Nastiti

Nastiti
Bab 129. Setelah Kepergian Ayah


__ADS_3

Malam ini diadakan tahlilan di rumah orang tua Titi.


Alhamdulillah, banyak sekali tamu yang datang untuk ikut membaca yassin dan mendoakan kepergian ayah Titi.


" Bagaimana ceritanya ayahnya bisa drop lagi? saat saya kesana keadaannya baik-baik saja, sudah bisa ngobrol dan bilang pada saya bahwa besok mau pulang, ternyata memang benar-benar berpulang. " tanya pak Basuki, tetangga yang ada didepan rumah ayah dan sempat menjenguk ayah sehari sebelum ayah berpulang.


Para tetangga masih ada yang mengobrol setelah acara yasinan selesai, mereka ngobrol dengan ditemani oleh Pandu dan keluarga yang lain.


" Sore setelah bapak pulang, ayah bilang pada tante Neng pengen mandi,. karena hanya tante Neng yang menemani ayah, ibu sedang pulang ke rumah sebentar karena melihat ayah sudah baik-baik saja. Karena ayah memaksa ingin mandi, akhirnya tante Neng mengizinkan ayah mandi di kamar mandi rumah sakit. Tidak lama setelah ayah mandi, tiba-tiba ayah menggigil dan suhu badannya panas. Tante Neng langsung memanggil dokter jaga untuk memeriksa ayah. Malam nya setelah demam tinggi ayah langsung tidak sadarkan diri dan dokter tidak bisa memasang infus karena tidak bisa menemukan urat nadi untuk dipasang infus,. sampai akhirnya tadi siang ayah menghembus nafas terakhirnya. "


Pandu menjelaskan pada para tetangga yang masih berkumpul bagaimana kejadian ayahnya meninggal di rumah sakit.


"Berarti saat ayah Pandu bilang ingin pulang, memang sudah ada firasat jika beliau akan berpulang. " kata pak lek Sarno.


" Iya, saat saya datang ayah Pandu sudah terlihat sehat dan ngobrol lama dengan saya, makanya saat mendengar ayah Pandu sudah tidak ada saya tidak percaya. " kata pak Bas lagi.


Para tetangga masih berkumpul hingga pukul sepuluh tiga puluh malam.


Setelah itu mereka berpamitan untuk pulang ke rumah masing-masing.


Di kamarnya, Titi sedang duduk di tepi tempat tidur sambil mengusap-usap punggung Andi yang tertidur.


Sudah menjadi kebiasaan jika mau tidur, punggung Andi harus diusap hingga ia tertidur.


" Tidurlah may, istirahat, may kan belum sembuh benar. " kata Ari meminta Titi untuk tidur karena Titi belum begitu sembuh dari sakitnya.


"Iya pay, sebentar lagi, Andi baru saja tidur, takut bangun lagi jika punggungnya tidak diusap. " kata Titi.


Ari naik ke atas tempat tidur, lalu duduk disamping Titi dan menggantikan Titi mengusap punggung Andi.


" Ga nyangka ya pay, ayah pergi secepat ini, padahal ayah belum melihat kita hidup lebih baik. Ayah belum sempat melihat kita membuat rumah yang layak dan mengajak ayah tinggal di rumah kita. " kata Titi sambil menghapus air matanya.


" Sudahlah may, ayah sekarang sudah kembali kepada Nya, kita tinggal mendoakan agar ayah dilapangkan kuburnya, diterima iman Islamnya dan diampuni semua dosa-dosanya. " kata Arin yang menghibur Titi agar tidak tidak menyesali kepergian ayah.


" Titi merasa menyesal karena saat ayah datang ke rumah kita, kita sedang bekerja dan ayah datang hanya sebentar. Kata ibu ayah hanya ber jalan-jalan di pematang kolam, melihat-lihat kolam lalu mengajak ibu pulang. Mengapa ayah tidak menunggu kita pulang dari kantor. " kata Titi menyesalkan ketika ayahnya datang, Titi dan Ari sedang bekerja.


Titi tahu ayahnya datang kerumahnya setelah Tuti bercerita pada Titi.


" Mungkin ayah ingin melihat keadaan kita dan rumah kita sebelum ayah pergi, paling tidak ayah sudah tahu bahwa keadaan baik-baik saja. " kata Ari yang memeluk Titi setelah Andi tertidur lelap dan Ari menghentikan mengusap punggungnya.

__ADS_1


" Iya pay, Alhamdulillah setelah kita memutuskan untuk pindah ke rumah kita sendiri, kita bisa punya usaha sendiri sehingga ayah yakin bahwa kita benar-benar bisa mandiri dan tidak membuat ayah cemas. " kata Titi pula.


" Sekarang may istirahat, jangan banyak pikiran agar may tidak sakit lagi. " seloroh Ari dan meminta Titi untuk tidur.


🦂🦂


Setelah acara tujuh hari ayah,. Titi kembali pulang ke rumah, begitu pula dengan Tuti.


Hanya Pandu yang tinggal di rumah untuk menemani ibu.


Pandu dan uni Min memutuskan untuk menemani ibu di rumah karena ibu tidak mau ikut tinggal di rumah anak-anaknya.


Bersyukur keadaan ibu baik-baik saja, walaupun ibu terlihat sedih setelah ditinggal oleh ayah, tapi ibu terlihat lebih sabar dan tegar.


" Ibu, Titi sama bang Ari mau pulang dulu, sudah satu minggu kami meninggalkan rumah, nanti Titi akan sering-sering main kesini untuk menjenguk ibu. " kata Titi saat berpamitan pada ibu.


" Iya, Titi pulang wha ga papa, ibu disini sama Pandu. " kata ibu pada Titi.


" Jangan banyak pikiran ya, bu? ibu yang sehat, ya..?? " kata Titi lagi.


" Iya, ibu baik-baik aja, Ti, sering-sering ajak anak-anak kesini biar ibu tidak kesepian. " ucap ibu pada Titi.


" Nek, abang sama adek pulang dulu, nanti abang sama adek main lagi kesini sama mama dan papa. " kata Nanda pada neneknya saat ia berpamitan pada neneknya.


" Iya, abang jangan nakal ya? adiknya diasuh, ajak main dan jangan dibuat nangis. " pesan nenek pada Nanda.


" Iya, nek. " kata Nanda sambil. mencium punggung tangan neneknya.


Saat melihat Andi yang ingin berpamitan, ibu tidak bisa menahan air matanya.


Andi merupakan cucu yang dekat dengan almarhum ayah Titi.


Ayah akan membawakan Andi buat ciplukan saat ia pulang menyabit rumput.


Terkadang ayah akan memangku Andi saat Andi minta digendong ketika ayah pulang dari menyabit rumput.


Dengan keringat yang membasahi tubuhnya, ayah akan mendudukkan Andi di pangkuannya, tidak perduli dengan keringat yang masih mengalir di tubuhnya ayah akan tetap. mendudukkan Andi di pangkuannya.


Ayah memang sangat dekat dengan Andi, jadi wajar jika melihat Andi ibu akan teringat pada ayah.

__ADS_1


Sebelum pulang, ibu memeluk Andi dengan erat, seolah ibu melihat ayah pada diri Andi, cucu yang disayangi oleh ayah.


Setelah puas mencium dan memeluk Andi, ibu menurunkan Andi dari pangkuannya dan membiarkan Andi pulang bersama Ari dan Titi.


Setelah berpamitan pada ibu dan bang Pandu serta uni Min, Titi dan Ari serta kedua anaknya pulang ke rumah mereka.


" Kasihan nenek ya, mah? kakek sudah ga ada, jadi nenek tinggal sendirian." kata Nanda saat mereka dalam perjalanan pulang.


" Sekarang nenek ditemani sama bapak dan ibu, juga teteh Nuri, jadi nenek tidak sendirian. " kata Titi pada Nanda.


" Kakek sudah meninggal ya mah? jadi adek ga bisa ketemu kakek lagi? " tanya Andi yang duduk dipangkuan Titi.


" Iya, kakek sudah meninggal, nanti adek do'ain kakek ya biar kakek masuk surga.. Abang juga do'akan kakek ya? " kata Titi pada Nanda dan Andi.


" Iya mah, nanti abang akan do'akan kakek. " kata Nanda.


" Adek juga, mah..! " kata Andi yang ingin mendoakan kakeknya.


" Iya, nanti abang sama adek do'akan kakek, ya? " imbuh Titi yang dijawab anggukan oleh kedua anaknya.


Ari fokus menyetir mobil dan mendengarkan obrolan Titi dan anak-anaknya.


" Adek mau belajar nyetir mobil, ga? " tanya Ari pada Andi.


" Mau pa..! "jawab Andi cepat.


Ari meminta Andi untuk duduk di pangkuannya dan memegang kemudi mobil.


" Abang ga diajari nyetir mobil juga, pa?" tanya Nanda.


" Iya, nanti abang juga papa ajari nyetir mobil. " jawab Ari.


" Iya, pa. " kata Nanda tanpa berkata apa-apa lagi.


Mereka menikmati perjalanan pulang dengan perasaan bahagia walaupun masih ada rasa duka di hati masing-masing atas kepergian ayah Titi.


🦂🦂🦂


🦂🦂 Sangat sulit jika harus tersenyum dalam kesedihan, tetapi terkadang orang bisa melakukannya untuk menutupi rasa sakit dan sedih yang mereka rasakan. 🦂🦂

__ADS_1


__ADS_2