
Setelah kepergian ayah Titi, hari-hari tidak terasa berlalu begitu saja.
Titi dan Ari disibukkan dengan pekerjaan juga usaha baru mereka yang semakin berkembang.
Sesekali Titi dan Ari akan berkunjung ke rumah ibu untuk melihat keadaannya dan membawa kedua anaknya untuk bertemu ibu.
Terkadang ibu akan berkunjung ke rumah Titi dan menginap di rumah Tuti untuk menghilangkan kesedihan ibu setelah kepergian ayah.
Walau bagaimanapun ibu pasti sangat kehilangan ayah setelah ayah berpulang.
Titi dan kedua saudaranya selalu berusaha untuk menghibur ibu.
🦂🦂
Hari ini Ari dan Titi beserta kedua anaknya bermain ke rumah orang tua Ari. Rumah ibu Ari berada dibelakang kantor Titi, sehingga tidak jauh dari rumah mereka.
" Assalamu'alaikum.. " salam Ari dan Titi saat tiba di rumah ibu Ari.
" Walaikumsalam. " jawab ibu dan Ana yang berada di dalam rumah.
" Masuk,bang..kak..! " kata Ana saat melihat Ari dan Titi yang berada di luar.
" Iya, Ana, terima kasih. " kata Titi sambil masuk ke dalam rumah diikuti oleh Ari dan kedua anaknya.
Titi menyalami ibu mertuanya dan mencium punggung tangannya.
" Salim dulu sama nenek, nak..! " kata Titi pada Nanda dan Andi.
Nanda dan Andi menghampiri neneknya lalu bersalaman dan mencium punggung tangan neneknya.
" Cucu nenek sudah besar-besar sekarang, sudah pada makan belum..??" tanya ibu pada kedua cucunya.
" Sudah nek, abang sama adek sudah makan." jawab Nanda.
" Ibu masak apa, bu. .?? " tanya Ari pada ibunya.
" Lihat sendiri ke dapur. " jawab ibu.
" Ti,. pergilah ke dapur, makan, tadi Ana yang masak. " kata ibu pada Titi.
" Iya bu, nanti aja, Titi masih kenyang. " kata Titi pada ibu.
" Yuk may, kita makan, pay pengen makan di rumah ibu. " kata Ari yang mengajak Titi untuk makan.
" Pay aja yang makan, may masih kenyang. " kata Titi yang menolak ajakan Ari.
Walaupun Titi sudah lama menikah dengan Ari, tapi Titi masih merasa sungkan jika berada di rumah orang tua Ari, padahal Titi sudah lama mengenal keluarga Ari dan suka numpang shalat saat ia masih gadis, tapi Titi tetap merasa sungkan.
Ibu Ari juga baik pada Titi tapi Titi masih suka tidak enak hati.
__ADS_1
" Ayolah may, temani pay makan. " pinta Ari lagi pada Titi.
" Pergilah, Ti.. temani Ari makan. " kata ibu lagi pada Titi.
" Iya, bu..! Titi makan ya, bu..?? " kata Titi pada ibu mertuanya, laku berjalan menuju arah dapur.
" Iya, pergilah, ajak anak-anak makan. " kata ibu lagi.
" Iya, bu.. " kata Titi yang langsung menyusul Ari ke dapur.
" Cik, abang mau numpang makan, masak apa hari ini? " tanya Ari pada Ana yang sedang membuat teh di dapur.
" Makanlah bang, tadi Ana masak sambal jengkol, sop ayam sama ikan goreng. " jawab Ana pada Ari.
" Kak Titi, makan kak, ada sambal jengkol. " kata Ana yang menawari Titi untuk makan.
" Iya cik, abang ngajak makan, padahal kakak tadi sudah makan di rumah sama anak-anak. " ucap Titi pada Ana.
" Tidak apa kak, sesekali makan disini. " kata Ana lagi.
Titi mengambil piring untuk Ari dan mengisi dengan nasi dan lauk pauknya, lalu menyodorkan pada makanan tersebut pada Ari.
" Cik, tehnya kasih batu es, ya..? " pinta Ari pada Ana.
" Biar kakak aja cik yang buat es tehnya." kata Titi pada Ana.
" Ga papa kak, biar Ana aja, kakak makanlah temani abang. " kata Ana pula.
" Sebentar, may lihat ke depan dulu, tadi sedang bermain di teras. " kata Titi.
" Biar Ana yang panggil anak-anak, kak..!" kata Ana sambil menaruh es teh didekat Ari.
" Terima kasih, cik..! " kata Titi pada Ana.
Ana berjalan menuju teras untuk memanggil Nanda dan Andi dan mengajak mereka untuk makan.
Akhirnya Ari dan Titi bersama anak-anaknya makan di rumah ibu Ari.
Awalnya anak-anak tidak mau makan, tetapi Ari meminta mereka untuk makan, sehingga anak-anak pun makan walaupun hanya sedikit.
Setelah makan, Titi merapikan meja makan lalu mencuci piring yang ada di dapur.
" Biar Ana yang cuci piring, kak..! " kata Ana yang merasa tidak enak melihat Titi mencuci piring.
" Tidak apa cik, sekalian kakak cuci tangan. " kata Titi sambil mencuci piring .
Karena tidak enak melihat Titi yang mencuci piring, akhirnya Ana membantu Titi.
Titi yang menyabuni piring-piring kotor dan Ana yang membilas.
__ADS_1
Semua perabot kotor yang belum dicuci, Titi cuci bersama Ana.
" Terima kasih ya kak, sudah membantu Ana mencuci piring. " kata Ana setelah mereka selesai mencuci piring.
Lalu mereka duduk diruang tamu bersama ibu dan Ari.
Anak-anak sedang bermain di teras rumah bersama kak Reni.
" Ti, didekat rumah Titi ada tukang urut, ga? badan ibu pegel semua, pengen diurut. " kata ibu pada Titi.
" Ada bu, mbah Karjo yang rumahnya ke arah pemakaman umum, yang suka ngurut. " kata Titi pada ibu Ari.
" Nanti Titi minta Tuti untuk jemput mbah Karjo biar bisa ngurut ibu. " kata Titi pula.
" Iya, nanti ibu ikut ke rumah, ya..? " kata ibu lagi.
" Iya bu, nanti ibu di urut di rumah Titi aja. " kata Titi.
Setelah berbincang di rumah ibu, menjelang sore Ari dan Titi pulang ke rumah.
Karena ibu ingin ikut ke rumah Ari, maka Ari. mengantar Titi dan anak-anaknya pulang terlebih dahulu, lalu kembali menjemput ibu karena Ari datang ke rumah ibunya dengan membawa motor.
Tiba di rumah Titi, ibu menunggu di ruang tamu dan bermain dengan Nanda dan Andi.
" Ti, ibu mau menginap disini ya? " kata ibu pada Titi.
" Iya bu, tidak apa-apa, tapi maaf ya bu, rumahnya masih seperti ini. " kata Titi.
Rumah Titi memang hanya ada satu kamar, karena Titi dan Ari belum bisa membangun rumah yang baru.
Mereka baru bisa membangun pondasi rumah saja.
Malam itu akhirnya ibu menginap di rumah Ari dan tidak jadi di urut karena mbah Karjo sedang sakit.
Titi yang memijat ibu Ari karena merasa kasihan pada ibu yang merasa badannya pegal-pegal.
Selama dua tahun Titi dan Ari tinggal di rumah milik mereka, baru kali ini ibu Ari mau menginap dan tidur di lantai beralaskan kasur busa.
Ketika Ari dan Titi meminta ibu untuk tidur bersama anak-anak di kamar, ibu tidak mau dan lebih memilih tidur di ruang tamu.
Setelah Titi memijit badan ibu, ibu tertidur di ruang tamu.
Karena tempatnya sempit, ibu tidur sendirian di ruang tamu.
Sebenarnya Ari dan Titi merasa tidak kasihan melihat ibu tidur sendiri di ruang tamu, tapi karena ibu menolak untuk tidur di kamar, akhirnya mereka membiarkan ibu tidur di sana.
Pagi-pagi, setelah sarapan ibu pamit untuk pulang ke rumah, walaupun Titi memintanya untuk pulang lebih siang, tapi ibu menolak dan akhirnya diantar oleh Ari kembali pulang ke rumahnya.
🦂🦂🦂
__ADS_1
🦂🦂 Saat cinta hadir didalam hati, setiap orang tidak akan bisa menolak, tapi sebagai makhluk yang berakal pikiran, kita bisa mengendalikan kepada siapa cinta akan kita labuhkan. 🦂🦂
🦂🦂 Jika hawa nafsu sudah mendominasi, maka akal pikiran tidak akan berfungsi, walaupun harus mengorbankan martabat dan harga diri. 🦂🦂