangunan tersendiri dan berada di bagian belakang rumah sakit ini.


Jadi bagian depan rumah sakit merupakan tempat pelayanan umum.


Setelah mendengar penjelasan dari Irvan, Titi merasa lega.


Lega karena Ari bukan dianggap terkena gangguan jiwa dan lega karena bisa melihat Ari bisa beristirahat.


Terlihat Ari tertidur dengan nyenyak.


Wajah Ari terlihat tenang dan damai, terlihat jika selama ini dia kurang tidur.

__ADS_1


Irvan dan Awal pamit pulang untuk mengambil makanan untuk sahur, karena besok merupakan puasa hari pertama.


Mereka pulang menggunakan motor. Tinggallah Titi dan Ana di ruangan itu.


Di ruangan itu ada tiga ranjang pasien, tapi cuma satu ranjang yang dipakai Ari, sehingga kami bisa beristirahat di ranjang yang kosong.


" Sebenarnya, abang kenapa kak, kok bisa seperti ini? "


Tanya Ana pada Titi sambil menatap abangnya yang tertidur.


" Kakak juga tidak tahu An, setahu kakak abang suka minum-minum bersama teman-temannya.


Setiap hari abang pulang malam dalam keadaan bau minuman.


Kakak sudah tidak bisa menasehati abang, An. "


Titi menjelaskan pada Ana apa yang dilakukan oleh Ari.


" Hingga seminggu terakhir abang pulang malam dan tidak pernah tidur.


Saat abang pulang, selalu mendengarkan musik didalam kamar.


Sampai akhirnya jadi seperti ini. "


Kata Titi lagi.


" Itulah abang kak, ibu juga sudah sering menasehati abang kalau abang datang ke kantin.


Ibu meminta abang untuk tidak terpengaruh teman-temannya yang tidak baik. Abang sudah punya anak istri, sudah seharusnya abang tidak mabuk-mabukan lagi. "


Ana mengatakan pada Titi, jika ibunya juga sudah sering menasehati Ari, tapi Ari tidak mau mendengarkan.


" Iya An, semoga setelah ini abang akan sadar dan tidak lagi melakukan hal-hal yang tidak baik.


Semoga abang mau meninggalkan kebiadaban buruknya. "


" Aamiin.. "


Kata Ana yang mengaminkan doa Titi.


" Jadi Nanda tinggal dirumah sama ibu ya, kak?


Apa Nanda tidak menangis kalau kakak tidak dirumah? "


Ana menanyakan Nanda yang ditinggalkan dirumah bersama neneknya.


" Nanda sudah terbiasa kakak tinggal kerja, jadi tidak akan rewel jika kakak tidak berada dirumah.


Kakak tidak mungkin membawa Nanda kesini. "


Kata Titi menjelaskan pada Ana.


" Iya kak, syukurlah kalau Nanda tidak rewel. Kasihan juga kalau harus ditinggalkan dirumah, tapi tidak mungkin juga dibawa kesini. "


Ana merasa kasihan pada Nanda yang harus tinggal bersama neneknya.


Jam sepuluh malam, Awal datang bersama Irvan, mereka membawa makanan untuk sahur.


" Kak, ini ada makanan dari ibu untuk kakak sama Ana sahur. "


Kata Awal yang menyimpan kantong berisi makanan diatas meja yang ada di ruangan itu.


" Ini ada air panas juga, kalau-kalau nanti kakak perlu air panas. "


Awal juga membawa termos air panas.


Semua barang bawaannya ditaruh diatas meja.


" Abang gimana, kak? Apa tadi sempat bangun? " tanya Irvan.

__ADS_1


" Ga Van, sejak tadi abang belum terbangun, sepertinya tidur abang nyenyak banget. "


jawab Titi.


" Memang sengaja kak, abang diberi obat penenang juga obat tidur agar bisa beristirahat.


Jika tidak beristirahat, abang akan terus mengobrol."


Kata Irvan pada Titi.


" Iya Van, kakak tidak tahu kenapa Abang ngoceh terus, ga mau berhenti, ada saja yang dibilang, terkadang malah omongannya ngelantur. "


Titi mengatakan keadaan sebelumnya pada Irvan.


" Sebenarnya, kata dokter abang sakit apa Van? "


Tanya Titi.


" Tadi dokter bilang pada kak Rubi, kalau abang terkena tipes


Jadi karena abang sudah satu minggu tidak tidur dan demam tinggi, jadi abang mengalami halusinasi. "


kata Irvan menjelaskan apa yang tadi disampaikan oleh dokter pada kak Rubi.


" Kata dokter, untung abang cepat dibawa kerumah sakit. "


Irvan menyambung kata-katanya.


" Kalau abang terkena tipes, mengapa dari rumah sakit umum abang diminta untuk dibawa kesini, mengapa tidak dirawat disana saja? "


Tanya Titi heran.


" Mungkin karena petugas jaga melihat abang yang ngoceh terus jadi dianggap gangguan jiwa, makanya disuruh untuk dibawa kesini.


Disini tadi abang diperiksa oleh dokter umum yang bertugas di ruangan depan.


Setelah diperiksa baru dokter mengatakan jika abang terkena tipes. "


Irvan menjelaskan kembali pada Titi tentang keadaan Ari seperti yang dia dengar tadi.


" Alhamdulillah lah Van, abang sudah bisa istirahat, semoga abang bisa segera pulih. "


kata Titi pada Irvan.


" Iya, kak. Aamiin..! "


jawab Irvan.


Saat Titi dan Irvan mengobrol, terlihat Ana memijit kaki abangnya dengan pelan.


Terlihat kesedihan diraut wajah Ana.


Ana memang dekat dengan Ari, dan Terlihat jika selama ini Ari juga menyayangi Ana.


Menjelang tengah malam, Irvan dan Awal pamit pulang pada Titi.


" Kak, Awal pulang dulu ya, besok habis sahur, Awal kesini lagi. "


Awal pamit pada Titi juga pada Ana.


" Kalian hati-hati dijalan. "


Pesan Titi pada Awal dan Irvan.


Setelah mereka pulang, tinggallah Titi dan Ana yang menjaga Ari.


Titi tidak menyangka, jika awal puasa tahun ini harus sahur dirumah sakit bersama Ana karena harus menjaga Ari.


🦂🦂🦂

__ADS_1


__ADS_2