Nastiti

Nastiti
Bab 7. Bertemu seseorang


__ADS_3

Pagi ini, seperti biasa Titi menjalankan aktivitasnya.


Ia berangkat ke kantor bersama Tuti, kebetulan sekolah Tuti satu arah dengan kantor Titi.


"Sudah siap, Tut? Jangan lupa perlengkapan upacara, ini kan hari senin, jangan sampai nanti dihukum karena tidak membawa perlengkapan upacara." Titi mengingatkan Tuti yang sedang mengenakan sepatu.


"Alhamdulillah sudah siap semua mbak, tadi malam sudah Tuti siapkan sekalian dengan alat-alat sekolah, tadi sudah Tuti cek, tidak ada yang tertinggal." balas Tuti.


"Ya, sudah..ayo kita berangkat agar tidak terlambat, biasanya jam segini angkot masih ada yang kosong!" ajak Titi pada Tuti. "Ok, siap kak."


Akhirnya mereka pun pamit pada ayah dan ibu yang duduk dikursi dekat dapur.


"Yah, bu..kami berangkat dulu, Assalamualaikum." ucap Titi dan Tuti pada ayah dan ibu, mereka pun pamit sambil mencium tangan ayah dan ibu.


"Waalaikumsalam warahmatullah." jawab ayah dan ibu.


"Kalian sudah sarapan kan? apalagi nanti Tuti ikut upacara, jangan sampai tidak sarapan!" kata ibu.


"Tadi kami sudah sarapan bu" jawab Titi.


Akhirnya, mereka pun berangkat bersama.


Mereka berangkat naik angkot, sementara Pandu naik motor menuju ke kantornya, mereka memang tidak searah.


Diujung halaman masuk kearah gang, Tuti melihat Toni yang berjalan kaki menuju kantornya.


Mereka setiap pagi, memang sering bertemu di gang, kecuali saat Toni piket, ia mendapat jatah libur.


"Assalamualaikum, dek Tuti dan dek Tati."


sapa Toni pada Titi dan Tuti.


"Waalaikumsalam warahmatullah.." jawab Titi dan Tuti.


"Dek Tut, rapi sekali pagi ini? kelihatan cantik, mau jadi petugas upacara ya?Itu pakai sepatu kiri kanan." kata Toni menggoda Tuti.


"Ga jadi petugas upacara kok kak, bukan kelas Tuti yang jadi petugas.


Kalau Tuti cuma pakai sepatu sebelah kanan atau kiri aja, gimana donk kak? ntar Tuti dikira rada miring?" jawab Tuti membalas godaan Toni.


Toni hanya tersenyum mendengar perkataan Tuti, lalu ia melirik Titi yang berjalan disamping Tuti.


"Dek Titi, kok diam aja? lagi sariawan ya? dari tadi ga ada suaranya?" tanya Toni pada Titi.


"Ga kok, biasa aja, lagi menikmati jalan pagi aja." jawab Titi acuh.


Saat bertemu, Titi memang bersikap acuh pada Toni, ia tak begitu memperlihatkan jika mereka berpacaran, sikapnya seperti menjaga jarak.


Karena asyik mengobrol, mereka pun tiba didepan gang, dan dari kejauhan sudah terlihat ada angkot yang akan lewat.


Toni pamit pada Titi dan Tuti.


" Maaf, kakak duluan ya? kalian hati-hati dijalan!" kata Toni pada Titi dan Tuti.


"Baik kak, terima kasih!" balas Titi dan Tuti.


Titi dan Tuti pun menyetop angkot yang lewat, lalu menaikinya untuk ketempat tujuan masing-masing.

__ADS_1


Tiba di kantor, keadaan masih sepi.


Titi masuk ke ruangannya dan menaruh tasnya dimeja.


Ia pun mulai menyiapkan berkas-berkas pekerjaannya pagi ini.


Ia menyiapkan catatan dan berkas tagihan yang akan dikirim pada klien hari ini.


Tak lama, pak Beri dan mbak Dewi pun datang, setelah mengucap salam, mereka menyapa Titi yang telah tiba lebih dulu.


"Wah..Titi rajin banget, masih pagi dah stay di kantor!" kata pak Beri.


" Napa Ti, ada kerjaan yang belum kelar ya?" tanya mbak Dewi pula.


"Bukan lagi rajin pak, tadi kebetulan pergi bareng adik Titi yang SMA, kebetulan hari senin kan upacara bendera, jadi berangkat lebih pagi." jawab Titi pada pak Beri.


"Alhamdulillah kerjaan Titi sudah siap mbak, ini lagi nyusun tagihan yang mau dikirimkan ke client." jawab Titi pada mbak Dewi.


Akhirnya, merekapun disibukkan dengan pekerjaan masing-masing.


Jam sembilan tiga puluh, Titi bersiap untuk pergi mengantarkan berkas-berkas tagihan.


Mbak Dewi pun bertanya pada Titi.


"Ti, jadi mau antar tagihan pagi ini?


Ada berapa tagihan yang mau diantar?"


"Jadi mbak, nih Titi dah siap-siap mau berangkat.Hari ini Titi antar dua tagihan mbak."


" Baiklah, mbak tanya Yanto dulu, dimana posisinya, agar bisa antar Titi."


Tak lama, mbak Dewi pun menghubungi Yanto, supir kantor yang biasa antar karyawan yang ada keperluan keluar kantor.


Dewi : "Hallo, Assalamualikum pak Yanto?"


Yanto : "Iya, mbak, Waalaikumsalam."


Dewi. : " Sedang ada dimana pak? bisa antar Titi untuk mengantar tagihan?"


Yanto : " Saya sedang di bengkel mbak, kebetulan tadi ada sedikit kerusakan.


Jam berapa mbak Titi mau keluar mbak?"


Dewi. : " Ini, Titi sudah siap berangkat, sudah ditunggu sama yang punya tagihan."


Yanto : "Wah, kalau sekarang belum bisa mbak, ini baru mau dicek, paling tidak satu atau dua jam baru selesai."


Dewi. :" Kelamaan pak, baiklah..bapak selesaikan dulu pekerjaan bapak, nanti Titi bisa naik kendaraan umum."


Yanto : "Baik, mbak. Terima kasih, Assalamualaikum.."


Dewi : " Waalaikumsalam warhamatullah.."


"Ti, pak Yanto lagi di bengkel, jadi.ga bisa antar Titi, jadi gimana? Titi bisa naik angkot aja?" tanya mbak Dewi.


Titi, tinggal di kota kecil, jika tidak ada kendaraan pribadi, maka setiap yang berpergian menggunakan sarana angkutan umum, atau angkot.

__ADS_1


" Ok, mbak! ga masalah Titi naik angkot, lagian tagihan yang dikirim satu jurusan, jadi ga begitu repot." jawab Titi.


"Ya sudah, mumpung masih pagi, lebih baik berangkat sekarang, ini tanda tangani dulu untuk biaya transportasinya!" kata mbak Dewi lagi.


"Siap, mbak" jawab Titi sambil menandatangani bukti pengeluaran transportasi.


Sebenarnya, Titi lebih senang naik kendaraan umum dari pada diantar supir kantor. Ia merasa lebih leluasa dan santai diperjalanan, tidak merasa terburu-buru.


Untuk sampai ke tujuan, Titi harus dua kali naik angkot.


Saat diperempatan, Titi turun dari angkot dan menunggu angkot lain untuk sampai ke tempat tujuan.


Saat menunggu angkot, ada seorang TNI yang berdiri di dekat Titi.


Titi membaca nama HALIM, yang ada didada TNI tersebut.


Ia tersenyum pada Titi dan Titi pun membalas senyumnya.


"Mau kemana, mbak?" tanya Halim


"Mau ke PT. AG, pak, mau antar tagihan!" jawab Titi.


"Kalau begitu, kita satu jurusan, saya mau ke Kantor Camat, ga jauh dari PT. AG!" Halim berkata lagi.


"Oh iya, pak! kalau gitu kita bisa satu angkot." ujar Titi lagi.


"Oh, iya mbak, itu angkotnya sudah datang!" kata Halim lagi.


"Iya, pak!" jawab Titi.


Akhirnya, Titi dan Halim naik angkot yang sama, mereka duduk berhadapan, karena bangku yang lain sudah terisi penumpang yang lain.


Dalam angkot, mereka saling diam, tak ada pembicaraan.


Saat tiba di depan Kantor Camat, Halim menghentikan angkot, karena ia telah sampai ke tujuan.


"Mari mbak, saya duluan, dan maaf..ini ongkosnya sekalian saya bayarin!' kata Halim pada Titi.


"Iya pak, silahkan! Ga perlu pak, nanti ongkosnya biar saya bayar sendiri?" kata Titi pada Halim.


" Ga papa, mbak, sekalian aja!" ujar Halim lagi.


Titi merasa tak enak hati, mereka baru pertama kali bertemu, tapi Halim membayarkan ongkos angkot Titi.


Akhirnya, Titi hanya bisa berucap terima kasih.


"Terima kasih, pak!" kata Titi.


"Iya, mbak, sama-sama!" balas Halim.


Titi pun melanjutkan perjalanan nya, karena ia belum sampai ke tujuan.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Note : Mohon dukungan ya teman-teman?


jangan lupa kasih like, komen dan

__ADS_1


vote nya ya, biar semangat up nya.


__ADS_2